KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Besi Kecil Penantang Hidup

Sosok kecil itu menerjang hujan, ditengah hiruk pikuknya simpang Jalan Juanda dan Jalan Bigjend. Katamso Medan malam itu, tak ada yang perduli akan nasibnya ditengah perjuangan bertahan hidup dalam kerasnya pengaruh globalisasi kapitalisme ini. Seolah semua orang enggan untuk berpikir bahwa hidup ini berjalan layaknya sebuah roda, kadang kita diatas, kadang kita dibawah. Apakah termasuk kita diantara orang-orang yang tidak perduli itu?.

Ia terlihat rapuh seakan-akan bisa hilang diterpa angin.. Sosok kecil itu berlari menghampiriku. Dengan matanya yang jernih ia memandangku dan dengan suaranya yang kekanakan ia menyapaku..

”Seribu bang? Belum bayar uang sekolah..”

Ternyata Lamhot namanya. Berceloteh riang sambil menyeka butiran hujan di wajahnya. Anak yang ceria dan lincah.. namun menyimpan sejuta kesedihan dimatanya.

“Lamhot kelas berapa?”, tanyaku. ”Lamhot sekarang duduk di kelas 6 SD dan sebentar lagi mau ujian. Tapi keluarga Lamhot ga punya duit.. jadi belum bisa bayar uang ujian dan uang SPP.. trus kata gurunya kalo Lamhot ampe besok ga bayar-bayar juga, Lamhot ga boleh ikut ujian dan ga boleh masuk sekolah.. padahal Lamhot pengen kali sekolah.. pengen ujian biar nanti bisa ngelanjutin ke SMP..”

” Emang bayar ujian ama SPP-nya berapa?”
” Ujiannya bayar tiga ratus ribu, itu udah ama uang rekreasi.. trus SPP-nya sebulan dua puluh ribu tapi Lamhot nunggak tiga bulan.”

Kutatap matanya, mencoba mencari sebersit kebohongan di sana, namun yang kutemukan hanyalah sepasang mata polos etnis batak murni daerah ini, jernih, dan penuh harapan. Sesosok tubuh kecil yang menyimpan semangat besar, semangat perubahan, mungkin perubahan terhadap dirinya, keluarganya, lingkungannya, masyarakatnya, daerahnya, bahkan mungkin perubahan besar terhadap bangsa ini kelak yang akan diperankannya..

”Yang bilang Lamhot ga boleh sekolah lagi siapa?”
”Kepala sekolahnya.. dibilangnya Lamhot ga usah masuk sekolah kalo ga bawa duitnya”
”Bapak ibu Lamhot udah tau?”
Sosok kecil itu terdiam,, mata yang tadi menyala riang kini mulai meredup.. Di tengah hujan sosok kecil itu seakan menghilang,,
”Kata Bapak, Bapak ga punya duit.. jadi Lamhot ga usah sekolah dulu aja” Katanya pelan,, hampir tak terdengar karena termakan oleh derasnya hujan..

Dia lalu berceloteh mengenai sekolahnya, teman-temannya, dan kondisi keluarganya, kampong halamannya yang terletak persis di tepian Danau Toba,,

“Udah lama kami enggak balik ke Porsea bang, kata Bapak kita gak boleh pulang sebelum punya hasil yang bisa dibanggakan untuk dibawa pulang kekampung halaman..”

Lamhot pun bercerita tentang tempat tinggalnya. Rumahnya didirikan tepat diatas rel di daerah Jalan Mahkamah Medan yang setahuku memang cukup ekstrim hidup di pemukiman seperti itu. Lebih menyentuh hatiku ketika Lamhot kecil ini berkata bahwa gubuk “darurat” yang menjadi tempat tinggalnya itupun bukanlah tempat tinggal tetap ia dan keluarganya, mereka harus berpindah-pindah hidup alias nomaden dikarenakan tak sanggup membayar sewa lahan kepada kepling, belum lagi kutipan preman yang masih galak disana. Ia anak ketiga dari 5 bersaudara. Bapaknya buruh bangunan yang bekerja bila ada proyek, ibunya tukang cuci pakaian. Ibunya baru saja dioperasi supaya adiknya yang bungsu lahir dengan selamat. Bapaknya hutang pada rentenir untuk menutupi biaya operasi. Sementara kakaknya yang nomor dua juga sering sakit-sakitan.

Ketika kutanya prestasinya di sekolah dengan malu-malu dia menjawab, ”Sebenernya kemaren Lamhot ditunjuk buat ngasih pidato perpisahan bang.. Tapi Lamhot ga jadi karena Lamhot kan ga sekolah lagi..”

Hujan turun dengan deras dan petir menggelegar.. Jalanan mulai lengang, sepi termakan detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam yang mulai menuju pertengahan malam. Sosok kecil itu mulai menggigil kedinginan..

“Udah mau tutup ni bang plazanya” Katanya dengan harapan sebelum aku pergi aku akan memberinya sedikit uang, bagai monyet kecil yang tak sabar menunggu diberi pisang.. Kuulurkan tangan memberinya upah yang diminta. Dia cuma memandangi uang yang sekarang di tangan.

“Kenapa? Kurang?”
“Hehehe,, ga kok bang,, cukup-cukup,, aku kira karena uda ngawanin abang ngobrol bakal dikasih lebih..hehehe” katanya dengan tawa lebar
“Heeh,, dasar!!”
Kupukul lembut kepalanya,, kuusap rambutnya,, kasar, merah tak terawat..
“Dadah abang,, makasih ya,,”

“Mau kemana lagi kau siap ini, pulang kan?, udah malam ini, pasti udah nunggu orang tua kau dirumah kan, Lamhot”,,

“Enggak la bang, kata bapak sama mamak kalo belum dapat sepuluh ribu dan masih sanggup minta uang disini gak usah pulang dulu..”

Kejam kukira sebenarnya orang tua anak ini, tapi mungkin memang itulah cara yang harus ditempuhnya melawan hari dengan keadaan ekonomi yang rapuh seperti ini. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang, kubiarkan dia pergi terus mengais rezeki dengan besar harapan, sampai kapan Lamhot harus terus seperti ini bagai terkurung dalam lingkaran setan.

Dia kembali menerjang hujan sambil melambaikan tangan. Aku memandang sosoknya yang kian menghilang ditelan pekatnya malam, tajamnya tusukan angin dan derasnya hujan..

Diperjalanan pulang, aku masi termenung dan menarik diri,

“Ada apa dengan bangsaku? Apa salah kami Tuhan? Lamhot hanyalah contoh kecil dari sekian banyak manusia bernasib sama bahkan lebih sulit dibanding dirinya dinegara ini..! Sampai kapan akan seperti ini?”..

Dari mana aku harus memperbaiki semua dilema hitam ini kelak.

4 Responses to “Besi Kecil Penantang Hidup”

  1. on 14 Feb 2008 at 16:06pemerhati cerpen

    maaf, saya harus menilai karya ini sebagai karya yang gagal. mengapa?

    inilah alasan saya:

    “Ada apa dengan bangsaku? Apa salah kami Tuhan? Lamhot hanyalah contoh kecil dari sekian banyak manusia bernasib sama bahkan lebih sulit dibanding dirinya dinegara ini..! Sampai kapan akan seperti ini?”

    terkesan menjugde terhadap sebuah keadaan. memang tak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat segalanya lebih baik. tapi sebuah karya yang baik tak menjugde secara langsung. tokoh aku adalah cerminan penulisnya. secara simbolik kata2 di atas adalah kata tuduhan. mengajari pembaca. pembaca tentu tak bodoh (anggaplah demikian).

    trima kasih
    pemerhati cerpen

  2. on 17 Feb 2008 at 22:04pak serge

    komen ;

    kalau utk pemula ya lumayan, bertanya pada diri sendiri ttg keadaan. Hanya sebaiknya penulisnya harus tunjukkan jalan ke Lamhot agar terus berkarya misalnya dengan memperkenalkan lembaga KKSP atau PKPA di Medan.
    cuma yang saya enggak paham ’sepotong besi’ itu maksudnya apa, karena dalam seluruh paragraf saya tak menemukan kata itu. atau mmg metafora saja ?
    lanjutkan coba lagi broer !

  3. on 18 Feb 2008 at 17:19anak joker yang cakep

    sebenernya karya anda lumayan..
    Tapi gaya anda membawakan di depan kelas tadi bikin cerita ini menjadi lucu..
    Terus berkarya sob..

  4. on 11 Mar 2008 at 14:34alwafi ridho

    trus… berkary….

Tinggalkan Komentar