Kurindu Kau Kakek…
Februari 12th, 2008 by Quarrelina Az Zahra
Gelak tawaku menggema diruang tengah, ketika kakek bercerita tentang beliau yang dulu ikut berjuang untuk kemerdekaan negara kita ini…
Ketika aku masih duduk dikelas 6 SD, aku mulai dekat dengan Kakek. Dia senang sekali menunggu aku pulang dari sekolah, kemudian mengajakku pergi jalan-jalan…
Sampai aku duduk dikelas 3 SMP Kakek dekat denganku, beliau selalu menemaniku, menasehatiku…
Beliau sosok yang sabar, lembut, bijaksana, selalu menemani perkembanganku dari yang masih ingusan sampai saat itu tiba…
Aku lulus dari SMP, kedua orang tuaku mempunyai rencana menyekolahkanku diluar kota, yang artinya aku harus berpisah dengan Kakek….
Mau ga mau aku harus mengikuti rencana kedua orang tuaku, karena aku yakin pasti mereka selalu punya rencana yang baik untuk anak-anaknya…
Berat banget rasanya, meninggalkan kampung halaman, teman-teman, keluarga juga Kakekku tercinta…
Sore hari sebelum aku berangkat aku menginap di rumah Kakek.
Beliau menasehatiku agar aku bisa jaga diri, Kakek bilang aku itu cewek, harus hati-hati.
“Kamu harus patuh sama tante kamu, kamu juga harus belajar yang rajin, jangan kecewain Kakek dan keluarga… Kamu harus jadi anak yang bisa kakek banggakan, yang bisa jadi contoh adik kamu… Kakek percaya sama kamu, soalnya Kakek yakin kamu bisa jaga kepercayaan yang Kakek dan orang tuamu kasih… Kakek selalu doain kamu dari sini…” Ucap Kakek sambil membelai rambutku, kemudian Kakek mengecup keningku…
Raut majahnya yang mulai keriput, rambut putih yang mulai mendominasi rambutnya, serta senyum lembut yang terpancar dari wajahnya….
Aku tidur dalam belainnya….
Pagi hari aku berangkat ke sekolah untuk mempersiapkan surat-surat yang harus aku bawa…
Sekitar pukul 12.30 travel yang mengantarku ketempat yang baru datang menjemput di rumah…
Aku berpamitan kepada Ayah, Ibu, Adik, Kakek juga Nenek….
“Kalau kamu akan pergi meninggalkan seseorang, janganlah kamu menengok kebelakang… Kamu pasti akan merasa berat untuk pergi, lihatlah terus ke depan…” ucap Ayah…
Dua tahun lebih aku hidup jauh dari keluarga…
Saat ini aku mulai sibuk dengan beberapa les untuk persiapan UAN yang dua minggu lagi akan dilaksanakan.
Setelah pelajaran tambahan di sekolah, malam harinya aku les privat matematika dan bahasa inggris.
Aku akui, aku memang agak susah mempelajari dua mata pelajaran itu, Ibu menyarankan aku mencari privat.
Entah kenapa hari ini aku merasakan sesuatu yang aneh, sunyi, sepi seperti ada seseorang yang merindukanku…
Aku rebahkan badanku ke tempat tidur.
Huuuffff……
Capek sekali hari ini, aku lihat jam imut di meja belajarku, sudah jam 22.00.
Tiba-tiba kakak sepupuku yang tinggal satu rumah denganku masuk kekamarku.
“Dek, Kakak kok merasa ada yang gak enak yah??? kamu juga ngrasain ga Dek? Kakak boleh tidur di kasur bawah gak?” ucap kakak sepupuku.
“Ya, ka. Dek juga ngerasa ga enak dari tadi siang, Kakak tidur bawah aja…”
Ternyata aku dan Kakak tidak bisa tidur sampai jam 04.30 pagi.
Handphoneku berdering,
“Tante Nia”???
Ada apa pagi-pagi tante telpon?
Ada berita apa dari rumah?
“Arel, Yanuar, kalian masih tidur yah? ayo bangun, ambil air wudlu sholat subuh.. Habis sholat, kalian telpon taksi, pergi ke agen bus Patas AC. Pulang ya kerumah sekarang.. Kakek ingin ketemu ma kalian untuk yang terakhir… Hati-hati di jalan yah…” Klik.
Telpon tante terputus.
Aku dan Kakak bingung, ada apa????
Kami langsung ambil air wudlu sholat berjamaah.
Sebenarnya aku sudah tahu apa yang terjadi, memang akhir-akhir ini Ibu sering SMS, minta doa agar Kakek lekas sembuh. Kakek sakit jantung dan stroke.
Tubuh beliau sudah tidak bisa digerakkan, untuk berdiri saja sudah tidak bisa…
Begitu kata Ibu…
Selesai sholat dan berdoa, Kakak langsung menyuruhku memakai pakaian yang tebal dan memakai sepatu.
Ternyata aku dan Kakak tidak naik bus, Kakak mengajakku naik motor pulang kerumah…
Soalnya kata Kakak kalau kita naik bus, terlalu lama…
Aku cuma mengangguk mengiyakan ajakan kakak…
Sepanjang jalan aku berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa di rumah seperti yang ada di benakku…
Di ujung jalan rumahKkakek, aku melihat ada bendera putih…
Astaghfirullahal’adzim….
Seketika Kakakku menaruh sepeda motornya, kami berlari masuk kedalam rumah Kakek….
Mama, Tante, Adik, Ayah semua ada dalam kerumunan itu…
Siapa???
Siapa yang mereka tangisi???
Siapa???
Kakek….
Kakek terbujur kaku,
Tersenyum tenang,
dalam balutan putih…
Aku tidak bisa mengeluarkan air mata,
aku shock…
Kuusap pipi kananya, dingin..
Kucium pelan…
Aku belum sempat bercerita, aku belum sempat bercanda, aku belum sempat tertawa bersamamu Kakek…
Selamat jalan Kakek,
Aku selalu berdoa untukkmu….
Aku rindu kau Kakek….
karya ini belum membuat saya kagum. pada waktu membacanya, cerita ini tak mengejutkan saya. sungguh. dan satu lagi alurnya sangat2 sederhana, dan lebih mengesankan biasa. cerita yang ditulis dengan biasa akan menghasilkan hal yang biasa pula.
keistimewaan dari karya ini sangat tak terlihat. justru saya melihat ini sebagai kisah nyata yang hanya diceritakan oleh seorang tetangga saya yang juga sedang kehilangan kakeknya.
yang saya suka dari karya ini cuman satu. bahasa yang digunakan penulisnya baik. ada beberapa kesalahan ketik. tapi itu biasa, meskipun tidak jika sudah dipublikasikan, di ruang publik.
thanks
pemerhati cerpen