Ah…. Kalau Saja Cicak Bisa Bicara
Februari 8th, 2008 by -G-
Saya mengarang ini berdasarkan kejadian yang nyata tapi tidak persis sama, tetapi orang yg punya cerita ini pasti akan mengenali partikel-partikelnya..
Here we goes:
Ah!! Arrrrgggh! Tirsa menggenggam sejumput rambut di ubun-ubun dan menarik-nariknya, kebiasaannya sejak kecil apabila dia merasa kesal. Saat ini kepalanya terasa pening. Apakah masih ada aspirin di laci dapur? Ia malas keluar kamar apalagi karena mendengar suara tawa riuh suaminya yang sedang asyik menonton televisi di ruang tengah. Sungguh keterlaluan! Dia tidak habis pikir dan merasa gemas sekali. Bagaimana suaminya tega menuntut hal itu darinya pada saat ini, mereka baru menikah satu tahun tiga bulan, dan sejak awal mereka telah menyepakati bahwa dia boleh berkomitmen pada pekerjaannya dan menunda memiliki momongan hingga tiga atau empat tahun kemudian dan sebelum menikah Erwin sudah menyetujui hal itu! Lupakah suaminya bahwa diperlukan waktu sembilan bulan untuk memelihara janin didalam kandungan? Di dalam tubuhnya, TUBUHNYA! Tirsa menahan airmata kejengkelan yang mulai merebak disudut matanya. Dia masih belum siap untuk semua itu. Tapi bagaimana kalau nanti suaminya menilai dia bukan isteri yang baik, perempuan macam apa yang tidak punya kerinduan untuk memiliki anak? Seharusnya wajar bila mau melakukan segala sesuatu untuk suaminya, apalagi keinginan suaminya adalah sebuah keinginan yang wajar sebagai wujud dari rasa cintanya. Kerinduannya juga sama tentang hal yang satu itu, namun belum waktunya! Tirsa membanting kakinya! Oh, pleeeeaaaseee deh..! Kenapa tidak disamakan saja tugas laki-laki dan perempuan dalam bereproduksi dan lihat bagaimana komentar pria-pria itu, geramnya dalam hati.
Semua berawal dari suatu Rabu sore, tiga minggu yang lalu, Tirsa ingat sekali, ketika Erwin mengajak keponakan-keponakannya ke rumah mereka. Tirsa sempat mengangkat alis dan mengingatkan bahwa mereka seharusnya pergi ke sebuah undangan makan malam, namun suami dan keponakan-keponakannya membujuknya sedemikian rupa sehingga akhirnya mereka malah menghabiskan waktu untuk piknik dan berenang. Memang mengasyikan. Tirsa sudah lupa bagaimana rasanya tertawa seperti saat itu. Namun kegembiraan anak-anak itu dengan cepat menularinya dan ia masuk ke dalam sebuah euphoria kegembiraan, ia tertawa dan tertawa, mereka semua tidak merasa lelah untuk tertawa, pikirnya saat itu dengan takjub. Mereka dapat menertawakan apapun, bahkan semua hal terasa lucu dan menyenangkan, yang terkonyol sekalipun, justru lebih menyenangkan! Intinya, Tirsa merasa sangat senang, sampai-sampai ia kagum sendiri dengan hasil yang dicapainya untuk merasa sebahagia itu tanpa harus pergi ke spa, atau ke ahli terapi jiwa, atau memborong barang-barang mahal di butik-butik mahal, di mal-mal mahal pula.
Dan malam itu, ditempat tidur, suaminya menatapnya dengan pandangan yang berbeda, dan, sekali lagi Tirsa terkagum-kagum. Mereka berdua seperti terlahir kembali. Setelah suaminya terlelap sambil memeluk pinggangnya, Tirsa merenungi profil suaminya yang begitu damai dalam pulas tidurnya dan ia merasa lebih jatuh cinta! Ada baiknya memang tidak menghadiri undangan makan malam itu, pikirnya bahagia dan tersenyum bahagia. Bahkan hingga keesokan harinya ia tidak mampu menahan senyum, ia tersenyum kepada semua orang. Ah… dunia mendadak selalu indah.
Namun, senyumnya pun mendadak pudar ketika diakhir minggu, tepatnya hari Jumat malam, dengan wajah tanpa dosa Erwin berkata, ‘Sudah saatnya kita memikirkan untuk mempunyai anak. Aku melihat wajahmu saat berenang bersama anak-anak, caramu tertawa, caramu bermain dengan anak-anak itu…, Sayang, kamu sungguh luarbiasa. Calon ibu yang sempurna. Aku berani bertaruh kamu pasti akan menjadi ibu yang hebat!’ Tirsa memiringkan kepalanya menatap suaminya dengan pandangan takjub, are you kidding me? Pikir otaknya, namun yang terucap adalah, ‘oh ya?’
Erwin tersenyum, dia suka sekali melihat ekspresi Tirsa seperti itu. Sangat menggemaskan. Pikirnya, pasti isterinya sangat tersanjung dipuji sebagai calon ibu yang sempurna.
Maka Erwin pun semakin bersemangat mengutarakan pujiannya, ‘Ya Sayang, tentu saja, ibu yang baik, pokoknya sempurna. Sejak pertama kali bertemu aku sudah menduga dibalik baju kantor, gaya eksekutif, laptop, dan kacamata yang kelihatan serius itu, kau lebih cocok menjadi seorang ibu. Sayang, kau pasti akan kelihatan lebih cantik saat hamil nanti.’
Mata Tirsa membulat, ‘hamil?’ tanyanya sambil meletakkan buku yang sedang dibacanya.
Erwin tertawa penuh humor, ‘Tentu saja, kau harus hamil dulu kan untuk kemudian melahirkan seorang bayi, anak kita.’ Dia mengusap perut Tirsa, ‘hmm….rasanya tidak sabar, nanti aku akan memutarkan lagu-lagu klasik untuknya, katanya bagus untuk pertumbuhan otak janin. Perempuan atau laki-laki tidak menjadi masalah bagiku. Kau?’
‘Hamil?!’
‘Lho, kok malah tanya lagi….’ Suaminya mengecup keningnya lembut.
‘Tapi aku belum mau hamil, Sayang, masih banyak yang harus diselesaikan, tugas-tugasku, bagaimana juga dengan tubuhku kalau melar, lalu kamu pasti akan protes, belum lagi kalau…’
‘Sayang,’ Erwin memotong kata-kata Tirsa, ‘jangan panik dong, kan belum hamil dan nggak akan langsung hamil kan? Lagipula selama kehamilanpun banyak wanita yang masih bisa bekerja kan? Ibumu juga wanita karir, juga pernah hamil dan melahirkan kamu dan kedua adik-adikmu. Come on, jangan panik dong.’ Dan Erwin terbahak, lalu mengecup keningnya dan menguap lebar-lebar, ‘Bobo yuuk… isteriku yang cantik dan calon mama yang baiiik…’
Demikianlah diskusi tentang calon anak mereka terjadi, suaminya kemudian tertidur lelap sementara Tirsa terus berpikir dan berpikir dan berpikir, dan semakin ia berpikir semakin ia merasa Erwin tidak mengerti apa yang diminta dari dirinya, hal besar semacam itu tidak seharusnya diputuskan sendiri seenteng ini, pikir Tirsa sambil memandang suaminya, dan profil damai dan pulas yang waktu itu membuatnya kembali jatuh cinta kini menimbulkan kejengkelan yang luar biasa sehingga ingin rasanya menyepak suaminya hingga jatuh terguling dari tempat tidur saat itu juga. Seenaknya saja menginginkan anak dan menyuruhnya hamil, memangnya dia fending-machine, yang tinggal memasukkan koin, menekan tombol maka keluarlah, sebotol minuman dingin atau snack sesuai dengan kemauan pembelinya? Heegh, seenaknya saja! Menyuruhnya hamil! Memangnya dia ayam petelor? Uuugh! Betul-betul seenaknya saja! Tirsa melipat tangan dan sampai terlelap ia masih dalam posisi seperti itu, bahkan mimpinya berbunyi, ’memangnya…?’ dan ‘seenaknya saja…!!’
Dua minggu berikutnya, lagi-lagi Erwin menjemput kedua keponakannya, dan ketika Tirsa tiba dirumah ketiganya sedang asyik bermain playstation sementara balok-balok lego juga berhamburan di lantai. ‘Astaga!’ Jerit Tirsa karena hampir saja ia tergelincir saat tanpa sengaja menginjak salah satu dari balok-balok yang berserakan bagaikan ranjau-ranjau berbahaya bagi sepatu tumit tingginya. Erwin dan kedua keponakannya mengangkat wajah dan tersenyum ceria, ‘Halo….!’ Sapa mereka serempak dengan gembira.
‘Sayaaang…berantakan banget!’ Tirsa menemukan dirinya setengah menjerit.
‘Pssst, jangan teriak-teriak…ini namanya bermain, ikut yuk.’ Erwin tersenyum dan berdiri menghampiri lalu memeluknya, ‘Aduh wanginya dan cantik sekali, memangnya mau kemana lagi sih?’
‘Lho…..?!’ Tirsa mendelik, ‘Kok malah tanya?’ Ia melepaskan diri dari pelukan suaminya.
‘Sayang…, kita kan harus menghadiri undangan pernikahan pukul tujuh malam ini…, aduh, coba lihat sudah jam berapa sekarang?’ Wajah Erwin berubah tanpa ekspresi. ‘Lupa?’ Tebakan Tirsa tepat mengenai sasarannya, suaminya tersenyum setengah meringis dan menggaruk-garuk kepalanya. ‘Bagaimana dong? Masak nggak jadi pergi, aku sudah berdandan rapi-rapi.’ Dia merasa ingin sekali menjerit dan menangis karena jengkel kepada suaminya.
‘Anak-anak kita ajak saja, hitung-hitung latihan jadi papi dan mami.’ Kata suaminya enteng, ‘Mau kan?’ Tanyanya kemudian kepada kedua anak yang mengangguk-angguk setuju. ‘Nah, tidak ada masalah. Setuju ya? Ayo siap-siap!’
Dan pasukan itupun segera bergerak dengan riang gembira, mereka tidak punya masalah, dan tidak tahu bahwa Tirsa merasa sedang menghadapi krisis sendirian.
Tirsa menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir. Anak-anak itu jelas belum mandi, demikian pula Erwin. Dimana letaknya otak suaminya selama ini? Yang pasti, satu orang dewasa yang seharusnya mengomando anak-anak kecil itu, telah berubah peran menjadi persis sama seperti anak-anak itu sendiri. Ingin rasanya ia mengomel panjang-panjang, tetapi nanti malah tambah membuang-buang waktu, jadi ditelannya kembali kejengkelannya dan dibiarkannya mereka mandi dan bersiap-siap tanpa diiringi oleh omelannya.
Ketika mereka akhirnya berangkat Tirsa sudah bertekad bahwa hal ini harus dibahas oleh mereka berdua setelah keponakan-keponakan mereka pulang nanti. Sementara Tirsa memikirkan kata-kata apa yang akan diucapkannya nanti kepada suaminya, Erwin, justru merasa puas, ia benar-benar yakin telah sukses menyenangkan hati isterinya malam ini karena telah memenuhi keinginan Tirsa untuk menghadiri pesta pernikahan tersebut. Sempurna, pikirnya gembira dan lebih senang lagi saat melihat bahwa Tirsa telah mengisi bensin hingga penuh, memang beruntung punya isteri yang sangat efisien, pikirnya bangga. Maka, sambil mengemudi, ia pun bersiul-siul kecil, dan ikut bernyanyi dengan keponakan-keponakannya. Sementara disebelahnya, Tirsa duduk manis dan menarik nafas panjang diam-diam, ‘Betul-betul tidak sensitif!’ pikir isterinya, merasa dikecewakan.
‘Kamu betul-betul sudah berubah!’ Tuduh Tirsa keesokan harinya setelah para keponakan diantar pulang ke rumah orangtua mereka. Ia dan Erwin kembali memiliki rumah untuk diri mereka sendiri.
‘Berubah apanya?’ Tanya Erwin tanpa mengangkat wajah dari koran yang sedang asyik dibacanya.
‘Kamu betul-betul tidak mengerti aku!’
‘Lho… kok tiba-tiba marah, jangan emosi dong Sayang. Ada apa sih….?’
‘Masih tanya lagi ada apa!’
‘Iya….., ada apa?’
‘Masak tidak sadar?’
‘Aku sadar kok, tidak pingsan kan…’ Erwin masih mencoba menanggapi dengan humor, namun ia melihat wajah Tirsa yang benar-benar terlipat, maka iapun melipat korannya dan menjadi serius, ‘Ada apa?’
‘Ada apa teruuusss…’ Sungut Tirsa jengkel, ‘Coba diingat-ingat apa yang sudah kamu lakukan.’
‘Lho, apa sih yang sudah kulakukan hari ini?’ Dari pagi sampai sekian detik yang lalu kita masih baik-baik saja kan, batin Erwin semakin heran.
‘Kalau tidak tahu ya sudah! Pikirkan saja sendiri!’
‘Apa sih masalahnya?’
‘Nah sekarang kamu tahu ada masalah! Tapi kalau kamu tidak merasa bersalah bagaimana mau dibicarakan? Ya sudah, aku jadi malas bicara!’ Tirsa duduk dan melipat tangannya.
‘Sayang…’
‘Aku malas bicara!’ Jawab Tirsa ketus dan beranjak pergi.
‘Ya sudah…., kalau tidak mau, tidak boleh dipaksa…’
‘Aku mau ke kamar saja.’
Erwin menatap punggung Tirsa dan bertambah bingung, ada apa sebenarnya? Kenapa Tirsa marah-marah? Tapi kalau semakin bertanya dia kuatir isterinya justru akan semakin marah. Maka ia berpikir sebaiknya dibiarkannya saja isterinya sendirian untuk sementara waktu agar dapat menenangkan diri. Nah, kalau sudah tenang pasti Tirsa akan mengatakan apa yang salah, batinnya, karena semakin dipikirkannya semakin dia tidak mengerti kesalahan apa yang telah diperbuatnya hari ini. Erwin meraih remote dan menyalakan televisi. Sebelum masuk kamar Tirsa sempat menoleh dan melihat suaminya asyik memindah-mindahkan saluran mencari acara yang disukainya, serta-merta ia merasa semakin jengkel, sungguh keterlaluan! Dasar laki-laki! Sama sekali tidak sensitif! Masak tidak tahu bahwa ia masih marah soal kemarin malam, dan terutama tentang keinginan suaminya untuk punya anak yang kemudian tidak didiskusikan lagi atau disebut-sebut lagi seakan-akan diskusi yang pernah terjadi itu adalah keputusan akhir bahwa dia harus setuju saja? Apakah Erwin mulai mau menjadi diktator? Memerintahkan sesuatu dan harus terlaksana? Enak saja! Seenaknya saja! Keterlaluan! Tukang ingkar janji! Terlaluuuu! Terlaluuuuu! Dasar egois! Dengan geram ia pergi ke kamar dan menangis. Laki-laki, sungguh tidak punya perasaan!
Sementara itu, Erwin yang–sangat disayangkan, tidak memiliki kemampuan untuk membaca pikiran isterinya maupun pikiran orang-orang lain disekitarnya, sedang menikmati sebuah acara komedi di televisi dan tertawa sendiri.
Demikianlah urutan kisah mengapa berada disinilah Tirsa malam ini, di dalam kamar, menangis, karena pikirannya sendiri, dan suaminya diluar sana, terbahak-bahak mengikuti babak demi babak acara komedi di televisi. Dibalik pikirannya Erwin mengira-ngira, bahkan menghitung-hitung, kapan isterinya akan keluar dari kamar? Ah, mungkin kalau sudah lebih tenang, pikirnya lagi. Lalu, dia melanjutkan menonton. Sementara itu, di dalam kamar, Tirsa pun menunggu-nunggu, bahkan menghitung-hitung, kapan suaminya akan masuk menyusulnya untuk membujuknya dan meminta maaf kepadanya sambil bertanya ‘ada apa sayang?’, dengan nada suara yang begitu lembut, sehingga mereka dapat membicarakan apa yang sedang dirasakannya. Tidak terjadi.
Ketika Erwin akhirnya masuk kedalam kamar, ia dalam keadaan mengantuk dan siap tidur, dikecupnya kening Tirsa dan bertanya, ‘Masih marah ya?’
Tirsa mengangkat bahu, ‘Enggak.’ Lalu memunggungi suaminya.
Erwin mengusap rambutnya sejenak, ‘Malam, sayang…’ lalu mulai akan mendengkur dengan nyaman, sambil tersenyum memikirkan lucu juga komedi yang ditontonnya tadi, ‘he-he-he…,’ pikirnya.
Tirsa mendelik dan menggeram. Erwin mulai mendengkur.
Aaaaaaarghhhhhhh!!!! Tanpa bisa menahan diri lagi Tirsa mengguncang tubuh suaminya, ‘Bangun! Aku tidak mau hamil!’
Erwin terkejut bangun, melompat kaget dan hanya mendengar sepotong-sepotong. ‘Apa? Kau hamil? Astaga sayang…..hebat sekali! Jadi itu sebabnya kamu marah-marah tadi? Maaf ya, aku tidak tahu bahwa kau sedang…sedang….h-a-m-i….l..’ Erwin hampir-hampir tak bisa berhenti meloncat-loncat karena terlalu senang.
Tirsa spontan menagis sesegukan, ‘Kamu selalu tidak bisa mendengarkan dengan baik… Aku tidak mau punya anak dulu, aku tidak mau hamil!’
Erwin tercengang, sekarang dia merasa puyeng akibat lompatannya sendiri yang tiba-tiba tadi, ‘Lho, tapi tadi katanya…hamil…’
‘Aku tidak mau hamil! Aku belum mau hamil! Sebaaaaal aku mendengar kamu terus-terusan mengatakan aku hamil! Aku tidak hamiiiil!’ Tirsa menjerit kesal, jengkel dan marah bercampur menjadi satu.
Erwin tercengang, kenapa isterinya tiba-tiba histeris pikirnya kebingungan, ditengah-tengah malam pula, ‘Ssssh…Sayang, jangan berteriak…Lho….kok jadi kayak gini? Aku juga tidak memaksamu untuk hamil, kan…?’
‘Kau bilang sudah waktunya kita punya anak!’ Suara Tirsa tetap tinggi.
‘Ya, aku memang pernah berkata begitu, tapi kan…’
‘Tiga minggu yang lalu, hari Jumat, waktu kita mau tidur, di kamar ini dan aaaaah…kalau saja dinding bisa bercerita dan cicak bisa bicara mereka bisa jadi saksiku! Baru tiga minggu yang lalu kamu bilang begitu!’ Sergah Tirsa.
Erwin menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak gatal karena kebingungan, dan heran, bagaimana mungkin Tirsa masih mampu mengingat dengan tepat kapan dia mengatakannya? Dia juga menyeringai sedikit karena geli mendengar isterinya membawa-bawa dinding dan cicak. Astaga, luarbiasa ingatan perempuan, pikirnya, terutama kalau sedang marah dan mengomel. Dia bahkan sudah lupa apakah benar dia pernah mengatakannya.
‘Iya, oke Tirsaa…. hari Jumat, tiga minggu yang lalu. Tapi kan kita sudah sepakat untuk menunda punya anak karena selama lima tahun ini kamu ingin bekerja dan mengejar karirmu?’
Hah! Ternyata dia ingat!
Tirsa mengedipkan matanya yang dari tadi melotot dan menangis secara bersamaan, sekarang dia merasa bingung, jengkel tapi sudah keburu sebal, ‘Tapi kenapa kamu bilang sudah waktunya punya anak, lalu kamu juga semakin sering membawa keponakan-keponakanmu kemari hampir setiap minggu!’
‘Lho…, itu kan karena mereka merengek-rengek ingin berenang di kolam renang kompleks kita. Aku kira kau juga senang. Aku tidak tahu kau berpikir bahwa….’ Erwin mulai merasa jengkel juga. Kalau tidak suka dengan anak-anak kakaknya kenapa tidak bilang saja, pikirnya kesal, kenapa harus mengajak ribut malam-malam begini saat dia sudah sangat mengantuk pula.
‘Kamu menyakiti hatiku! Kamu betul-betul tidak sensitif!’
Erwin tercengang, ‘Haah? Karena apa? Karena aku membawa keponakan-keponakanku kesini? Tirsa, kalau tidak suka, katakan saja! Kenapa kita harus ribut seperti ini?’
Bukan itu! Bukan itu! Jerit Tirsa dalam hati, telmi sekali suaminya ini, masak dia sungguh-sungguh tidak tahu?
‘Aku kesal karena kamu bilang aku lebih cocok menjadi ibu, kamu…kamu…kamu mau aku hamil…! Kamu pikir aku bisa menjadi ibu yang baik!’
‘Haaah? Jadi kamu marah karena aku pikir kamu dapat menjadi ibu yang baik!?!’ Erwin terheran-heran.
Tirsa pun terheran-heran, bukan itu maksudnya, siapa yang tidak senang dikatakan dapat menjadi seorang ibu yang baik oleh suaminya, orang yang dinikahinya karena memang ia ingin memiliki keturunan bersama laki-laki ini suatu saat kelak. Ya, suatu saat kelak! Itu dia! Intinya adalah: bukan saat ini juga ketika suaminya tiba-tiba saja menginginkan! Bukankah sudah pada tempatnya kalau dia punya hak bicara atas tubuhnya, atas rencana masa depan mereka, juga hak atas aktualisasi diri melalui pekerjaan yang sedang ditekuninya pada saat ini?
Tetapi, sejak tadi Erwin tidak bersikeras soal harus hamil sekarang juga kan? Dia tidak mendengar ada kata harus itu terucap dari mulut suaminya. Pelan-pelan Tirsa mulai merasa ada yang tidak sinkron lagi dengan perasaan marahannya sehingga ia terdiam sejenak dan sebuah alur pemikiran logis mulai menyusun pola-pola yang semakin logis pula. Mungkinkah dia agak berlebihan? Hatinya mulai bertanya-tanya. Mengapa emosinya begitu kental sehingga ia merasa sulit untuk berpikir jernih? Maka ia mulai mencoba menata pikirannya dan menenangkan hatinya.
Katanya perlahan-lahan, ‘Bukan begitu…., tapi kamu tidak pernah secara jelas mengungkapkan apa yang kamu mau dari aku, juga tidak pernah benar-benar memperhatikan saat aku bicara. Buktinya, kemarin kamu hampir lupa, bahkan memang sudah lupa bahwa kita harus pergi ke pernikahan itu, aku harus mengingatkanmu. Aku jadi berpikir jangan-jangan memang itu sudah polanya, jadi aku mengira kamu pasti juga sudah melupakan perjanjian kita bahwa…aku…aku…boleh berkonsentrasi penuh pada karirku dulu, baru kita memikirkan soal punya anak.’ Bibirnya bergetar dan suaranya mulai meninggi, ia menyadarinya dan merendahkannya kembali, matanya kembali berkaca-kaca, bukan lagi dengan emosi kemarahan namun dengan sebuah kepedihan yang tergores. ‘Dan aku bukannya tidak mau punya anak, aku mau! Tapi tidak sekarang! Aku bukannya tidak mau menjadi ibu…! Aku mau…! Tapi tidak saat ini juga! Aku belum siap! Tapi aku bukan perempuan yang tidak punya keinginan untuk punya anak, mengasuh anak, menjadi ibu yang baik, aku juga menginginkan semua itu! Tapi tidak sekarang! Aku rasa, aku pikir, kamu pasti.., pasti…akan mengganggap aku tidak punya perasaan karena semua ini…. Tapi, sungguh, aku bukan perempuan yang hanya mau mengejar karir dan tidak punya perasaan…, aku hanya belum siap…, aku belum merasa siap…’ Dia menatap suaminya dengan pandangan putus-asa.
Ahhh….. Sebuah bola lampu seakan menyala diatas kepala Erwin. Ada sesuatu seperti bunyi ‘klik’ yang terdengar didalamnya. Itukah sebabnya? Ia menatap isterinya dengan penuh tanda-tanya, lalu…, tiba-tiba saja hati Erwin dipenuhi oleh belas-kasihan yang melanda hatinya bak banjir bandang, betapa kacaunya Tirsa, rambut yang acak-acakan, hidung yang merah dan beringus karena kebanyakan menangis, matanya yang membesar dan berkedip-kedip bingung dan basah oleh airmata. Dia menyadari bahwa isterinya berada diantara rasa marah yang membingungkan, rasa malu karena mulai melihat bahwa sesungguhnya kemarahan itu terlalu berlebihan dan kekuatiran isterinya akan pandangannya terhadap isterinya karena semua ini.
Aah..! Aku kurang sensitif, batin Erwin, tidak menyadari bahwa semua ini ternyata telah menjadi beban bagi Tirsa. Aku tidak menyadarinya!
Erwin menggelengkan kepala menyesali diri. Perlahan tapi pasti kejengkelan yang tadinya mulai merayap karena dipicu oleh kemarahan isterinya–yang dinilainya sudah melampaui hitung-hitungan logis di kepalanya, digantikan oleh penyesalan yang dalam dari hatinya yang ingin berlari dan segera menghapuskan kekacauan di hati belahan jiwanya itu. Ketika ia memandang Tirsa, ia menemukan orang yang dikasihinya nampak acak-acakan, menggelikan, sekaligus membuatnya ingin memeluk dan mengguncang-guncangnya.
‘Tirsa, sayang…’ Tanpa menunggu lebih lama lagi Erwin segera meraihnya kedalam pelukan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya diatas rambut Tirsa, ‘Maaf. Maaf Sayang, aku yang kurang sensitif. Kamu benar, aku tidak menyadarinya…’ Bahu Tirsa yang tegang perlahan melembut dan lumer dalam dekapan Erwin. Hati Tirsa mendadak cair, seperti kue coklat yang meleleh nikmat dilidah, demikianlah rasa kata maaf yang keluar dari mulut suaminya. Tirsa mengangguk perlahan, walau airmatanya masih turun tapi bukan lagi perwakilan rasa marah, jengkel atau malu. Hanya air bening dari hati yang membasuh luka dan itu melegakannya. ‘Mau kan memaafkan aku?’ Tanyanya lagi, tanpa bicara Tirsa semakin merapatkan diri kedalam pelukan suaminya.
Ah…, kalau saja dinding bisa bercerita atau cicak bisa bicara.
‘Bobo yuuk…’ Bisikan itu terdengar mesra.
Gratcia Siahaya
Jakarta, 29 Agustus 2006.
bagus banget gw suka cerita lo…..
He… He… Jadi pengen punya istri.