Rumah Kosong
Februari 5th, 2008 by wittz
PART I
Selasa, 6 Januari 2004
Rumah tua peninggalan Belanda itu kembali ditempati. Bangunan yang berdiri sejak abad 18 itu tampak masih kokoh. Hanya saja terlihat kotor dan tak terawat. Lama tak dihuni manusia.
“Huh…Om Hans kejam banget ya. Masa iya kita dikasih benteng tua begini?” sungut Bonnie.
“Ahh..udah bagus kita dapat rumah gratis nggak pake ngontrak apalagi ngekost,” ujar Niky.
Kedua remaja itu memasuki ruang tamu. Lalu membersihkan sofa dari debu-debu. Mereka pun langsung merebahkan diri di atas sofa yang baru mereka bersihkan. Perjalanan dari Jakarta menuju Bogor hari itu memang melelahkan. Kemacetan yang terus-menerus menghantui Jakarta membuat tubuh mereka pegal-pegal.
Perlahan-lahan matahari beranjak dari singgasananya. Langit mulai gelap, nyanyian burung hantu semakin menyiratkan malam yang penuh dengan misteri. Adzan Maghrib telah berkumandang dari tadi. Namun tampaknya kedua kedua kakak beradik itu masih sibuk dengan mimpinya masing-masing. Hingga saat alarm jam tangan Bonnie berbunyi, ia terbangun. Dikucek-kuceknya mata dan menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Di sebelahnya, Niky masih terlelap tidur. Ia masih merasa belum sadar, semua lampu telah menyala. Diliriknya jam, “Pantes dah mau Isya,” pikir Bonnie.
“Ky…Niky…bangun! Udah mau Isya neeh!” Bonnie mengguncang-guncang tubuh kakaknya.
“Whooammm..tapi gue masih ngantuk!” Niky menguap lebar.
“Heh, by the way tadi yang nyalain lampu elo?” tanya Bonnie.
“No, I didn`t. seiinget gue sih dari baru dateng tadi gue langsung ketiduran kan,” jawab Niky.
“Lo udah ke PLN deket sini kemaren? Ngurus surat-surat listrik?” tanya Bonnie lagi.
“Udah kok, kenapa? Tadi petugas PLN ke sini?” balik tanya Niky.
“Ahh nggak, cuma nanya aja. Sholat Maghrib dulu yuk!” ujar Bonnie. Dalam pikirannya mungkin stop kontak listriknya langsung dari PLN.
Pagi yang cerah, sayangnya Bonnie bangun kesiangan. Dia lantas langsung menghadap meja makan. Lalu mengunyah sepotong roti.
“Bangun tidur langsung makan, ke kamar mandi dulu atuh!” sindir Niky. Bonnie cuma nyengir.
“Nah…Bik Ijah, ini Bonnie, adik saya,” Niky mengenalkan seorang wanita setengah baya pada Bonnie.
“Bon, ini Bik Ijah. Om Hans udah menggaji Bik Ijah untuk mengurus rumah ini. Dan mulai hari ini Bik Ijah yang akan membersihkan setiap sudut rumah ini,” ujar Niky.
“Apa nggak terlalu kejam. Bik Ijah sendirian yang ngurus rumah ini. Lagipula ini tuh bukan rumah tapi benteng tua!” celetuk Bonnie.
“Yah…paling Bik Ijah cuma nyapu, ngepel, sama nyuci doang. Sisanya baru kamu dek!” sambung Niky.
Bonnie mesem mendengar penuturan kakaknya. Sementara kakaknya sibuk bicara dengan Bik Ijah, Bonnie kembali ke kamarnya. Ia tak pernah mengira akan tinggal di sebuah rumah atau tepatnya benteng tua peninggalan Belanda. Om Hans memang termasuk baik mau menitipkan rumah ini pada mereka. Tapi, tetap saja Bonnie kesal setengah mati sama adik ayahnya itu. Soalnya Om Hans pernah bilang kalau rumah yang akan mereka tempati itu keren, mewah, trendy, and many more. Memang sih mewah, keren, trendy, etc. Tapi di zaman kolonial Belanda, tolong!
Bonnie ke kamar mandi, tampaknya rumah tua ini telah direnovasi sebelumnya. Beberapa bagian rumah tampak baru. Termasuk kamar mandinya yang sudah lengkap dengan shower, bathtub, dan wastafel. Setelah mandi iseng-iseng Bonnie menemani Bik Ijah yang sedang mencuci.
“Ngomong-ngomong Bik Ijah orang sini ya?” tanya Bonnie.
“Ya begitulah den. Dari tahun ke tahun keluarga Bibi tinggal di sekitar sini,” jawab Bik Ijah.
“Berarti Bik Ijah tahu tentang sejarah rumah tua ini dong?”
“Nggak banyak, Cuma bibi denger rumah ini teh yang ngabangun sama yang punya tuh orang Belanda. Namanya Gullick…Gullick gitu kalo nggak salah.”
“Terus, Bik?” Bonnie bersemangat.
“Si Gullick itu katanya arsitek. Terus dia mati dibunuh tanpa meninggalkan sanak saudara. Dan akhirnya rumah ini diwariskan kepada pembantunya. Kemudian rumah ini dijual-dijual dan akhirnya sekarang jadi miliknya Pak Johansa.”
“Oo…terus ngomong-ngomong Bibi tau nggak, Om Hans beli rumah ini harganya berapa?” tanya Bonnie iseng.
“Yahh…Bibi teh nggak tau den. Tapi setau Bibi ya, harga rumah ini sekitar 2-3 milyar,” jawab Bik Ijah.
“Hah?!”
Setelah bosan ngobrol dengan Bik Ijah, Bonnie lantas berkeliling di rumah berlantai dua itu. Bonnie memang anak yang cermat. Tiap sudut ruang ia perhatikan. Om Hans sudah berpesan padanya dan Niky kalau-kalau mereka menemukan benda-benda bersejarah di rumah itu. Mereka harus menghubungi Om Hans. Memang, hampir seluruh perabotan dan furnitur di rumah itu masih asli dari abad 17. Jadi menurut Bonnie seluruh benda yang ada sepertinya bersejarah semua.
Minggu pagi Niky dan Bonnie bersiap-siap untuk ‘kerja rodi’. Mereka telah menyiapkan amplas, kuas, cat, tangga, roll dan sebagainya. Kayaknya sih mereka mau mengecat ulang rumah yang mereka tempati.
“Pagi anak-anak!” sapa seorang lelaki berumur empat puluhan.
“Eh, Om Hans kapan dateng?” tanya Niky.
“Baru kok, Om ke sini cuma mau ngecek aja kalian betah apa nggak?”
“Kalo Niky sih nyantai aja, Om. Kalo Bonnie nggak tau deh,” Niky melirik adiknya yang tampak cemberut.
Setelah puas berbasa-basi sedikit Om Hans pamit pergi. Ia harus ke Kairo hari ini, klien bisnisnya sudah menunggu. Niky dan Bonnie kembali bekerja. Pekerjaan mereka hampir selesai sampai saat Bonnie menemukan sesuatu yang ganjil di ruang makan.
“Ky! Ke sini deh, gue heran lantai yang di pojok ini kok bunyinya nyaring ya?” Bonnie mengetuk-ngetuk tangannya ke lantai.
“Nyaring gimana? Lo kira ada isinya?” celetuk Niky.
“Mungkin,” jawab Bonnie serius.
Niky mendekati adiknya dan ikut memeriksa. Dan memang di bwah lantai yang ditunjuk Bonnie itu sepertinya kosong. Bonnie berdiri lalu beranjak ke kamarnya.
“Sebentar, gue mau nyari palu sama linggis buat ngebongkar lantai ini,” ujar Bonnie.
“Jangan! Kalo memang benar di bawah lantai ini ada ruangan. Pasti ada cara untuk membukanya. Lo jangan maen asal bongkar aja!” cegah Niky.
Bonnie tetap berdiri lantas memeriksa semua sudut di ruang makan itu. Tapi ia tak menemukan apapun kecuali lemari, meja makan, kursi dan sebagainya.
Namun tampaknya Niky lebih jeli. Ia menemukan sebuah keganjilan di ruangan itu. Sebuah lemari kaca yang di dalamnya terdapat buku-buku tua mungkin peninggalan si pemilik rumah itu dulu.
“Bon, bantu gue geser lemari ini!” seru Niky.
Bonnie dan Niky mencoba menggeser lemari kaca tersebut. Namun sia-sia lemari tersebut tetap pada tempatnya. Bergeser satu centi pun tidak.
“Gila! Ini lemari besarnya nggak seberapa tapi kok beratnya amit-amit ya?” gerutu Bonnie.
Niky berpikir sejenak. Mungkin lemari ini sengaja dibuat menempel pada dinding dan lantainya. Ia pun menggaruk-garuk kepalanya yang gatal.
“Ky, udah pernah liat filmya MacGyver kan?” ujar Bonnie.
“So what?”
“Lo kan pake jepit rambut. Kali aja jepit rambut lo bisa dipake buat ngebuka kunci lemari ini,” lanjut Bonnie.
“Bonnie, itu kan film!”
“Yach kali aja bisa. Namanya juga usaha!” kata Bonnie pasrah.
Niky menuruti juga saran adiknya itu. Setelah hampir putus asa mencoba. Akhirnya klik..klik…klik…bisa! Bonnie tersenyum lebar narsisnya kumat. Dengan segera mereka mengeluarkan buku-buku di dalam lemari tersebut. Memang benar, buku-buku di lemari tersebut semuanya benar-benar buku tua.
“Hati-hati, Bon. Semua buku-buku ini sama umur lo masih tuaan nih buku!” celetuk Niky.
Tak lama kemudian mereka menemukan sesuatu. Pada dinding belakang lemari terdapat sebuah tombol kecil. Dengan bermodalkan bismillah Niky menekan tombol tersebut. Lantai yang mereka curigai tadi perlahan-lahan bergeser. Ruang bawah tanah telah terbuka!
Perlahan-lahan mereka menuruni tangga ke ruang bawah tanah. Mereka sampai pada sebuah ruangan yang cukup pengap. Ditambah debu-debu dan sarang laba-laba di mana-mana. Bonnie menyalakan lampu senter dan menyapukannya ke seluruh ruangan.
“Gila! Si Gullick itu bener-bener arsitek yang brillian. Liat deh konstruksinya!” puji Bonnie.
“Gullick siapa?” tanya Niky.
“Gue ngobrol sama Bik Ijah kemaren. Katanya yang bangun rumah ini namanya Gullick.”
”Oo..iya..iya konstruksinya emang keren banget. Dibuat pake beton lagi and still kuat sampai sekarang. Beda deh sama buatan Indonesia,” timpal Niky.
“Yee…kok jadi ngehina negara sendiri! By the way, dia fotografer juga ya? Liat deh foto-foto tua ini,” ujar Bonnie.
“And maybe he`s a reporter. Nih banyak koran-koran jaman dulu,” sambung Niky.
“Sebenernya siapa sih Gullick itu jadi pengen kenalan,” gumam Bonnie.
“Hush, sembarangan! Eh apaan nih? Lukisan?”
“Mark Van Der Gullick. Born : Paris, 24th March 1598. Die : Batavia, 12th January 1632. Bon, kayaknya ada yang nggak beres!” tegas Niky setelah membaca tulisan kecil di bawah lukisan itu.
“Kenapa?” tanya Bonnie acuh.
“Gue rasa ada yang pernah ke sini selain Van Der Gullick. Lihat deh lukisan ini tertulis tanggal lahir sekaligus juga tanggal kematiannya. Apa mungkin arsitek Belanda itu menuliskan sendiri tanggal kematiannya?” kata Niky.
“Masa bodolah! Mendingan lo liat deh koleksi batu-batu permatanya. Bagus bener ya?” Ia memperhatikan batu-batuan permata yang dijejer rapi. Salah satunya ada yang sebesar telur ayam, sangat indah dan ditempatkan di sebuah kotak kaca.
Angin bertiup semilir di ruang pengap itu. Bulu roma Bonnie merinding, perasaannya tidak enak.
“Ky, udah yuk. Bulu kuduk gue pada naek semua nih,” ajak Bonnie.
“Yuk, tapi inget jangan bawa benda apapun yang ada di ruangan ini!” ujar Niky. Terlambat, Bonnie sudah mengantongi salah satu batu permata yang paling bagus tadi.
“Bon, ternyata Van Der Gullick itu keren ya?” kata Niky. Sambil menutup kembali ruang bawah tanah tersebut.
“Please dong, Ky! Orang udah mati aja lo taksir. Kelamaan ngejomblo sih lo!” ejek Bonnie.
Di kamarnya, Bonnie memandangi batu permata yang berhasil “diculik”nya tadi. Bentuknya unik, berwarna kehijauan, dan berkilau sangat indah. Mungkin bila ditaksir harganya bisa mencapai ratusan juta. Bonnie pun senyum-senyum sendiri. Tak lama kemudian ia tertidur dengan batu permata di tangannya.
Kringgg… Bonnie langsung terjaga. Bunyi weker yang sember itu memaksanya untuk membuka mata. Lantas alarm jam tersebut mati dengan sendirinya.
“Aneh, perasaan ini jam nggak ada baterenya,” Bonnie memeriksa bagian belakang jam tua itu. Dan benar. Tak satu pun baterai yang terpasang di jam tersebut. Bonnie hanya menggaruk-garuk kepalanya, heran.
Samar-samar ia mendengar suara berisik. Setelah didengarkan dengan jelas ternyata suara-suara itu berasal dari perutnya. Hampir jam enam sore, pantas saja, perutnya belum diisi dari tadi siang.
Ia keluar dari kamarnya walau belum sadar betul dari tidurnya. Perlahan ia menuruni tangga menuju dapur. Setelah piringnya terisi dengan makanan ia berjalan menuju ruang TV. Tampak Niky duduk dengan manisnya di kursi makan.
“Ooii, Ky! Baca buku aja, ntar pinter lo!” celetuk Bonnie pada kakaknya yang sedang sibuk membaca buku. Kakaknya hanya menanggapinya dengan anggukkan.
Bonnie pun berlalu dengan piring di tangannya. Tak lama kemudian ia sudah tenggelam dalam acara TV.
“Assalamualaikum,,,” sapa Niky.
“Kum salam,” jawab Bonnie asal matanya tak berpaling dari TV.
“Ya ampun, Bon. Jakarta macet gila! Bayangin aja di Kemang gue stuck dua jam. Gila nggak tuh?!” gerutu Niky.
“Bonnie langsung menoleh ke arah Niky. Dahinya berkerut heran. Niky berpakaian lengkap khas orang kantoran.
“Emang lo darimana, Ky?” tanya Bonnie.
“Ya Alloh tolong! Gue udah nulis pesen trus gue tempel di kulkas, lo nggak baca?” balik tanya Niky. Bonnie menggeleng.
“Percuma dong gue tulis, lo baca pesen gue aja deh. Capek banget neeh gue!” lanjut Niky lalu beranjak menuju kamarnya.
Bonnie hanya menatap kakaknya tak berkedip. Setelah kakaknya masuk ke kamar. Bonnie langsung berlari menuju dapur. Dibacanya pesan yang menempel di kulkas.
Bonnie, gue ada panggilan dari kantor. Baliknya mungkin Maghrib. Jaga rumah ya jangan sampe hilang!
Niky
“Terus yang baca buku tadi siapa dong?” Bonnie bertanya-tanya.
Remaja 18 tahun itu pun tak ambil pusing. Ia menganggap dirinya sedang berhalusinasi. Lalu ia kembali ke ruang TV dan menghabiskan waktunya di depan TV.
huuuu….
seru jg cerpennya (^_^)
btw.. mana nih lanjutannya???
q tunggu yah…..(T_T)
waiting______
Lanjutannya nanti yaa… coz ni cerita mau gue bikin panjang. Tapi gue sendiri sereem nerusinnya…he..he..he..
cerpennya bagus… malah mau aku bacain di depan kls sbg tugas bhs.ind di sekolah… tapi… bkin lanjutannya yaa… biar nanti temen”ku ga penasaran… ok?!
Iya nih , lanjutannya mana, bikin penasaran aja….., jarang jarang seh ada yg bikin cerpen misteri kayak gini
Baca juga COMEBACK…
Ceritanya sedih lowh…
Wahahaha gokil,writer nya sendiri ketakutan nulis cerita ini tapi kok da yang klepto ya…
Sialan penulisx g pux nyali nerusin ceritax
CERITAX KAYAK KOMUNITAS ANAK BUNDARAN ada pet, olleng, jama dgn JAGUNGX, Mbak yg jual bkso, sofyan EFfendi, naSRun calegx PKJUga iwanx AMMING DLL Dech.
SELAMAT mjalani kebahagian brsm sofyan efendi di benteng SELAYAR
KAMI SNGT CCK DAN INGN MELANJUTKAN JENJANG YG LBH Serius prh orng tua km sepakat mnkng thn 2009 ini kami ingin naik plmng doa km
Gua sih abis baca ini ,malah ingat aulia sm fatiya en tentu sm mamax anak2 Herawaty Mufid,SH di amparita-Sidrap
Fatiya n auliya ku aq syg kalian jg hera-ku .suka baca ini jg?
Ni kok jadi pada reunian???