KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Amanda Mirella 1

Aku tersentak saat mendengar pintu kamarku yang digedor keras. Konsentrasiku dalam menulis artikel pun buyar. Dengan kesal kubuka pintu kamar. Tampak wajah polos Amanda menatapku sambil tersenyum.
“Gue gak bolot!!! Ganggu orang kerja aja sih!” dampratku.
“Aa…ada telepon buat Mirell. Manda panggil-panggil daritadi Mirell gak nyahut sih,” ujar Amanda tanpa menggubris omelanku.
Aku hanya bisa gigit jari, percuma marah-marah. Kutinggalkan Amanda yang masih melongo di depan pintu kamarku.
Namanya Marissa Amanda, usianya bulan ini genap dua puluh tahun. Dua tahun lebih tua dariku. Tapi kelakuannya lebih mirip bocah lima tahun. Amanda memang bukan gadis sempurna. Ia mengalami keterbelakangan mental. Namun keluargaku sangat menyayanginya kecuali aku, adiknya sendiri.
Waktu kecil aku satu sekolah dengan Amanda. Dua tahun berturut-turut Amanda tidak naik kelas. Ia tetap setia menjadi penghuni kelas I SD. Waktu itu kami belum menyadari kalau Amanda cacat mental. Teman-temanku malah mengira Amanda anak yang bodoh. Tak jarang aku diejek karena memiliki kakak yang bodoh.
Setelah rajin mengunjungi psikolog barulah kedua orang tuaku sadar kalau putri sulungnya mengalami cacat mental. Saat itu pula aku merasa dikutuk oleh Tuhan, karena memiliki kakak yang idiot. Perasaan itupun terus berlanjut hingga sekarang.

^^^^^^^^^^^^^^
“Wooiii…!!! Tidur aja! Dicariin si Bos tuh! Katanya lo utang artikel ya sama dia!”
Perlahan kubuka mata, pasti tadi suara cemprengnya Mas Daffi. Tega banget tuh orang! Semalaman aku begadang menyelesaikan tugas kuliah dan artikel tentang pemanasan global yang deadlinenya jatuh pada hari ini.
Kurapikan bajuku yang sedikit lecek gara-gara ketiduran tadi. Setelah komat-kamit sebentar kulangkahkan kaki ke ruang Mbak Tiana, pemimpin redaksi majalah tempatku bekerja.
Kuperhatikan raut wajah Mbak Tiana yang tampak serius membaca artikelku. Sesekali ia berdehem membuatku sedikit ngeri. Maklum bos redaksi yang satu ini cukup dikenal killer. Banyak karyawan lain diprotes gara-gara kerjanya ada yang salah. Apalagi aku yang cuma karyawan freelance. Aku pun sebenarnya belum cukup umur untuk diterima bekerja di sini. Namun berkat bantuan Mas Daffi yang masih terhitung saudara jauhku. Aku diterima juga di kantor ini. Walaupun honornya tak seberapa. Toh aku cukup bangga bisa bekerja sambil kuliah, lumayan buat pengalaman.
“Hmm… Jadi ini artikel kamu?” tanya Mbak Tiana.
“I…iya Mbak Tiana. Ada yang salah ya, Mbak?” ujarku takut-takut.
“Gimana ya??? Hmm… artikel kamu bagus. Kalo kamu bisa terus improve, saya gak ragu merekomendasikan kamu untuk jadi karyawan tetap,” lanjut Mbak Tiana datar.
“Yang bener, Mbak? Jadi gak enak nih, he…he…he..”
“Yee…ngajak bercanda! Saya serius, tapi emang ada beberapa kalimat yang harus diedit, terlalu blak-blakkan. Kita bukan majalah politik, dek! Tapi secara keseluruhan lumayan bagus. Oke, ini artikel terakhir. Besok kita rapat untuk terbitan minggu depan,” kata Mbak Tiana.
Tak sampai setengah jam aku di ruangan Mbak Tiana. Di luar Mas Daffi sudah menunggu. Wajahnya tampak harap-harap cemas. Mungkin takut aku di skak-mat sama Mbak Tiana.
“Gimana?” tanya Mas Daffi.
“Sstt… gue gitu loh! Siapa juga yang ragu sama Mirella Erlannie,” bisikku sedikit sombong.
“Huh… jelek lo! Gue kira artikel lo ditolak!” Mas Daffi menarik ujung rambutku pelan.
Makan siang hari itu kuhabiskan bersama Mas Daffi. Mungkin aku memang ditakdirkan memiliki seorang kakak yang idiot. Tapi Tuhan juga menciptakan kakak-kakak yang lain untuk menjadi saudaraku. Salah satunya Mas Daffi ini. Walau jarak kekeluargaan kami cukup jauh. Toh kami bisa tetap menjaga komunikasi yang baik.
“Rell, nengok ke samping arah jam sembilan,” bisik Mas Daffi.
Aku pun melirik ke samping. Mbak Tiana tampak berbicara serius dengan Bu Catherine, pemilik perusahaan tempat kami bekerja. Sesekali kulihat mereka tertawa.
“Mbak Tiana bisa bercanda juga ya sama Big Bos?” tanyaku.
“Ya bisalah lha orang sama kakaknya sendiri!” celetuk Mas Daffi.
“Kakaknya? Bu Catherine itu kakaknya Mbak Tiana? Kakak kandung?” aku sedikit kaget.
“Ya iyalah. Kalo bukan, ngapain juga Mbak Tiana mau kerja di kantor kita? Mendingan dia cabut ke luar negeri. Modal gelar master dari Yale University. Siapa yang gak mau nerima dia?!” ujar Mas Daffi.
Aku hanya manggut-manggut. Kembali kulirik meja Mbak Tiana. Mereka berdua tampak asyik bercerita.
Entah angin darimana tiba-tiba dua orang yang kutatap berubah menjadi aku dan Amanda. Kami berdua tertawa riang. Amanda bercerita layaknya orang normal. Aku berulang kali mengucek mata. Kayaknya mata sama otakku mulai gak sinkron nih. Ke mana Mbak Tiana dan Bu Catherine? Kenapa malah ada aku dan Amanda di meja itu? Pandanganku perlahan kabur, lantas aku tak ingat apa-apa lagi.

Aku membuka mata, bau alkohol menyengat hidung. Gila! Aku ada di mana nih? Kutegaskan pandanganku, kayaknya aku ada di ruang UGD rumah sakit. Oh my God?! Rumah sakit? Kayaknya kepalaku pusing lagi. Dan untuk kedua kalinya aku tak ingat apa-apa lagi.
“Mirell, kamu udah sadar?” sebuah suara memaksaku membuka mata. Kalau mataku tidak salah tangkap orang yang berdiri di sampingku pastinya Mbak Tiana.
“Syukur kalo kamu udah sadar. Kamu pingsan waktu di foodcourt tadi,” lanjutnya lagi.
“Ohh… saya kenapa Mbak?” tanyaku sambil mencoba bangkit. Tapi Mbak Tiana malah menyuruhku untuk tetap di tempat tidur.
“Kata dokter kamu harus banyak istirahat. Keluarga kamu di luar, sebentar Mbak panggil ya.”
Kembali aku sendirian di ruangan ini. Mungkin ruang rawat inap. Aku ingin segera pulang. Kelamaan di sini bisa-bisa kepalaku malah tambah pusing.
“Mirella…!!!” sebuah suara yang sudah sangat kuhafal memanggilku. Siapa lagi kalau bukan suara Amanda.
“Papa sama Mama ke mana?” tanyaku.
“Papa aa…da..meeting terus Ma…ma lagi ke Ban..dung,” jawab Amanda tertatih.
“Mas Daffi di mana? Kok malah elo sih yang nongol. Gue kira Mama,” ujarku ketus.
“Mas Daffi ma…sih di luar. Ntar juga…ke..sini. Mirell kenapa? Kok bisa pingsan?” tanya Amanda.
“Kalo gue pingsan berarti gue sakit!!! Gue mau pulang! Istirahat di rumah aja,” aku mencoba turun dari tempat tidur. Amanda mencoba membantu. Namun langsung kutepis tangannya. “Gue bisa jalan sendiri!”
Selama tiga hari ini aku harus bedrest di rumah. Anemiaku kambuh lagi. Aku harus banyak istirahat dan banyak makan! Yahh… setidaknya masih lebih baik daripada harus dirawat di rumah sakit.
Hampir dua hari ini pula Mas Daffi rajin ke rumah sekedar menghiburku. Ia tahu persis kalau aku paling tidak betah berlama-lama di tempat tidur. Sesekali Amanda juga datang ke kamarku. Dia berceloteh banyak mungkin niatnya ingin menghiburku juga. Sayang aku malah lebih sering ketiduran daripada mendengarkan ia bercerita.

^^^^^^^^^^^^^
Pagi-pagi buta aku sudah bangun. Biasanya jam segini aku sedang asyik menyelesaikan tugas. Entah itu tugas kuliah atau tugas kantor. Karena tak ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Aku lantas turun melangkahkan kaki ke ruang perpustakaan keluarga. Aku berjalan perlahan takut membangunkan orang serumah. Biasanya sih jam empat pagi kayak gini belum ada orang yang bangun.
Jantungku nyaris copot saat kulihat sekelebat bayangan manusia lewat di ruang perpustakaan. Ya ampun apaan tuh yang barusan lewat?
“Mirell!”
“Hwaaa!!!!” aku terkejut. Dengan wajah tanpa dosa Amanda tiba-tiba berdiri di hadapanku.
“Ngapain lo di sini?! Pake ngagetin orang segala. Kalo gue sampe mati jantungan gimana?! Mau tanggung jawab lo?!” ketusku. Amanda hanya melongo mendengar omelanku. Mungkin ia tidak mengerti kata-kataku.
“Mirell mau belajar juga ya? Manda sering loh ngeliat Mirell belajar di sini pagi-pagi,” ujar Amanda sambil tersenyum.
Aku lantas terdiam dan menatapnya iba. Jadi diam-diam Amanda sering memperhatikan aktifitasku di rumah. Mungkin karena aku jarang mengajaknya bicara. Mungkin juga ia takut karena sikapku yang kurang ramah padanya. Tapi ahh… masa bodohlah!!! Sudah cukup memalukan memiliki kakak yang idiot. Aku sendiri jadi curiga kalau sebenarnya Amanda bukan bagian dari keluargaku.

“Rell, kamu kok tidur di sini sih? Ada kuliah gak hari ini?” Mama mengguncang-guncang bahuku pelan.
“Ada jam sembilan,” jawabku setengah sadar.
“Jam sembilan??? Sekarang udah jam delapan lho! Ayo bangun, terlambat kamu nanti!” ujar Mama.
Kulirik jam dinding di depanku. Ya ampun bener-bener jam delapan! Mana ada presentasi lagi hari ini. Cepat-cepat aku bangkit lantas melesat ke kamar mandi. Tak sampai setengah jam aku sudah rapi. Kumasukkan berkas-berkas bahan presentasiku hari ini. Mataku terbelalak saat melihat beberapa lembar berkasku penuh dengan gambar di sisi belakangnya. My God! Ini pasti kerjaannya Amanda!!!
Dengan kesal aku bergegas ke bawah. Papa, Mama, dan Amanda tampak sudah bersiap-siap sarapan di ruang makan.
“Amanda!!! Lo apain kertas gue?! Perlu gue bilangin berapa kali sih? Jangan pernah ngutak-ngutik meja belajar gue!!!” seruku.
“Ada apa sih, Rell? Pagi-pagi sudah ribut,” kata Papa.
“Pa, ini udah yang kesekian kalinya Amanda ngerusak barang Mirell. Lihat nih, Pa! Paper yang mau Mirell serahin ke dosen dicoret-coret sama dia. Siapa yang gak kesel coba?!”
“Kamu harus sabar, Rell. Ini kan kecelakaan, jujur aja ke dosenmu soal paper kamu itu,” ujar Papa santai.
“Jujur? Maksud Papa bilang kalo paper Mirell dicoret-coret sama kakak Mirell yang idiot???” aku memberi penekanan pada kata yang terakhir.
“Mirella!!!” bentak Papa.
“Ahh…udahlah!!! Papa memang selalu belain Amanda!” lanjutku kesal. Lalu pergi meninggalkan mereka.
Sebenarnya aku bukanlah tipe orang yang pemarah. Tapi ini sudah di luar batas kesabaranku. Kedua orang tuaku selalu membela Amanda. Di mata mereka apapun yang dilakukan Amanda adalah hal wajar sekalipun itu salah. Aku tak habis pikir apa istimewanya seorang Amanda. Hingga ia mampu menyihir Papa dan Mama.

6 Responses to “Amanda Mirella 1”

  1. on 22 Feb 2008 at 15:57POLOSMAN

    NG??…….

    udah abis yah?

    ga da ending?

    NC aja deh

  2. on 24 Feb 2008 at 20:06wittz

    belum masih bersambung…kalee

  3. on 15 Mar 2008 at 01:40Uju

    Euleuuuuhhhh….
    ceritanya baru mulai ko dah bersambung.
    jadi penasaran nich.
    tapi bagus kayanya lanjutannyah…
    ditunggu yach…

  4. on 29 Mar 2008 at 08:41deeo94

    lanjutannya
    kapan ??
    kyknya asek neah..

  5. on 30 Mar 2008 at 12:23Angga

    Tau neeh witts,ceritanya bagus-bagus tapi bersambung mulu.Dah kayak sinetron ja

  6. on 03 Apr 2008 at 15:28Nday

    waaah, bagus-baguss! Kereen!
    Lanjutannya donk Mbak / Mas..

Tinggalkan Komentar