KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Surat Buat Om Hans

Om Hans,
Jarum jam sudah menunjukan pukul dua malam, ketika aku menulis surat ini. Bukan waktu yang pas tentu saja. Pada jam-jam seperti ini pasti sebagian orang sudah meringkuk di kamar tidur masing-masing. Bahkan sudah ada yang berselimut mimpi. Tapi, aku masih terjaga. Makin kuupayakan untuk tidur, aku makin gagal. Makin ku coba memejamkan mata, rasa kantukku justru meninggalkanku. Ya, malam ini aku benar-benar merasa sendirian, kesepian.
Om Hans,
Kerinduan ini tak terbendung lagi, bagaikan air bah yang datang dan tak bisa ditahan, membanjiri semua sudut hatiku. Faktanya memang demikian, aku sangat merindukanmu.
Ani teman satu kosku, sudah masuk kamarnya sejak pukul sepuluh. Ia mengatakan padaku harus buru-buru tidur karena pagi-pagi sekali mesti berangkat kuliah ada ujian tengah semester. Kebetulan letak kampusnya agak jauh dari tempat kos. Kalau kesiangan, ia bisa terlambat tiba di kampus.
Mira, temanku satunya lagi, sekarang ini juga sedang sibuk-sibuknya melakukan berbagai persiapan untuk pementasan sebuah drama panggung. Sejak dulu, ia memang menyukai dunia seni peran, katanya mau jadi artis. Ada-ada saja impian Mira. Sedangkan Shinta temanku yang paling rajin sedang sibuk menyelesaikan skripsinya, akhir tahun ini ada ujian sidang, dan Shinta nggak mau ketinggalan. Akibatnya, ia seolah asyik dengan diri dan dunianya sendiri. Aku terbelenggu sendiri,

Om Hans,
Mau tahu alasan kenapa aku menulis surat ini?
Ya, dalam kesendirianku yang makin sering kualami, malam ini aku tiba-tiba ingat Om, sesuatu yang sebelumnya hampir tak pernah kurasakan. Karena dalam dua tahun terakhir ini sebenarnya aku hampir tak pernah lagi memikirkan hal-hal konyol tentang Om dan tante Yuli. Aku mulai terbiasa menikmati dinginnya malam seorang diri, menikmati hampanya hati ini. Menikmati kerinduan ini.
Mengapa..?? Karena dalam kesendirian, aku bisa menjadi diriku sendiri. Setelah kenyataan om memilih Tante Yuli untuk menjadi pendamping hidup. Tapi malam ini, entah karena apa, mendadak saja aku teringat saat indah yang pernah ku lalui. Pikiran-pikiran konyol itu begitu saja menari-nari di kepalaku. Kubayangkan hal-hal manis yang mungkin saja sudah Om lupakan. Maafkan Om, jika akhirnya aku menulis surat konyol ini. Percayalah, aku tak bermaksud apa-apa. Sudah lama kuikhlaskan hatiku, dan semua yang telah terjadi. Keikhlasan yang membuat bathinku tentram.
Om tentu tahu, awalnya aku amat marah pada keadaan, marah pada tante Yuli dan tentunya marah pada Om Hans sendiri. Betapa bodohnya aku saat itu, tidak mengetahui dari awal bahwa keindahah yang kurasakan hanya semu. Lambat menyadari kalau Om hanya menganggap aku adik.
Memang seharusnya aku menjadi adik buat Om, tepatnya keponakan Om, karena tante Yuli adalah anak bu’de Imah, saudara Mama yang tinggal di Yogyakarta. Tapi, sungguh aku tak menyadari itu, om telah memberikan sejuta warna dalam hidupku, rasa yang berbeda. Dan,,, aku salah mengartikan semua itu. Tepatnya yang kurasa adalah cinta. Aku jatuh cinta pada Om. Normal bukan..?
Wanita mana yang tidak terpesona dengan keindahan yang Om miliki. Sikap yang bersahaja, hangat, perhatian, dan mata itu selalu menatapku dalam bingkai ketenangan. Hati ini selalu berkata, “Om mutlak harus jadi milikku. Jiwa dan raga. Lahir dan bathin. Fisik dan mental. Tak boleh ada perempuan lain yang hadir”. Tapi aku salah !!
Hati, cinta, yang Om punya sudah tertanam pada tante Yuli, yang saat itu sedang menyelesaikan S2-nya di Jakarta. Teramat sedih, menyadari semuanya. Harusnya aku tak melepaskan om, dan pura-pura tidak tahu dengan rasa ini. Tapi, aku begitu naif bila harus mengikuti egoku.
Surat yang pernah Om kirim akhir Desember 2005 yang lalu, satu minggu menjelang hari bahagia Om dan tante Yuli, yang berisi permintaan maaf, sudah lama kusobek-sobek sesaat setelah aku membacanya. Tapi…isinya tak ikut sobek. Ia terus bermain-main dalam pikiranku.
Dita, maafkan aku kalau selama ini perhatian yang kuberikan membuat mu salah mengartikannya, sungguh, aku amat menyayangimu. Kamu lucu, manja dan selalu membuat aku kangen. Tapi hanya sebatas itu rasa yang ku punya buat mu. Aku sangat mencintai Yuli”. Upps, hanya air bening yang meleleh dari kelopak mataku saat itu. Aku marah, kesal. Tapi kemana kutumpahkan. Pada Om, atau pada tante Yuli, atau pada diriku sendiri. Aku tak tahu..?
Dan dua tahun lalu, aku akhirnya memutuskan untuk menerima dengan ikhlas semuanya. Aku tak ingin hidupku terus menerus diganggu api dendam dan amarah. Sebenarnya tak ada yang salah.
Om benar!! Memang tante Yuli wanita yang pas buat teman hidup om. Tutur katanya yang lembut, senyumnya yang manis dan sangat menawan, kecerdasannya, kedewasaannya, kesediaanya untuk selalu membantu orang lain merupakan poin lebih yang ia miliki, dan tak ada alasan om untuk mencari dan menemukan wanita lain selain tante Yuli.
Aku, wanita yang mengagumi Om Hans, juga tidak salahkan?? Setiap kali bertemu, bercanda, dan perhatian yang om berikan membawaku melayang pada anganku. Begitu manis setiap kata yang keluar dari mulut om, indah. Belum lagi tatapan mata itu, menembus setiap lapisan dinding hatiku. Salahkah cinta itu hadir..!
Dan, Om Hans sendiri. Sosok pria yang begitu lembut dan perhatian. Juga tidak salah. Deretan perhatian yang diberikan adalah wajar, karena Bu’De Imah memang menitipkan aku pada om sebagai dosen di Universitas Islam Indonesia tempatku kuliah. Untaian cerita manis begitu saja dilalui. Dalam otak ini, yang terpikirkan, om juga mempunyai rasa yang sama sepertiku.
Akhirnya, itulah harga yang harus kubayar. Melepaskan dan mengikhlaskan Om Hans menikahi tante Yuli. Ya, kadang-kadang aku tersenyum sendiri di dalam kesendirianku. Karena itulah, akhirnya aku menikmati saja kesendirianku. Aku mencoba mengambil hikmah dari semua kejadian yang kualami. Bagiku, aku cukup beruntung bisa menyanjung dan memuja om, terlepas dari fakta bahwa akhirnya om menikah dengan orang lain.
Tapi,,, belakangan kusadari hidup memang tak selamanya indah. Dan itulah dunia. Kadang-kadang apa yang kita harapkan, kita perjuangkan belum tentu akan menjadi milik kita. Kenangan ini sangat berharga. Dan harus kubayar dengan mahal, bukankah makin mahal tentu makin bermakna.
Hikmah lainnya.. Boleh kukatakan pada om? Ternyata mencintai adalah suatu keindahan, menikmati dengan kepasrahan. Biarlah semua ini menjadi kenangan yang terindah buatku. Tohh, cinta tak harus memiliki, dengan kebahagiaan yang om dapatkan sudah cukup buatku.
Om Hans,
Masihkah membaca suratku. Bukankah sudah terlalu panjang aku menulis? Sebaiknya aku sudahi saja. Tapi sebelum itu, ingin kukatakan sekali lagi, bahwa terkadang aku disergap rasa rindu, itupun tak selalu menggangguku. Aku tak pernah menyesali telah mencintai om.

Begitu dulu om, ku sudahi surat ini.
Salamku pada Tente Yuli. Berikan kepadanya yang terbaik. Jika om ingin mendapatkan yang terbaik juga. Aku tak ingin om menyakitinya.

Yogyakarta, Januari 6th 2008
Salam, Ditafilana.

Tamat.

Tinggalkan Komentar