Don´t Hide Your Feelings 3
Februari 1st, 2008 by 亜也子
Ketika di ruang kepala sekolah, kira-kira berbicara sekitar 10 menit, kitapun mendapat jawaban.
Haru-nii di kelas 3a sementara aku di kelas 1b. ketika kita keluar kelas, tiba-tiba Yuuki-san sudah berada di luar.
“Aya-san, kamu masuk kelas apa?” tanya Yuuki.
“Aku masuk kelas 1b.”
“Wow.. sama dong kaya aku dan Michi.”
“Michi?!” tanyaku bingung.
“Oh ya ini temen sekelas kita juga, temanku. Namanya Michi. Michi ini Aya-san.”
Akupun berjabat tangan dengan Michi yang dari tadi diam (sepertinya melihat kearah kakakku)
“Oh ya, ini kakakku, namanya Haruki. Dia kelas 3a.”
Kakakkupun berjabat tangan dengan Micchi namun dengan tingkah yang sedikit aneh.
Aku dan Yuukipun ketawa.
“Ano, aku ke kelas duluan ya Minna.. jyaaa” kata kakakku langsung berjalan menuju kelasnya.
Aku masih tertawa dan menyenggol Michi
“Kau naksir kakakku ya??” tanyaku to the point.
“Hee? gak.. gak kok!!” katanya terbata-bata.
Aku kembali tertawa.
“Ahh.. kamu sama Yuuki san sama ya.. kalian naksir orang yang sama..” kataku
“Aya-san.. aku cuma suka ngeliat muka Haru-nii.. bukan berarti aku suka sama dia.”
“Iyaa aku juga..”
“Ya ya.. suka sama dia juga gapapa kok!! Tapi dia itu…”
Omonganku berhenti, karena aku melihat seseorang lewat di depan kita ketika kita berjalan menuju kelas.
(sepertinya aku pernah bertemu dengannya.. tapi kapan ya?? Dimana?? Aku khan masih baru..)
“hei..hei.. Aya..!! Kamu kenapa?? Kok tiba-tiba berhenti..”
“Eh, kalian kenal gak sama cowo yang tadi barusan lewat?”
“Yang mana?? Tadi banyak yang lewat soalnya.”
“Barusan.. yang tadi itu.. pake tas hitam.. terus di tangannya ada apalah itu namanya yg ada di tangan itu warna kuning.. kamu tau itu siapa?”
“oh.. Tanoki?? Kenapa memangnya?? Ahh.. kamu suka ya sama dia??”
“Bukan.. tapi..”
“Ah.. jangan bohong deh!! Memang banyak sih yang suka sama dia. Tapi gue lebih suka kakaknya, sama-sama cakep kok!”
“Hei..hei.. aku bukannya suka sama dia.. aku cuma tanya doang kok! (Jadi namanya Tanoki) sepertinya aku pernsh ketemu ma dia deh.. tapi lupa kapan and di mana”
“Ohh..”
Akupun mempercepat langkahku dan segera menuju kelas. Aku mencari cowok itu untuk bertanya dengannya. Tapi tidak ketemu. Bel masuk sudah keburu berbunyi. Aku belum bisa bertemu dengannya. Yuuki dan Michipun menghampiriku.
“Udahlah, ntar juga pas masuk bisa ketemu..”
“Tau nih,,!!”
Mereka berdua terlihat senyum-senyum gak jelas.
“Duh.. kalian jangan mikir yg macam-macam ya.. aku cuma pingin tau apa aku pernah ketemu dia..” kataku sambil melihat-lihat murid-murid yang masuk kelas. Namun berhubung mereka masuknya langsung aku gak tau yg mana orang yang aku cari. Akhirnya aku langsung menempati tempat duduk yang kosong disamping Michi dan di depan Yuuki.
Beberapa menit kemudian Taka sensei datang. Ia langsung berbicara dan bilang kalo ada murid baru. Begitu namaku dipanggil, aku langsung menuju ke depan.
“Minna, namaku Mizurachi Ayako. Panggil aja Aya. Lam kenal!” kataku sambil tersenyum namun mataku kembali melihat sekeliling kelas. Pandanganku berhenti ketika mataku tertuju kepada salah satu cowok yang terlihat cuek namun cukup cakep duduk di pojok! (ya itu dia). Lalu tiba-tiba cowok itu berbicara.
“Hei, ngapain kamu ngeliatin aku kaya gitu??”
Ups aku baru sadar kalo aku masih dalam keadaan seperti ini. Spontan seluruh kelas tertawa. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Akupun kembali ke tempat duduk. Namun usahaku untuk berbicara dengannya sia-sia. Akhirnya aku akan menunggu sampai waktu istirahat tiba.
Pelajaran pertama adalah matematika. YAY! Aku cinta math! Setidaknya bisa membuatku sedikit semangat pagi ini.
Guru math adalah Tomo-sensei. Dia terlihat sangat pintar (sepertinya). Ia memakai jasnya. Berpenampilan rapi. Dan…
“Kamu, yang duduk di depan Yuuki-san?”
Aku baru sadar kalo dari tadi aku tidak memperhatikan pelajaran
“Hai. Atashi desu!”
“Ng, Aya-san desu ka?”
“Hai”
“Coba kamu kerjakan soal di papan tulis.”
Aku kaget! What! Soal apaaan?? Tadi aku kan cuma memperhatikan penampilan guru itu. Aduh..
Akupun langsung berjalan menuju depan dan papan tulis. Jantungku deg-degan. Namun, begitu aku melihat soal di papan tulis senyumku merekah.
‘Yai! Aku tau soal ini. Waktu di Tokyo lebih tepatnya di Horikoshi Academy sudah pernah dibahas. Dan aku pernah membahasnya sama Haru-nii!’
Akupun dengan keyakinanku mengerjakan soal di papan tulis. Tidak membutuhkan waktu yang lama karena aku cukup menguasai bahasan ini.
Akhirnya selesai. Aku memberikan spidol ke Tomo-sensei.
“Wow.. great! Ternyata kamu bisa juga. Sudah pernah mempelajarinya?”
“Ya, sensei. Waktu aku di Horikoshi Academy, pernah sedikit dibahas. Dan aku juga pernah membahasnya sama Haru-nii”
“Bagus! Ya uda kembali ke tempat dudukmu! Dan tetaplah konsentrasi.. jangan sampai kamu melamun kaya tadi.”
Aku mengangguk dan kembali ke tempat dudukku. Pandanganku sesekali menuju ke cowok itu yang katanya bernama Tanoki, kembali mengingat apa aku pernah bertemu dengannya atau tidak. Namun aku masih lupa bertemu dengannya dimana.
Aku memukul-mukul kepalaku seperti orang bego dan hal itu diketahui Tomo-sensei.
“Ada apa, Aya-san?”
“Hee?? Ng, gak ada apa-apa.. daijoubu!” kataku sambil duduk di kursiku dan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Hei, hebat kamu!! Bisa ngerjain soal yang tadi! Kamu pintar ya!” kata Yuuki sambil mencolekku
“hehe.. gak juga.. tadi kebetulan doang kok.”
Lalu, aku berusaha untuk melupakan itu sejenak dan berkonsentrasi dengan pelajaran math yang merupakan pelajaran favoritku itu.
Akhirnya pelajaran math selesai. Aku menarik napas panjang. Bel istirahat berbunyi pertanda waktuku untuk berbicara dengan cowok itu. Aku langsung bergegas melihat ke arah belakang. Dia masih disana namun sepertinya ia ingin segera pergi. Aku pun menghampirinya.
“Hei..hei, tunggu!” kataku.
Dia masih diam. Nyuekin aku.
“Tanoki-kun tunggu.” Kataku.
Diapun berhenti.
“Kamu manggil saya.. kenapa?” tanyanya cuek
“Ano, kita pernah ketemu gak ya?” kataku langsung to the point. Aku gak peduli saat itu banyak sekali murid-murid yang melihat kejadian ini.
“Ha?! Ya iyala! Sekarang kita ketemu kan? Tadi pagi kamu ngeliatin aku. Pertanyaan bodoh!” katanya sambil beranjak pergi.
Aku langsung memegang tangannya dan berkata, “tunggu! Bukan itu maksudku!”
Dia melihatku ketika memegang tangnnya.
“Maaf.” kataku sambil melepas peganganku. “Maksudku, kita pernah ketemu sebelumnya gak? Soalnya aku ngerasa kalo..”
“Hei…hei.. anak baru.. berani banget kamu ngomong kaya gitu sama Tanoki. Sok kenal. Sok akrab! Udah jelas muka dia menunjukkan kalo dia gak mau ngobrol sama kamu. Masih aja dilanjutin.” kata seorang cewek yang memakai rok pendek itu.
“Aku kan cuma tanya. Apa salahnya kalo aku tanya coba.”
Akhirnya aku justru berdebat dengan cewek itu dan Tanoki beranjak pergi sambil berkata, “Omakase yo”
Aku baru sadar kalo Tanoki sudah menjauh lalu aku meninggalkan pertengkaranku dengan cewek itu dan berlari ke luar kelas. Namun langkahku berhenti ketika Michi memberhentikanku.
“Sudahlah, aya! Gak usah ngejar dia. Mending kamu lupain aja. Tanoki orangnya kaya gitu. Gak perduli sama orang lain. Percuma kamu tanya sama dia.”
“Ah ini semua gara-gara cewek itu tuh!! Dia siapa sih?? Sirik banget sama aku.. memangnya dia siapanya Tanoki sih!!”
“Dia orangnya kaya gitu.. namanya Erika.. dah mending gak usah kamu ladenin deh.. yang ada ntar malah ada masalah..”
“Iya.. mending kita ke kantin aja. Kita makan. Abis itu keliling sekolah supaya kamu lebih kenal sama sekolah ini.” kata Yuuki.
Akhirnya aku mengikuti anjuran kedua temanku itu dan berjalan menuju kantin sekolah.
—> Continued