KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Januari 2008

…inspired by a friend and her memory of her handsome pet, mio the rabbit

Rusuh

berserah diri pada daun-daun yang diam,
pada bumi yang berputar, dan
pada dunia yang bebas..
tapi kehidupan yang maha halus menolaknya
dengan umpatan kasar
dan menghempaskannya pada batu-batu kerikil tajam..

sungguh, wewangian itu datang
dari pakaian-pakaian pembesar negeri
namun sekedar menghirup aromanyapun
hidung mesti di sumbat dengan
tumpukan uang kertas

Putri Bumi

persembahan hidup sang pujangga

pada puteri-puteri bumu

dengan bait-bait syair dan puisi

seperti nyala lilin yang tenang

redup dalam kegelapan

terseok-seok di tiup angin dingin.

cepat, meleleh dan akhirnya mati

bersama tuanya sang putri bumi

tapi sang pujangga akan tetap dikenang

Kematian

Dalam karya ia juga hadir

setiap tarikan nafas ia ada

dalam sunyi ia menemani

aku mesti menjadikannya sebagai teman..

aku akan berusaha mengakrabinya, membelainya dengan lembut, menghiru baunya

dengan sempurna samapi ia benar-benar menyatu denganku

karena dia adalah sahabat abadiku

Hidup

yang dingin pada dunia

lahir dalam riak-riak air surga

menetes di atas bebatuan

merebak dan menebar jauh di laut lepas

pagi, datang dengan sempurna

menyusup ditengah pekatnya

menyingkirkan bintang dan

mengganggu mimpi-mimpi manusia

suara burung, hidup dan terbang bebas

tak menyimpan setitik duka

Filosofi Perjamuan

Masih adakah segelas lagi untukku vodka??
Atau madu yang selalu dalam janjimu itu?
Perjamuan yang tertunda dulu
Membagi harapan yang semestinya hanya untuk nanti
Kau ingatkan aku akan sebuah cerita
Dewa minum teh sore-sore
dan dulu…
Aku tau, kau mungkin bohong…
Saat itu hanya ada kita
Dan kau mengejek matahari
Yang lalu bersembunyi tak hiraukan
Sampai kita kalah oleh filosofi sendiri
Lain kali..Jangan lagi..
Biar kita jalani ini seperti seharusnya….

Ruangan di ujung gang di lantai empat sebuah perkantoran itu memang sempit dan sumpek. Bentuknya segitiga. Salah satu sisi, sebuah jendela berkaca besar menghadap ke arah jalan raya di depannya. Sering digunakan untuk menikmati kemacetan lalu lintas saat jam makan siang maupun pulang kantor. Di sisi lain bertumpuk puluhan kardus bekas, tidak jelas isinya, dokumen dokumen usang, koran bekas, majalah bekas, bahkan terselip beberapa majalah porno, yang tidak sempat disembunyikan saat pemiliknya panik karena adanya sidak perusahaan.

Sepertiga Malam…

Hening….
Ketika sebagian orang terlelap tidurnya, berselimut lelah.
Ketika sunyi datang,
Saat itu aku mulai mendekatkan diri,
Bersyukur atas semua nikmat yang Dia beri,
Bersyukur atas kebahagiaan yang hari ini menyelimuti hati.

Bersujud aku,
Memohon ampun atas kesalahan hati, diri, yang kumiliki…

Gejolak Tempe

Kita-kita suka makan tempe
Tempe adalah favorit
Tempe adalah hobi
Tempe adalah kehidupan
Tempe adalah citra diri
Menjadi makanan keseharian
Atau sekedar jadi cemilan
Namun kini kita tak berdaya
Karena tempe melambung harganya
Tempe bukan lagi makanan orang biasa
Tapi sudah jadi makanan yang mewah
Kita semua terpana
Karena tempe adalah pilihan terakhir
Setelah daging, ikan dan telur tidak terjangkau
Ke mana lagi harus berlari?
Ke mana lagi menjatuhkan pilihan?
Tempe yang tadinya murah meriah
Sekarang ikut-ikutan menjadi mahal tak ramah
Tempe yang tadinya ekonomis
Sekarang ikut-ikutan menjadi sadis
Lantas, mau makan apa lagi?
Kalau tempe juga tak terbeli

Perjalanan hidup sangat berat bagiku, hari ini tepatnya tanggal 19 Juni 2007 aku memulai kehidupan ku yang sebenarnya. Bukan mimpi dan juga bukan khayalan melainkan kehidupan yang benar-benar terjadi dan harus kujalani. Bukan untuk direnungi bukan juga untuk disesali melainkan harus kujalani.

« Prev - Next »