Time Will Tell..?
Januari 20th, 2008 by ibnu raz
Ingatan tentang sebuah mimpi lebih dari lima tahun yang lalu itu kembali muncul dari salah satu sudut benak Nizam yang paling dalam.
Dalam mimpinya itu ia melihat sepucuk undangan pernikahan. Pernikahannya sendiri karena dalam undangan itu tertera namanya sebagai sang pengantin.
Rina. Ya, nama itu lah yang terbaca oleh Nizam di dekat namanya. Nama sang pengantin perempuan.
Nizam tak habis pikir. Perempuan bernama Rina yang dia kenal hanyalah seorang. Teman sekolahnya dulu di SMA, yang sudah lebih dari lima tahun tak berjumpa. Memang ia pernah jatuh hati pada gadis itu walau tak pernah ia ungkapkan. Tapi itu sudah delapan tahun lamanya dan hanya berumur beberapa bulan saja. Sekarang, di mana Rina dan bagaimana kabarnya, Nizam tak tahu.
Bagaimana bisa..?Kau hadir di mimpiku..?Padahal tak sedetik pun…Kurindu dirimu…
(Khayalan - The Groove)
Namun hanya berselang beberapa hari kemudian, sebuah nomor tak dikenal menyapa handphone Nizam.
Nomor itu milik Rina. Dalam percakapan singkatnya tak lebih dari tiga menit ia mengabarkan Nizam bahwa akan diadakan acara buka puasa bersama sekaligus reuni teman –teman sekelas di SMA dulu. Dan Nizam diajak ikut berembuk mempersiapkan acara itu.
Benarkah petunjuk mimpi itu? Apakah pertemuan kembali ini adalah awal dari terwujudnya mimpi itu? Begitu batin Nizam dalam setiap kali benaknya tak dihinggapi oleh beban pekerjaan, terutama menjelang tidur malamnya. Dalam hatinya ingin sekali dia mengulangi mimpi itu, membacanya lebih teliti lagi agar keyakinannya mengalahkan kepengecutannya.
Hari berganti hari. Saat yang ia nanti-nantikan itu pun akhirnya sampai juga. Hari di mana rapat persiapan buka puasa bersama itu diadakan. Bertemu dengan calon permaisuri hatinya.
Sore itu Rina muncul begitu anggunnya dengan balutan jilbab biru langit dan busana muslimah berwarna senada. Setidaknya di mata Nizam. Oh, inikah sang putri impian? Begitulah ia membatin. Rina bahkan jauh lebih mempesona dibandingkan pertama kali Nizam melihatnya, membuatnya kembali mengalami love at the first sight pada orang yang sama. Rina dan teman-teman yang hadir dalam rapat kemudian meminta kesediaannya untuk menjadi ketua panitia. Rina sendiri menyanggupi untuk membantu dengan menjadi sekretaris sekaligus bendahara.
Selama dua minggu menjelang acara, Nizam dan Rina pun kerap berkomunikasi. Lewat SMS, e-mail, Yahoo Messenger, percakapan telpon ataupun perjumpaan di sebuah kafe tiga hari menjelang acara. Walaupun saat itu tidak hanya mereka berdua saja yang hadir. Dalam masa yang pendek itu, Nizam merasa semakin mengenal Rina yang saat itu sedang menjalani masa co-assistance-nya sebagai seorang calon dokter. Keyakinannya mendorong bola salju kecil keberaniannya perlahan tapi pasti.
Acara reuni yang diadakan di sebuah rumah makan di bilangan Cipete itu pun kemudian berjalan dengan lancar. Nizam dan rekan-rekan panitianya begitu bersyukur karena hanya enam orang teman sekelasnya dulu saja yang tidak dapat hadir. Sementara semua yang hadir begitu antusias, bernostalgia bersama mengenang saat yang banyak orang menganggapnya sebagai masa-masa yang paling indah.
Tiada masa paling indah…Masa-masa di sekolah…Tiada kasih paling indah…Kisah kasih di sekolah…
(Kisah Kasih di Sekolah – Obbie Mesakh)
Hati Nizam pun begitu berbunga-bunga waktu itu. Kasih terpendamnya dulu sepertinya akan segera menemukan celah untuk menyeruak ke bumi ketika bola salju keberaniannya saat itu telah begitu besarnya.
Namun bagaikan terpanggang sinar matahari dari jarak yang lebih dekat dari jarak bumi dan bulan, bola salju itu meleleh begitu saja tanpa bekas. Di tengah-tengah acara reuni itu, Rina meminta waktu untuk berbicara. Ia kemudian berdiri di depan seluruh mereka yang hadir sambil menjinjing sebuah kantung plastik putih di tangan kirinya.
Dan kalimat pertama yang diucapkan Rina itulah yang membuyarkan mimpi indahnya beberapa minggu yang lalu, juga khayalan indahnya sejak mimpi itu tampak begitu nyata. Rina akan menikah beberapa hari setelah Idul Fitri tahun itu. Dengan seorang dokter muda yang sedang mengambil kuliah spesialisasi THT di universitas yang sama dengannya. Isi dari kantung plastik besar yang dijinjingnya itu ternyata adalah kartu-kartu undangan pernikahan mereka untuk teman-teman yang hadir.
Nizam dengan cepat berusaha menutupi segala keterkejutan, kekecewaan dan kemalangan cintanya. Sebagai seorang laki-laki, ia harus selalu menguasai dirinya dalam menghadapi semua kejutan hidup walau jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, gumpalan-gumpalan awan gelap bergulung-gulung siap menjatuhkan hujan lebat ke bumi perasaannya yang sedang rapuh. Senyumnya tetap mengembang lebar ketika kartu undangan itu berpindah dari tangan Rina ke tangannya sementara Rina pun tentu saja tersenyum dengan lebih natural, menggambarkan perasaan hatinya yang memang penuh bunga saat itu, sambil berpesan agar Nizam bisa menghadiri undangan itu. Nizam pun menyanggupinya sambil menganggukkan kepala. Sebaris doa kemudian merambat dari bibirnya untuk kelancaran acara pernikahan Rina.
***
Hari ini Nizam kembali teringat pada mimpi lebih dari lima tahun yang lalu itu.
Perkenalannya dengan Val, seorang psikolog muda enerjik yang bekerja di kantornya sebulan yang lalu mengingatkannya kembali pada mimpi itu, mimpi yang tak pernah ia ingat-ingat sejak pernikahan Rina dihadirinya. Mimpi itu pun tak pernah lagi terulang, menyeruak dalam tidurnya yang nyenyak. Tidak pernah. Tapi kenangan akan mimpi itu tak pernah terhapus. Ia tinggal di sudut benaknya yang paling dalam.
Tuntutan pekerjaanlah yang mengharuskan Val dan dirinya untuk berinteraksi setidaknya seminggu dua kali, dua jam setiap kalinya. Di luar itu pun mereka kerap berjumpa, beberapa kali duduk sebaris dalam bus yang membawa mereka pergi dan pulang kantor karena lokasi rumah mereka yang masih dalam satu kecamatan. Ataupun berhadap-hadapan saat makan siang di kantin kantor. Val dalam kesehariannya di kantor pun telah memperlakukan dirinya sebagai teman kantor pria yang terdekat bagi Val. Sudah beberapa teman-teman kantor pula yang menyampaikan pandangan mereka yang tak berbeda tentang hal itu ke telinga Nizam.
Keanggunan yang dimiliki Val bukanlah hal pertama yang mengingatkannya akan mimpi itu. Hari ini ia baru mengetahui dari lembaran sampul laporan bulanan HRD yang sampai ke tangannya bahwa nama lengkap Val sebenarnya adalah Valerina Syahrul. Ya, ada kata Rina pada nama itu. Nama yang tertera dalam kartu undangan pernikahan itu. Dan mimpi itu tanpa permisi menguasai kembali alam pikiran Nizam.
Apakah waktu itu ia tidak secara lengkap membaca nama sang pengantin perempuan?
Apakah mimpi lebih dari lima tahun yang lalu itu bukan sekedar bunga tidur?
Hanya waktu yang akan menjawab. Time will tell.