Selamat Tinggal Malaikat Penjagaku
Januari 14th, 2008 by kaliya
“Kenapa Ka?”
Na merasa tenggorokannya tercekik dan matanya panas. Air mata yang sedari tadi ditahannya supaya tidak terjatuh kini berada di ambang batas kontrolnya. Na menunduk, mencoba menahan sekuat tenaga agar air mata itu tak mengalir jatuh. Dadanya terasa sesak dan setiap tarikan napasnya terasa berat.
Na memandang Ka. Berharap pria dihadapannya itu tersenyum lebar dan berkata bahwa semua yang didengarnya tadi hanya gurauan belaka, keisengan semata. Namun ketika Na melihat kepedihan di mata Ka, ia langsung tahu kalau harapannya jadi sekedar angan. Hatinya tak mampu bertahan dan air mata bergulir jatuh ke pipi.
“Na..please..jangan menangis.. Kamu tahu aku tak pernah bisa tahan melihat kamu menangis..”
“Kalau begitu katakan padaku, semua yang kamu katakan tadi bohong. Katakan Ka, katakan kalau kamu bohong..”Hati Na terasa bagai ditusuk seribu sembilu karena kebisuan Ka. Perih dan nyeri tak tertahankan menyusup ke hatinya.
”Aku..” Terdapat jeda panjang sebelum akhirnya Ka melanjutkan kata-katanya, ”Akan ada orang lain yang jauh lebih baik daripada aku Na. Orang yang jauh lebih cocok untuk kamu, lebih pantas mendampingi kamu.”Na mendengar ada kegetiran menyeruak keluar dari kata-kata yang Ka ucapkan. Na merasa air matanya mengalir makin deras.
”Tak ada yang lebih baik Ka, lebih cocok ataupun lebih pantas. Buatku tak ada yang lain Ka. Buatku…”Na berhenti untuk menarik napas dan menghapus air mata yang mengganggu pandangannya.
”Buatku cukup kamu…” bisik Na pelan dan melihat lurus ke mata Ka. Ka membuang pandangannya, menghindari tatapan mata Na. Dan di detik itu juga Na tahu kalau ia akan kehilangan Ka. Kehilangan pria yang dicintai sepenuh hatinya, pria yang telah dikenalnya hampir seumur hidup, pria yang telah menghabiskan seluruh waktu bersamanya. Dan Na juga tahu kalau ia tak sanggup, tak mampu untuk kehilangan pria yang ada dihadapannya itu.”Aku bukan pangeranmu, Na. Dan tak akan pernah bisa jadi pangeranmu. Sejak awal kita berdua tahu itu.” Bisikan Ka pelan, sangat pelan, namun tetap tajam menggores hati Na.
”Aku itu..””Malaikat penjagaku. Aku tahu itu. ” Na memotong kata-kata Ka. ”Kau mengulang cerita itu ribuan kali. Cerita tentang Putri yang sedang menunggu pangerannya dan dalam penantian itu ia dijaga oleh seorang malaikat.”
Na menarik napas panjang. Napas yang berat dan menekan, ”Katamu aku itu putri. Putri yang menunggu pangeran. Putri yang dijaga oleh malaikat, dan kamu, kamu adalah malaikat penjagaku.”
Ka tersenyum getir. Na tahu Ka sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menanggapi kata-katanya barusan. Namun mereka berdua tahu saat ini tak akan pernah ada kata-kata yang tepat. Dan kembali kesunyian merayapi mereka.“Jangan pergi Ka.. Jangan tinggalkan aku..” Bisikan itu begitu lemah dan terdengar sangat putus asa bahkan di telinga Na sendiri. Ka tersenyum lemah.
“Kau kuat Na..sedangkan dia..Dia sangat lemah” sambut Ka“Hatiku tak sekuat itu Ka,, aku kuat karena ada kamu sebagai penyanggaku. Kalau kau tak ada aku juga akan jadi lemah karena tak ada lagi yang menyangga hatiku.”
“Dia kesepian Na, sendirian.. Dia cuma punya aku. Kalau kamu.. kamu masih ada keluarga yang sangat menyayangimu, teman-teman yang sangat memperhatikanmu..”“Kalau kamu pergi aku juga akan kesepian, karena bagiku cuma kamu seorang yang bisa mengusir sepi dalam hatiku”
“Dia sangat mencintaiku..”“Aku juga Ka. Hatiku ini cuma ada kamu, penuh denganmu..kalau tak ada kamu hatiku ini bisa mati..”
“Aku mencintainya..”Tercekat Na mendengar kata-kata Ka.. Hatinya terkoyak.. perih dan sakit sekali..
“Dan apakah kau tidak mencintaiku?” bisik Na pelan, pelan sekali.. Ka kembali membisu. Udara terasa lebih berat dan lebih menekan..“Na.. Maafkan aku,, Selamat tinggal,, Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan..” Ka bangkit dan pergi meninggalkannya.
Na memandang sosok yang makin lama makin menjauh itu sampai akhirnya sosok itu hilang dari pandangannya. Pandangannya kabur oleh air mata dan dadanya sesak dengan kepedihan serta kesedihan. Lalu lama kelamaan Na merasa kehampaan sedang menelannya.
***
ICH KARYA SENI MACAM APAKAH INI……???????????????ADIK SAYA BISA MENGARANG JAUH LEBIH BUAGOEEEEEEEEEEEEEEEEEEES DECH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
[…] 25, 2008 by kunya Gw sedang merasa sedih. Salah satu tulisan gw di kolom kita (Selamat Tinggal Malaikat Penjagaku) dikomentari orang dengan komentar yang sangat-sangat tidak menyenangkan. Bukan, bukan sedih karena […]
ya biarin aja lah si cecek ngomong apa, biarkan dia berlalu
kalo saya bilang sih ceritanya emang biasa2 aja, mungkin karena udah terlalu banyak model cerita yg kaya gini, tapi jangan patah smangat dong, baru ama cecek satu aja dah sedih =D
cari ide baru yang lain daripd yg lain dong, okeh!!
Iya gak usah patah hati eh semangat… Tapi memang (maaf sebelumnya) cerita mu sudah sering ada di cerpen-cerpen yang lain.Bahkan dengan ending yang lebih menyakitkan… Tapi gaya tulisan kamu bagus koq kip d gud work yaa…
Oh ini karya kamu yang terbaru ya kal? Kapan buat karya kamu lagi.Seperti kamu suka karya yang mengiris hati ya
Step by step nya bgs tp datar
karya yang menyantuh pengalaman. sendiri