Kenyataan yang Menyakitkan
Januari 14th, 2008 by vha
Rasanya aku ingin mati. Sepertinya aku sudah tidak kuat lagi untuk menjalani semua ini. Aku hanya orang yang paling bodoh dan jahat. Aku sungguh tak kuat lagi menjalani ini semua ini.
Itulah yang ada dalam fikiran Icha saat ia diberitahu bahwa orang yang sangat ia cintai dan sayangi dengan sepenuh hatinya kemungkinan terkena penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan cara penyembuhannya, Penyakit itu adalah HIV AIDS. Dan itu bukan merupakan kemungkinan kecil tapi 70% kemungkinan itu benar.
” Icha, kamu sakit? “, tanya bunda icha kepada dirinya pada suatu malam melalui telpon genggamnya
” Nggak, kata siapa aku sakit!, aku beneran gak sakit bunda “, jawab icha sesaat kemudian
” Kamu jangan bohongin bunda,cha. kamu yang bener, bunda khawatir banget nih ”
” Kata Kakak kamu, kamu sakit. kemaren kamu habis nanya ke phe kan tentang suatu gejala penyakit “, jelas bunda dengan suara yang sedikit bindeng
” oh, itu. bukan aku yang sakit. pray salah denger tuh. yang sakit itu suamiku, bukan aku ”
” Cha, kamu yang kuat ya, dan kamu harus tegar ngejalanin semua ini “, terdengar suara bunda sedikit lebih tegar dan tidak bindeng seperti tadi
” Memang ada apa bun, koq ngomongnya kayak gitu “, hati icha langsung gelisah, icha binggung dengan kata-kata bundanya
” Kemaren Phe bilang ke Bunda kalau gejala penyakit yang suami kamu alami adalah gejala dari penyakit HIV AIDS, jadi kamu harus kuat ya ”
Tubuh Icha lemas sekali mendengar kata-kata yang baru saja dikatakan oleh Bundanya. Alangkah kaget dan tidak percaya icha akan apa yang telah diucapkan oleh Bundanya
Badan Icha seketika lemas dan tubuhnya terjatuh dari posisi dia berdiri. Icha shock. Fikirnya kenapa dia harus tau akan hal ini disaat dia sedang mengandung buah hatinya yang pertama.
” Gak Bun, dia cuma sakit biasa nanti juga sembuh sendiri. waktu aku di Jakarta juga dia pernah sakit kayak gini tapi akhirnya sembuh sendiri, dia cuma kurang istirahat aja “, jelas Icha pada Bunda karna tidak terima akan kenyataan yang baru saja Icha terima.
” kamu harus kuat Cha. tapi itu memang kenyataannya. Oke sekarang seandainya kamu tidak percaya akan prediksi Phe, coba kamu ajak suami kamu untuk periksa ke dokter. kalau memang hasilnya positif, kamu juga harus periksa dan tanya sama dokternya gimana baiknya supaya kamu ngelahirin dengan aman, kan waktu kamu tinggal 2 bulan lagi. tapi semoga aja itu semua memang salah prediksinya, tapi kita harus tetap antisipasi “, jelas bunda pada Icha secara panjang lebar.
Kini hati Icha benar-benar tidak tau lagi harus berbuat apa, dia hanya bisa menahan air matanya yang ingin sekali keluar dari matanya yang indah itu.
Icha merasa kalau ini adalah kesalahannya, dia tidak terlalu peduli dengan prediksi itu tapi yang ia pedulikan adalah bagaimana perasaan suaminya nanti.
Akhirnya kenyataan itu terjadi juga tapi kenapa harus tau ketika aku sudah berkeluarga dan itu ternyata tertular pada suamiku.
Itulah yang ada dalam benak Icha saat itu. Memang Icha sebelum menikah merupakan anak yang diam-diam menghanyutkan.
Icha, gadis pendiam yang selalu merasa tertekan akan apa yang dia alami selama ini, makanya Icha melampiaskannya melalui pergaulan bebas atau free sex.
Sudah berapa kali ia berganti pasangan untuk melakukan hal yang tidak seharusnya di lakukan. Tapi memang harus di akui kalau dia sangat pintar menyembunyikan perilakunya itu dari keluarga besar dan teman-teman terdekatnya. Sehingga ia selalu masih di anggapnya cewek baik.
Kini Icha menyesali semuanya, ia sangat tertekan dan merasa bersalah pada suaminya yang sangat ia cintai dan sayangi dengan sepenuh hatinya.
Keesokkannya Icha membujuk suaminya untuk pergi ke Dokter agar dapat mengetahui yang sebenarnya. Akan tetapi Icha tidak mau memberitahu suaminya akan prediksi yang telah ia ketahui, tentang kemungkinan suaminya terkena HIV AIDS.
” Sayang, Besok kita periksa ke Dokter yuk!, sekalian kamu juga periksaya, takutnya penyakitmu parah. kita kan gak akan pernah tau akan apa yang terjadi nantinya, jadi gak apa-apakan kalau kita mengantisipasinya dari sekarang “, bujuk Icha kepada Suaminya
” Gak Usah, nanti juga sembuh sendiri. Lagian juga kan sayang uangnya, mending buat tambahan melahirkan nanti “, tolak sang suami secara lembut
” Kalau kamu sayang aku dan anak kita, aku mohon kamu mau, ya “. pintanya kepada suaminya
” Ngancem nih, ya udah besok kita periksa biar kamu senang dan tidak penasaran lagi ”
Pada pagi harinya Icha beserta suaminya pergi ke Dokter untuk memeriksakan diri. Hati Icha saat itu masih saja terpukul dan ia tidak terima akan kenyataan yang akan terjadi, ia selalu berdo supaya semua itu salah. Dengan langkah gontai sehingga ia terlihat seperti orang linglung Icha memberanikan diri untuk mendengarkan apa yang sebenarnya dari Dokter yang sekarang ada di hadapannya.
” Bapak dan Ibu siap mendengar semua yang akan saya sampaikan. Saya memiliki 2 berita, satu berita baik dan yang satunya berita kurang mengenakkan “, jelas sang dokter kepada Icha dan Suami
” Siap dong dok, kalu tidak siap kenapa kami repot-repot datang kesini untuk periksa “, jawab sang suami dengan mengambangkan senyum khasnya yang indah.
” Pertama, kabar baiknya adalah anak ibu dan bapak dalam keadaan sehat dan janinnya cukup kuat dan sehat. dan kabar buruknya adalah ternyata penyakit yang diderita suami ibu adalah penyakit yang sampai saat ini belum bisa disembuhkan, bapak Ori terkena HIV AIDS “, terang dokter
Icha tiba-tiba saja terjatuh dari tempat ia bersandar, Icha masih sadar cuma badannya saja yang terasa lemas hingga ia tidak bisa lagi menahan beban tubuhnya sendiri.
Terlihat wajah sang suami yang seperti tidak percaya akan apa yang di katakan oleh dokter, tapi karena melihat kondisi Icha sang suami tetap terlihat tegar dan tersenyum meskipun ada rasa yang mengganjal dalam hatinya.
Sampai saat Icha melahirkan anak pertamanya, dia tetap menyembunyikan kisah masa lalunya yang membuat suami dan dirinya terkena penyakit itu. Tetapi untunglah anak mereka lahir dengan selamat dan sehat, karena dilahirkan di salah satu rumah sakit yang ada di Singapura secara caesar.
Pada akhirnya rasa bersalah Icha makin besar dan dia sudah benar-benar tidak kuat lagi menahan rasa yang ada di hatinya. Dia tidah tau ingin berbagi pada siapa karena ia sangat takut jika orang tua dan seluruh orang menjauhinya.
Maafkan diriku suamiku, aku sangatlah hina hingga akhirnya aku tak mampu mengatakan semuanya secara terus terang padamu meski kita adalah satu.
Itu adalah kata-kata yang hanya bisa diucapkan Icha dalam hatinya dan setiap harinya Pipi Icha selalu basah akan air mata kesedihan dan kehancuran yang dia buat sendiri. Air mata yang selalu menetes setiap ia menatap mata suaminya yang makin hari makin terlihat seperti tidak ada lagi kehidupan dalam dirinya.
-selesai-
cerita nya cukup menyentuh banget. apa ini cerita asli?
tp salut deh. baru pertama nulis ya, keren
wew !!
critanya menyentuh bgt!
Masih saya mengucap Syukur..kondisi saya dgn icha tdk jauh berbeda..tp suami saya tdk kena HIV?AID..
banyak2 bersabat ya
mugkin ni semua cohaan taw teguran dri tuhan u/ cha. key