KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Tamu-tamuku

Di sini. Di beranda aku mengantuk. Bersama segelas daun teh dan kicauan burung kecil selepas hujan. Ah, basahnya tanah di depan terasa dekat, di mana kita pernah kenal, di mana pernah bersua. Aku lupa. Sudah bertahun-tahun lamanya.
Aku hampir tertidur. Ya, hampir saja. Tapi tetap terjaga sambil sekali-kali menghisap teh, mengulangi mimpi-mimpi, kemarin dan hari ini, tapi belum terlelap. Lalu Tamu-tamuku datang, ah, sahabat lama. Masuk, masuk, ke ruang tamuku. Interiornya tak sebagus dahulu. Dindingnya kusam sana sini, namun tetapnya hangat buat kita bernostalgia. Mereka datang lewat sebatang pitingan daun tembakau.
Tamuku, teman paling setia. Mereka mendengar di kala duka, dan berbagi kala suka. Dan ketika aku sedang resah, mereka datang, sebagian dibawa berlalu, buat aku sedikit lega. Tamuku, istri keduaku. Istriku tahu, namun dibiarnya kami berdua bercumbu. Yang dia tidak tahu, aku ingin menjauh. Yang dia tak tahu, aku dibawa menuju abu. Oh sayang, Tamu-tamuku.
Seorang ahli pernah bilang tentang ruang tamuku. Aku kira dia ahli furnitur, rupanya cuma tukang akupuntur. Dia bilang soal tamu-tamuku. “Kanker paru-paru”. Matanya melotot, kau pikir aku takut, anjing gila. Aku kenal tamu-tamuku sudah puluhan tahun, dan dia tukang ahli belum-sejam-kenal sudah berlagak mengatur. Jadi tinggalkan saja dia bersama istriku, dan kubawa ruang tamuku dari situ, mencari tempat nyaman buat ku undang tamu-tamuku, sebab sedang resah aku dan mereka bisa bawa sebagian keresahan itu buat aku sedikit lega. Itu terjadi kemarin. Makanya hari ini aku buat tehku sendiri sebab istriku tak mau buatkan aku teh karena kemarin aku tinggalkan dia bersama orang itu.
Orang itu tidak salah. Aku bukannya marah. Aku tidak bisa menjauh. Pun tamu-tamuku tak mau pergi. Kata anakku, ini namanya adiktit. Sudahlah, biarkan saja. Toh nyawa manusia di tangan Dia. So Tamu-tamuku terus berkunjung hingga ruang tamuku penuh, dan ketika ruang tamuku penuh ruangan itu sesak. Dan aku tidak bisa menyuruh tamuku keluar sebab ruangan itu sesak dan suaraku tidak mau keluar. Lalu tersadar suaraku tidak keluar karena aku juga tersesak. Cangkir tehku jatuh. Tembakauku jatuh. Kepalakupun terjatuh di atas pundakku dan aku merasa nyaman ketika itu. Dan ketika Tamu-tamuku berpamitan, aku keluar dari ruang tamuku, dan sudah berada di depan abu.

Perhatian
Merokok Dapat Menyebabkan Kanker,
Serangan Jantung, Impotensi,
dan Gangguan Kesehatan Lainnya.
Jadi…Waspadalah!

2 Responses to “Tamu-tamuku”

  1. on 29 Feb 2008 at 19:36Fitri

    Saya suka kata pembukanya “disini.diberanda aku mengantuk..”,pesan yg dsampai jg bgs

  2. on 11 Apr 2008 at 14:45dika

    pesannya bagus bgt.

    itu penting bgt bwt ditegasin, cz bnyak org tau akibatnya, tp masih tetep aja dilakuin

Tinggalkan Komentar