KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kepalanku di atas dagu. Berhimpit dengan lutut, dan kupeluk kakiku jadi satu. Mataku di situ, pada ayahku. Ia menatapku, pikirku, dan senyumannya kaku. Tapi mataku terus di situ, tidak berlari, sebab dia ayahku. Seminggu yang lalu ia tertawa bangga. Berkacak pinggang di depan Ibu, belagu, dan menyumbar segala tentang dia yang hebat-hebat.

Ayah berjualan kopi di pasar ikan. Pasar itu bau dan Ayah memaksaku ikut setiap minggu. Tapi aku tidak mau, sebab pasar itu bau, dan kotor, dan semua orang di situ bau dan kotor. Tapi Ayah memaksa terus, dan Ibu ikut pula memaksaku, dan aku jadi mau karena mereka berdua yang memaksa.

Ayah berkacak pinggang di depan Ibu, bilang dia dapat pekerjaan baru. Bisa dapat uang lima kali dari pada di pasar bau. Ibu cuma tersenyum. Aku langsung meloncat, “Mau!Mau!Mau!”

Aku tanya pada Ibu waktu mau tidur, “Kenapa bapak sekarang jarang pulang?”

Ibu memegang kepalaku.

“Bapak bekerja,” jawabnya.

“Selama inikah kerja Bapak?”

Ibu mendongak, mencari jam dinding diatas kepala, kemudian mengangguk. Ia mengambil nafas dalam-dalam, lalu memelukku erat. Aku memikirkan kerja Ayah pastinya berat, ia sering kelelahan, dan pernah seharian tidak pulang.

“Bapak kerja apa?” Ibu lagi mendesah dalam-dalam.

“Kerja Bapak sebagai sopir. Bapak harus mengantar barang keluar kota. Sudah kamu tidur saja. Mungkin Bapak pulang agak telat. Besok kamu sekolah kan?”

Aku menuruti kata Ibu. Membenamkan kepalaku pada guling, lalu tidur.

Paginya aku bangun, dan suara Ayah di telingaku. Mataku enggan dibuka, tapi kupaksa kaki melangkah, sebab aku mau ketemu Ayah. Dan pintu kamar aku buka, suara Ayah di arah dapur, aku langsung menuju ke situ. Ayah masih pakai baju yang kemarin, rambutnya acak-acak, dan wajahnya sudah tua sebab seperti akan jatuh ke bawah. Dan aku masih mengantuk, jadi aku berjalan pelan, memanggil dia.

“Bapak,” dan memeluk kakinya saja. Kutanyakan, “Kenapa baru pulang?”

Ayah bilang pekerjaannya banyak.

“Begitu sibukkah?”

Ayah mencium pipiku yang kiri, lalu yang kanan. Lalu membengkokkan tangannya seraya tertawa bangga.

“Sibuk. Tapi Ayah kuat.”

“Tapi jarang di rumah,” kataku.

Matanya berlari ke Ibu dan ia mulai lesu. Ibu membalasnya seperti ketika Ibu memandangku waktu mengambil rapor di sekolah dan wali kelasku mengatakan hal yang tidak-tidak tentangku. Dan betapapun kubilang semua itu bohong Ibu tetap tidak percaya, dan begitu kubilang, “Mama lebih sayang wali kelas daripada aku,” aku berakhir di dalam gudang.

Dan sejak saat itu aku takut wali kelasku seperti aku takut Ibu, sebab Ibu lebih sayang wali kelasku daripada aku, dan bila aku lawan dia, ibu akan tahu, dan aku akan sama seperti waktu itu, dikurung di dalam gudang. Mungkin ini juga alasan kenapa aku lebih suka Ayah ketimbang Ibu. Ayah memanggilku jagoan, dan ibu menyebutku pemalas. Ayah menciumku, dan ibu memukulku. Dan kalau aku berkelahi, Ayah menyuruhku menang, tapi Ibu, tidak peduli aku menang atau kalah, di gudang pasti aku dikurung.

Ibu mengambil aku dari gendongan Ayah dan menyuruh Ayah mandi. Tapi aku protes sebab baru aku ketemu Ayah. Ibu bilang, “Kamu juga harus mandi. Kan mau ke sekolah?!”

Tapi aku protes lagi sebab aku takut begitu pulang Ayah sudah pergi lagi. Ibu tersenyum dan bilang aku harus segera mandi karena harus ke sekolah.

“Mandi saja sana sama Bapakmu.” Hore!!!

Badan Ayah bau dan ia memelukku, tepat di bawah lengannya, dan itu bau. Kutanyakan kenapa ia lakukan itu. Ayah bilang itu bau jagoan.

“Aku jagoan,” kubilang. Ayah tertawa, menarikku lebih dekat.

“Kau akan punya bau ini,” Ayah lebih mendekat ke kupingku. Karena kami cuma berdua aku heran kenapa ayah lakukan itu.

Kemudian di dekat kupingku ia menambahkan, “Nanti, setelah jagoanmu yang itu seperti jagoan Bapak.”

Lalu ia tertawa keras sampai-sampai Ibu datang menggedor-gedor daun pintu meneriakkan kata cepat dan anakmu nanti terlambat hampir di waktu yang bersamaan. Aku lihat punyaku. Lalu kulihat punya ayah. Bedanya hampir seperti kacang dengan pisang. Dan aku tanyakan kapan? yang ayah dengan geli kembali berbisik tanyakan sama mamamu. Dan aku kembali bilang yang aku tanyakan pada ibu semalam, Bapak tidak pulang lagi malam ini? Ayah meluncurkan matanya ke arahku dan ia tampak layu. Tidak tahu. Pekerjaan bapak banyak, Nak. Kau jaga mamamu. Aku berpikir sebentar, namun pikiran itu yang kupikirkan kemarin malam. Bapak kembali ke pasar bau, gumamku, hampir tanpa sadar. Suasana hening sebentar, lalu bapak duduk di ember. Kita butuh hidup, Nak. Dan hidup butuh biaya. Di pasar bau pendapatan Bapak tidak cukup buat hidup kita. Buat uang sekolahmu. Ayah mengulurkan tangannya dan aku langsung mendekat, padahal ia tidak menyuruh aku mendekat, tapi aku tahu ia mau aku mendekat, atau setidaknya…aku yang mau. Ayah menggesek rambut sekitar mulutnya di pipi ku, dan aku tidak suka, tapi aku diam. Nanti pulang Bapak belikan mainan. Kau mau yang temanmu punya itu? Apa itu? Pestesien? Aku mengangguk kesakitan. Nanti kau juga punya. Lalu daun pintu di gedor lagi. Woooii, sudah telat. Mau anakmu terlambat, ya?!

Malamnya ayah tidak pulang. Aku mau ayah pulang. Tidak usah playstation. Tapi aku lupa bilang karena sakit oleh rambut ayah. Paginya ayah juga belum pulang. Kata ibu ayah dalam perjalanan, jadi aku kesekolah duluan. Sepulang sekolah ayah juga tidak ada. Malamnya juga. Esok paginya juga. Kata ibu ayah keluar kota, beberapa hari lagi baru pulang. Tapi sorenya ayah sudah ada. Tidak dirumah kami, tapi di rumah duka. Ibu mengajakku ke sana dan matanya seperti bengkak dan merah sekali, dan ketika ku beri obat tetes mata, ia tidak memakainya, tapi menggendongku ke atas becak.

Sekarang ayah disitu. Tersenyum kaku menatapku di atas kotak kayu. Ia tidak melihatku waktu ku bilang menatapku. Tapi ia tersenyum dan ku tahu itu untukku. Aku mau minta playstation yang ayah janjikan itu, tapi nanti saja, sesudah ia bangun. Dan ibu disitu dan orang itu bilang kecelakaan dan ibu menangis terus. Aku tidak tahu apa itu jadi aku terus disitu. Berhimpit dengan lutut,dan kupeluk kakiku jadi satu. Mataku di situ, pada ayahku. Ia menatapku, pikirku, dan senyumannya kaku. Tapi mataku terus disitu, tidak berlari, sebab dia ayahku.

One Response to “Satu yang Aku Ingat Bersama Bapak”

  1. on 05 Jul 2008 at 15:09pensi_jambi

    aku jadi ingat ayahhh…….
    hiks,,hiks !!!!

Tinggalkan Komentar