KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

“Aku tidak lama kok tinggal di sini, hanya satu bulan. Karena rumaku diperbaiki dan aku tidak kuat debu, apalagi debunya kapur.”

“Ah… itu sama saja dengan masalah.”

“Tapi…” Lebih baik aku tidak melanjutkannya. Masalahku kan tidak seberat masalah kalian.

Tempat kos ini terdiri dari delapan kamar. Empat kamar di bawah, sedang empat sisanya berada di lantai atas. Karena kondisi kamar yang terpisah dan masing masing kamar ditempati oleh satu orang, sangat tidak memungkinkan bagi kami untuk segera akrab satu sama lain.

Ditambah lagi dengan jadwal yang tidak saling bertabrakan.

Setiap pagi, sebelum pukul enam tiga puluh, aku harus sudah berangkat untuk mengantarkan adikku sekolah. Aku pulang dari kerja pukul dua siang, tidur sebentar, kemudian mandi lagi, dan pukul empat kurang seperempat, berangkat lagi untu kerja tambahan, mengajar les privat beberapa murid. Dan praktis jam sembilan malam aku baru ada di dalam kamar. Sedangkan, sepertinya, waktu bekerja para penghuni kos yang lain, nine to five. Mungkin mereka juga tidur sebentar, kemudian, sekitar pukul tujuh, pergi untuk mencari makan malam dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena keesokan harinya mereka akan mendapati diri mereka terbelenggu oleh jadwal yang sama.

Tapi, siapa yang peduli? Sebab aku sendiri adalah orang yang tidak suka bergaul. Tidak mengenal para tetanggaku di tempat ini, tidak menjadi masalah bagiku.

Kecuali suatu hari…. Mungkin hari kelima aku tinggal di tempat ini.

Aku pulang jam sembilan seperti biasa. Di atas, di ruang rekreasi, di mana ada sebuah meja bilyar terhampar, anak-anak pada kumpul. Oh biasa, malam Sabtu, mungkin mereka besok libur, sehingga hari ini mereka dugem. Kataku dalam hati. Aku hanya memberi salam berupa anggukan kepala kepada mereka. Dan kemudian aku masuk kembali ke dalam kamarku.

Namun tak seberapa lama kamarku diketuk tiga kali dari luar.

Aku membuka pintu dan langsung disambut;

“Hai… ngapain hari gini kok bawaannya ngendem di kamar terus?”

“…” Aku bingung mau jawab apa.

“Anak baru ya?! Kenalan dulu dong. Ian” Orang itu memperkenalkan dirinya kepadaku.

“Stebby.”

“Ayo…” Ajaknya. “Ngumpul sama kita-kita.”

Tak seberapa lama aku sudah mengenal nama-nama mereka, yang lain, satu per satu. Mereka adalah Susi, Iwan, Heru, Lisa, Toni, dan Agung.

Orang datang ke tempat ini dengan masalah-masalahnya. Kecuali aku…

Asap rokok yang mengepul, berkaleng-kaleng bir ringan, angin yang bergelora di tengah udara malam yang dingin melatarbelakangi sotokan ke arah bola bilyar.

“Kerja di mana?” Tanya Mas Ian, begitu seterusnya aku memanggilnya, karena memang ia lebih tua dariku.

“Pegawai sekretariat gereja.”

“Gereja mana? Toni juga orang Kristen tuh.”

“Gereja Merah. Depan kantor pos.”

“Alasan pindah ke sini?”

“…”

Mas Ian tahu kalau aku kelihatan bingung, bingung dengan pertanyaan dan jawabannya sekaligus. Kemudian dia menjelaskan. “Semua penghuni tempat kos ini, biasanya, setidaknya punya satu masalah yang membuat mereka haru menyewa kamar, padahal…”

“Padahal…”

“Aku tinggal di sini karena malas pulang ke rumah. Aku sudah menikah dan punya satu orang anak. Aku malas bertemu istriku. Istriku itu tipe wanita yang tidak bisa mengurus rumah. Sebagai suami, juga sebagai orang yang bekerja, aku ingin kalau pulang, istriku ada di rumah untuk menyambutku, rumah dalam keadaan bersih, ada makanan yang disiapkan.” Mas Ian berhenti sejenak. “Aku banyak permintaan, ya?” Ia mengajukan pertanyaan. Aku diam saja. Sebab, seolah-olah, pertanyaan itu lebih banyak ditujukan untuk dirinya sendiri. Kemudian ia melanjutkan. “Tetapi setiap kali pulang, Yang aku temui adalah suasana rumahku yang seperti kapal pecah. Istriku tidak ada di rumah karena ada pertemuan PKK lah, arisan lah, menjenguk temannya yang sakit lah, lalu…, biasanya ada catatan kecil darinya yang mengatakan dimana Arga, anak kami, dia titipkan.”

“Susi.” Perempuan itu tersenyum ke arah kami. “Janda, baru saja bercerai dan bertengkar dengan ayahnya.”

“Iwan. Menyewa tempat ini untuk teman selingkuhannya, Rosa.”

“Heru. Istrinya meninggal karena kecelakaan. Tiga orang anaknya ia titipkan pada orang tuanya.”

“Lisa. Perawan tua, menurut orang di desanya.”

“Tony. Developer yang bankrut. Ia berada di sini untuk sembunyi dari para penagih hutang.”

“Sedangkan Agung…”

Orang datang ke tempat ini dengan masalah-masalahnya. Kecuali aku…

Tiga hari kembali berlalu.

Aku pulang agak malam karena aku mengikuti Ibadah Keluarga. Tapi komunikasi kami, aku dan Mama, masih enak. Aku sempat menelpon, memberitahu kalau aku masih ada urusan.

“Kalau gitu, Seba nunggu di rumah aja. Nanti kalau pulang, sebelum ke tempat kos, kamu jemput dia ya.”

“OK. Deh!”

Tetapi sepulang ibadah, rencana semula berubah. Aku mendapatkan SMS:

Seba, tak anter ke kos2an. Tak tunggu sampe kamu dateng.

Sepulang ibadah, aku masih mampir di rumah. Aku berniat untuk makan malam kerena memang sejak tadi siang perut ini belum diisi. Ketika aku menunggu Ane, kakakku, sedang memasak ikan, Mama dan Papa datang dengan muka yang sedikit beringsut.

“Gih cepetan kamu ke sana, kasihan tuh adiknya nggak ada yang nungguin.”

“Kenapa harus ditungguin?”

Rupanya pertannyaanku membuat Mama sewot. Aku dinilai tidak bisa mengurus adik lah, telah melanggar kesepakatan lah, tidak sesuai dengan komitmen semula kah, tidak dewasa lah.

Terus terang, mendengar semua penilaian itu aku jadi berang. Apalagi mendengar penilaian bahwa aku tidak dewasa. Sebab, aku selalu berusaha dan belajar menjadi dewasa. Lagipula, menurutku, adikku kan bukan anak kecil lagi. Dia sudah kelas dua SMP. Laki lagi. Kenapa harus ditungguin. Toh tinggal sendiri juga di tempat kos, bukannya di hutan, banyak orang di sana.

Mama terus ngeyel dengan alasan-alasannya. Ditambah lagi komentar Papa yang menyakitkan hati.

Prraaaaaaaaaaak…..

Aku tidak kuat menahan emosi. Aku pecahkan piring yang ada di depanku. Ditambah lagi dengan menyiramkan segelas air kopi ke tubuh Mama. Rasanya kegiatan memecahkan piring yang pertama tadi belum cukup untuk meredakan emosiku.

Acara makan malam jadi gagal. Yang ada aku jadi bertengkar sama Mama. Dan Mama bilang bahwa dia tidak akan pernah memaafkan aku.

Terlebih lagi aku. Memang siapa yang mau minta maaf?

Orang datang ke tempat ini dengan masalah-masalahnya. Kecuali aku…

Sampai detik ini aku masih belum bisa menerima diperlakukan seperti itu.

Dan aku tertahan di sini, entah sampai kapan.

Probolinggo, 10 Oktober 2005.

3 Responses to “Orang Datang ke Tempat Ini Dengan Masalah-masalahnya, Kecuali Aku…”

  1. on 11 Jan 2008 at 15:44nie

    ceritanya bagus…..

    stebby n mamanya,,…

    pegawai sekertariat gereja….

    cantik ceritanya….

  2. on 19 Jan 2008 at 10:01sourcer

    nie… siapakah dirimu?

    jadi penasaran

  3. on 23 Sep 2008 at 00:12fatkhur

    jelek… jelek… jelek….

    jelek bangettttttttttttttttttttttttt

Tinggalkan Komentar