Malaikatku Telah Pergi
Januari 7th, 2008 by destantia
“…kirim aku malaikatmu
biar jadi kawan hidupku
dan tunjukkan jalan yang memang kau pilihkan untukku….”
suara jernih Bunga Citra Lestari mengalun lembut dari radio tua di kamarku. Aku berhenti menulis dan terdiam sesaat, meresapi lirik lagu itu. Sedih dan mendayu. Cerita tentang seseorang yang kehilangan orang yang sangat berharga baginya. Entah kenapa aku selalu teringat seseorang saat mendengar lagu ini. Sekarang pun aku membiarkan ingatanku kembali berputar, sementara lagu itu terus mengalun di telingaku
” Sori, buku itu aku pinjam duluan, ”
Aku menoleh dan melihat seorang gadis berwajah serius berdiri di sebelahku. Dia menatap buku yang baru saja kuambil dari rak tinggi di depanku. Siapa dia? Aku baru kali ini melihatnya. Dan maaf? Tadi dia bilang buku ini dia pinjam duluan?
” Maaf mbak, tapi saya yang ambil buku ini, bukan mbak, ” jawabku singkat, mencoba tidak terdengar terlalu ketus
” Tapi saya sudah titip ke pustakawati di sini untuk menyimpan buku itu untuk saya, ” kata gadis itu berkeras.
” Mbak, ini kan perpustakaan umum. Kalau mbak mau pinjam, mbak ambil bukunya dan bawa ke meja peminjam dong. Jelas - jelas saya yang ambil buku ini dari rak. Masak mbak yang pinjam! ” aku mulai emosi. Aku sudah berkeliling mencari text book itu untuk tugas kuliahku dan aku tidak rela membiarkannya diambil begitu saja.
” Tapi…”
” Begini saja, ” aku menengahi, malas ribut - ribut di perpustakaan. Apalagi sekarang semua mata mulai menatapku dengan pandangan terganggu, ” saya pinjam ini dua hari. Setelah itu saya berikan ke mbak. Bagaimana? ”
Wajah gadis itu terlihat ragu - ragu, sebelum akhirnya dia mengangguk pasrah, ” ya, terimakasih, ”
” Nama mbak siapa? Biar gampang saya hubungi, ” aku mengeluarkan hanphoneku.
” Saya…”
Namanya Netta atau begitulah dia biasa dipanggil. Unik, itulah kesan pertama yang kudapat darinya. Setelah “tragedi kecil” kami di perpustakaan, aku jadi sering menemuinya. Awalnya hanya untuk meminjamkannya buku itu, seperti yang kujanjikan. tapi lama kelamaan kami mulai dekat karena kebetulan hobi dan sense of book kami sama. Setelah mengenalnya aku tahu kalau dia gadis yang ramah dan baik. Hanya saja dia tidak begitu terbuka pada orang - orang yang baru dia kenal. Tapi aku menghargai pilihannya itu. Dia bisa bersikap dewasa sekaligus kekanakan dalam satu waktu. Kadang-kadang dia membuatku terkesan dengan caranya menilai sebuah karya sastra dengan cermat dan tidak terburu - buru. Dia teman diskusi yang menyenangkan. Walaupun baru sekian bulan mengenalnya, aku merasa nyaman bersamanya.
Siapa yang menyangka “tragedi” itu membuatku menyukainya?
Aku akan jujur. Dulu, aku pernah kehilangan seorang wanita yang sangat berharga dalam hidupku. Dia kekasihku yang sampai saat ini pun masih hidup abadi dalam ingatanku. Wanita yang sangat kucintai, melebihi hidupku sendiri. Saat dia pergi, aku merasa hidupku seakan berakhir. Semuanya runtuh, hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Aku mengira aku tidak akan pernah sembuh. Luka itu akan terus menghantuiku.
Tapi Netta membuktikan padaku kalau aku salah. Aku menyukainya, menyayanginya. bukan hanya dia membuatku nyaman, tapi juga karena…
” Hari ini ada waktu nggak? ”
” Memangnya kenapa? ” tanyaku saat aku dan Netta bertemu untuk makan siang.
” Ada pameran buku di dekat kampusku. Aku tahu kamu pasti suka. Mau menemaniku? ”
Aku memperhatikan Netta yang menatapku dengan penuh harap. Aku menghela napas dan menggeleng
” Kenapa? ” tanyanya langsung, terdengar agak kecewa
” Aku harus pergi menemui seseorang, ”
” Kapan? ”
” Nanti sore, ”
” Lama nggak? ”
” Entahlah, ” jawabku jujur. Ya, hari itu adalah hari ulang tahun kekasihku. Setiap tahun aku pasti mengunjungi makamnya dan menaruh seikat mawar di atas makamnya. Mawar adalah bunga kesukaannya.
” Mau kutemani? ”
Pertanyaan itu sangat mengejutkanku. Aku menoleh menatap Netta, ” kenapa? ”
” Nggak ada apa - apa kok. Cuma melihat kalau wajahmu terlihat sedih hari ini, ”
” O ya? ” aku mengulaskan senyum kecil
” Ya, ” dia mengangguk mantap, ” siapa sih yang sore ini mau kamu temui? ”
Jadi aku membawanya ke makam Irene, kekasihku. Netta terkejut. Aku bisa melihat di matanya. Tapi dia menunduk khidmat saat aku meletakkan seikat mawar di makam itu dan berdoa untuk Irene. Kami baru bicara saat kami berdua dalam perjalanan pulang.
” Tadi itu siapa? ”
” Irene, ”
” Pacarmu? ”
” Ya, ”
” Oh, ”
Sunyi. Lagu bernada lambat terdengar dari radio mobilku. Aku membiarkan kesunyian itu terus menggantung.
” Aku ikut berduka cita, ” kata Netta pelan
” Tidak apa - apa. Dia sudah enam tahun meninggal, ”
” Enam tahun?! ”
” Ya, ”
” Dan selama itu juga kau masih mengenangnya? ”
” Aku tidak mengengangnya, ” sahutku kaku, ” aku mencoba menebus kesalahanku padanya, ”
” Kesalahan apa? ”
” Aku yang membunuhnya, ”
” Apa?! ”
Aku menepikan mobil dan mulai bercerita. Awal selalu sulit bagiku. Begitupun sekarang. Entah apa yang merasukiku menceritakan ini pada Netta, tapi aku tetap menceritakannya
” Kami ingin menikah, tapi orang tuanya tidak merestui kami. Saat itu kami memang masih sangat muda. Aku baru lulus SMA, begitu juga dia. Tapi kami saling mencintai dan itu yang terpenting bagiku,
” dia memintaku menikahinya. Dia tidak akan menikah dengan orang lain selain denganku, begitu janjinya padaku. Aku juga merasa begitu, karena itu, tengah malam kami bertemu dan kami pergi dari kota kelahiran kami secara diam-diam. Aku mengemudikan mobil sewaan dan dia duduk di sebelahku. Saat itu aku merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini,
” Lalu kecelakaan itu terjadi. Dokter bilang sebuah mukjizatlah yang membuatku bisa hidup sampai sekarang. Aku tidak begitu ingat bagaimana kejadiannya, tapi yang pasti kecelakaan itu benar-benar sangat parah. Aku koma berbulan-bulan. Dan saat aku sadar, aku tidak menemukan Irene, ”
” Dia meninggal? ” tanya Netta pelan
” Tidak ada yang tahu. Mobil itu jatuh ke jurang dan meledak. Sangat mengerikan. Aku pastilah melompat dari jendela dan selamat. Tapi saat itu Irene sedang tidur. Dia tidak tahu kalau…seandainya saat itu aku membangunkannya…”
Aku tidak begitu ingat. Yang kutahu, Netta mengulurkan tangannya dan memelukku sangat erat. Yang kuingat, dia mengatakan padaku dengan suaranya yang pelan seperti bisikan
” Tidak, itu bukan salahmu. Irene pasti bahagia. Impiannya memang tidak terpenuhi, tapi di akhir hidupnya dia bersama denganmu yang sangat dia cintai. Dia pasti bahagia. Sekarang kamu harus melanjutkan hidupmu…itulah yang Irene inginkan..dia menginginkan kebahagiaanmu..karena kamu tidak bersalah..kamu tidak membunuhnya, ”
Kata-kata itu terus terngiang, seperti mimpi. Aku terus mengulang-ulangnya seakan itu adalah sebuah mantra. Mantra Netta untuk menghapus kesedihanku. Mantra Netta yang memberiku kesempatan dan kekuatan untuk melanjutkan hidup. Mantra Netta yang memberitahuku hal yang sangat ingin aku dengar dari orang lain
Aku tidak bersalah
Kata-kata yang terus membiusku. Aku menyukainya karena itu. Karena dia memberiku kekuatan itu lewat kata-katanya. Netta adalah jawaban doa - doaku. Saat itulah aku tahu…
Netta adalah malaikat yang dikirimkan Irene padaku.
Aku mencintai seorang malaikat. Malaikat cantik bernama Netta.
Dan aku juga yang melukainya. Seharusnya aku tahu, aku tidak cukup pantas untuknya. sekarang aku tahu itu. Ya, dia telah menyadarkanku
” Netta, kamu tahu? Terkadang cinta bisa datang untuk orang yang tidak pernah kita duga, ” cetusku suatu hari
” Manis sekali. Kamu mengutip dari mana? ” Netta tertawa geli. Tawanya membuatku merasa hangat. Aku memutuskan untuk melanjutkan kata-kataku tadi.
” Mengutip dari sini, ” aku menunjuk dadaku, ” di dalam sini, ”
” Wah, siapa sangka di dalam sana ada buku puisi yang bagus, ” Netta tertawa lagi, ” lain kali kamu harus meminjamkannya padaku, ok? ”
” Tentu saja. Puisi-puisi ini, semuanya teruntuk seseorang, ”
” Beruntung sekali orang itu, ” Netta tersenyum, ” ok, tell me who’s the lucky girl, ”
Aku membasahi bibirku, menghela napas, dan tersenyum kecil, ” you, ”
senyum itu memudar. Gemerlap di mata Netta menghilang sesaat. Aku mulai khawatir sudah melakukan hal yang sangat salah
” Tidak, ”
” Apanya? ” tanyaku, masih tersenyum. Egoku telah dibutakan oleh pesona malaikat itu, sampai-sampai aku tidak sadar kalau dia menatapku dengan terkejut dan sedih
” Aku tidak bisa menerimanya, ”
” Kenapa? ”
” Karena, ” Netta menatapku dengan kedua bola matanya yang jernih, ” karena kemarin seorang pria melamarku dan aku mengatakan ya padanya, ”
Aku terdiam. senyumku terasa hambar. Aku menatap malaikat cantik itu, tidak mempercayai kata-katanya.
” Kamu bohong kan? Kamu bilang kamu belum punya…”
” Aku menunggumu! ” Netta menjerit, ” aku menunggumu, tapi kau masih terpaku pada Irene…kamu selalu terpaku padanya. yang kamu bicarakan hanya dia, dia, dia, dan selalu dia! Kenanganmu akan dia jauh lebih penting bagimu daripada aku! ”
” Itu tidak benar! ” aku tidak tahu harus bicara apa. Netta mulai menangis. Ini pertama kalinya dia menangis di depanku, dan saat itulah, aku menyadari kalau aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar.
” Netta…”
” Maaf, ” Netta menggeleng, ” aku senang, tapi aku tidak bisa menunggu terus menerus. selama ini hanya dengan berada di dekatmu aku merasa senang sekali. Tapi sekarang…”
Dia pergi tanpa ucapan selamat tinggal. Kami tidak pernah bertemu lagi sejak itu. Seandainya dia tahu, dia lah yang terpenting bagiku. Seandainya dia tahu, aku hanya ingin dia ada di dekatku. Seandainya dia tahu, aku membicarakan Irene di depannya karena aku ingin dia terus di sisiku untuk mendukungku dan mengucapkan mantra-mantranya lagi.
Tapi dia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu
” ….dan di dunia ini aku tak mau sendiri..”
Lagu itu berakhir dengan lembut. Aku menghela napas panjang saat kenangan-kenangan itu menghilang perlahan-lahan, seiring dengan nada penutup lagu itu.
Malaikatku telah pergi. Irene telah mengirimkan malaikat untukku menuntun jalanku.
Tapi kini,
malaikat itu telah pergi
Bagus…Bagus.Koq ga da yang kasih comment wat cerita yang bagus ini ya
cerita sedih dan mengharukan…
aq tunggu cerita berikutnx…mat berprestasi
gila…
cerpen na bagus banget….
cerita na tuch menyentuh banget
iyah.bgus2.dsar co goblok!!!!knp a nembak???nyeseeelll kaann??
hehehehehe
Biasa aja