Jangan Bodoh, Raf!
Januari 7th, 2008 by Stebby Julionatan
“Ma, Sarah berangkat dulu ya”
“Cepetan deh Sar, nanti kita terlambat nih. Tante, Fifi ke sekolah dulu ya.”
Mama tersenyum mengangguk sambil menghantar kami ke depan pintu. Ini hari pertama kami masuk SMA jadi maklumlah kalau kami-kami sebagai murid baru agak grogi dan juga takut mengikuti acara pengenalan sekolah. Cerita-cerita selama ini menyatakan bahwa acara tersebut memang dirancang sebagai ajang balas dendam senior kepada juniornya. Namun bukan itu saja yang membuat kami ingin cepat-cepat sampai di sekolah. Menurut pandangan Fifi sih kalau kita datangnya pagian, kita bisa mantengin cowok-cowok seantero sekolah. Siapa tahu ada cowok kece yang bisa kita kecengin.
Rencananya acara pengenalan sekolah ini akan berlangsung selama satu minggu. Latihan upacara bendera diadakan setiap hari sebelum pelajaran dimulai dan sore hari kita masih harus kembali ke sekolah untuk mengikuti kegiatan yang sudah disusun oleh sekolah. Selama acara pengenalan sekolah ini dimulai kami belum mendapatkan kelas yang resmi, sebagai gantinya kami dibagi menjadi enam kelompok sesuai jumlah kelas yang ada di sekolah ini. Kebetulan Fifi dan aku masuk ke dalam kelompok yang sama yaitu kelompok Dr. Soetomo.
“Sar, lihat tuh” kata Fifi sambil memaksakan wajahku menoleh ke arah kiri.
“Apaan?”
“Itu, cowok yang duduk disana, nomor dua dari muka. Kece banget kan?”
“Enam” jawabku spontan tanpa alasan yang jelas.
“Kok gitu!”
“Nggak berkelas.”
“Sar, lihat deh!”
“Sudah ah jangan banyak omong. Tuh lihat gurunya sudah masuk.”
Guru yang masuk ke kelas kami adalah seorang wanita dengan perawakan agak gemuk dan berkacamata. Ia memperkenalkan diri sebagai Bu Anita yang mengajar di sekolah ini sebagai guru Ekonomi. Karena ia sudah memperkenalkan dirinya, maka ia memaksa kami untuk memperkenalkan diri. Satu persatu kami berdiri memperkenalkan diri, alamat dan telah dinyatakan tamat dari sekolah mana. Tibalah saat cowok yang sedang kami bicarakan tadi memperkenalkan diri. Aku memperhatikannya dengan cermat saat ia mulai berdiri dan memperkenalkan dirinya. Kurasa Fifi juga melakukan hal yang sama. Namanya Rafley. Seperti umumnya anak laki-laki, badannya tegap dengan dada yang bidang. Namun yang sangat menyita perhatianku adalah sorot matanya yang tajam dan tutur kata yang memancarkan kewibawaan. Sangat jarang ditemui pada anak seusia kami.
Harus kuakui selera Fifi ternyata boleh juga. Namun karena aku terlalu angkuh untuk mengakuinya jadi seharian aku hanya mencuri pandang. Akupun berharap semoga Fifi tidak memergokiku. Sepulang sekolah bayangan Rafley selalu muncul di benakku. Saat aku di rumah, atau apapun yang sedang aku kerjakan aku selalu teringat akan Rafley. Mengapa ia begitu sempurna? Aku sangat menyesal dengan keputusanku yang tolol. Bagaimana caraku agar dapat mengenalnya? Padahal bicara saja aku tidak pernah.
Selama satu minggu kelas kami harus berusaha untuk mengakrabkan diri agar selalu terlihat kompak. Sebab ada penilaian untuk itu, dan hal tersebut merupakan nilai tambah tersendiri bagi seluruh anggota kelas sebagai siswa. Kupikir ini saat yang tepat bagi diriku untuk melakukan pendekatan dengan Rafley. Fifi juga akhirnya mengetahui perasaanku kepada Rafley, namun sekarang ia tak ambil pusing. Fifi sudah mempunyai incaran baru yaitu Toni, sang ketua OSIS. Tak kenal maka tak sayang, mungkin itu yang mendasari otak Fifi mencetuskan ide gila untuk bertukar bangku dengan Gita dan Ana agar dapat duduk tepat di belakang Rafley dan Fip.
“Sar, menurutmu persiapan untuk acara spontanitas sebaiknya di rumah siapa ya?” tanya Fip.
“Di rumah Sarah saja.” Fifi menimpali
“Kenapa emangnya rumahmu dekat dari sini” Rafley ikut nyambung.
“Nggak juga sih, tapi rumahnya besar. Bisa nampung anak sekelas.”
“Ya udah, kita bilang aja ke Kak Dedi, di rumah Sarah saja. Ya kan Sar?” aku mengangguk ditanyain Rafley begitu. “Sar, boleh pinjam pulpen nggak?”
“Oh, ini” kataku sembari menyodorkan pulpen ke tangannya. Fifi melirik ke arahku sambil menyikutku pelan.
“Apaan sih Fi.”
Jangan bodoh Raf – ketahuilah bahwa aku mencintaimu.
Gunakan mata hatimu untuk menelanjangi perasaanku
Mengapa kau masih belum juga bisa menangkap
Gelombang cinta yang aku kirimkan.
Tak terasa sudah tiga hari duduk di bangku ini. Dan sudah tak terhitung usahaku untuk mengakrabkan diri dengan Rafley. Namun sampai detik ini kedekatan kami hanya biasa saja, terkesan hambar bahkan. Semula Fifi selalu mengajaknya untuk ikut serta makan siang di kantin, namun ia selalu menolak. Ia lebih suka berkumpul dengan anak laki-laki lainnya untuk sekedar membicarakan hasil pertandingan sepak bola tadi malam. Mengapa sih anak laki-laki dapat dengan mudah akrab hanya dengan membicarakan skor pertandingan? Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Rafley malah bertanya apakah aku dan Fify akan makan siang di kantin. Rasanya hatiku berbunga, ia mau memenuhi ajakan kami makan siang bersama. Fify juga mengajak Fip agar suasana sedikit mencair.
Keluarga Rafley tergolong keluarga yang kurang mampu. Ayahnya bekerja sebagai penjahit, sedang ibunya mencucikan pakaian milik tetangga untuk membantu kondisi ekonomi keluarganya. Sementara Rafley harus bekerja sebagai tukang loper koran untuk membiayai sendiri biaya sekolahnya. Sungguh tak menyangka di usia yang masih mudah ini ia sudah dipersiapkan untuk bertanggung jawab terhadap keuangannya sendiri. Pantas saja ia menjadi matang sebelum waktunya. Tidak seperti diriku yang masih mengandalakan keringat orang tua untuk sekedar membeli sesuatu yang akan aku pamerkan keesokan harinya di sekolah.
***
Siang ini Rafley mengantarku pulang. Sebab ia belum tahu dimana rumahku. Kan nanti malam anak-anak pada kumpul buat acara spontanitas besok. Dan itu berarti besok adalah hari terakhir acara pengenalan sekolah. Setelah itu aku tidak tahu apakah aku masih bisa memandangnya setiap saat. Kami berjalan bersama.
“Sis kamu pernah punya pacar?”
“Belum.”
“Kalau kamu punya pacar kamu inginya seperti apa?”. Seperti kamu Rafley
“Mmm… seperti apa ya? Pokoknya orangnya menyenangkan dan bisa membuatku menjadi sang dewi kaya di lagunya Titi DJ.”
“Kalau aku menurutmu bagaimana?”
“Tiga kata. Sederhana, ramah, dan tampan. Kelihatannya kamu juga pandai, pertanyaan guru-guru selama penataran P4 dapat kamu jawab semua.” Apa sih yang aku katakan, mengapa aku berkata seperti itu. “Raf…”
“Apa?”
“Kamu pernah pacaran nggak?”
“Kalau secara resmi sih belum pernah, namun aku pernah suka sama anak di sekolahku SMP yang dulu. Kata orang itu sih cinta monyet. Kalau monyetnya lompat hilang deh rasa sukanya.”
“Anaknya cantik nggak?”
“Kalau menurut aku ya cantik. Tapi yang membuatku suka kepadanya adalah karena dia begitu menyenangkan. Care deh sama orang. Mangkannya aku mau tanya sama kamu, sekedar menambah ilmu. Kamu kan cewek, sebagai cewek cara apa yang paling kamu sukai kalau ada cowok yang menyatakan cintanya ke kamu.”
“Aku sih pinginnya ia mengajakku ke tempat yang romantis. Di sana kami hanya berdua makan di padang rumput yang terbuka, dan disanalah ia menyatakan cintanya.”
“Kalau surat cinta?”
“Ya…. Ngak kenapa-kenapa juga sih, namun aku lebih suka bila cowok tersebut ngomong langsung ke aku. Terlihat lebih gentlement gitu. Eh, memangnya kamu lagi ngincer?”
“Bukannya gitu Sar, Aku khan mempersiapkan diri memasuki masa SMA”
Kuharap itu diriku Raf – yang kau baca isi hatinya.
Menunggu dengan galau pernyataan itu
Hingga putaran waktu terasa melambat
Sejak pandangan pertama yang menusuk hatiku.
“Masih jauh?”
“Itu sudah dekat setelah perempatan depan. Rumah yang bercat putih.”
“Eh, kalau aku bagaimana Raf?”
“Setahuku sih kamu tipe cewek yang bisa mengendalikan suasana hati. Periang.” Maksudku Raf, apakah kamu menyukaiku? Apakah aku sesuai dengan gambaran cewek idealmu itu?
“Masuk dulu yuk Raf, masa sudah sampai disini kok nggak mampir. Kukenalkan sama Mama dan adikku Saras.”
“Dengan senang hati, tapi maaf Sarah kali ini aku sungguh tidak bisa. Bukannya nanti malam kita semua harus berkumpul disini. Sekarang, aku harus mengerjakan pekerjaanku. Maaf ya!”
“Ya sudah!” sambil melangkah masuk aku berpura-pura ngambek. Tapi dari dalam rumah kulihat tersirat rasa bersalah di wajahnya. Namun ia tetap melangkahkan kaki meninggalkan rumahku. Diam-diam aku tersenyum sendiri.
“Kak Sarah, siapa yang mengantar kakak tadi. Pacar kak Sarah ya?” Busyet, dari mana munculnya makluk ini.
“Eh anak kecil, nggak boleh mencampuri urusan orang tua” kutinggalkan dia dan aku masuk ke kamarku untuk berganti baju. Ternyata Saras malah berlari ke dapur sambil teriak-teriak buat laporan sama Mama.
“Mama…. Mama…. Kak Sarah punya pacar. Tadi dianya nganterin kesini. Orangnya cakep deh Ma. Mama sih tadi nggak mau lihat.” Mama melihatnya sambil tersenyum.
“Bohong Ma” Teriakku sambil melangkah keluar menuju dapur. “Dia bukan pacar Sarah kok, dia teman Sarah namanya Rafley”
“Kok, pake acara nganter-nganter segala” Memang kok anak yang satu ini ceplas-ceplos kalau ngomong.
“Emangnya Adek tahu apa tentang pacaran?” Aku lega, dengan perkataan itu Mama menyelamatkanku dan menengahi perdebatan kami.
***
Pengenalan sekolah telah dinyatakan berakhir secara resmi oleh kepala sekolah dalam pidatonya hari ini. Beliau juga mengucapkan selamat datang kepada siswa baru dan berharap kami bangga menjadi bagian dari warga sekolah ini. Tentu saja aturan kelas semula berubah lagi. Aku masuk kelas I-B, sedangkan Fifi dan Rafley masuk kelas I-A. Namun kelompok kelas kami dahulu merencanakan untuk berdarmawisata Rencananya akan dilaksanakan akhir pekan depan. Karena ini adalah perjalanan yang memakai dana pribadi, maka acara ini terbuka untuk umum.
“Sarah, menurutku Rafley juga menyukaimu. Tapi ia belum mampu mengungkapkan.”
“Masa sih Fi? rasanya kok biasa-biasa saja. OK. Aku akui memang semenjak latihan untuk acara spontanitas hubungan kami semakin akrab, namun aku meraskan kedekatan tersebut hanyalah kedekatan seorang sahabat.”
“Tapi dia selalu menanyakanmu kalau kamu tidak bersamaku”
“Kamu mau ngajak siapa?” tanyaku pada Fifi, mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nggak ada, aku berangkat sendiri. Kalau kamu?”
Hari dimana kami berangkat berdarmawisata. Sesampai di sekolah kulihat sudah banyak anak yang berkumpul di halaman. Sedangkan ada dua bus terparkir di halaman sekolah. Rupanya yang mendaftar ingin ikut banyak sekali. Rafley tersenyum kepadaku, ia melambaikan tangannya. Sementara Fifi dan Nita berdiri di sisinya. Entah mengapa perasaanku menjadi panas melihat Nita berdiri dekat Rafley? Nita adalah teman sekelas kami. Ia sangat cantik. Kalau kau orang yang normal, tentu kau juga akan berpendapat sama. Nita kekasih Rafley, mereka begitu serasi. Aku tersenyum, menuju ke arah mereka.
Dalam perjalanan aku dan Nita duduk di bangku bus yang sama. Sementara Fifi yang ternyata mengajak adiknya Andre duduk tepat di depanku. Sebenarnya aku jengkel duduk di dekat Nita. Entahlah sejak pertama kali aku melihat anak ini aku sudah tidak suka padanya. Mungkin kami memancarkan aura yang bertolak belakang. Padahal sifatnya tidak ada yang buruk, bahkan Nita terkesan anggun. Atau mungkin saja aku iri padanya. Aku takut Rafley lebih memilihnya ketimbang diriku, mengingat belakangan ini mereka sangat dekat. Aku sungguh bodoh, mengapa saat dekat bersamanya aku terkesan ogah-ogahan dan menjauh darinya. Sekarang dia dekat dengan cewek lain, mengapa hatiku menjadi panas?
“Bisakah aku berbicara denganmu Sarah” Sejenak aku dan Nita saling berpandangan. “Boleh khan?” Rafley mengulangi pertanyaannya kembali.
“Sar, aku pindah ke belakang saja duduk bersama Fip. Permisi” Nita meninggalkan kami berdua. Sementara aku bergeser ke bangku yang tadi diduduki oleh Nita untuk sekedar memberi ruang kosong bagi Rafley.
“Silahkan” lalu pandanganku menerawang pada hamparan sawah yang indah di balik kaca. Rafley duduk di tempatku tadi, dia menurunkan tas yang menjadi pembatas. Setelah itu keadaan menjadi hening. Ia memandang ke arah yang sama, kira- kira lima menit telah berlalu sejak ia duduk disampingku. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku memecah keheningan di antara kami berdua.
Ia menggenggam tanganku, sementara hatiku mulai bergetar. Perasaanku campur aduk, aku takut ia mengetahui apa yang aku rasakan. Aku malu mengakui isi hatiku, aku mengatakan pada teman-teman kami bahwa kami hanya bersahabat. Dan aku pernah berkata kepada Rafley bahwa aku tidak mungkin mencintai orang yang sudah kuanggap sebagai sahabatku. “Sssstttt…..!” selanjutnya ia menaruh tanganku di dadanya. Wow Tuhan apa yang aku rasakan? Mengapa jangtungnya juga berdebar? Apakah ia mempunyai perasaan yang sama terhadapku? Selama perjalanan ia tidak pernah melepaskan gengamannya.
Nyatakanlah perasaanmu Raf – beri aku kepastian.
Seperti surya yang membuat pagi menjadi nyata
Sehingga setiap dinding angkuh dalam ruangan ini
Menggaungkan melodi cinta kita.
“Kau tahu…” Rafley menoleh ke arahku. “Aku pernah menanyakannya kepadamu. Sebelum aku salah membuat keputusan, apakah kamu mencintaiku?”
“Apa”
“Apakah kamu akan tetap bersahabat denganku apapun yang akan terjadi?”
Bus yang kami tumpangi merayap semakin perlahan dan berhenti. Sementara itu suara Pak Rahman keluar dari pengeras suara, ia memberitahukan kepada kami semua bahwa kami telah tiba di tempat yang kami tuju. Ia menghimbau kepada kami untuk segera turun dari bus dan menyantap makan siang kami.
“Kau mau turun?” tanya Rafley
“Ya” kataku sambil mengangguk mantap. Terus terang aku sangat bingung apa maksud perkataanmu tadi Raf. Ia menggandengku saat kami berjalan turun dari bus. Ingin aku menanyakannya, tapi tidak ada secercah keberanian yang mampu keluar dari mulutku. Malahan aku merasa kakiku lemas, tak berdaya. Mungkin inilah yang disebut adat “wanita timur”. Aku hanya pasrah, menunggu dan menerima. Terkadang aku menganggap bahwa aku termasuk dalam jajaran cewek modern yang sejajar dengan kaum adam. Namun saatnya tiba pada persoalan cowok, kembali aku menjadi seperti siput yang bersembunyi dibawah cangkangnya.
***
Tujuan darmawisata kami adalah sebuah lokasi pegunungan. Udara yang segar seakan langsung mengusir keluh kesah kami saat mengikuti masa pengenalan sekolah. Pemandangan yang hijau, hamparan rumput disela rimbunnya pepohonan cemara dan disaat menuju ke tempat peristirahatan kami melewati taman yang sangat indah. Bunga melati, chrisant, anggrek, dan kecubung bermekaran disana. Sesaat kemudian tatapanku tertuju pada sebuah ayunan yang dikelilingi oleh jajaran bunga mawar. Aku menuju ke sana, duduk di ayunan itu.
Teringat saat aku masih berumur 5 tahun aku memiliki ayunan sendiri di kebun belakang rumah. Saat aku bermain ayunan, Papa yang bertugas mendorongku. Aku suka bila Papa mendorongnya keras-keras. Aku membayangkan bahwa diriku adalah burung yang dapat terbang tinggi. Tinggi sekali hingga aku dapat menggenggam awan dengan sayap kecilku. Suatu hari sebelum kepergian Papa untuk selama-lamanya, Papa berkata kepadaku “Sarah, Papa minta maaf! Papa tidak bisa mengantarmu untuk dapat terbang lebih tinggi lagi. Sekarang kau harus mengepakkan sayapmu lebih kuat dan terbang tinggi untuk menggapai awan itu sendiri”. Tiba-tiba terdorong ke depan. Aku tersentak kaget.
“Sarah, ngelamunin apa?”
“Oh, tidak. Aku teringat Papa. Waktu aku kecil ia biasa mendorongku”
“Sarah, maafkan aku ya!”
“Oh, nggak. Nggak pa pa kok!” Ayunan yang aku tumpangi berayun makin pelan sebab Rafley menahannya.
“Bukan masalah yang itu” Rafley memelukku dari belakang. Kurasakan desahan nafasnya.
“Maafkan aku selama ini aku terlalu bodoh. Aku menipu perasaanku sendiri. Sarah… aku mencintaimu”
“Raf…”
“Jangan kau lanjutkan Sarah. Aku tahu dan aku sadar akan siapa diriku. Aku tahu kau hanya menganggapku sebagai sahabatmu saja. Dan aku tahu tentang komitmenmu bahwa kamu tidak akan mencintai seseorang yang sudah kauanggap sebagai sahabat. Itulah sebabnya aku memin…
“Raf… kamu tidak perlu berkata begitu” potongku
“Biar aku menyelesaikan perkataanku Sar. Itulah sebabnya saat di bus tadi aku memintamu untuk tetap menjadi sahabatku apapun yang terjadi. Aku minta janganlah kamu membenciku sebab aku mencintaimu Sarah. Sarah buatlah aku sebagai perkecualian.” Detak jantungku semakin berdebar kencang. Aku menggenggam tangan Rafley, melepaskan pelukannya. Sambil mengacak-acak halus rambutnya.
“Rafley, aku tidak bisa bernafas!” candaku sambil tertawa, dan kukira ia mengerti maksudku sehingga ia melepaskan pelukannya di tubuhku.
“Sar, apakah ini berarti kamu menerima cintaku?”
“Beri aku waktu, aku akan memikirkannya.”
“Baik berapa lama? Satu detik, dua detik, satu menit atau lima menit?”
“Rafley, aku harus memikirkannya dulu” ujarku berlagak jual mahal
“Baik aku beri kau waktu sampai kita selesai menikmati perbekalan yang sudah aku siapkan dari rumah.”
“Apa?” Sementara ia dengan santainya mengeluarkan peralatan yang telah ia bawa dari dalam tas. Alas untuk duduk di atas rumput.
“Persis seperti impianmu Sarah. Makan di padang rumput yang terbuka, dimana sang pangeran menyatakan cintanya kepada putri”
“Lalu, bagaimama dengan Nita?”
“Kau tahu kan kalau kami hanya bersahabat, namun aku akan memintanya untuk menggantikan dirimu kalau kamu tidak mau menerima cintaku. Bagaimana? Setuju!”
Terima kasih Rafley, kau telah mewujudkan impianku. Untuk dapat bersama-sama menikmati sirup cinta ini bersamamu. Sirup yang pertama kali aku teguk dalam hidupku. Yang dapat mengingatkanku tatkala aku dewasa tentang kenangan indah yang aku alami di SMA. Papa, semoga dari sana kau melihat kebahagiaan putrimu ini, yang ia raih dengan sayapnya sendiri.
cerpennya……biasa bangeeet!
kalo cerita kaya gitu doank si,, gak ada yang menarik
hampir semua orang pernah ngalamin kale…..!!!!!!
bikin cerita tu yang mutu donkzzzzz
aku kira dengan memasukkan karya lamaku (aku membuat karya ini ketika aku masih SMA) orang, termasuk zee, bakalan tahu perkembanganku seperti apa… ternyata malah dapet kritikan dan tamparan yang hebat. well, tapi gpp, toh itu semua untuk kebaikanku.
makasih zee, atas coment2nya selama ini
n aku tahu… kritikan kamu bukannya untuk menjatuhkanku tetapi agar aku selalu membuat karya yang lebih baik dan lebih baik lagi.
Hmm… mbak/mas Stebby, I’m sorry, but it was boring..
Hm.. sebenernya penataan bahasa bagus, tapi masih bertele-tele. dan bikin kita jadi bosen, juga, nggak semua orang memakai bahasa baku sebagai bahasa sehari-hari, jadi agak aneh karena kebanyakan tokoh disini pake bahasa baku.
Tapi… untuk ukuran anak SMA yang mengalami kisah cinta atau pengakuan cinta, agak ‘dangdut’ yah. i mean, terlalu puitis dan malah terkesan ngegombal.
Bagus sih dimasukkin kata mutiara begitu, cuma kayaknya terlalu berlebihan deh,!
Sorry.. but it was just my opinion. Don’t take me wrong, cuma ingin memberi kritikan membangun. hope u’ll be better, so am i…. karena kita sama-sama belajar….^.^
jangan pernah menghina karya orang gak baik
apa km bisa buat karya sendiri
Itu kaRanGan kren jg.. Kalo dibikin pake bhasa gaul n gak baku pasti bgs bgt dhe..
hehehe
Ceritax bisa dtebak endingnya walaupun kt2 yg dgunain lumayang bguz sch..
Mgkn aku blg gne coz uda bnyk crita yg alurx hampir sama..Be more creative ja dch..^^
cerita na byaza azza gt loh!!!!!!!!!!!
py q ttp mghargai na kox??????????
mg sukses trz bwt pnulis n mg cerita na smkin berkualitas!!!!!!!!!!!!!
good luck yach………………………………………………………………………
^_^
ceritanya bertele-tele dan engga banget dech
makasih layla…
pastinya dunk, aku akan buat karya yang lebih baik lagi. eh,, udah baca puisi terbaruku belum?? Kau Namai Dia Malam
baca juga blog pribadiku di: www.bonx.wordpress.com
kox gt ja bl6 mk5h cH,,,,?????????
byaza azza x…….!!!!!!!!!!!!!
bLM BC ,,,,, py tng ja nnt q bc dEh,,,,
oy q jg mw bc blo6 qm ……….!!!!!!!!!
btw nm qm lucu jg yach’!!!!!!!!!!
hehehehehe………………