KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Cuplik

Probolinggo, 21 Agustus 2005.

Cuplik, di saat menulis surat ini, sebenarnya saya bingung… hadiah apa yang dapat saya berikan bagi sahabat saya di hari pernikahannya? Lama saya memikirkan… “Hal apa yang mampu saya berikan untuk membuat seseorang (terlebih lagi dia itu sahabat saya) bahagia?”
Bahagia…
Kebahagiaan …
Memikirkannya… seperti mengupas-ngupas tabir kesadaran diri saya sendiri. Memikirkannya seperti membongkar file-file tua di dalam kardus-kardus penuh debu yang sudah lama tersimpan di dalam gudang. Melelahkan memang… karena seperti yang kamu ketahui saya benci sekali dengan debu; membuat saya alergi dan sesak napas …tetapi demi menambah kebahagian seorang sahabat di hari pernikahannya, hal tersebut tidak membuat nyali saya surut dan mengurungkan niat saya untuk membongkar file-file tua berdebu itu.
Saya sempat berpikir, apabila saya memberimu hadiah perhiasan mewah, apakah hal tersebut akan menjamin hidupmu akan bahagia? Sesaat mungkin, tetapi tidak untuk selamanya. Lagipula saya tidak mampu membelinya.  Oleh karena itu saya putuskan untuk membagikan pemikiran saya dan juga berdiskusi denganmu tentang arti kebahagiaan itu sendiri dan berharap semoga kau dapat menemukan kebahagiaanmu sendiri kelak. Amin.
Kau siap membahasnya? Harus siap dong!!
Lama saya memikirkan arti sebuah kebahagiaan. Apa yang disebut dengan bahagia? Apakah orang yang hidup bergelimang harta bisa disebut bahagia? Apakah sebuah pernikahan bisa membuat seseorang bahagia? (Untuk urusan yang satu ini saya serahkan kepadamu, karena saya belum pernah menikah dan mungkin tidak akan pernah. Sebab bagi saya menjadi penulis adalah menjadi seorang pengamat. Dan menjadi seorang pengamat, lagi-lagi bagi saya, lebih baik berada di luar sistem, tanpa intervensi langsung. Maka dari itu, saya sudah siap jika suatu saat nanti saya akan hidup di luar sistem). Apakah ini? Apakah itu? Untuk itu, untuk tahu arti kebahagiaan sejati, saya perlu bahkan menelusuri gudang sempit berdebu memori saya sendiri untuk melihat hal-hal apa saja yang membuat saya bahagia, dan saya menemukan ini:
1. Ketika aku berhasil membeli jas pertamaku, jas yang sangat aku inginkan dengan uang hasil tabunganku sendiri.
2. Ketika aku mendapatkan nilai A dalam sidang tugas terakhirku ketika aku kuliah di Surabaya.
3. Ketika aku berhasil menyelesaikan novel pertamaku.
4. Bertemu Dee yang notabene penulis favoritku.

Mungkin kelima hal di atas akan dapat bertambah seiring dengan perjalanan hidup saya, namun saya sadar bahwa kebahagiaan-kebahagiaan yang aku rasakan juga hanyalah kebahagiaan yang sangat bersandar pada materi, kebahagiaan yang sangat bersandar pada nilai, DAN HAL TESEBUT TIDAKLAH ABADI. Mereka selalu menuntut pemuasan yang lebih tinggi lagi.
Menurut saya, walaupun saya belum pernah mengalaminya, (Dalam hal ini saya selalu berhasil mengubur perasaan itu ke dalam diri saya. Karena saya ingin fokus pada cita-cita saya.) kebahagiaan abadi adalah CINTA. Cinta membuat dirimu berada pada tempat yang semestinya. Dan selayaknya pernikahan menjadi bingkainya, sehingga ia, cinta itu tampak semakin manis dan indah.
Namun… jika kamu (nantinya) tidak merasa puas dengan pernikahanmu, ingatlah nasehatku ini:
Pernikahan seperti memetik setangkai bunga di kebun dari dahannya. Ia bisa saja layu, kalau setelah dipetik, ia hanya dinikmati kecantikan dan keharumannya saja, tetapi jika kita menamnya kembali dalam hati kita dan kita merawatnya niscaya keindahan itu akan abadi.
Pernikahan seperti menerima orang asing di dalam rumah kita. Kita tidak tahu dia akan berbuat baik atau jahat. Kita tidak akan pernah tahu berapa lama ia akan nyaman berada dalam rumah kita. Tetapi jika kita menerimanya dengan baik dan tulus niscaya tamu itu akan juga membalasnya dengan kebaikan dan kenyamanan yang setimpal.
Pernikahan seperti kapal yang berlayar di lautan. Kita harus siap dengan ombak, bahkan badai sekalipun, sebab setelah badai itu berlalu, bianglala sudah siap menghiasi cakrawala di hadapan kita.
Akhirnya, jika saya harus memberi jawaban sekarang tentang apa arti kebahagiaan sejati menurut saya, maka inilah jawaban saya: KEBAHAGIAAN BUKANLAH APA YANG KITA RASAKAN, TETAPI APA YANG KITA PIKIRKAN.
Cheers up friend. It’s your big day.
SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU.
SEMOGA BAHAGIA SELALU.

Tinggalkan Komentar