Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Aku masuk kedalam rumahku diam-diam karena aku takut mereka melihatku masuk dan menanyakan belanjaan.
Tapi…..
“Hei.. ngapain lu jalan kaya gitu!! Dah kaya maling!!”
Aku terdiam.
“Mana titipan gue..??”
Aku tetap terdiam.
Lalu, tiba-tiba Haru-nii mengambil plastik yang dari tadi aku usahain agar tidak terlihat kakakku.
Tatkala langit meneteskan
tetesan-tetesan air matanya
atas siapakah gerangan
ia turut berduka?
Apakah mungkin saja,
di suatu tempat,
ada seseorang yang sedang menangis
dan meratapi kesedihan?
Mungkinkah, langit begitu tersentuh
dan tanpa disadari,
meneteskan air matanya
turun ke dunia yang fana ini sebagai tetesan air hujan?
Permanent link to this post (47 words, estimated 11 secs reading time)
Namaku adalah Mizurachi Ayako. Aku tinggal dan lahir di Tokyo, tempat dimana banyak orang berlalu-lalang. Aku bersekolah di Horikoshi Academy. Sekolah yang cukup terkenal di Tokyo. Tentu saja karena banyak artis papan atas yang sekolah disana. Akupun sangat betah sekali bisa bersekolah disana karena dulu Toma, Pichan, and Yuu adalah senior-senior disana. Siapa tau aja mereka bisa nyangsang datang kesini lagi hehe… Tapi semuanya menjadi tidak mungkin karena aku harus segera pindah ke Nagano (lebih tepatnya hari ini T^T). Papaku dipindahtugaskan untuk bekerja di nagano. Tempat yang cukup terkenal dengan dinginnya itu.“Aya..!!! kemana aja sih kamu!!! Lama banget sih ngepak tasnya.. dasar cewek!!!” kata Haruki kakakku.
Posted in Puisi, Teruntuk on Januari 31st, 2008 1 Comment »
dia orang yang sangat penting
dia menjadi segalanya bagiku
ayahku, kakakku, guruku, ibuku…
segalanya….
aku tidak pernah meminta apapun padanya
tetapi dia memberi lebih daripada yang kuinginkan
dia pelindungku….
hidupku….
segala yang kubutuhkan….
segala yang kuinginkan…..
dia lah
Posted in Puisi on Januari 31st, 2008 No Comments »
Aku berada di antara dua waktu
Antara nyata dan impian semuku
Aku teringat dengannya, yang selalu menyayangiku
Walaupun dia tak berada lagi di dunia ini
Namun aku percaya, dia melihatku dari alam keabadian
Yang ku cintai pergi, tapi kenangannya tetap bersamaku
Walau aku berharap waktu berhenti saat ini
Posted in Pendidikan, Esai on Januari 31st, 2008 4 Comments »
Banyaknya sarjanayang pengangguran
Gagal bukan karena IPK tetapi karena life skill yang rendah
Sosok makhluk yang begitu kita kenal, kita sering menyebutnya SAHABAT
Dia hadir,
Dia datang,
Dia ada,
dan dia begitu dekat dengan kita,
SAHABAT itu teman,
SAHABAT itu kawan,
SAHABAT itu Anugerah….
SAHABATKU teman Baikku…
SAHABATKU sosok Malaikatku….
SAHABATKU Belahan Jiwaku…
Posted in Asa on Januari 29th, 2008 1 Comment »
Saat itu…..
tak akan pernah ada lagi,
ketika kau berada di sampingku,
menemaniku tertegun sepi,
kau lempar senyum simpul untuk hati biruku…..
kau semayamkan jauh di sudut heningku,
kau tahu disaat kumengeluh……
keluh kesah tentang kapan kau di sisiku,
tentang kapan kau tersenyum untuk ku,
tentang kapan kau temani langkahku,
kau tahu bisik bidadari kecilku
kau tahu….
meski kau ragu
ya, ku tahu kau ragu.
ragu kenapa aku seperti itu…
ragu akan kesembunyianku…
memungkiri getar itu…
menyangkal tatap mataku sendiri…
kenapa……?????
aku tak tahu
jelas memang aku jera…
jera menunggu mimpiku…
lelah ku menanti bingkaianmu untukku….
namun aku tahu….
saat itu tak akan pernah ada lagi…
ketika kau berdiri di sampingku…
memetik satu nada gitar…
kau lantunkan namaku lirih…
mungkin…..
Hingga untuk hatimu dan hatiku
saat itu……..
Permanent link to this post (128 words, estimated 31 secs reading time)
Entah berapa umurku saat itu. Dua tahun. Atau mungkin tiga tahun. Sepertinya tiga tahun. Aku sedang duduk di tempat tidur. Atau mungkin sedang berbaring. Aku lupa lagi. Tapi yang jelas pintu kamar terbuka. Terdengar suara-suara bernada tinggi. Apakah aku menangis ketika itu? Mungkin. Iya, aku menangis. Menangis karena apa? Lapar? Popok yang belum diganti? Haus? Atau aku hanya ingin mengeluarkan air mata saja? Tapi sepertinya aku menangis karena suara-suara itu. Suara-suara bernada tinggi yang menakutkan. Suara-suara yang belum bisa kumengerti kata-katanya. Suara-suara dari kedua orang tuaku.
Posted in Puisi on Januari 28th, 2008 No Comments »
ingin kumati
tapi tak sanggupku untuk mati
apatah hidup tanpa arti?
terkubur dalam angan-anganku yang semakin menipis bersama pagi
terpenjara dalam borok hatiku yang perih
inikah jalan yang tersedia untukku?
inikah jalan yang memang dibuat untukku?
apakah mentari hanya fatamorgana dalam dingin malamku?