KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Desember 2007

And there she was, sitting in the bus wondering why she suddenly got really excited. She smiled, a wide one, she let herself enjoying the excitement in her heart—long ago had she had this kind of feeling. But far deep inside her heart she felt afraid.

Para Mahluk Malam

Cahaya temaram malam
menarikan tarian kegelapan
Bayangan makhluk-makhluk malam yang tersesat
Di dunia yang selalu ada pada tempatnya
Terperangkap!
Kepakan sayap-sayap kalelawar terdengar
Nyanyian pilu kehidupan
Dari tangisan bumi yang tak mampu keluar
Terjerat!
Dari hidup para makhluk malam
Yang tak kuasa menahan panggilan
sang rembulan
Menangis, menjerit, berontak di keheningan
Luluh lantak dalam keringnya air mata

Had told my fingers to stop but they insisted

Forgive me but I felt it

Never wish you to find out

Nor I announced to the crowd

Been sinful that I have

For days I’ve pretended to be deaf

Oh may this taste be vanished

oh yes I like you
But when you are that close I can not reach you
Or even poke these words for you to hear

You are as pure as the fountain
and the dirtiest secret inside my brain
and in my brain, and in my brain only

and in this sacred nighty sky
i look up once or twice
wishing to find the lost that i dropped

“o why are you so black?
bring those naughty stars back
are they bored dancing upon you?
or did you just swallow them and make a poo?”

Jarum tak bisa obati hati yang merindu

Mimpi-mimpi menjadi rumit

Jalan-jalan tetap membelok

Dinding menelan pintu

Cinta menjadi penguasa yang keras

Aku membisu tentangmu

Ada sebuah kata yang ingin diucapkan

yang tak sempat dikatakan api

ketika membakar kayu

sampai menjadi abu

Lalu kau pun terjatuh
terjun lurus-lurus ke lubang siksa hatimu

terperosoklah dalam-dalam
aku ingin menangkapmu di dasar pembuanganmu

jatuh dan pecahlah seperti hujan
aku ingin menadah bulir dirimu

torehlah semua sarafmu di sudut mati itu
aku ingin menyesap serpihan kalbumu
dan membawanya ke dalam tidurku

 

Penantian Terakhir Sofa Merahku

Aku merebahkan badanku di sofa merah itu. Seperti yang kulakukan di malam minggu sebelumnya dan di malam minggu sebelumnya lagi dan seterusnya. Busa-busanya sungguh empuk, memanjakan raga yang lelah sesaat kepalaku bersandar. Tiap jengkal bantalannya menghentikan laju peluh keringatku yang bening, memelukku erat dengan kehangatan mendamaikan sekaligus menidurkan. Badanku yang kecil ini hanya bisa memasrahkan letihnya pada pesona kenyamanan sang sofa sementara Mama mulai beralih pada kesibukannya berdandan.

Count Down To 2008

Jangan pernah coba menghentikanku
Karena kau tahu bahkan badai sekalipun takkan menahanku
Aku mau terbang kesana ke impianku yang tinggi

Jangan menungguku
Itu akan menyakitimu…
Kalau engkau merindukanku
Menjeritlah pada angin…
Karena angin membisikkannya padaku

Jadilah dahan yang kuat
Karena sejauh apapun aku terbang
Aku akan kembali kepadamu

Tak Kenyang

Teruntuk yang tak menanti

ketika tangan memeluk diri

hingga mencabik yang tak seharusnya

itulah saat di mana

aku terlalu sepi untukmu

Teruntuk yang tak menanti

sampai air menjelajahi mimpi  dengan mudah

membasuh kebodohan

yang hingga kini tak mau pergi

Teruntuk yang tak menanti

« Prev - Next »