Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
And there she was, sitting in the bus wondering why she suddenly got really excited. She smiled, a wide one, she let herself enjoying the excitement in her heart—long ago had she had this kind of feeling. But far deep inside her heart she felt afraid.
Posted in Puisi on Desember 20th, 2007 No Comments »
Cahaya temaram malam
menarikan tarian kegelapan
Bayangan makhluk-makhluk malam yang tersesat
Di dunia yang selalu ada pada tempatnya
Terperangkap!
Kepakan sayap-sayap kalelawar terdengar
Nyanyian pilu kehidupan
Dari tangisan bumi yang tak mampu keluar
Terjerat!
Dari hidup para makhluk malam
Yang tak kuasa menahan panggilan
sang rembulan
Menangis, menjerit, berontak di keheningan
Luluh lantak dalam keringnya air mata
Permanent link to this post (58 words, estimated 14 secs reading time)
Had told my fingers to stop but they insisted
Forgive me but I felt it
Never wish you to find out
Nor I announced to the crowd
Been sinful that I have
For days I’ve pretended to be deaf
Oh may this taste be vanished
oh yes I like you
But when you are that close I can not reach you
Or even poke these words for you to hear
You are as pure as the fountain
and the dirtiest secret inside my brain
and in my brain, and in my brain only
and in this sacred nighty sky
i look up once or twice
wishing to find the lost that i dropped
“o why are you so black?
bring those naughty stars back
are they bored dancing upon you?
or did you just swallow them and make a poo?”
Jarum tak bisa obati hati yang merindu
Mimpi-mimpi menjadi rumit
Jalan-jalan tetap membelok
Dinding menelan pintu
Cinta menjadi penguasa yang keras
Aku membisu tentangmu
Ada sebuah kata yang ingin diucapkan
yang tak sempat dikatakan api
ketika membakar kayu
sampai menjadi abu
Lalu kau pun terjatuh
terjun lurus-lurus ke lubang siksa hatimu
terperosoklah dalam-dalam
aku ingin menangkapmu di dasar pembuanganmu
jatuh dan pecahlah seperti hujan
aku ingin menadah bulir dirimu
torehlah semua sarafmu di sudut mati itu
aku ingin menyesap serpihan kalbumu
dan membawanya ke dalam tidurku
Posted in Cerpen on Desember 20th, 2007 2 Comments »
Aku merebahkan badanku di sofa merah itu. Seperti yang kulakukan di malam minggu sebelumnya dan di malam minggu sebelumnya lagi dan seterusnya. Busa-busanya sungguh empuk, memanjakan raga yang lelah sesaat kepalaku bersandar. Tiap jengkal bantalannya menghentikan laju peluh keringatku yang bening, memelukku erat dengan kehangatan mendamaikan sekaligus menidurkan. Badanku yang kecil ini hanya bisa memasrahkan letihnya pada pesona kenyamanan sang sofa sementara Mama mulai beralih pada kesibukannya berdandan.
Posted in Puisi, Asa on Desember 17th, 2007 No Comments »
Jangan pernah coba menghentikanku
Karena kau tahu bahkan badai sekalipun takkan menahanku
Aku mau terbang kesana ke impianku yang tinggi
Jangan menungguku
Itu akan menyakitimu…
Kalau engkau merindukanku
Menjeritlah pada angin…
Karena angin membisikkannya padaku
Jadilah dahan yang kuat
Karena sejauh apapun aku terbang
Aku akan kembali kepadamu
Permanent link to this post (49 words, estimated 12 secs reading time)
Posted in Teruntuk on Desember 13th, 2007 No Comments »
Teruntuk yang tak menanti
ketika tangan memeluk diri
hingga mencabik yang tak seharusnya
itulah saat di mana
aku terlalu sepi untukmu
Teruntuk yang tak menanti
sampai air menjelajahi mimpi dengan mudah
membasuh kebodohan
yang hingga kini tak mau pergi
Teruntuk yang tak menanti