Vivere Pericoloso
Desember 31st, 2007 by an ismanto
Vivere Pericoloso: hidup menyerempet-nyerempet bahaya, hidup di tubir kehancuran.
Pagi ini, ketika saya terjaga dari tidur yang tak tenang, saya tiba-tiba telah menjadi orang miskin papa. Dua atau tiga hari yang lalu saya adalah orang kaya raya. Saya masih punya cukup uang untuk membeli bensin, rokok, makan dan patungan membeli alkohol di Sarkem. Namun, pagi ini saya adalah orang miskin dengan hanya tiga ribu enam ratus rupiah di saku celana saya, tagihan kredit bank yang sudah jauh lewat masa jatuh tempo, dan timbunan utang yang bertengger di bahu saya seperti burung pemakan bangkai. Saya tiba-tiba merasa berdiri di tubir jurang. Setiap saat saya bisa saja terpeleset dan terhempas ke dasar yang tak kelihatan. Namun, pada saat yang sama, saya tiba-tiba juga merasa hampir menjadi Santo Francis dari Assisi.
Saya tak tak tahu apakah kemiskinan memiliki sihir. Tetapi saya telah sering mendengar orang-orang mengeluh: “Saya tak bisa berkarya ketika saya kaya.” Jika logika keluh kesah itu dibalik, maka kita akan mendapati bahwa seakan-akan kemiskinan memiliki sihir yang merupakan conditio sine quanon dari suatu proses penciptaan sehingga orang tidak bisa mencipta kalau dia tidak miskin. Paling tidak, inilah yang menjadi landasan ordo Fransiskan. Dengan kemiskinan, seorang rahib Fransiskan “menciptakan” hubungan yang karib dan personal sifatnya dengan realitas spritual tertinggi. Tanpa kemiskinan, orang tak bisa menjadi rahib Fransiskan dan otomatis tak bisa juga terlibat dalam hubungan yang “karib dan personal sifatnya” itu.
Kepapaan bukan monopoli para rahib Fransiskan. Paling tidak, sejarah kesenian Indonesia penuh dengan cerita kemiskinan para seniman. Affandi sekeluarga pernah terpaksa tidur di garasi gedung sekolah Taman Siswa di Jakarta, Chairil Anwar menggelandang di lorong-lorong mesum perkotaan, Hamsad Rangkuti ketika datang pertama kali di Jakarta tidur beralas koran di Taman Ismail Marzuki. Dan tipikal seniman yang terpacak di masyarakat—sebelum masa seniman sejahtera seperti saat ini—adalah orang yang kumuh, gondrong, kurang tidur, dan tanda-tanda fisik lain yang sama dengan gelandangan dan orang-orang yang terkutuk.
Aksioma kemiskinan para seniman ini kemudian menjadi ciri yang menonjol dari kesenian. Banyak orang yang ingin menjadi seniman kemudian memilih jalan itu. Namun, “kemiskinan” semacam itu berkelindan narsisme. Dengan penampilan yang kumuh, bohemian, dan mengesankan binatang jalang yang dari kumpulannya terbuang, mereka menjadi pusat perhatian karena berbeda dari yang lain. Kenikmatan ekshibisionis ini menjadi candu bagi mereka dan lama kelamaan mereka terkorupsi dan berubah menjadi orang yang hidup demi pandangan orang lain. Gaya hidupnya adalah gaya hidup stage-like yang semata-mata polesan, riasan, palsu. Mereka adalah jenis orang-orang yang celaka dan mengenaskan karena mereka tak menghayati, apalagi memahami, the core of poverty.
Kemiskinan para rahib Fransiskan dan para seniman adalah buah dari kesengajaan, sesuatu yang dipersiapkan dengan sepenuh keyakinan, diamalkan sedemikian rupa sehingga menjadi habbit dan kemudian menjadi instinct. Kemiskinan semacam itu bukan kemiskinan yang terpaksa, berbeda dari kemiskinan yang menjirat gelandangan dan kaum papa “yang sebenarnya”. Dengan kemiskinannya, para rahib Fransiskan seakan ingin menegaskan kepapaan dirinya di hadapan Yang Empunya Kerajaan Sorga (baca: Yang Memiliki Semuanya). Hampir seperti kaum Marxis yang memandang kepemilikan sebagai akar dari semua permasalahan dunia, rahib Fransiskan memandang kepemilikan dan semua atribut yang secara bahasawi ditandai dengan posesif “-ku” harus ditanggalkan, dibuang jauh-jauh, sehingga orang dapat tampil dengan segala kemurniannya. Manusia tidak memiliki apa-apa karena semua yang ada di dunia ini, termasuk manusia, adalah milik Tuhan. Hanya dengan cara itu manusia bisa menjadi suci.
Bagi para seniman, yang notabene manusia biasa per se, kemiskinan adalah metode, bukan jalan spiritual apalagi tujuan. Kenikmatan dan kepuasan tertinggi seorang seniman adalah karyanya, tetapi bukan pada karya itu sendiri melainkan makna karya. Seniman adalah orang yang menyuarakan manusia lengkap dengan kekecewan, kesedihan, kegembiraan, kepuasan, kebencian, cinta, senyum, caci maki, dan kedengkiannya. Ia berpretensi menjadi wakil manusia di hadapan nasib dan pelbagai keniscayaan yang tak bisa dilawan spesies tertinggi hasil evolusi itu: usia tua dan kematian. Pendek kata, seorang seniman adalah wakil dari seluruh manusia. Dan karena bagi seniman dunia adalah totalitas, maka ia harus menghitung juga orang-orang miskin. Jumlah orang miskin di dunia bisa diilustrasikan dengan Hukum Pareto. Hanya 20% dari populasi manusia yang menguasai 80% sumber kemakmuran, sementara 20% sisa sumber itu diperebutkan oleh 80% populasi. Hukum itu memang sudah mendapat banyak kecaman karena generalisasi yang dianggap ngawur, tetapi sebagai ilustrasi ia sudah mencukupi. Walhasil, karena totalitas adalah syarat mutlak bagi seniman, ia harus “masuk” ke dunia yang timpang itu. Ia harus menjadi miskin untuk menghayati dan memahami yang 80% populasi itu.
Logika ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hal yang wajib bagi seniman karena toh jika totalitas harus direngkuh, maka ia harus memperhitungkan juga 20% populasi. Dus, kekayaan sebenarnya tidak haram bagi seniman. Di sini, persoalannya terlepas dari wacana setia kawan dan solidaritas. Karena, ketika seorang seniman mencipta, pada dasarnya ia bukan kawan siapa pun dan ia tak punya solidaritas, bahkan mungkin juga terhadap dirinya sendiri.
Saya tak merasa berasal dari dua jenis manusia itu. Saya bukan rahib Fransiskan dan juga bukan seniman. Karena itu, pagi ini saya merasa terkutuk. Saya merasa hidup di tubir kehancuran. Sudah lama saya tidak menciptakan karya. Kalaupun ada beberapa karya, itu karya yang sungguh tidak memuaskan saya. Tanpa karya, dan tanpa uang. Saya telah dikalahkan kemiskinan dengan mudah. Saya sudah menjadi orang miskin tanpa keyakinan dan metode. Saya telah menjadi bagian total dari mereka yang ditidakmampukan, yang dimiskinpapakan, yang dikutuk. Tetapi saya kemudian teringat api Bung Karno. Suatu ketika, Si Bung menyebut Indonesia sedang berada dalam kondisi vivere pericoloso, situasi di mana Indonesia berada di tubir kehancuran dan hidupnya menyinggung-nyinggung bahaya: separatisme, penetrasi neokolonialisme dan imperialisme, dan lain-lain krisis mematikan. Tetapi terbukti bahwa Indonesia sampai saat ini, dengan kadar tertentu, selamat—sekalipun masih terus berada di tubir jurang.
Kemudian saya teringat lagi kata-kata para penyair. Chairil dengan mantab berkata: “Aku suka mereka yang berani hidup/masuk menemu malam”. Dan Nietzche: “I loveth him who achieved something beyond his reach/and then peristeth”. Dan Henley: “I am the master of my fate/I am the captain of my soul”. Kata-kata yang penuh tenaga itu terpacak dalam ingatan saya dan menjadi pengingat yang setia bahwa saya tidak boleh menyesali situasi apapun yang menghampiri dan membelenggu saya. Yang harus saya lakukan adalah bertarung melawan semua itu, bertarung seperti seekor banteng di hadapan gerombolan singa yang hendak memangsanya, bertarung dengan penuh kelicikan seperti Sun Tzu, bertarung dengan segala kekejaman seperti Attilla, bertarung dengan seluruh kebiadaban seperti Temujin si J(B)enghis Khan.
Dan pagi ini, saya tidak menyesali pericoloso yang mengintai vivere. Saya akan melawannya.
Yogya, 30 Desember 2007
kemiskinan itu seni hidup, nikmatilah… seperti layaknya kau menikmati setiap tegukan alkohol yang kau tuangkan dalam mulutmu. Baguslah kau mau melawan ‘kere’-mu yang mulai merayap…mendekatimu. Teruslah berkarya meski bumi menghimpitmu hingga oksigen perlahan-lahan melepaskanmu! smangat!