KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sebuah Rumah untuk Kristin

Lingkungan di sekitar rumah kontrakanku sore ini tampak tenang. Aku melepas sandal dan melangkah ke halaman kecil di depan rumah. Pucuk-pucuk tajam rumput Jepang mencubiti telapak kakiku yang telanjang ketika aku mengambil selang dan mulai menyirami rumpun bunga sepatu. Daun-daun dan kelopak bunga itu merunduk-runduk diguyur air yang mengucur dengan teratur dari selang. Bulir-bulir air yang tergelincir dari daun membiaskan cahaya Matahari sore, tampak seperti manik-manik berpelangi.

“Ibu kok belum tiba, ya Dik Fira? Padahal tadi beliau sms kalau sudah tiba di terminal Giwangan.”
Aku menoleh ke teras. Kulihat Kristin berdiri di pintu depan. Wajahnya menunduk sementara jari-jarinya memainkan tuts handphone. Ketika ia mendongak, aku mengangkat bahu. Dahinya berkerut, tetapi kemudian ia tersenyum dan masuk rumah lagi. Aku meneruskan keasyikanku sambil memikirkan Kristin.

Kristin adalah sepupuku, putri tunggal Bude Titik yang tinggal di Semarang. Bude Titik sendiri adalah kakak kandung ayahku. Karena itu, Kristin memanggilku dengan sebutan Dik. Lagipula usianya memang sedikit lebih tua dariku. Tetapi aku memanggilnya dengan namanya saja. Ia masih muda. Usianya baru 25 tahun dan baru saja lulus dari S-2 Ekonomi Undip.

Seminggu yang lalu, Kristin tiba di Jogja bersama ibunya. Bude Titik memintaku menjaga Kristin selama beberapa waktu. Kebetulan, di antara keluarga besar kami, hanya aku yang masih tinggal sendiri. Kata Bude Titik, Kristin membutuhkan ketenangan dan kesegaran. “Udara Semarang terlalu panas,” kata Bude Titik saat itu, “mungkin udara Jogja bisa membantu proses recovery Kristin.” Lalu Bude Titik pulang sendirian ke Semarang.

Selama seminggu, aku sudah berusaha memberikan kesegaran kepada Kristin. Aku membawanya berputar-putar Jogja. Kami mengunjungi Tamansari, Keraton, berbelanja di Malioboro, Pasar Beringharjo, menonton pameran lukisan di galeri Museum Benteng Vredeburg, Bentara, Gelaran dan galeri-galeri lain. Kristin paling suka makan dan duduk-duduk di angkringan di Gowongan Kidul yang menyajikan teh nasgithel yang rasanya bikin orang ketagihan. Hampir setiap sore kami berjalan-jalan di Alun-alun Kidul, menyaksikan anak-anak naik gajah atau kereta mungil yang ditarik kuda poni, atau melihat orang menerbangkan layang-layang, atau sekadar makan tempura sambil mengelilingi alun-alun.

Aku juga telah mengantar Kristin memuaskan kegemarannya: berburu desain rumah. Ternyata ia royal sekali menghamburkan uang untuk membeli majalah-majalah perumahan dan furniture serta surfing di internet untuk mengumpulkan desain rumah. File desainnya banyak sekali, sampai-sampai ia harus membeli flashdisk baru. Pekerjaan rutinnya setiap pagi adalah menunggu koran terbaru dan mengguntingi setiap gambar rumah dan perabot di iklan-iklan properti di koran itu.

“Saya mau memilih rancangan yang disukai Mas Heru,” jawabnya ketika aku bertanya tentang kegemarannya itu.

Saat itu aku sempat tercekat, lalu kupaksakan diri mengangguk dan tersenyum. Ia menunjukkan kepadaku gambar-gambar rumah koleksinya. Ia juga mengajakku ke kamarnya selama di rumahku dan menunjukkan koleksi rancangan rumahnya. Sebagian dari rancangan itu bahkan ia tempel di dinding.

“Banyak betul,” komentarku, “tidak semuanya dibangun, kan? Paling hanya satu.”
“Biar banyak pilihan,” tukasnya.

Sambil menyiram, aku terus memikirkan lagi kegemaran sepupuku itu. Apakah memang separah itu penyakitnya?

Sebuah taksi berhenti di depan pintu gerbang. Bude Titik keluar dari taksi dengan menjinjing tas pakaian. Buru-buru aku meletakkan selang, menghampiri dan menyalami Bude Titik. Sambil membawakan tasnya aku berteriak memberitahu Kristin. Kristin keluar dari kamar dan setengah berlari menyambut ibunya. Bude Titik tak henti-hentinya tersenyum lebar dan membelai rambut Kristin yang bergayut manja di lengannya.

Ketika kami bertiga telah duduk di ruang tengah, Kristin bertanya kepada ibunya, “Ibu membawakan pesanan saya, kan?”

“Ya, Sayang. Ini, Ibu bawa,” kata Bude Titik sambil mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya.
Kristin menerima map itu dengan gembira dan mengeluarkan isinya: selembar kertas berisi rancangan rumah. Ia menggelar kertas itu di lantai. Matanya melompat-lompat di atas rancangan itu, lalu berhenti lama di bagian ruang tengah.

“Kenapa kamu memaksa Ibu membawa rancangan ini, Kristin?” tanya Bude Tik sambil membelai rambut Kristin.

“Mas Heru yang membuat rancangan rumah ini, Bu,” kata Kristin. “Dulu Mas Heru memberikan rancangan ini kepada saya, tapi saya menolaknya karena tidak suka ada garasi di samping kanan rumah. Tapi, rasanya rancangan inilah yang diinginkan Mas Heru. Jadi, demi Mas Heru, saya sekarang mau menerima rancangan ini. Terus, saya sudah jalan-jalan dengan Dik Fira dan mendapatkan desain ruang tengah yang ada kolam kecilnya. Mas Heru kan suka ikan, Bu, jadi saya mau menyesuaikan rancangan ruang tengah itu dengan rancangan ini.”

Bude Titik memandangku. Aku balas menatapnya. Sesaat, aku melihat mulutnya ternganga.

“Bagaimana, Bu?” tanya Kristin sambil menoleh kepada Bude Titik.

Bude Titik tersenyum. “Oh, itu bagus sekali, Sayang. Yang penting kan suamimu nanti senang dan betah di rumah.”

Kristin tersenyum. “Rancangan ruang tengah itu saya tempel di dinding kamar saya. Saya ingin memperlihatkannya kepada Ibu. Mari, Bu.”

Bude Titik kembali memandangku. Aku mengangguk.

Sepeninggal Bude Titik dan Kristin, aku menangkupkan tangan ke wajahku dan mengatur nafas. Aku hampir tidak kuat menahan perasaanku sendiri. Sejak tinggal bersamaku, Kristin memang tidak pernah kelihatan sedih lagi. Tetapi aku selalu merasa ia masih belum siap dengan kenyataan yang sesungguhnya. Maka aku mewanti-wanti keluargaku yang kebetulan berkunjung agar tidak menyinggung-nyinggung tentang Mas Heru.

Sendirian, Bude Titik keluar dari kamar Kristin dan menutup pintu. Ia tampak lebih tua daripada sebelum ia masuk ke kamar Kristin. Lamat-lamat terdengar Kristin menyanyikan sebuah lagu cinta di dalam kamarnya.

“Dik Fira, Bude mau bicara,” bisik Bude Titik.

“Ya, Bude,” aku bangkit dan melangkah ke dapur.

Bude Titik mengikutiku. Ia duduk di kursi sementara aku mengambil sebotol air mineral dari kulkas. Kuletakkan botol itu di meja tanpa membukanya, lalu aku duduk di hadapan Bude Titik.
Selama beberapa saat, dapur dikuasai keheningan yang berat. Bude Titik hanya menunduk dan memijiti dahinya. Aku dapat melihat beberapa helai uban di rambutnya yang dibentuk model sasak. Seminggu yang lalu, uban itu belum tampak. Tentu uban itu muncul karena ia banyak memikirkan Kristin. Bude Titik menghembuskan nafas berat sebelum mulai berbicara.

“Dik Fira, besok Bude akan membawa Kristin kembali ke Semarang,” katanya.

Aku diam saja. Tampaknya itu keputusan yang tepat. Seminggu di Jogja, Kristin memang tidak membaik. Ia masih belum melupakan Mas Heru, tunangannya yang telah meninggal dalam kecelakaan kereta dua bulan lalu.

Tetapi aku merasa agak kecewa. Ketika Bude Titik menitipkan Kristin kepadaku, ia memang tidak berpesan agar aku berusaha menyadarkan Kristin. Tetapi, entah kenapa, aku merasa harus menyadarkan sepupuku itu. Dan nyatanya aku gagal.

Bude Titik meremas-remas jarinya. Ia berkata dengan suara parau, “Mungkin Bude akan memasukkan Kristin ke rumah sakit jiwa.”

Aku mendongak. “Apakah Bude sudah menimbang keputusan itu masak-masak? Kristin selalu memimpikan sebuah rumah. Apakah rumah itu mesti berwujud rumah sakit jiwa?”
Bude Titik tidak menjawab.

“Kalau begini terus tidak baik, Bude,” kataku, “lama-lama Kristin pasti tahu. Dia mungkin akan bertanya-tanya kenapa Mas Heru tidak datang pada hari pernikahan. Tanggal 12 bulan depan, kan? Saat itu dia pasti sangat terpukul. Dia bisa gila.”

Bude Titik mendongak dan berkata dengan nada pasrah, “Saat ini dia sudah gila, kan?”
Aku ingin mendebatnya lagi, tapi tiba-tiba Kristin menghambur ke dapur dengan klipingnya dan duduk di samping Bude Titik.

“Bu, lokasi rumah ini bagus, ya?” kata Kristin sambil menunjuk sebuah gambar.

Bude Titik membuntuti telunjuk Kristin dan terdiam sejenak, lalu mengangguk. Dari seberang meja, aku turut mengamati gambar itu. Sebuah rumah panggung berdinding kayu di tepi sebuah danau yang tenang. Ada sebuah dermaga kecil menjulur dari teras depan. Di ujung dermaga tertambat sebuah perahu kecil, dengan sepasang pria dan wanita duduk berhadap-hadapan. Di latar belakang, tampak barisan pepohonan yang hijau dan lebat. Mirip sebuah resort wisata.

“Di mana ya ada lokasi seperti ini?” Kristin bergumam, “saya ingin mencari lokasi yang seperti ini. Tampak tenang dan damai. Tentu Mas Heru suka.”

“Di kuburan!”

Bude Titik dan Kristin serentak menoleh kepadaku. Bude Titik menatapku dengan bingung sementara mulut Kristin terbuka lebar.

Aku mengangguk. “Ya, di kuburan. Kuburan adalah tempat yang tenang dan damai. Dan Mas Heru sudah punya rumah di sana,” kataku mantab.

Bude Titik mendelik ke arahku. Aku mengabaikan tatapannya dan beranjak dari kursi. Kemudian aku melangkah ke halaman lagi dan meneruskan menyiram rumpun bunga sepatu.

Malam itu suasana tidak enak memenuhi udara rumah kontrakanku yang kecil itu. Sepanjang malam, Bude Titik tidak pernah keluar dari kamar Kristin yang pintunya terus tertutup. Samar-samar aku dapat mendengar ocehan Kristin tentang Mas Heru, bakal rumahnya dan hari pernikahannya. Aku merasa kasihan kepada sepupuku itu, juga kepada Bude Titik.
Namun, suasana tidak enak itu menghilang bersama kabut dan dingin ketika Matahari terbit keesokan paginya. Pagi-pagi sekali, Bude Titik dan Kristin sudah bangun dan berkemas-kemas. Bude memintaku menelepon taksi. Jam setengah tujuh pagi, kami bertiga sudah menunggu taksi di teras. Kristin membaca-baca koran pagi sementara aku dan Bude Titik bercakap-cakap. Percakapan kami terhenti ketika Kristin membongkar tasnya, mengeluarkan gunting dan mulai mengguntingi gambar-gambar rumah dan furniture yang ada di koran.

Aku dan Bude titik hanya diam dan memperhatikan. Sesekali Bude Titik mengangguk dan tersenyum ketika Kristin menunjukkan sebuah gambar kepadanya. Namun, aku dapat melihat dahinya berkerut dan matanya berkaca-kaca. Mungkin karena tidak bisa menahan diri lagi, Bude Titik pamit hendak ke kamar mandi sebentar. Aku tahu ia hendak menangis. Aku mendengar sedu-sedannya. Ketika taksi tiba, Bude Titik keluar lagi dan membantu Kristin mengemasi kliping desainnya, gambar-gambar rumahnya, dan juga kenangannya. Sebelum masuk taksi, Bude memelukku.

“Terima kasih, Dik Fira,” bisiknya.***

Yogya, 2007

One Response to “Sebuah Rumah untuk Kristin”

  1. on 07 Mar 2008 at 10:06poetri

    untuk kesekian kalinya, aku memperoleh kisah cinta menjelang pernikahan, kisah yang dalam…

Tinggalkan Komentar