Perjalanan Pulangku
Desember 23rd, 2007 by destantia
Aku mempercepat langkahku. Dari kejauhan geraman guntur seakan mengejarku, bersahut - sahutan dalam setiap langkah panjangku. Aku melirik jam tanganku dengan kalut. Aku harus sudah sampai rumah sebelum jam 5. Kalau ibu melihatku datang terlambat, aku bisa dapat masalah serius!
Setetes air hujan jatuh di atas hidungku. Tetes-tetes lainnya membasahi ransel dan kepalaku tanpa ampun. Aku berlari ke pinggir, mengutuki kecerobohanku karena lupa membawa payung, dan berteduh di depan etalase sebuah toko jam.
Aku mengibaskan air dari rambutku. Hujan semakin lebat. Mungkin baru reda satu jam lagi. Aku menghela napas panjang. Bagus sekali….aku akan sangat terlambat sampai di rumah.
” Hai, ”
aku menoleh dan melihat seorang laki - laki seumuranku menyodorkan selembar saputangan padaku
” kalau tidak keberatan…”
” oh ya, ” aku menerima saputangan itu dengan penuh syukur, ” terimakasih, ”
Aku menyeka air hujan di wajah dan tanganku. Sayang sekali aku tidak membawa jaket, karena udara semakin dingin. Aku mendongak untuk menatap laki - laki itu. Dia lebih tinggi dariku, walaupun sepertinya umur kami tidak begitu jauh berbeda. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, dan wajahnya terlihat gugup dan gelisah.
” Terimakasih untuk saputangannya, ”
dia menoleh padaku dan mengangguk, ” ya, ”
” boleh kubawa pulang? Aku akan mencucinya di rumah. Nanti kukembalikan, ”
” tidak usah. Kau baik sekali, ”
” Tidak apa - apa. sekalian saja. tidak merepotkan kok, ”
” o ya? ” laki - laki itu tertawa kecil, ” kalau begitu ya sudahlah, ” dia mengalah.
” Rumahmu di mana? ” aku melipat saputangan itu dan memasukkannya ke ranselku.
” Tidak jauh dari sini. Tapi kalau mau mengembalikan itu, temui saja aku di sini. Aku selalu ada di sini ”
” Selalu? ” ulangku. Sepertinya hiperbola sekali.
” Ya ”
” Dari siang sampai malam? ”
” Ya, ” dia tertawa
” Kenapa? ” Apa dia gelandangan yang tinggal di emper - emper toko?, tanyaku dalam hati
” Aku biasa di sini, ” matanya terlihat menerawang, menembus tirai hujan di depan kami, ” aku sedang menunggu seseorang. ”
” Oh”
” Temanku, ” kata-katanya terdengar lirih di bandingkan suara gemuruh guntur, ” tapi dia tidak pernah datang, ”
” Kenapa? ” tanyaku
Laki-laki itu menghela napas dan menunduk memandangku, ” karena dia membenciku ”
” Kalau begitu kenapa kau masih menunggunya? ” Aku benar - benar tidak mengerti jalan pikiran orang ini. Untuk apa dia menunggu seseorang yang sudah jelas-jelas membencinya?
” Karena dia temanku ”
” Tapi_”
” Dulu kami berteman. Selamanyapun teman takkan berubah, kan? ”
Aneh…aku menggaruk kepalaku dengan bingung
” Kadang-kadang hampir menyerah juga. Tapi aku yakin dia akan datang. Karena itu aku akan menunggunya di sini, ”
” Sudah lama menunggunya? ”
” Dua tahun, ” sahut laki - laki itu tenang
” Dua tahun?! ”
” Persahabatan kami lebih berharga daripada dua tahun saja. Karena itu, biarpun membutuhkan waktu lama, aku pasti menungunya, ”
Hujan mulai reda. aku mengawasi tirai hujan yang berubah menjadi tetes-tetes gerimis dengan penuh syukur. Orang itu aneh sekali. Aku ingin cepat - cepat pulang, sejauh mungkin dari orang aneh itu.
” Sepertinya aku harus pulang, ” cetusku
” Oh, ” laki - laki itu mengangguk, ” pulang saja ”
” Nanti saputanganmu kukembalikan ”
” Ya ”
Aku berlari menembus hujan yang masih gerimis. Benar-benar perjalanan pulang yang aneh…
Aku menggenggam saputangan itu di tanganku dan menghampiri etalase tempat aku berteduh beberapa hari yang lalu. Laki-laki itu ada di sana, tersenyum saat melihatku mendekat
” Kau benar - benar datang ya? ”
Aku mengangguk dan menyodorkan saputangannya, ” aku kan sudah berjanji mengembalikan saputanganmu, ” aku mengingatkan.
” Ya. terimakasih ”
” Masih menunggunya? ” tanyaku
” Ya ”
Kami berdua terdiam selama beberapa menit. Aku menghela napas panjang saat potongan-potongan artikel yang kubaca dari perpustakaan sekolah berputar lagi di kepalaku.
Artikel tentang kecelakaan motor di daerah ini. Dua orang sahabat naik motor berboncengan. Mereka melanggar lampu merah dan saat mereka melaju dengan kecepatan penuh, sebuah truk menabrak mereka dari arah berlawanan. Seorang meninggal dan seorang lagi koma di rumah sakit. Tabrakan itu terjadi tepat di depan etalase toko ini.
” Dia tidak akan datang, ” gumamku lirih
” Kenapa? ” tanya laki - laki itu, mengangkat alis dengan bingung
” Karena dia masih terbaring di rumah sakit. Dia sedang sakit ”
” Benarkah? ”
” Ya. dia belum bisa datang, ” aku mengangguk pelan, ” kau pulang saja duluan. Dia pasti akan menemuimu, tapi tidak sekarang ”
” Oh, ” laki - laki itu terlihat sedih, ” tapi dia akan datang kan? ”
” Dia pasti datang. tapi tidak sekarang ”
” Maukah kau menjenguknya dan mengatakan padanya kalau aku menunggunya di sini? ”
” Tentu saja, ” aku mengangguk cepat
” Terimakasih ”
Angin berhembus, meniup helai rambutku dengan lembut. Saat aku menoleh, laki - laki itu telah pergi. Dia sedang menunggu di tempat lain…
Nice.
Bagus! ^ ^
Aku suka cerpennya…
Perjalanan pulang yang anech,,,,
Tapi cukup indah buat dijadiin sedikit hukmah….
buat suatu pertemanan,,,,
cerpen yang cukup berkesan di hati…
aneh banget cih….
Tapi menyentuh banget coz si tokoh peduli banget ma sahabatnya.Sampai2 dia rela menunggu hal yang tak pasti.
tokoh cewe’ yang tidak menantang….
mudah percaya ma orang… tidak hati2…
cerita yang tidak masuk akal….
tidak akan ada orang yang bakalan menunggu temannya bertahun-tahun….. kecuali orang gila…
kalo buat cerita ….
sebaiknya tokoh toko cewe’ jangan murahan gitu donk, belum apa2 sudah mau ngambil sapu tangan seorang cowo’…
walau tokoh aku belum tahu (co/cew).
buat cerita dengan tokoh cewe’ yang berakal sehat dan memeiliki kharisma tinggi, jangan kaya’ seperti itu donk.
kalo seperti itu waaah. bakalan berabe…..///
ceritanya sih mengharukan, but buat aku….
tidak masuk akal……………….