Aku menengadahkan kepalaku ke langit. awan kelabu pertanda hujan menaungi kepalaku. menghela napas panjang, aku menunduk untuk melihat arloji hitam yang melingkari pergelangan tanganku. sudah 1 jam aku menunggu.
Kenapa kamu belum datang??
Getar lembut di tas tanganku membuyarkan lamunanku. dengan enggan aku meraih handphoneku dan menekan tombol ‘ ok ‘. saat tetes - tetes hujan membasahi hidungku, aku mendengar suara khawatir yang familiar di seberang sana
” Tya, kamu di mana sih? “
Itu Fanny. Aku tersenyum saat mendengar nada cemas dalam suaranya. Tidak setiap hari Fanny yang cuek menunjukkan perasaannya seperti ini
” Di tempat biasa, ” jawabku santai
Fanny mendesah panjang, setengah jengkel, ” Sampai kapan kamu mau menunggu di sana, sih? Kamu tahu kan, dia nggak akan pernah kembali! “
” Siapa yang tahu? ” Aku berjalan pelan ke arah sebatang pohon rindang dan menyenderkan bahuku di sana. Mantelku basah kuyup, tapi kalau menanggalkannya, aku pasti akan kedinginan. Jadi aku merapatkan mantel itu sambil berharap hujan akan segera berhenti
” Pulanglah. ini sudah sore, ” gumam Fanny
” Sebentar lagi. Mungkin dia akan datang, ” Aku menatap arlojiku. Ya, dia pasti akan datang. Aku yakin.
” Tidak mungkin, Tya! Tolonglah berpikir lebih logis! Lupakan saja dia! ” suara Fanny sekarang terdengar sangat jengkel, ” Sampai kapan kamu mau menunggunya?! Dia tidak akan pernah kembali, Tya! Tidak untukmu!! “
Dia tidak akan pernah kembali, Tya…tidak untukmu…
Kata-kata Fanny meruntuhkan keyakinanku. Setetes air hujan jatuh ke pipiku, kali ini terasa asin di bibirku. Aku menyekanya dan menyadari kalau itu bukan air hujan.
itu air mataku
” Pulanglah, ” kata Fanny pelan
” Aku tidak bisa…aku… ” Aku menjawab terpatah - patah, berusaha menahan tangis.
” Aku akan menjemputmu. Tunggu di sana, ok? Jangan kemana - mana, ” Fanny memutuskan hubungan
Aku menyimpan handphoneku ke dalam tas dan merogoh untuk mencari saputangan. Aku menengadahkan kepalaku ke langit, membiarkan air yang menetes dari dedaunan membasahi wajahku
Hapus saja kesedihan ini, Tuhan…hapus semuanya…
Fanny memeluk bahuku dan memapahku ke mobilnya. Kami tidak saling bicara selama beberapa menit, sampai akhirnya dia menepikan mobilnya dan menatap langsung ke arahku. Tidak ada kemarahan di matanya. yang ada hanya rasa cemas dan kekhawatiran seorang sahabat. Yang ada hanya rasa kasihan. Aku memalingkan wajah. aku tidak suka dikasihani.
” Sudah sebulan, Tya…”
” Aku tahu, “
” Kau tidak mengerti, ” Fanny menggeleng, ” buat apa kau menunggunya terus menerus seperti itu? Dia tidak akan kembali, “
” Aku tahu, “
” Lupakan saja dia. Jangan menyiksa diri seperti ini…, “
” Aku tidak menyiksa diri, “
” Aku tidak suka orang yang kuanggap sahabat jadi seperti ini! Lihat dirimu sendiri! kau hampir kehilangan hidupmu! tidakkah kau sadar itu? “
” Aku tahu, ” aku terisak, ” aku tahu, “
” Kau akan baik - baik saja…kau sudah mencoba segalanya, semua hal yang mampu kau lakukan. Kalau dia masih pergi, itu pilihannya, “
” Aku lelah, “
” Ya, ” Fanny mengangguk simpatik, ” yang pasti aku tidak akan bisa berada di posisimu saat ini, “
” Aku lelah, ” ulangku, ” sampai kapan harus begini? Apa semuanya tidak bisa kembali seperti dulu? “
Fanny menatapku, dan memalingkan wajah, ” tidak ada yang tahu, Tya…tidak ada, “
Angin berhembus, menggulung daun - daun kering dan debu dengan lembut. Aku berjalan pelan, menikmati semua pemandangan itu. Sudah seminggu aku berhenti menunggunya. Mungkin Fanny benar. Ini saatnya aku melanjutkan kehidupanku kembali. Aku menghela napas berat. Tapi kenapa selalu terasa sedih saat melewati tempat ini? Tempat dimana kami biasa melewatkan waktu berdua? Kenapa terasa sedih?
Maaf…aku sudah tidak bisa menunggumu lagi..maaf…
first time jengah di website ni..cerita anda menarik..
saya senang dengan website ini … ceritanya menarik sampai terbawa …
ceritanya cantik…
bagus bgt ceritanya…
seperti masa laluku,,T_T
ceritanya bagus… aku bisa merasakan apa yang terjadi dalam cerita ini..
ya bagus banget
kaya’ cerita hidupku
cerita u amat menarik sekali,
ceritax sama yg q alami bln lalu
haruskah menunggu sampai akhir hayat ?
hmmm…menarik.
saat baca cerpenmu ini…
alur nafas dalam rongga dadaku seakan timbul tenggelam berhembus perlahan.
ada sesak yg menghanyutkan..yg kusebut dengan kesedihan.
untuk cerita selanjutnya…
aku yakin akan lebih dahsyat lagi.
ingat!!
tema menarik..
bahasa yg kreatif..
akan melahirkan sebuah cerita luar biasa.
“Maaf…aku sudah tidak bisa menunggumu lagi..maaf…”
“Tiada maaf bagimu..”
hahahahhahahah..just kidding bro..
hei..
baca juga cerpenku di kolomkita.
cari lewat mesin pencari aja.
nih judul2 nya
pada dia yg menunggu.
aku muak mencumbumu.
trhee litle birds.
thanks bro..
AKu gak pernah nunggu-nunggu sich kecuali nunggu pesawat di bandara jadi gak tahu rasanya nunggu sebulan itu gimana, tapi aku suka bahasanya, simpel.