KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

“Aku tak akan pernah percaya akan cinta. Karena cinta telah membuat ibuku meninggal. Aku masih ingat, ketika ayah meninggalkan kami berdua. Dan dengan setia ibu menunggu kepulangan ayah namun ayah tak pernah kembali. Ibu yang terlalu sedih menunggu kepulangan ayah akhirnya jatuh sakit dan meninggal”
“Aku benci melihat keadaan ini. Pantaskah ibu mencintai pria semacam itu? Bagiku pria sama saja dan tak patut dicintai….”

Saat ini aku tinggal bersama pamanku di daerah Ring Garden. Aku mempunyai suatu impian menjadi seorang penulis terkenal, yang sebenarnya sudah kuimpikan sejak kecil. Hari ini adalah hari untuk kesepuluh kalinya aku bertemu dengan editor.
“Maaf, ceritamu tidak bisa kami terima. Gaya bahasamu lumayan hanya saja kamu kurang mengekspresikan unsur cinta di dalamnya sehingga terlihat ceritamu agak kaku dan membosankan. Cerita seperti ini kupikir tidak akan bisa menjual”, begitulah yang dikatakann editor terhadap ceritaku.
Shiarra pun keluar dari ruangan editor setelah di komentari seperti itu. Tampak raut muka kecewa dan sedih, karena berkali-kali ia selalu ditolak seperti itu.
“Bagaimana, berhasil?”, tanya Might yang duduk di ruang tunggu.
“Apanya yang berhasil!? Kamu tak lihat wajahku seperti ini?”, tanya Shiarra.
“Sudahlah…ini”, kata Might memberikan minuman kaleng yang baru dibelinya saat Shiarra masuk ke ruang editor.
Shiarra pun mengambil minuman kaleng yang diberikan oleh Might dan kemudian duduk disampingnya.
“Might, jujur, setelah kamu membaca ceritaku, bagaimana pendapatmu?”, tanya Shiarra.
“Mmm bagaimana ya…agak membosankan, Shiarra…”, kata Might.
“Membosankan?”, tanya Shiarra.
“Ya…Shiarra, apa kamu tak pernah menyukai seorang pria? Sepertinya kamu terlalu kaku kalau membahas masalah-masalah seperti itu”, tanya Might
“Itu-itu untuk apa kamu tahu. Might, aku mau pulang. Aku tidak suka berlama-lama disini karena moodku sedang jelek”, kata Shiarra.
Might pun mengantar Shiarra pulang sampai rumah. Di rumah, Shiarra memikirkan kata-kata Might
“Aku tak pernah menyukai seorang pria? Hmph…kamu tahu apa?”, kata Shiarra dalam hati.
Sejujurnya Shiarra tahu, jawaban mengapa ceritanya tidak bisa diterima. Tapi ia tidak ingin mengakui dan membiarkannya. Setelah pikirannya segar, Shiarra pun memutuskan memulai untuk membuat cerita baru.
Cerita baru Shiarra memakan waktu hampir ½ tahun. Di saat Shiarra sibuk menyelesaikan cerita barunya, di saat itupula, Might harus pergi ke Jerman untuk belajar disana.
3 hari sebelum Might berangkat ke Jerman, Might mengajak Shiarra jalan untuk terakhir kalinya. Mereka pun bertemu di taman Eternal.
“Kamu mengajakku jalan untuk apa?”, tanya Shiarra dingin.
“Tak ada. Aku hanya ingin pergi berdua saja denganmu….”, kata Might.
Mendengar itu, Shiarra sedikit kesal.
“Aku masih banyak urusan”, kata Shiarra yang kemudian pergi.
“Seandainya….seandainya ini adalah hari terakhirku, apakah kamu akan menemaniku?”, tanya Might..
Shiarra pergi, menghiraukan kata-kata dari Might.
“Might…Might…Kau jelas-jelas sudah ditolak”, kata Might sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah ini Shiarra pun melanjutkan cerita barunya. Seminggu kemudian, cerita baru Shiarra selesai. Orang pertama yang ingin Shiarra tunjukkan ceritanya adalah Might. Namun ketika Shiarra menghubungi Might didapatinya bahwa Might telah pergi ke Jerman. Sempat Shiarra terdiam membisu untuk beberapa menit lamanya.
“Dasar bodoh….kenapa kamu tak langsung bilang kalau kamu akan pergi. Shiarra…Shiarra bukan dia yang bodoh tetapi kamu yang bodoh, tidak tahukah itu adalah kata-kata terakhirnya. Seharusnya aku menyadari…”, kata Shiarra mengingat waktu itu Might pernah berkata kalau seandainya ini adalah hari terakhirnya, apakah aku akan menemaninya.
Hari itu, Shiarra pun tidak bergairah untuk melakukan aktivitas. Tidak tahu kenapa, pikirannya selalu teringat akan Might. Malamnya, ketika dia termenung, akhirnya dia menyadari bahwa dia tidak bisa menipu dirinya sendiri bahwa dia menyukai Might dimana Might merupakan teman sepermainannya sejak kecil.
Malam itu, paman mengetuk kamar Shiarra dan memberikan Shiarra surat.
“Shiarra. Ini surat dari Might….Maaf, paman baru sempat memberikannya sekarang”, kata paman Shiarra.
Shiarra pun membuka surat itu. Dalam surat itu ditulis, kata-kata perpisahan dan semangat untuk Shiarra.
“Shiarra, maaf, aku tak mengatakan langsung kepadamu bahwa aku akan pergi. Kupikir tidak akan ada yang berubah, jika aku mengatakan sekarang ataupun nanti. Shiarra, mungkin aku akan lama kembali, tapi aku percaya, ketika aku kembali kamu akan menjadi seorang penulis terkenal. Semangat!!!”
Shiarra pun akhirnya memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop dan menyimpannya ke dalam laci kamarnya. Dengan tekad menjadi seorang penulis yang handal, ia pun merobek cerita barunya dan mulai menulis cerita baru yang berisi pengalaman hidupnya. Cerita itu selesai setahun kemudian.
Cerita itu akhirnya ditulis menjadi sebuah buku dengan judul “I Want You To Hear My Story”. Buku itu membuat Shiarra terkenal menjadi seorang penulis.
Di Jerman, Might pun melihat Shiarra lewat layar televisi telah menjadi penulis terkenal. Ia pun membaca buku pertama Shiarra.
“Dasar Shiarra bodoh. Memasukkan aku dalam ceritamu…”, kata Might dalam hati.
Di akhir cerita dalam buku tersebut, tertulis seperti ini.
“Aku akan menunggu di tempat perjanjian seperti biasa setiap tahunnya setiap tanggal 14 Januari. Anggap saja aku ini bodoh, tapi paling tidak biarlah aku mengetahui kabarmu….”
Tahun pertama, Might tidak muncul di tempat perjanjian. Tahun berikutnya, pada tanggal 14 Januari, Shiarra pun bertemu dengan Might. Disitulah cerita baru yang sesungguhnya dimulai.

3 Responses to “I Want You To Hear My Story”

  1. on 03 Jan 2008 at 01:07obby

    just,,,,wow,,,
    it’s exciting….

  2. on 16 Jan 2008 at 15:27Taufik

    wow it’s a nice story. But sayangnya ceritanya ngegantung. Ga ada lanjutanya???

  3. on 14 Feb 2008 at 16:54pemerhati cerpen

    sepertinya cerpen ini belum selesai. banyak sekali kata-kata yang menggantung, dan rasa2nya jika dikembangkan akan menarik sekali. jika memerhatikan lebih seksama, cerpen ini bersifat sinopsis deh. karena terus terang belum lengkap sama sekali. karya ini lebih baik dibuat cerita panjangnya (novelnya).

    terima kasih

    pemerhati cerpen

Tinggalkan Komentar