Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Aku merindukan senyummu
Senyum yang mereka bilang memuakkan
Aku merindukan pelukanmu
Pelukan yang mereka bilang mengerikan
Aku merindukan ciumanmu
Ciuman yang mereka bilang menjijikkan
Dan aku merindukan cintamu
Cinta yang mereka bilang terlarang
Biar saja mereka bilang kau siapa
Biar saja mereka bilang kau begini dan kau begitu
Bagiku kau hanyalah seorang
Terima kasih …
Untuk pernah menjadikan aku milikmu
Walau jelas aku bukan satu-satunya
Terima kasih …
Untuk pernah memeluk rasa sepiku
Walau kutahu disana tak pernah dan tak akan pernah ada cinta
Terima kasih …
Untuk pernah mencumbu kepingan harapanku
Walau aku yakin itu bukan untuk selamanya
Terima kasih …
Untuk selalu menghapus tetesan air mataku
Walau setelahnya kau akan memberiku air mata baru
Terimakasih …
Untuk selalu mengisi hari-hariku dengan senandung kasih sayang
Walau kutahu pada saatnya nanti semua akan kembali kosong
Terimakasih …
Untuk pernah mengizinkan aku mencintaimu
Walau akhirnya kini pun aku menyesal untuk itu
Terima kasih …
Permanent link to this post (102 words, estimated 24 secs reading time)
Posted in Puisi on November 25th, 2007 No Comments »
Hari ini aku menangis… lagi
Bukankah aku memang harus menangis… lagi?
Sekarang atau nanti
Aku tetap harus menangis… lagi
Tegar bukan berarti tak pernah mengangis, kan?
Kuat bukan berarti tak pernah patah, kan?
Kokoh bukan berarti tak pernah terjatuh, kan?
Hebat bukan berarti tak pernah kalah, kan?
Aku bosan merasakan datangnya cinta
Tapi aku lebih bosan melihat caraku tersenyum menyambutnya
Aku bosan pada kata-kata cinta yang keluar dari mulutnya
Tapi aku lebih bosan pada caraku tersipu mendengarnya
Aku bosan saat menyadari aku bukanlah satu-satunya
Tapi aku lebih bosan pada keikhlasanku menerimanya
Aku tusukkan belati di dadanya
Sungguh bukan karena aku membencinya
Bukan juga karena aku tak ingin dia ada
Tapi karena aku tahu
Aku tak mungkin memilikinya, selamanya
Lalu dia terduduk tiba-tiba
Dia menatapku
Tanpa duka, tanpa air mata
Juga tak kulihat guratan kecewa di matanya
Jantungku berdegup kencang
Dan terus semakin kencang
Aku takut
Sangat takut
Tanpa sadar aku menangis
Aku merasa sakit melihatnya terluka
Dan semakin sakit saat aku sadar
Akulah yang melukainya
Lalu akhirnya
Dia jatuh
Berbaur dengan kucuran darah
Darah yang keluar dari dadanya sendiri
Dan dia tersenyum sebelum mati
Permanent link to this post (94 words, estimated 23 secs reading time)
Posted in Puisi on November 25th, 2007 No Comments »
Dia memang kurus, tinggi, dan langsing
Itulah mengapa aku memanggilnya Kutilang
Dia sosok yang kukagumi
Banyak hal yang bisa aku pelajari selama mengenalnya
Tapi sekarang,
Dia terbang agak jauh dariku
Walau masih sebangsa denganku,
Tak lagi aku melihat keceriaanya, cerita-ceritanya yang ekpresif
Posted in Puisi on November 23rd, 2007 No Comments »
Aku selalu mengingatnya, terlebih ketika asa terancam putus, tatkala hadapi sekian cobaan yang sepertinya datang silih berganti tiada henti. Kuingin seperti karang itu. Menjadi sesuatu yang tegar di lepas pantai dengan hantaman ombak yang menderu tanpa kenal waktu. Menjadi yang tidak boleh rapuh karena ada kura-kura di belakangnya, kura-kura yang ingin ditemani, yang harus dipeluk biar tak hanyut dicuri ombak.
Namun bukan kura-kura saja yang layak ucap terima kasih, tetapi juga sebaliknya. Karang tidak akan pernah menjadi karang jika tidak ada kura-kura di dekatnya. Dia tidak akan punya arti. Hanya bongkahan batu menjulang tinggi dengan keangkuhannya tanpa ada manfaat bagi sesama hamba Tuhan.
Subhanallah walhamdulillah.
Posted in Puisi on November 23rd, 2007 No Comments »
Aku terbangun dari lamunanku
Aku mulai takut merasakannya
Aku mulai gundah memikirkannya
Semua seperti mimpi yang nyata saja
Meski aku tahu itu hanyalah khayalan semata
Khayalan yang mungkin ada benarnya juga
Akhirnya… kenyataan memanggilku
Memaksaku menyelami mimpi itu
Kini aku benar-benar merasakannya
Posted in Puisi on November 23rd, 2007 No Comments »
Aku berdiri sendiri
Aku mencium aroma laut yang kentara
Sekawanan pasir putih di pantai
Sepertinya mereka sedang berlari-lari
Dan sepertinya mereka sedang mencari sesuatu
Tapi akhirnya kulihat mereka menari
Heran… apakah mereka telah menemukan sesuatu itu
Aku mendengar suara bising sang ombak
Posted in Cerpen on November 23rd, 2007 2 Comments »
Malam ini aku ga ada PR jadi aku mutusin maen ke tempatnya si Icha sodara sepupu aku. “Malam Icha!” aku menyapa sepupuku yang hobbynya ngelamun. Dia gadis yang imut, ceria, cengeng juga.
”Malam… La,” jawabnya lesu.
”Kenapa? Dimarain mama?” tambahku.
”Ngga… lagi bete aza…” jawabnya tetap dengan wajah malas.