KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan November 2007

Kau dan Cintamu

Sekelumit definisi-definisi cinta tubuhnya tertusuk

oleh ujung kata-katamu

yang mendewakan teorimu

padahal kau tak mampu menelan satu katapun

Sombong kau mengapitnya di ketiak

tinta definisi cinta itu luntur

pasti oleh keringatmu

yang kecut!

walau itu peluhmu

Jangankau bisikkan dekat telinga kananku

Mapala. Mahasiswa pecinta alam. Apa yang terlintas di benak Anda saat membacanya?
Mungkin sebagian orang berpikir bahwa hal-hal yang dilakukan para pecinta alam itu seperti kurang kerjaan. Naik gunung, memanjat tebing, rafting, dan lain sebagainya. Apa sih yang bisa didapat dari situ? Paling -paling hanya refreshing, bersenang-senang, menenangkan pikiran , melhiat pemandangan-pemandangan indah ciptaan-Nya.

Waras

Terkapar.. aku lelah seperti ini… tetapi aku tak berdaya dan tak pernah memiliki kekuatan untuk melawannya… Terhina.. letih.. akhirnya aku hanya bisa berbaring di atas coklatnya tanah yang tengah kusetubuhi sekarang.

Kutatap sekali lagi semuanya yang ada disekelilingku, semuanya… kelam…!!! tanah.., katak yang tengah mendengkur, tetumbuhan… bahkan makhluk yang bukan manusia pun seakan-akan tengah mengejekku sekarang..

Gadis di Tikungan Jalan 1

    Seperti malam yang sudah-sudah. Dia berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh kerikil dan sedikit becek. Hujan tadi
pagi membuat tanah yang sebulan lalu kering menjadi tempat genangan air yang keruh karena bercampur lumpur. Ilalang dan rumput liar yang semula suram kini riang karena hujan tadi pagi mengguyur daunnya yang hampir tak mampu menatap matahari. Jangkrik yang bersembunyi di bawah tanaman. Jangkrik mulai mengerik menyambut malam yang semakin pekat. Anak-anak laron yang ingin bebas kini berterbangan mengelilingi lampu penerangan yang sayup-sayup. Induknya mengajak mereka keluar dari lubang-lubang persembunyian untuk ikut menikmati malam yang dingin dan berangin. Aroma bunga mangga arum manis yang tengah mengembang seakan tersaing dengan parfum melati yang dipakainya. Angin yang meniupkan hawa dingin menggoyangkan rambut panjangnya yang lurus terurai hingga pundak. Bibirnya yang mungul diberi pemerah bibir yang membuat bibirnya seakan tak mau kalah dengan jambu mete yang buahnya bergantungan di ranting yang rentah patah ketika angin besar bertiup. Lampu penerangan jalan yang sedikit redup membuat wajahnya yang bulat semakin terlihat mempesona. Kelopak matanya diberi eyes shadow coklat kehitaman dan alis matanya yang lentikm membuatnya makin menawan ketika ia berkedip.

Secercah Harap di Pagi yang Cerah

Pagi yang cerah…

Secerah hatiku saat ini

Secercah harap menyapaku

Dia yang ada di sana

Seakan hadir menemaniku di sini

Ketika pesan-pesan cinta dia kirimkan

Sebagai ungkapan rasa cinta kasih dan sayangnya yang tulus padaku

Aku begitu bahagia…

Anganku pun melayang jauh

Pesta Topeng


Namaku Pasir. Aku dingin dan rapuh. Tetapi untungnya, sebelum hewan-hewan tanah menggerogoti tiap helai tubuhku, aku bertemu dengan seseorang. Ia menaruhku ke dalam segelas air dan mengadukku, sehingga aku menjadi sebuah emulsi berwarna cokelat cair yang tak stabil, seperti kopi yang meninggalkan endapan pada teguk terakhir. Dan dalam keadaan itu, tubuhku menjadi pusing namun tenang… aku menjadi takut plus senang… dan aku tenggelam, sekarat bahkan hampir mampus tetapi aku merasa semakin hidup.

TAPI AKU MASIH SUKA HUJAN… MESKI IA KINI DATANG TERLAMBAT

TAPI AKU MASIH MENCINTAI MALAM… MESKI IA KINI TAK LAGI SEMPURNA

 

Oleh: Stebby Julionatan

Rambutmu masih berkibar-kibar disela-sela awan yang berpacu

Bersama semesta.  Berbisiklah pada melodi angin. Sekarang! Atau pahatlah sebuah kesunyian didinding keabadian.

 

Sekarang ini percakapan kita di musim paceklik. Hanya bisa menghasilkan kegetiran dan setetes sunyi yang membenturkan sebuah lorong yang dituangkan oleh sinar tarian matahari.

Menunggu Waktu Tuk Bersamamu

Kau adalah air mata, yang mengalir dalam hatiku yang sepi

Begitu murni, tulus dan suci membasahi atmaku yang mulai layu

Kau adalah waktu, yang kuhabiskan untuk memimpikanmu

Begitu singkat namun sangatlah berarti

Kau adalah darah, yang mengalir dalam urat nadiku

Memberikan arti kehidupan yang aku jalani

1

 

Seperti hari ini aku mendekam kepusat sunyi. Rumah-rumah itu kemudian hilang. Kita masih juga bercakap-cakap pada malam itu. Disebuah ruangan yang gelap. Diantara tuak-tuak bersileweran dan ruangan tamu yang penuh orang jawa,dialog mereka membuatku pusing.

« Prev - Next »