Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on November 28th, 2007 No Comments »
Sekelumit definisi-definisi cinta tubuhnya tertusuk
oleh ujung kata-katamu
yang mendewakan teorimu
padahal kau tak mampu menelan satu katapun
Sombong kau mengapitnya di ketiak
tinta definisi cinta itu luntur
pasti oleh keringatmu
yang kecut!
walau itu peluhmu
Jangankau bisikkan dekat telinga kananku
Mapala. Mahasiswa pecinta alam. Apa yang terlintas di benak Anda saat membacanya?
Mungkin sebagian orang berpikir bahwa hal-hal yang dilakukan para pecinta alam itu seperti kurang kerjaan. Naik gunung, memanjat tebing, rafting, dan lain sebagainya. Apa sih yang bisa didapat dari situ? Paling -paling hanya refreshing, bersenang-senang, menenangkan pikiran , melhiat pemandangan-pemandangan indah ciptaan-Nya.
Posted in Puisi on November 27th, 2007 No Comments »
Terkapar.. aku lelah seperti ini… tetapi aku tak berdaya dan tak pernah memiliki kekuatan untuk melawannya… Terhina.. letih.. akhirnya aku hanya bisa berbaring di atas coklatnya tanah yang tengah kusetubuhi sekarang.
Kutatap sekali lagi semuanya yang ada disekelilingku, semuanya… kelam…!!! tanah.., katak yang tengah mendengkur, tetumbuhan… bahkan makhluk yang bukan manusia pun seakan-akan tengah mengejekku sekarang..
Posted in Cerpen on November 27th, 2007 2 Comments »
Seperti malam yang sudah-sudah. Dia berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh kerikil dan sedikit becek. Hujan tadi
pagi membuat tanah yang sebulan lalu kering menjadi tempat genangan air yang keruh karena bercampur lumpur. Ilalang dan rumput liar yang semula suram kini riang karena hujan tadi pagi mengguyur daunnya yang hampir tak mampu menatap matahari. Jangkrik yang bersembunyi di bawah tanaman. Jangkrik mulai mengerik menyambut malam yang semakin pekat. Anak-anak laron yang ingin bebas kini berterbangan mengelilingi lampu penerangan yang sayup-sayup. Induknya mengajak mereka keluar dari lubang-lubang persembunyian untuk ikut menikmati malam yang dingin dan berangin. Aroma bunga mangga arum manis yang tengah mengembang seakan tersaing dengan parfum melati yang dipakainya. Angin yang meniupkan hawa dingin menggoyangkan rambut panjangnya yang lurus terurai hingga pundak. Bibirnya yang mungul diberi pemerah bibir yang membuat bibirnya seakan tak mau kalah dengan jambu mete yang buahnya bergantungan di ranting yang rentah patah ketika angin besar bertiup. Lampu penerangan jalan yang sedikit redup membuat wajahnya yang bulat semakin terlihat mempesona. Kelopak matanya diberi eyes shadow coklat kehitaman dan alis matanya yang lentikm membuatnya makin menawan ketika ia berkedip.
Posted in Asa on November 26th, 2007 No Comments »
Pagi yang cerah…
Secerah hatiku saat ini
Secercah harap menyapaku
Dia yang ada di sana
Seakan hadir menemaniku di sini
Ketika pesan-pesan cinta dia kirimkan
Sebagai ungkapan rasa cinta kasih dan sayangnya yang tulus padaku
Aku begitu bahagia…
Anganku pun melayang jauh
Posted in Cerpen on November 26th, 2007 3 Comments »
Namaku Pasir. Aku dingin dan rapuh. Tetapi untungnya, sebelum hewan-hewan tanah menggerogoti tiap helai tubuhku, aku bertemu dengan seseorang. Ia menaruhku ke dalam segelas air dan mengadukku, sehingga aku menjadi sebuah emulsi berwarna cokelat cair yang tak stabil, seperti kopi yang meninggalkan endapan pada teguk terakhir. Dan dalam keadaan itu, tubuhku menjadi pusing namun tenang… aku menjadi takut plus senang… dan aku tenggelam, sekarat bahkan hampir mampus tetapi aku merasa semakin hidup.
Posted in Cerpen on November 26th, 2007 6 Comments »
TAPI AKU MASIH SUKA HUJAN… MESKI IA KINI DATANG TERLAMBAT
TAPI AKU MASIH MENCINTAI MALAM… MESKI IA KINI TAK LAGI SEMPURNA
Oleh: Stebby Julionatan
This is a preview of
Tapi Aku Masih Suka Hujan……..Meski Ia Kini Datang Terlambat
.
Read the full post (508 words, estimated 2:02 mins reading time)
Posted in Puisi on November 25th, 2007 5 Comments »
Rambutmu masih berkibar-kibar disela-sela awan yang berpacu
Bersama semesta. Berbisiklah pada melodi angin. Sekarang! Atau pahatlah sebuah kesunyian didinding keabadian.
Sekarang ini percakapan kita di musim paceklik. Hanya bisa menghasilkan kegetiran dan setetes sunyi yang membenturkan sebuah lorong yang dituangkan oleh sinar tarian matahari.
Posted in Puisi on November 25th, 2007 No Comments »
Kau adalah air mata, yang mengalir dalam hatiku yang sepi
Begitu murni, tulus dan suci membasahi atmaku yang mulai layu
Kau adalah waktu, yang kuhabiskan untuk memimpikanmu
Begitu singkat namun sangatlah berarti
Kau adalah darah, yang mengalir dalam urat nadiku
Memberikan arti kehidupan yang aku jalani
Posted in Puisi, Intermezzo on November 25th, 2007 No Comments »
1
Seperti hari ini aku mendekam kepusat sunyi. Rumah-rumah itu kemudian hilang. Kita masih juga bercakap-cakap pada malam itu. Disebuah ruangan yang gelap. Diantara tuak-tuak bersileweran dan ruangan tamu yang penuh orang jawa,dialog mereka membuatku pusing.
This is a preview of
Kau, Puisi dan Satu Kopi Hangat yang Berbisik Tentang Sunyi
.
Read the full post (90 words, estimated 22 secs reading time)