KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Gadis yang ketika kelelawar mengepakkan sayapnya sedang tidur nyenyak di atas ranjang yang hangat. Gadis yang seharusnya ketika bintang menyapa berada dalam kehangatan keluarga yang bahagia. Namun semua itu tak dirasakannya. Yang ia rasakan adalah dinginnya angin malam dan kelamnya kehidupan malam.

Burung emprit menyambut datangnya sang surya dengan gembira. Senja telah tiba. Laron-laron yang tadi malam puas menari kini kembali ke sarangnya untuk tidur. Daun-daun mangga yang menguning berjatuhan karena tertiup angin malam. Orang-orang mulai sibuk dengan aktivitasnya. Babah Ali siap menebas habis pohon tebu yang sudah tua. Damin telah bersiap menanam jagung di sawah milik pak lurah. Pak Dago dengan sepeda ontelnya siap mengesol sepatu yang rusak dan usang. Marno sibuk mencari cacing di tanah yang gembur untuk umpan pancing, dan Mintel tengah sibuk menyiapkan sayuran untuk dijadikan rujak teplak. Tapi lihatlah gadis dengan wajah murung yang duduk di teras rumahnya. Matanya sembab karena ia baru saja menangis. Gadis yang dengan pandangan kosong memperhatikan sepasang kupu-kupu yang sedang menghisap madu. Gadis yang membiarkan mentari pagi yang menerpa wajahnya yang layu. Tak lain dan tak bukan gadis itu adalah Pratista. Dia menggenggam erat kertas yang ada ditangannya dan menatap lekat-lekat kotak kecil yang berada ditangan kanannya. Semakin lekat ia memandang mengalirlah air mata yang membasahi pipinya. Semakin lekat ia memandang semakin hatinya sakit bagai diiris sebilah pisau tajam. Kertas yang diremasnya itu adalah surat dari Bayu.

Untuk gadis yang aku sayangi

Aku masih ingat masa dimana kita kecil. Kita bermain rumah-rumahan. Aku jadi ayah dan kau jadi ibu. Aku ingin menjadikan itu tak hanya permainan tapi kenyataan. Aku ingin menikahimu, karena aku mencintaimu dengan sepenuh jiwaku. Aku percaya, kau tak sekalipun melakukan dengan orang-orang itu. Aku yakin karena aku mengenalmu melebihi diriku. Hatiku percaya kau juga mencintaiku. Jangan lagi mengingkari hal itu, karena aku mencintaimu apa adanya.

Besok aku pelayaran ke Jepang. Kau tahu Tista aku berat meninggalkanmu. Tapi ini adalah jalan untuk membangun impianku. Akan kubuatkan kau rumah sederhana untuk kita tinggali setelah kita menikah. Akan kubuat kau menjadi wanita yang paling bahagia. Hanya kau yang mampu mewujudkan impianku, maka tunggulah aku pulang. Cincin ini adalah bukti setiaku, cintaku, harapanku dan mimpiku padamu.

Yang selalu menyayangimu,

 Bayu

Malam Minggu lesehan ikan bakar Bu Ridah terlihat lenggang. Padahal malam Minggu sebelumnya warungnya kebanjiran peminat. Lalu lalang laju kendaraan membuat jalan itu tak pernah sepi. Lampu-lampu penerang jalan yang terang membuat jalan itu tak pernah kelam. Tapi, tengoklah tikungan jalan itu. Sepi dan lenggang. Tak ada senyum dari gadis yang setia berdiri di situ menyambut tamu-tamu Bu Ridah. Tikungan jalan itu kini merindukan aroma gadis itu. Merindukan matanya ynag lentik ketika dia berkedip pada pria-pria yang butuh slentikan. Gerimis malam itu, membasahi tikungan jalan yang kian merana karena tak ada lagi tawa riang si gadis.

Gerimis tak urung reda ketika sang surya menjelang. Burung emprit yang bertengger pada tiang listrik senantiasa setia menyambut sang senja sekalipun gerimis mendera. Kini tengoklah ke tikungan jalan yang semalam dingin. Ada gadis memakai gaun putih dengan matanya yang indah melihat ke arah barat. Pelangi itu kini memancarkan keindahan warnanya. Pelangi itu kini menghiasi langit yang tadi malam suram. Lihatlah gadis itu, ia tersenyum riang melihat indahnya pelangi bagi itu. Lihatlah gadis itu, ia begitu riang melihat pelangi yang memberi warna pada langit yang membiru. Gadis itu adalah Wulan, yang kini bisa menatap indahnya dunia dari tikungan jalan itu. Ketika ia melihat ke arah utara, ia akan melihat birunya Gunung Slamet yang berselimut kabut. Ketika ia memandang ke arah utara, ia kan melihat taman kota yang berhiaskan bunga anggrek yang tengah dikelilingi kupu-kupu dengan keelokan sayapnya. Ketika dia memandang ke arah selatan, ia akan melihat sekelompok kelelawar memasuki bangunan tua melalui celah jendela yang sempit.

Pratista kini telah tiada sebelum membangun mimpinya. Namun ia pergi setelah mendapatkan kepastian akan cintanya. Ia pergi dengan mendonorkan kornea matanya kepada Wulan. Ia pergi untuk selamanya karena terkena virus HIV yang mengikis habis kekebalan tubuhnya. Ia telah tiada, namun semua mimpinya untuk menjadi mahasiswa kedokteran tak akan pernah mati karena Wulan akan mewujudkan mimpinya. Karena ia percaya Wulan akan mencintai hidupnya.

TAMAT

One Response to “Gadis di Tikungan Jalan 2”

  1. on 07 Mar 2008 at 15:31poetri

    kisah yang menarik, tapi ada sedikit keganjalan di tengah cerita, tapi itu membangkitkan imajinasiku untuk menebak kira2 untaian kisah yang mana yang tepat untuk merangkai ceritamu ini…

Tinggalkan Komentar