Sepotong Senja, Cakrawala, Malam dan Semesta
November 28th, 2007 by rangga_adhiyasa
I
Ketika surya meninggakan semesta, senja menebarkan kehangatan di ujung cakrawala yang kelam. Malam pun menyambut kehangatan senja bersama angin dan awan. “Senja kenapa kau tebarkan dirimu pada malam?”. Senja pun sembunyikan hatinya pada malam.
Lalu, ingatkah kau pada seruling malam yang memberi lagu pada sepotong senja? Di sanalah senja menyerkap semesta.
Tetapi ketika lagu telah usai dan dongeng kehabisan kata, senja kembali memandang wajahnya pada cermin. Angin dan awan pun setia menemani senja di sampingnya.
II
Senja pun terkejut ketika mendung selimuti bumi. Dirinya tahu bahwa hujan ingin menyingkirkannya dari malam. Hujan pun turun mendinginkan malam. Tetapi senja begitu teguh menebarkan kehangatannya pada malam, meskipun tahu dirinya terbakar.
Hujan yang melihat keteguhan senja pun mereda. “Wahai senja kenapa kau korbankan jiwamu demi kegelapan?” senja hanya menjawab dengan sebuah kehangatan.
III
Seketika langit pun cerah. Senja demikian jingga dimuka cakrawala. Dirinya tidak tahu berapa lama ia akan hidup bersama malam. Senja pun gelisah ketika dewi malam datang. Angin, cakrawala dan awan menunduk hormat padanya.
Tetapi malam ragu. Dirinya hampa melihat dewi malam yang terang, sedangkan senja berkorban dengan cahaya yang redam. “Wahai malam mengapa kau ragu memilihku dengan senja? Tidakkah kau tahu bahwa cahayaku begitu sempurna?”
Senja pun tidak membiarkan malam yang memberikannya kehidupan dicemooh. Dia pun berkata “Biarkan malam yang menjawab keresahannya pada kanvas semesta”.
IV
Senja pada waktu musim dan cuaca berkelana. Memberikan kehangatannya pada malam meskipun redam. Dia pun menangis melihat wajah bulan yang pucat dan dirinya yang padam. Ternyata malam memilih senja sebagai cahaya hatinya.
Tetapi senja telah larut pada laut yang bergelora. Mengurai alir malam dan kaki-kaki awan.
Kini senja akan tidur dalam buaian angin, dan memudar ke arah tenggelamnya surya. Lalu malam berkata pada bulan yang pucat “Tidakkah kau mendengar seruan tolong yang keluar dari mulut mereka?”
SELESAI…
Cianjur, 30 Januari 2004
kren!!
jen suka bgt ma tulisan km…
serasa iqt ngerasain… =)
nice writing….
lam kenal
-res-