Terkapar.. aku lelah seperti ini… tetapi aku tak berdaya dan tak pernah memiliki kekuatan untuk melawannya… Terhina.. letih.. akhirnya aku hanya bisa berbaring di atas coklatnya tanah yang tengah kusetubuhi sekarang.
Kutatap sekali lagi semuanya yang ada disekelilingku, semuanya… kelam…!!! tanah.., katak yang tengah mendengkur, tetumbuhan… bahkan makhluk yang bukan manusia pun seakan-akan tengah mengejekku sekarang..
You are the loser… kata-kata itu terus dan terus menggema ditelingaku.. meski telah kututup rapat-rapat kedua telingaku….
TIDAAAAAAAAAAKKKKKKKKKK….!!! aku bukan pecundang…
Memang.. memang aku kalah dan mungkin akan selalu kalah dalam segala hal…, dalam audisi hidup yang terkadang selalu menghenyakkan aku terus dan terus ke jurang ambang kesabaran..
Kapan….sampai kapan aku harus kalah seperti ini… dan sampai kapan aku mesti kobarkan semangat yang aku juga sudah tidak tahu apakah masih ada atau telah hilang jauh sebelum kusadari keberadaannya.. dan air mata ini bahkan sudah mengering di sudut mataku tak mampu ku tumpahkan lagi.. aku telah kekeringan dan kehilangan air mata….
Bahkan…. untuk air mata pun aku sudah tak punya…. aku sudah tak memiliki apa-apa di dunia ini..
Tidakkah engkau kasihan ya Tuhan…, terhadap makhlukmu yang kerdil ini…
Dengan pasrah akhirnya kuangkat tubuhku.., mungkin sedikit kena angin bisa meredam semua amarahku…
Kulangkahkan kakiku tak tentu arah… sesuka hatiku… yang penting aku terus melangkah tanpa tahu dimana dan untuk apa… aku manusia yang sungguh bodoh dan mungkin musafir pun lebih beruntung dariku karena dia memiliki tujuan yang hendak dicapainya sementara aku hanya menuruti luka hatiku.. dan terus berjalan…
Perlahan terdengar alunan nada sendu yang diputar melalui sebuah tape mobil yang tengah parkir tepat disampingku kini… ahhh… aku tahu benar perasaan yang tengah dialami sang penulis syair.., karena rasa yang sama yang tengah aku rasakan sekarang.
Kata-kata itu begitu menyentuh.. tentang luka hati kehilangan seorang kekasih.. andai aku pintar merangkai kata-kata untuk kemudian kujadikan lyrik lagu pasti telah kuciptakan hal yang serupa dengan si pencipta lagu… namun aku tak mampu…, dan kau tau itu.. aku tak mampu… hanya bisa menggerutu..
Perasaan itu terus mendera….
Hilang….
Aku telah kehilangan segalanya.., bukan hanya kekasih.., bahkan untuk hidupku…, masa depanku yang telah kubangun sedari kecil… kuangankan setinggi-tingginya namun tak jua kucapai…
Teringat sebuah pepatah lama sewaktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar.. guruku yang cantik dan lembut selalu mengatakan… “Kalau sudah besar mau jadi apa Joni..?” namun kujawab dengan gelengan kepala.
“Kok tidak tahu…, harus punya cita-cita ya…”
Dan terakhir guruku yang cantik bilang…”gantungkanlah cita-citamu tinggi di langit…”
Ya… guruku benar…, cita-citaku masih tergantung dilangit.. dan pertanyaannya yang timbul selanjutnya adalah.. pakai apa aku harus kesana mengambilnya.. sehingga nantinya aku tidaklah menjadi seperti ini.. bisa sedikit dengan bangga kuteriakkan pada semua orang … hei… ini lho Joni.. yang punya cita-cita… aku juga manusia yang punya cita-cita…
Tinggi… terlalu tinggi.. hingga aku tak berani bermimpi.. sakit.. jika jatuh dari khayalan yang terlalu tinggi seperti itu.
Orang yang banyak berharap pasti banyak mendapatkan kekecewaan… that’s me… aku yang terkapar ditengah jalan sekarang..
Panas tak kurasakan memeluk tubuhku.. dan aku masih disini…
Perlahan hari berganti menjadi malam, dan semuanya menjadi hitam kelam, tak berbintang, tak sedikitpun memiliki cahaya sebagai penerang, seperti hidupku dan aku juga tengah terkurung dan terjebak dalam situasi ini sekarang.
Gelap…, aku tak mempu melangkah lagi, sakit…!! rasa itu kian mendera, aku terduduk lemas.. setangah amarahku telah lenyap entah kemana, yang tersisa kini hanya gamang, takut untuk melangkahkan kaki kembali.
Tuhan…, adakah yang mampu membimbingku kembali hingga aku mampu bangkit lagi, sejajar dengan makhlukmu yang lain, makhluk terindahmu yang kau sebut manusia..?
Malam kian meninggi, para pencari makan melalui dinginnya malam mulai berkeliaran, berbagai macam bentuk pekerjaan dapat juga tetap dilakukan meskipun dimalam hari, dari yang halal hingga yang haram.
Alahhh…., tahu apa engkau tentang rezeki..? cari yang haram saja susah apalagi cari yang halal, begitu kata temanku yang seorang bandar narkoba beberapa hari yang lalu saat kami masih sempat untuk menikmati waktu bersama dengan menyempatkan diri ngobrol santai sambil minum kopi dan beberapa potong goreng pisang panas di pinggir Musi.
Tapi itu beberapa hari yang lalu, kemudian aku baca di Koran Harian kemarin ia tertangkap tangan saat tengah menjalankan profesinya, dan sekarang mungkin tengah menjadi pengisi Hotel Prodeo disamping Masjid Agung.
Aku…. aku tetap seperti ini, tak melakukan apa-apa… dan aku juga tak punya keberanian untuk memulai, orang mungkin masih akan mengacungkan jempol untuk sahabatku yang kini resmi tercatat sebagai penghuni salah satu bangsal pesakitan di Rutan Jalan Merdeka tersebut, karena masih memiliki keberanian untuk tetap hidup meskipun jalan yang diambil sedikit menyimpang, tetapi siapa yang harus disalahkan..? dengan kondisi kehidupan sekarang, orang memang cenderung akan berbuat apa saja untuk kepentingan isi perut.
Yah.. mungkin masih ada orang yang tetap berpegang teguh dengan pendiriannya, yang rela tidak makan asalkan tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma, salah satunya mungkin adalah orang yang tulisannya tengah anda baca ini, yaitu aku…
Namun sekali lagi.., apa yang dapat kubanggakan dari seorang diriku…
Bukan.. bukannya aku tak bersyukur.., namun aku selalu mencari hikmah atas semua kekalahan yang terus dan terus aku alami.
Terkadang kebahagiaan itu datangnya sering terlambat, dan mungkin memang kebahagiaan itu masih menjadi milikku, tapi kesabaran ini sungguh telah diambang batas yang kupunya… Tuhan…!! berikan kebehagiaan itu secepatnya.. ekspress bila perlu, dan jangan melalui perantara orang lain.., karena jika melalui perantara orang lain, dinegara ini.., selain akan sulit sampai, hasil yang didapat juga tidak akan memuaskan, wong dana kepedulian untuk bencana saja terkadang masiiihhh…, saja sering di tilap..! duh…, kok jadi ngomongin orang, kita kan sedang berbicara tentang diriku ya..!! ngomongin orang nanti ada yang tersinggung, lebih baik membicarakan diriku, menghujat, mencaci maki pun boleh engkau lakukan…, karena aku tak akan marah, tak akan mengadukan engkau kepada pengacara ataupun Komnas HAM, karena aku telah lama….mati rasa.
Beberapa gembel dan orang gila yang tengah tertidur di atas trotoar menarik perhatianku.. hati kecilku terusik.
“Mas.. lagi ngapain mas…?” sapaku akrab
“Mancing.. orang gila juga tahu kalau aku tengah tidur….” gerutu orang gila tersebut galak.
“Udah lama jadi orang gila mas..?”
“Yah sudah cukup lama, mungkin sudah hampir tiga tahun-an..”
“Alasannya..?”
“Hidup sulit mas.., mendingan jadi gila daripada waras, tapi pusing terus mikirin hidup..”
Aku manarik nafas panjang, dan berganti mencari teman ngobrol yang lain.
Ada yang gila beneran dan ternyata juga ada yang gila pura-pura, untuk sekedar menutupi berat beban hidup, aku tak mampu bersuara. Bahkan sebenarnya ada yang waras tapi jiwanya sakit.., hal itu banyak kusaksikan ditelevisi, ada yang tega membunuh dan memperkosa anak kandungnya sendiri, apa tidak gila namanya.
Suara pembatas antara malam dan pagi pun merdu mengalun dari menara Masjid Agung yang perlahan menjadi terang dengan sedikit kemunculan bias-bias mentari, suaranya nan merdu menggugah seleraku untuk memenuhi kelaparan rohaniku sekarang. Hari mulai beranjak pagi.
Aku harus bersyukur karena masih memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku.
Itu yang kucari atas jawaban kegelisahanku malam ini, sesuatu yang membangggakan yang masih kumiliki hingga saat ini, yang bahkan banyak orang kini tidak memilikinya lagi…….yaitu akal sehat…
Alias waras…!!!
Dan shubuh ini terasa menjadi lebih indah dari biasanya.. semangat hidup itu perlahan bangkit memenuhi setiap kisi rongga dadaku, aku harus tetap waras dan tetap hidup, bukan untuk orang lain.., melainkan untuk diriku sendiri..
Baturaja, 17 September 2007