KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

    Seperti malam yang sudah-sudah. Dia berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh kerikil dan sedikit becek. Hujan tadi
pagi membuat tanah yang sebulan lalu kering menjadi tempat genangan air yang keruh karena bercampur lumpur. Ilalang dan rumput liar yang semula suram kini riang karena hujan tadi pagi mengguyur daunnya yang hampir tak mampu menatap matahari. Jangkrik yang bersembunyi di bawah tanaman. Jangkrik mulai mengerik menyambut malam yang semakin pekat. Anak-anak laron yang ingin bebas kini berterbangan mengelilingi lampu penerangan yang sayup-sayup. Induknya mengajak mereka keluar dari lubang-lubang persembunyian untuk ikut menikmati malam yang dingin dan berangin. Aroma bunga mangga arum manis yang tengah mengembang seakan tersaing dengan parfum melati yang dipakainya. Angin yang meniupkan hawa dingin menggoyangkan rambut panjangnya yang lurus terurai hingga pundak. Bibirnya yang mungul diberi pemerah bibir yang membuat bibirnya seakan tak mau kalah dengan jambu mete yang buahnya bergantungan di ranting yang rentah patah ketika angin besar bertiup. Lampu penerangan jalan yang sedikit redup membuat wajahnya yang bulat semakin terlihat mempesona. Kelopak matanya diberi eyes shadow coklat kehitaman dan alis matanya yang lentikm membuatnya makin menawan ketika ia berkedip.

Kini sampailah ia di sebuah rumah tua yang didndingnya terbuat dari anyaman bambu. Rumah itu dipagari tanaman Ringin yang di atasnya menjadi tempat bersarangnya tali putri. Halaman rumah itu berhiaskan daun-daun mangga kering yang berjatuhan karena tertiup angin. Rumah yang ketika malam menjelang hanya diterangi cahaya pol 5 watt adalah rumah Mintel si penjual rujak teplak. Setiap hari wanita yang renta itu menjual rujak teplak keliling kampung. Meskipun ia tak sekuat ketika ia masih muda semangatnya untuk mengisi hari tuanya tak pernah luntur seperti warna hitam yang luntur dari rambutnya hingga rambutnya putih kusam karena dimakan usia. Mintel hidup dengan Wulan cucu semata wayangnya yang sejak lahir buta. Kedua orang tua Wulan merantau ke Jakarta ketika Wulan berusia dua tahun hingga sekarang belum pernah pulang. Damin suami Mintel bekerja sebagai petani yang mengelola tanah wangkot pak Lurah. Gadis itu mengetuk pintu yang mulai dikikis rayap dan dengan suara parau ia memanggil si empunya rumah.

“Mbah Mintel! ini saya”

“Ayo masuk, nak Wulan sudah menunggu”  ujar Mintel ketika membukakan pintu. Wulan duduk di kursi ruang tamu sembari memainkan jari jemarinya. Ruang tamu yang hanya berukuran 3×3 m itu terlihat semakin sempit karena semua orang di rumah itu berkumpul. Di sudut ruangan ada wakul, tempat untuk menjajakan rujak teplak. Kursi di ruang itu bukan kursi mewah yang empuk melainkan kursi dari anyaman karet ban bekas yang dibuat sendiri oleh Damin suami Mintel. Mendengar kedatangannya Wulan tersenyum sumringah. Wajahnya yang mungil dan lugu semakin ayu kala senyum mengembang dari bibirnya. Lesung pipit di kedua pipinya semakin mempercantik air mukanya yang jernih. Hari itu adalah ulang tahun Wulan yang ke enam. Kedatangan gadis itu adalah untuk merayakannya. Dia membawa gaun putih dengan manik-manik berbentuk bunga dan pita pink yang melilit pada bagian pinggang gaun yang tadi pagi dibelinya di pasar Trayeman adalah hadian untuk Wulan.

” Wulan, ini hadiah untukmu. Selamat ulang tahun ya sayang” Kata gadis itu sembari tersenyum manis dan mengusap kepala Wulan.

“Makasih mbak, ini gaun yang Wulan inginkan mbak? Warnanya apa mbak?” Ujar Wulan sambil meraba gaun itu dengan tangannya.

“Putih. Wulan suka?” Jawab gadis itu dengan satu pertanyaan.

“Suka sekali mbak. Mbak Wulan pengin sekolah, Wulan pengin lihat pelangi, Wulan juga pengin lihat bintang” Ucapnya dengan nada terbata-bata karena menahan isak tangis.

“Mbak pasti akan mewujudkan keinginan Wulan. Wulan percaya kan?”

“Percaya mbak, mbak janji ya” Ucapnya lugu.

“Mbak janji” Blas gadis itu sambil mengikatkan jari manisnya ke jari manis Wulan.

Persaudaraan Wulan dengan gadis itu begitu erat. Pasalnya gadis itu telah menganggap Wulan sebagai adiknya sendiri. Gadis itu adalah anak satu-satunya dari keluarga yang hidupnya tak selalu bahagia. Ayahnya penjaga Sekolah Dasar di desanya. Ibunya pergi ke Jakarta ketika ia berumur enam tahun. Ia dan ayahnya hidup berdua di rumah dinas. Mintel adalah bibi dari ayahnya. Mintel adalah orang yang mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Itulah sebabnya gadis itu begitu menyayangi Wulan.

Malam semakin larut. Namun cahaya bulan belum surut menerangi jalan yang dilaluinya. Malam semakin dingin, namun tak mengurungkan keinginan kunang-kunang untuk ikut menikmati bintang yang berkilau di langit yang semakin petang. Suara jangkrik yang kian menjerit dan nyanyian katak menyambut datangnya hujan menjadikan malam ini berirama. Sepulangnya dari rumah Mintel gadis itu kembali meneruskan perjalanannya. Ia menyusuri jalan yang tengah diperbaiki warga sekitar karena tiap kali hujan datang jalan itu penuh genangan air. Di sisi jalan itu adalah sawah yang ditanami pohon tebu dan kini siap panen.

“Pandangan pertama awal kita berjumpa ……..” alunan lagu slank feat Nirina Zubir terdengar dari warung jahe milik mpok Tijah. Setiap malam warung ini selalu dipenuhi para tukang becak yang tengan beristirahat. Tak hanya menjual wedang jahe, watung mpk Tijah juga menyediakan mendoan yang sangat digemari para penduduk desa. Di sebelah warung mpok Tijah adalah gerobak tahu Aci Bang Jono. Seperti biasanya gerobak Bang Jono dipenuhi para pembeli mulai dari sepeda ontel sampai mobil mewah berplat merah. Semakin larut semakin ramai pula pembeli. Gadis itu masuk ke pondok lesehan ikan bakar Bu Ridah yang terletak di tikungan jalan tak jauh dari gerobak tahu Aci Bang Jono. Ia tersenyum genit kepada tamu yang tengah asyik menyantap kakap bakar. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang DPRD yang merasa bosan dengan masakan istrinya. Rida si empunya pondok menyuruh gadis itu untuk segera melayani tamu.

Gadis itu membawa nampan berisi satu teko teh poci dan dua gelas yang terbuat dari tanah liat dan berisikan gula batu. Gadis itu mengantarkannya kepada pria paruh baya yang duduk sendiri di sudut warung sebari menghisap rokok. Ia tersenyum genit pada pria itu dan menyilahkan pria itu menikmati teh poci yang dipesannya. Gadis itu duduk di sebelah pria itu dan menuangkan air teh ke dalam gelas. Pria yang terpesona dengan kecantikannya tak membolehkannya dia beranjak pergi. Puas bermain pandang pria itu memberanikan diri memegang tangan gadis itu yang disambut dengan senyum nakal si gadis. Puas bermain tangan pria itu mulai meraba paha gadis itu yang disambut dengan rintihan sang gadis. Ketika mereka tengan asyik bercengkrama. Suara pria dari luar pondok memanggil nama gadis itu dengan setengah berteriak membuat semua pengunjung melihat ke wajahnya yang tampan dengan hidung mancung dan model rambut belahan pinggir.

“Prastita! keluar kau! ini aku!” teriak Bayu dengan nada tinggi. Mendengar apa yang diucapkan Bayu, ia segera keluar dan menyambutnya dengan jawaban yang sinis.

“Mau apa kau ke sini?”

“Jadi ini balasanmu atas semua yang kulakukan padamu?. Kau mau melakukannya dengan orang lain, kenapa tidak denganku?”

“Kau mau tahu?. Itu karena aku tidak mencintaimu! Pulanglah! Aku sibuk!”

“Kau munafik Tista. Bilang kau mencintaiku! Katakan kau mencintaiku!” teriak Bayu sedikit memaksa

“Kamu ini tuli atau bodoh sih? Aku tidak mencintaimu! Kenapa kau seperti ini? Kau bisa mendapatkan gadis yang lebih baik. Bukan gadis kotor sepertiku”

“Besok aku berangkat pelayaran ke Jepang. Setelah aku pulang kita akan hidup bersama dan kau tak perlu seperti ini”

“Aku tak mau menunggumu!”

“Sudahlah ayo kita pulang!” Bayu menarik  tangan Pratista dan keduanya pun meninggalkan warung itu.

Ya, nama gadis itu adalah Pratista. Gadis yang ketika malam menjelang menjadi pelayan di pondok lesehan ikan bakar Bu Ridah. Gadis yang ketika langit mulai petang berdiri di tikungan jalan dengan senyum getir menyapa tamu-tamu Bu Ridah. Gadis yang tak seharusnya merasakan kelamnya kehidupan malam. Gadis yang seharusnya ketika malam datang berada dalam belaian kasih sayang

2 Responses to “Gadis di Tikungan Jalan 1”

  1. on 28 Nov 2007 at 19:00hanik

    mana endingnya?……………kok ngantung? tak tunggu kelanjutannya.

  2. on 28 Nov 2007 at 20:10Tari

    Se cantik apa ci gadis itu? Akhirnya gimana nasib gadis itu? Tak nanti akhirnya.

Tinggalkan Komentar