KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

TAPI AKU MASIH SUKA HUJAN… MESKI IA KINI DATANG TERLAMBAT

TAPI AKU MASIH MENCINTAI MALAM… MESKI IA KINI TAK LAGI SEMPURNA

 

Oleh: Stebby Julionatan

Hujan datang terlambat tahun ini. Mmm… tapi tak apalah, yang penting hujan masih turun. Rekah daun angsoka, gerisik ranting bambu, dan tarian para angsa memutar kendali tongkat dirigen dalam sebuah simfoni. Para pelancong mulai berkaos kaki tebal, merapatkan jaket mereka, menambah tumpukan selimut, juga memasang penghangat ruangan. Hidung anak-anak juga mulai dialiri ingus. Gelas-gelas berisi air jeruk hangat menggantikan posisi kopi dalam tontonan sepak bola. Lorong-lorong stasiun kini menjadi hunian para musisi jalanan. Begitupun dengan pedagang buah, mereka mulai gusar karena ulat merusak dagangan mereka.

Hujan datang terlambat tahun ini. Mungkin karena kau tak lagi suka menyapa mereka. Kau mulai enggan bermain dengan mereka. Kau mulai enggan bermain bersama mereak karena kau tak lagi suka berjalan di tanah yang becek. Kau seakan lupa sensasi dan geliat kegelian yang kau rasakan saat berjalan tanpa alas kaki di atas kerikil. Kau juga mulai enggan untuk sekedar melepas sepatumu dan menghantar salam saat masuk ke dalam rumah. Mana peta dan rasi bintangmu yang selalu kau bawa saat bermain hujan itu? Sepertinya kau sudah enggan bermain dengan peta dan rasi bintangmu itu. Mereka tak lagi menghiasi mimpi-mimpimu. Berganti dengan kilatan blitz dan bentangan red carpet. Kau kini tak lagi suka gelap, apalagi malam. Kau kini juga tak suka sendirian. Bagimu gelap dan sendiri adalah kelumpuhan. Hhmm… kau telah enggan menelusur jalur-jalur rumit pada peta. Kau tak lagi suka mengawasi rasi bintang yang memaku langit sebagai penunjuk arah bagi pencarianmu. Kini kau lebih suka meringkuk nyaman di balik bulu merpati yang akan mengantarmu sesuai tujuan yang kau minta.

Tapi aku masih suka hujan… meski ia kini datang terlambat.

Sebab hujan masih mengingatkan diriku pada dirimu. Sebab ketika musim hujan datang, aku dapat mengingatmu sedang berkutat dengan peta dan dengan rasi bintang itu, seolah kau akan melakukan perjalanan di negeri yang jauh. Mmm… mungkin kau juga masih ingat, pertemuan pertama kita terjadi ketika musim hujan, di sela-sela gemuruh hujan dan riuhnya tarian penghormatan bagi para tamu. Aku juga masih ingat, hujan yang sama juga terjadi pada pertemuan kedua kita. Hujan yang turun di antara baris-baris puisi dan keriuhan dentum genderang karnaval. Pada pertemuan ketiga, hujan melintasi ngarai lalu turun ke sungai. Ia menyemai lintah-lintah di sawah. Hujan pada pertemuan ketiga, aku mencintaimu. Aku belajar untuk mencintaimu.

Tapi aku masih mencintai malam… meski ia kini tak lagi sempurna membungkus diriku di dalamnya.

Sebab malam selalu mampu menarik ingatanku untuk menjelajah waktu. Malam selalu mampu menghadirkan sosokmu saat kamu bertekun dalam peta maupun saat kau melayang, menyatu ke dalam gugusan bintang itu. Malam juga mampu menyembunyikan diriku dari hadapanmu, saat aku mengendap-endap untuk menatapmu. Malam mampu membuatku jatuh dan mencinta. Sebab dalam kegelapan malam, aku hanya melihat dirimu. Ya… hanya dirimu tanpa segala gelar yang kau sandang.

“Pa, sudah malam. Kok belum tidur?” Tanya istriku heran.

Aku masih menyukai hujan… aku masih menyukai malam… sebab ia menyembunyikan diriku ke dalam selimut meski kini bersama wanita lain.

Probolinggo, 24 November 2007.

6 Responses to “Tapi Aku Masih Suka Hujan……..Meski Ia Kini Datang Terlambat”

  1. on 29 Nov 2007 at 15:53pika

    stebby julionatan adik anne ya???

  2. on 30 Nov 2007 at 11:45stebby julionatan

    lho kok tahu??? well,, lam kenal mbak pika…

  3. on 30 Nov 2007 at 12:10yos

    mana endingnya sih!!!!

  4. on 30 Nov 2007 at 14:02Rizky

    keren…

  5. on 03 Jan 2008 at 02:25obby

    bingung……….

  6. […] “Awan kelabu??!!!” Ga salah tuh peramal Intisari?! Apa dia ga pernah baca cerpenku: TAPI AKU MASIH SUKA HUJAN… ? Jadi… intinya… aku juga suka awan kelabu. Hehehehe. Becanda […]

Tinggalkan Komentar