KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pesta Topeng


Namaku Pasir. Aku dingin dan rapuh. Tetapi untungnya, sebelum hewan-hewan tanah menggerogoti tiap helai tubuhku, aku bertemu dengan seseorang. Ia menaruhku ke dalam segelas air dan mengadukku, sehingga aku menjadi sebuah emulsi berwarna cokelat cair yang tak stabil, seperti kopi yang meninggalkan endapan pada teguk terakhir. Dan dalam keadaan itu, tubuhku menjadi pusing namun tenang… aku menjadi takut plus senang… dan aku tenggelam, sekarat bahkan hampir mampus tetapi aku merasa semakin hidup.

Namaku Pasir, aku di tengah kebimbangan.

“Kamu tidak tahu rasanya berlomba dengan waktu, Ruh.”

“Kau gila!!! Jangan berbicara tentang hal itu lagi.” Pintanya. “Aku takut.”

“Aku juga takut.” Jawabku dengan sabar. “Aku takut dia belum memaafkanku.” Lalu berlanjut dalam kegamangan.

“Vodka??”

Aku tidak menjawab. Tak juga meng-iya-kannya. Dia pasti sudah tahu siapa yang aku maksudkan.

Mengapa manusia begitu takut dengan kematian? Mestinya mereka takut pada kehidupan. Ya… kehidupan yang mati. Seperti diriku. Sekarang aku hidup dalam kematian… aku mati dalam kehidupan….

“Maukah kau berjanji?” Tanyaku

“Apa? Tentang apa?” Ia terpaksa mengiyakan.

“Kau tahu maksudku, Ruh. Aku ingin dia memaafkanku.” Aku memberinya sebuah surat. “Kalau terjadi apa-apa dengan diriku, berikan surat ini kepadanya.”

 

*****

 

Kami bertemu pada sebuah pesta topeng, dimana musik yang bingar memantul-mantul di dinding bak bola bekel dan berkas-berkas lampu laser yang tak mau kalah, bersaing dengannya seperti kilatan petir di tengah derasnya gemuruh hujan…. Kami bertemu pada sebuah pesta topeng, dimana para penggila pesta berlomba untuk menyedot perhatian pengunjung yang lain dengan penampilan terbaik mereka; topeng-topeng unik yang menarik, pantulan gaun yang menyilaukan mata, sampai liukan tubuh yang serupa karet gelang yang menyesakkan dada.

“Hai… namaku, Pasir. Yang mengabur tertiup angin.”

“Namaku, Vodka. Yang memabukkan dan mencandu” ujarmu.

Aku keheranan. Aneh…, kataku dalam hati. Namamu Vodka tetapi kok kamu tidak bening? Malah putih pucat seperti susu. Seperti “cokelat putih” yang berwarna putih meski tetap dijuluki cokelat. Namamu Vodka, dan kau tidak berbusa? Malah kau seperti sirup tawon yang lekat dan manis.

“Kamu tidak turun?” tanyamu padaku. Memberi isyarat kenapa aku tidak ikut berdansa seperti teman-temanku.

“Aku tidak bisa.” Tidak perlu kuteruskan. “Kamu sendiri?” Tanyaku.

“Aku menggunakan topeng.” Ujarmu penuh misteri sambil membuka sedikit topeng yang kamu gunakan. “Senang berkenalan denganmu, Pasir.” Dia mengulurkan tangannya.

“Aku juga.” Kami berjabat tangan.

Malam itu, di malam perkenalan kita, kita sedikit menyingkir dari hiruk pesta dengan bercakap di salah satu sudut ruangan. Malam itu, di malam perkenalan kita, aku terlalu banyak cakap. Malah ketika kita saling berucap salam perpisahan, aku takut telah membuatmu merasa bosan dengan berbagai impian kosongku: Aku ingin mengukir awan, aku ingin berlari telanjang di tengah terpaan angin dan derasnya hujan, aku ingin terbang bersama elang di puncak-puncak gunung tertinggi, aku ingin melukis pelangi bersama bidadari, aku ingin… aku ingin….

 

*****

 

Rupanya memang seperti yang kau katakan. Kau mencandu. Sejak pertemuan pertama kita….

 

Seekor merpati tiba-tiba menjatuhkan sepucuk surat di hadapanku. Jawaban atas kekhawatiranku pada malam perkenalan kita. Rupanya kau senang dapat mendengarkan cerita-ceritaku. Dan juga sebuah permintaan darimu untuk mengunjungi rumahku. Tak dapat dilukiskan betapa bahagia hatiku saat itu. Apa yang ada dibenakmu, wahai Penggila Pesta? Kamu mau mampir di tempatku?! Ke tempat kutu buku kampungan?! Seperti kupu-kupu yang sudi berkawan dengan cacing tanah. Seperti merak yang rela berkawan dengan gagak. Sangat tidak mungkin. Tapi itulah hidup, kadang sesuatu dapat terjadi di luar logika.

 

Dan kau semakin mencandu…

Setelah sejenak kau meninggalkan rumahku, tiba-tiba kau muncul kembali di depan pintu rumahku. Menawarkan dua buah tiket untuk berlari telanjang di tengah terpaan angin dan hujan. Maka aku pun segera mengiyakannya, meski aku tak tahu apakah aku akan melakukan hal gila itu atau tidak. Suatu hal yang penting bagiku, bukanlah tempat dimana aku berada saat itu… tetapi dengan siapa aku berada. Dan saat itu, aku bersamamu.

“Ayo… lepas semua bajumu, Pasir!!!” Dia berseru.

Petir dan gemuruh hujan pun turut menyorakiku. Tapi aku hanya berdiri mematung dan tersenyum malu. Well, ini impianmu… Hatiku berbicara. Impianmu yang akan segera jadi nyata. Kenapa kamu jadi malu?  Katanya kamu mau berlari di bawah terpaan angin dan derasnya hujan. Hatiku terus berbicara. Tidak… aku takut. Aku pun belum siap. Ini terlalu cepat. Teriak suara yang lain.

 

Semenjak itu, setiap pagi aku menantikan kehadiran merpati…

 

Merpati yang selalu membawa surat-surat darimu –entah itu undangan, atau hanya sekedar kabar. Merpati yang membawa kebahagian di hatiku. Merpati yang memberi warna-warna baru dalam kehidupanku. Meksi aku terkadang melewatkan begitu saja kesempatan yang kau berikan, seperti yang terjadi saat kita berlari di bawah terpaan angin dan derasnya gemuruh hujan.

 

Hingga pada bulan keempat, kau kembali mengajakku ke pesta topeng. Pesta topeng yang lebih hingar, lebih liar dan lebih gemerlap dari pesta topeng terdahulu, di mana kita bertemu untuk pertama kalinya.

 

*****

 

Pesta telah usai. Ribuan konverti telah turun dari angkasa. Tak ada lagi hiruk pikuk dan kegaduhan. Tak ada lagi gelas-gelas minuman yang memabukkan dan tubuh yang meliuk-liuk. Tak ada lagi pantulan musik dan kilatan cahaya. Tak ada lagi topeng. Dan dirimu tertidur pulas di sisiku dengan topeng yang senantiasa kau gunakan. Topeng putih pucat seperti wajah malaikat. Ia berseri namun menyeringai lirih. Siapakah dirimu? Muncul rasa ingin tahu di diriku. Aku ingin tahu seperti apa wajahmu sebenarnya.

Pelan-pelan aku membuka topeng itu. Aku bergidik ngeri ketika tahu wajahmu penuh terbakar kenistaan. Berbagai bentuk pergumulan anak manusia yang tersesat tergambar di sana. Merah… semuanya semerah kirmizi. Dan di saat itu pula kau terbangun dengan topeng yang masih berada di tanganku.

“Maaf.” kataku. “Aku tak bermaksud…”

Tak ada jawaban. Kau berlalu begitu saja setelah mengambil kembali topengmu dari tanganku.

 

*****

 

Itulah saatnya… saat kusesali semua kebodohanku. Saat waktu di dalam tubuhku berhenti.

Tak ada lagi merpati yang membawa surat darimu. Tak ada lagi kemunculanmu di depan pintu rumahku. Tak ada lagi kesenangan-kesenangan yang kau tawarkan. Tak ada lagi musik yang terlampau bingar. Tak ada lagi cahaya yang terlampau menyilaukan mata. Padahal aku sudah semakin menikmatinya. Padahal aku telah semakin tenggelam dalam candu kebahagiaan yang kau bawa. Maka, aku sakau.

Kini aku hampa. Aku hidup dalam kematian dan aku mati dalam kehidupan. Maka, sebelum aku benar-benar mampus, maukah kamu memaafkanku, Vod?

 

 

Probolinggo, 23 Nopember 2007.

 

3 Responses to “Pesta Topeng”

  1. on 17 Dec 2007 at 13:58nie

    bagus….

    pasir dan vodka….

    ada tokoh lainnya ga?

    bintang…
    ato salju…??

  2. on 22 Dec 2007 at 22:12stebby julionatan

    entar deh dibuatin tokoh yang namanya bintang ato salju. emanx napa nie kok terobsesi sama bintang dan salju? apa karena di negara kita ga mengenal salju dan bintang begitu jauh tak tersentuh…

  3. on 03 Jan 2008 at 02:14obby

    hi….3
    asik neh,,

Tinggalkan Komentar