KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Rambutmu masih berkibar-kibar disela-sela awan yang berpacu

Bersama semesta.  Berbisiklah pada melodi angin. Sekarang! Atau pahatlah sebuah kesunyian didinding keabadian.

 

Sekarang ini percakapan kita di musim paceklik. Hanya bisa menghasilkan kegetiran dan setetes sunyi yang membenturkan sebuah lorong yang dituangkan oleh sinar tarian matahari.

Batu-batu menjadi tersedu menahan segerombolan angin yang menjelma menjadi bayanganmu. Semesta tambah sunyi.

 

Lagi-lagi terdengar suara dari pusat yang tersembunyi :rambutmu masih berkibar-kibar disela-sela awan yang berpacu bersama semesta. Berbisiklah pada melodi angin. Sekarang! Atau pahatlah sebuah kesunyian didinding keabadian.

Percakapan antara kita seperti pertemuan musim dingin dengan fantasi kebisuan yang terselip dilorong-lorong tanpa penjuru alam. Membusuk atau hilang dari semesta.  membiaskan sebuah kesunyian yang melengkung di dalam pengembaraan cahaya. Yang sepi.

 

Melintasi 12 bukit sunyi terdengar lagi isyarat tentang sepasang sayap yang berbisik:rambutmu masih berkibar-kibar disela-sela awan yang berpacu bersama semesta. Berbisiklah pada melodi angin. Sekarang! Atau pahatlah sebuah kesunyian didinding keabadian.

Sayap itu kembali menerobos sambil memalingkan senja dengan sebuah ciuman cahaya dengan segelintir keremangan semesta. Ternyata ada kesunyian yang mengerang-ngerang dalam ciuman cahaya itu. Lereng-lereng langit masih terpejam kaku ketika  semesta bercerita tentang sebuah kesunyian alam yang kian terbentang.

 

Lagi-lagi sepasang sayap berbisik tentang kesunyian semesta raya:rambutmu masih berkibar-kibar disela-sela awan yang berpacu bersama semesta. Berbisiklah pada melodi angin. Sekarang! Atau pahatlah sebuah kesunyian didingding keabadian.

Balutan senja menjadikan langit tambah pucat berisi tentang keceriaan bintang-bintang. Semesta tambah sunyi diterobos jubah malam. Oh…sepasang sayap itu kelelahan dalam baris-baris malam.

 

;rambutmu masih berkibar-kibar disela-sela awan yang berpacu bersama semesta. Berbisiklah pada melodi angina. Sekarang! Atau pahatlah sebuah kesunyian didingding keabadian.

 

                                                                                                                                                                        November 2007

5 Responses to “Ada Sepasang Sayap Terbentang di Semesta”

  1. on 12 Mar 2008 at 21:53komunitas sastra28

    Puisinya juga. Menggelegar, sama-sama kuat penceritaannya!

  2. on 15 Mar 2008 at 22:32kano

    Gaya Romantis Realisme! saya pernah melihat Puisi Rendy Jean Satria,dikoran ibukota,keren!!!!orangnya juga keren, Bagus! kolomkita mempublikasikan Penyair muda ini.

  3. on 15 Mar 2008 at 22:51Kano Ayani Mutiara

    Gaya Romantis Realisme nya,aku print puisinya bolehkan………………………….

  4. on 15 Mar 2008 at 22:52Ayani Mutiara

    Puisinya Rendy. Saya print……

  5. on 30 Mar 2008 at 22:35Cahaya

    Apik, karyanya!

Tinggalkan Komentar