KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pilihan Terbaik

Suara perempuan lewat pengeras suara itu terdengar jelas ditelingaku dan semua orang yang berjalan bersamaku pagi itu. Kata-katanya lembut mengalir menyambut kedatangan para penumpang di bandara kota terbesar kedua di Jawa Tengah, kota Solo. Ini memang kali pertama aku menginjakkan kaki di kota Solo. Udara pagi itu cukup cerah dan bersahabat. Matahari pun serasa tak mau ketinggalan untuk menyambut kedatanganku dan setiap orang di kota ini. Sinar yang dipancarkannya terasa cukup hangat di kulitku. Sehangat sambutan masyarakat yang kujumpai di sekeliling. Sungguh merupakan kesan pertama yang amat menyenangkan.

Perjalanan yang kutempuh sebenarnya tak memakan waktu yang lama. Cukup enam puluh menit saja untuk berpindah tempat dari Jakarta ke kota ini. Pelayanan yang diberikan pihak maskapai penerbangan yang aku tumpangi pun tidak terlalu mengecewakan. Hanya saja, perjalananku dari dan ke berbagai kota dalam rentang waktu yang relatif singkat membuatku amat letih. Ingin rasanya aku memberikan perintah kepada seluruh organ tubuhku untuk berhenti bekerja barang sejenak. Andaikan hal itu bisa kulakukan, pikirku. Tiga buah huruf yang terbaca olehku melalui paper bag seorang wanita muda yang berjalan di sisi kananku, memberikanku sebuah inspirasi yang amat cemerlang. SPA…tiga huruf itu seakan-akan sengaja dihadirkan kepadaku sebagai jawaban atas apa yang aku butuhkan saat ini.

Belum sempat aku berpikir lebih jauh tentang tiga huruf itu, lamunanku dibuyarkan oleh sesosok lelaki dewasa sudah sangat aku kenal. Tampak olehku dari kejauhan, lelaki itu melambai-lambaikannya tangannya ke arahku. Aku membalas lambaian lelaki itu dan menyambutnya dengan senyuman. Pak Joe, demikian pria itu biasa dipanggil, tampak masih bugar di usianya yang telah melewati setengah abad. Ia memang sangat menjaga kebugaran tubuhnya. Tak heran kalau perawakannya masih terlihat tegap dan segar. Bahkan mungkin saja ia lebih segar bugar dibanding sebagian besar lelaki yang berusia jauh lebih muda darinya. Setelah selesai mengambil kembali barang bawaan yang tadi disimpan di bagasi, aku bergegas menuju petugas jaga di pintu keluar untuk melakukan pemeriksaan terakhir. Beberapa detik kemudian, aku sudah keluar dari ruangan yang kini tampak padat oleh banyak orang.

“Pagi, sayang… Selamat datang di Solo. Bagaimana perjalanannya?” sambut pak Joe membuka pembicaraan sambil menyodorkan tangan untuk memberikan salam. “Pagi juga, makasih. Perjalanannya… Not bad!” jawabku sambil menjabat tangan pak Joe. Beberapa detik waktu kami lewati dengan berdiam diri. Kami saling berpandangan dan saling melempar senyum. Dalam sekejap, kami berdua sudah saling berpelukan. Kecupan lembut di kedua belah pipiku serasa mengenyahkan segala keletihan dan kepenatan yang beberapa waktu lalu kurasa amat membelenggu. Pertemuan ini kami rasakan bagai pertemuan antara dua insan yang telah terpisah amat lama. Tapi, benarkah? Atau itu hanya perasaanku saja yang terlau mendramatisir sesuatu? Ah, sudahlah… yang penting saat ini aku sudah bertemu dengan orang yang amat aku sayangi. Tampak sepasang suami istri berusia setengah baya memandang haru kearah kami. Dari tatapan dan senyuman mereka berdua, aku mencoba menebak apa yang sedang terlintas dalam benak mereka. Mungkin mereka berpikir “Ah, betapa bahagianya bapak dan anak itu. Mungkin mereka telah berpisah cukup lama. Tampak mereka amat kangen satu sama lain”. Kalau memang itu yang terpikir oleh mereka, berarti merela salah total! Pak Joe, lelaki dihadapanku ini, tak lain adalah kekasihku. Tepatnya, kekasih gelapku.

Di antara aku dan pak Joe memang telah terjalin hubungan asmara , walau kami lebih tampak seperti pasangan ayah dan anak. Itu karena usiaku terpaut amat jauh dari usia pak Joe. Ia bahkan beberapa tahun lebih tua dari ayahku. Namun, aku tak peduli dengan semua itu. Apa lagi dengan anggapan miring orang lain terhadap hubungan kami. “Ah, tahu apa sih mereka tentang jalan hidupku? Apa hak mereka untuk mengomentari dan mencampuri kehidupan orang? Aku berhak menentukan dan mengatur jalan hidupku dengan caraku sendiri. Cuma aku! bukan orang lain! “Hmm… sudahlah! Percuma, tak ada gunanya mikirin hal itu” gumamku dalam hati. Beberapa detik detelah melepaskan pelukan, kami dikagetkan oleh sebuah sapaan lembut yang tenyata seorang kurir bandara. Ia menawarkan jasa untuk membawakan barang-barangku. Segera laki-laki berkulit hitam berusia sekitar tigapuluhan itu bergerak cepat sebagai respon dari anggukan kepala pak Joe. Ia berjalan cepat di depan kami, seolah tak rela untuk kami dahului. Di belakangnya, kami berjalan perlahan sambil begandengan tangan bak sepadang muda-mudi yang sedang kasmaran. Sebuah mobil Terrano berwarna hitam mengkilat tampak gagah terpakir tak jauh dari kami berada. Si kurir tampak sudah menunggu kedatangan kami sambil menyeka peluh yang mulai bermunculan dikeningnya. Sesaat setelah merapikan barang di dalam mobil, lelaki itu segera menghampiri kami untuk menerima upah atas jasanya. Selembar uang duapuluh ribu ia terima dari pak Joe dengan senyum mengembang. Ucapan terima kasih ia sampaikan kepada kami berdua sambil menganggukkan kepala sebagai gerakan tubuh yang lazim dilakukan masyarakat Jawa untuk menggambarkan rasa hormat kepada seseorang. Tak lama kemudian, kami pun segera beranjak meningalkan area bandara.

Usai makan sepiring tongseng dan beberapa tusuk sate ayam di sebuah warung makan yang kerap dikunjungi pak Joe, kami segera meluncur menuju penginapan tempat aku tinggal di kota itu. Aku memutuskan untuk tinggal di penginapan daripada di sebuah rumah kontrakan atau rumah baru yang pasti mampu disediakan oleh pak Joe. Entah kenapa, mungkin suasananya akan lebih hidup bagiku. Pak Joe pun lantas memilih sebuah penginapan yang menurutnya akan membuatku betah untuk tinggal atau berlama-lama di kota ini. Kurang dari tigapuluh menit kemudian, kami telah sampai di tempat yang dipilih oleh pak Joe. Penginapan itu, kini telah ada di depanku. Bangunan bertingkat tiga berwarna putih bersih dengan pintu gerbang coklat muda itu tampak berdiri kokoh dan anggun bak seorang ratu kerajaan yang sedang duduk tersenyum di atas singgasana. Suasana segar, nyaman dan bersahabat serasa berhembus menyambut kedatangan kami saat itu. Terlihat halaman hijau nan asri dihiasi dengan bunga-bunga berwarna lembut bagaikan serangkaian tata rias yang mempercantik wajah sang ratu. Memasuki ruang depan, tampak berdiri seorang perempuan muda mengenakan kebaya batik dengan sentuhan modern. Anggukan kepala dan senyuman manis merekah menyambut kedatangan kedua tamu siang itu. “Selamat datang di penginapan Asri” ujar perempuan muda dengan suaranya yang lembut. Seketika aku sadar, sedari tadi aku tak memperhatikan papan nama penginapan yang terpampang di halaman depan penginapan ini. “Sungguh nama yang tepat” batinku. Panggilan pak Joe sontak membuyarkan lamunanku. Ah, rupanya urusan administrasi sudah dibereskannya. Tak lama setelah itu, seorang karyawan pria memberi isyarat pada kami untuk mengikutinya. Kami berjalan perlahan di belakang karyawan pria yang membimbing kami menuju kamarku yang terletak di lantai atas bangunan itu. Di lantai itu terdapat sejumlah kamar yang terbagi menjadi dua sisi dan dipisahkan oleh mulut tangga yang cukup lebar. Kamarku adalah kamar bernomer 24 yang terletak di sisi sebelah kanan lantai atas penginapan itu dan tepat berada di mulut tangga. Setelah meletakkan barang di dalam kamar, pak Joe berpamitan dan berjanji akan datang menjemput malam nanti.

Kini aku terbaring di atas tempat tidur bernuansa biru yang terasa amat nyaman bagi tubuhku. Pikiranku menerawang jauh menembus ruang dan waktu. Pak Joe, seorang dokter sekaligus direktur sebuah perusahaan itu adalah sosok yang telah mengisi dan mendampingi kehidupanku selama ini. Tiga tahun sudah kulalui waktu bersamanya. Pak Joe telah lama menduda. Tak kurang sepuluh tahun silam, penyakit kanker telah merenggut nyawa istrinya. Semenjak itu ia hidup sendiri tanpa dapat memastikan apakah kelak ia akan menikah lagi atau tidak. Sementara dua orang anaknya telah menetap di Amerika beberapa tahun yang lalu. Kesibukan dan totalitas kerjanya membuat dia harus pergi ke beberapa kota dalam rentang waktu yang berbeda-beda. Akupun selalu diajak serta kemanapun ia pergi. Beberapa kota di pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi telah aku singgahi. Terakhir, sebelum aku datang ke Solo, aku hijrah ke kota Bandung dan Jakarta. Namun sepertinya aku akan lama tinggal di kota ini. Selain karena urusan pak Joe akan lama, akupun ingin menetap dulu di kota ini untuk beberapa waktu. Akupun berencana untuk mengambil studi perhotelan di salah satu hotel berbintang di kota ini. Hitung-hitung, sekedar untuk meluangkan waktu dan menambah pengetahuan. Mengenai kelanjutan hubungan kami nanti, tidak ada rencana pak Joe untuk menikahiku. Akupun tak keberatan dengan hal itu. Pak Joe benar-benar memberiku kebebasan bagiku untuk melakukan papun yang aku suka. Ia pun telah menyediakan dana sebagai anggaran belanjaku yang jumlahnya cukup besar setiap bulannya. Belum lagi berbagai macam perlengkapan elektronik yang sengaja ia beli untuk memenuhi kebutuhanku. Secara pribadi, pria yang kukenal secara tak sengaja di salah satu kafe di Surabaya ini benar-benar merupakan sosok pria ideal bagiku. Jujur, aku menyayangi pak Joe dengan tulus, bukan semata-mata karena materi. Ia hadir dalam hidupku saat aku berada dalam kebimbangan akan jalan hidupku. Prostitusi, narkoba, kekerasan fisik maupun psikologis telah mewarnai jalan hidupku semenjak aku remaja. Entah apa yang membuatku dapat bertahan dalam kehidupan kelam, yang mungkin amat berat bagi seorang gadis belasan tahun seperti aku waktu itu.

Aku adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Kami tinggal di sebuah daerah di pinggiran kota Semarang. Orangtuaku memiliki perkebunan tembakau yang mereka jalankan sebagai usaha keluarga. Awalnya, usaha itu berjalan amat baik, bahkan semakin lama semakin meningkat pesat. Kami sempat hidup serba berkecukupan untuk sekian lama, hingga kemudian usaha keluarga kami jatuh bangrut karena tipu daya kenalan ayah. Kami sekeluarga pun akhirnya merangkak tertatih-tatih untuk mempertahankan hidup. Saat tiu, aku duduk di kelas tiga SMP. Untuk menyikapi kondisi keluarga, aku sempat berjualan koran di angkutan kota serta sekitar jalan raya. Saat itu aku mulai mengenal kerasnya kehidupan di jalan raya. Dari pergaulan itu, aku kenal dengan seorang gadis yang kupanggil dengan kak Lia. Kak Lia yang berparas cukup cantik adalah seorang primadona di lokalisasi setempat dan di berbagai lokalisasi lain. Ia kerap menceritakan segala hal tentang pekerjaannya. Jendela informasi tentang dunia prostitusi pun mulai terbuka bagiku. Entah kenapa, aku semakin tertarik untuk menguak apa yang berada dibalik jendela itu. Hingga akhirnya, selepas sekolahku di SMP, aku mengambil keputusan yang saat itu tak dapat diterima oleh kedua orangtuaku. Aku memutuskan untuk pergi ke Surabaya untuk bekerja dan menjalani hidupku sendiri.

Pekerjaan yang aku pilih tak lain adalah pekerjaan yang digeluti oleh kak Lia. Kak lia pula yang menawarkan pekerjaan itu dan bersamanya aku pergi meninggalkan keluarga dan kampong halamanku. Kini tak hanya jendela, pintu dunia prostitusi pun telah aku masuki. Selama di tempat itu, aku mendapatkan banyak ‘pengalaman baru’. Sebentar saja, aku sudah menjadi primadona di lokalisasi itu. Aku menikmati hidupku saat itu. Hubunganku dengannya benar-benar terputus. Aku tak tahu dimana ia kini berada. Aku pun tak mau ambil pusing dengan itu. Di tempat ini, aku telah mengenal berbagai macam jenis karakter laki-laki, dari yang kasar, dingin, hingga tipe perayu ulung. Bermacam hal yang menjijikkan pun telah aku lewati, seperti halnya bau alkohol dan rokok yang amat menyengat dari mulut laki-laki, tetesan dan bau keringat tubuh ataupun kata-kata kasar dari para lelaki yang menikmati tubuhku. banyak sudah kudengar ajakan untuk memacari atau bahkan mempersuntingku. Semua kulewatkan begitu saja. Namun, ada satu yang menarik hatiku. Dia, Anton, adalah lelaki muda dengan perangai yang baik bagiku. Setidaknya pada saat itu dan beberapa saat awal.

Kehidupan yang kujalani bersama Anton merupakan lembaran kelam berikutnya dalam hidupku. Anton yang tadinya amat manis terhadapku, makin lama makin berubah perangainya. Akhirnya, sifat dan perilaku Anton sebenarnya telah terbuka. Ia mengenalkanku pada jeratan narkoba yang selama ini tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Aku tenggelam dalam jeratan itu. Anton sendiri telah berubah menjadi sosok yang kasar yang amat mudah untuk mengeluarkan makian serta ringan tangan. Tamparan, pukulan dan tendangan kerap dilakukannya padaku, tanpa aku mampu untuk melawannya. Satu kali, saat aku berada dalam pengaruh narkoba, aku mendapatkan kekerasan fisik dan psikologis yang amat menyakitkan. Pengaruh obat-obatan yang kukonsumsi semakin melipatgandakan ketakutan yang aku rasakan. Saat itu, aku hanya mampu untuk meringkuk disudut kamar yang gelap sambil tak henti-hentinya memohon ampun pada Anton. Air mata terus mengalir mengiringi suaraku yang kian menghilang. Sementara pandangan mataku semakin lama semakin gelap. Akupun terus meringkuk hingga matahari menyadarkanku esok harinya. Penderitaanku tak berhenti sampai di situ. Pak Ali, ayah Anton, datang menyelinap ke dalam kamarku saat aku berusaha merebahkan tubuh dan pikiranku yang amat sangat lelah. Kedatanganya amat mengejutkanku. Apa yang hendak dilakukannya? Tak pernah aku menyangka sebelumnya, lelaki yang aku hormati itu datang padaku untuk merayuku serta memintaku untuk melayani hasrat seksualnya. Ia terus merayu dan akhirnya semakin memaksaku. Dengan tenaga dan kekuatan yang tersisa, aku berusaha mati-matian untuk melawannya. Perlawanan dan teriakanku pada akhirnya berhasil memaksanya untuk keluar meninggalkan kamarku. Aku segera mengunci diri dalam kamar dan tenggelam dalam tangisku. Itulah tangisan terakhirku di rumah itu. Hari itu juga, aku pergi meninggalkan rumah dengan penghuninya yang sakit jiwa itu.

Kepergianku berlanjut hingga aku menemui rekan sejawatku dulu yang mau menampungku untuk beberapa waktu. Lewat rekanku itu, aku mengenal seorang lekaki keturunan yang kemudian menjadi kekasihku berikutnya. Ternyata ia bukanlah pilihan yang lebih baik. Si Ceking, panggilanku untuk dia, adalah seorang yang maniak dan posesif. Aku diperlakukannya sebagai pemuas nafsu dan boneka pajangan yang tak akan diperkenankan untuk disentuh atau bahkan dilirik sekalipun oleh orang lain. Akun dikurung dalam ‘penjara buatan’ yang akhirnya hanya aku tempati beberapa bulan saja. Aku tak tahan dengan perlakuannya terhadapku. Walau tak sekasar Anton, si Ceking pun juga suka memaki dan menyakitiku. Aku pun melarikan diri untuk kedua kalinya. Aku lantas menumpang di rumah kenalan lainnya yang terletak cukup jauh dari tempat sebelumnya. Suatu hari, saat menikmati malam mingguku di salah satu kafe yang cukup ternama, aku bertemu dengan seorang lelaki paruh baya yang kemudian ku kenal sebagai pak Joe.

Jam di dinding seakan berdetak amat cepat. Satu jam sudah aku terbaring di tempat tidur ini. Kurasa mataku belum mau terpejam. Tak mungkin pula aku paksakan. Seketika terlintas sebuah nama yang tak mungkin pula dapat kulupakan begitu saja. Ricky, seorang eksekutif muda yang ku kenal saat aku berada di Yogyakarta itu telah pula mengisi bagian lain dalam hidupku. Sosok dan perlakuannya yang baik terhadapku, humoris serta penuh pengertian, sungguh membuatku goyah dalam situasi yang dilematis. Berbagai kenangan manis telah kami lalui bersama. Kami telah melakukan segalanya berdua. Bersamanya, aku merasa amat nyaman dan terbimbing. Ia benar-benar dapat memenuhi kebutuhanku sebagai seorang perempuan muda yang juga meninginkan teman hidup dengan usia yang tak jauh dariku pula. Tapi, keinginanku untuk memegang komitmen terhadap hubungan yang telah aku jalani bersama pak Joe tak mungkin pula aku ingkari. Sampai saat ini pun aku mempertanyakan, “Kenapa kebutuhan dan keinginan tak hadir selaras?” “Tak bisakah aku mendapatkan sesuatu tanpa mengorbankan yang lain?” Masih jelas tebayang wajah dan senyuman Ricky yang amat berat untuk kuhilangkan dari ingatan. Masih terngiang pula kata-kata terakhirku sebelum pergi mengghilang darinya, “Bantu aku untuk melupakanmu”. Oh, Tuhan…. pantaskah aku untuk meminta pilihan yang terbaik padaMu? Hatiku merintih mengiringi linangan airmata yang tak terasa telah bergulir jatuh ke pipi. Kelak, jika kesempatan kedua diberikan oleh Nya, satu pertanyaan yang muncul adalah “Siapkah aku untuk mengambil keputusan?” Dering telepon genggamku menandakan sebuah pesan telah diterima. Kubaca sesaat pesan dari pak Joe itu. Ia berpesan akan segera datang menjemputku. Kuseka airmata di pipi yang kupaksakan untuk berhenti mengalir. Lalu kutanya pada diriku sendiri “Lisa… inikah pilihan terbaik bagimu?”

TAMAT

One Response to “Pilihan Terbaik”

  1. on 26 Feb 2009 at 11:25angel

    uhhh……. bagus banget cerpennya…. aku salut ma lisa… emang benar gak mudah untuk menentukan sebuah pilihan apalagi pilihan yang terbaek…..

Tinggalkan Komentar