KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mrs. Car (4)

      Akhir-akhir ini Titania jarang sarapan pagi bersama Griffith. Bukan karena kebiasaan Griffith yang selalu memajukan atau mengulur waktu makannya, tapi kali ini Titania sendiri yang memutuskan. Seperti pagi ini, Titania baru turun untuk sarapan ketika Griffith selesai. Ia melihat Griffith yang keluar rumah dari kejauhan, ketika Titania sedang menuruni tangga.

      Titania duduk di kursinya, menghadapi semangkuk sereal jagung. Lagipula ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan dengan Griffith. Sejak ia mengikuti Griffith ke rumah Gwendolyn, Titania merasa bosan dan tak berminat berbicara dengan Griffith.

      Dua hari yang lalu ia mengirim surat pada Maria, menceritakan kejadian sewaktu pacuan kuda. Tidak seperti dugaan Titania, Maria tidak meledak-ledak dan hanya membalasnya dengan mengatakan bahwa ia akan datang dalam waktu dekat ini. Titania tak berharap Maria akan datang segera. Ia tahu Maria terlalu sibuk untuk mengurusi urusan rumah tangga yang bodoh ini, pikirnya.

      Titania melihat ke luar jendela, pohon-pohon sudah menumbuhkan daun-daunnya, beberapa bunga menyembul dari ranting-ranting kecilnya. Pikirannya melayang ketika ia masih kecil. Bermain dengan Maria dan Anthony di halaman belakang. Bercipratan dan berlari-lari di danau sampai terjatuh lalu dimarahi ibunya. Titania dan adik-adiknya hanya tertawa, tak peduli lutut mereka berdarah terantuk kerikil.

      Tangannya mengambil botol obat, mengeluarkan dua tablet dan menenggaknya sekaligus. Sudah sekitar empat hari ini Titania merasa kepalanya lebih berat dari biasanya. Tenggorokannya sakit jika menelan. “Sepertinya Nyonya mengalami gejala demam,” kata Miss Debra. Tapi Titania menolak pergi ke dokter dan berkata penyakitnya akan sembuh dengan sendirinya.

      Angin berhembus pelan, mengelus tengkuknya. Titania berdiri di teras rumahnya. Tampaknya aku harus keluar sebentar dan menghilangkan penat dalam pikiran, katanya sambil menghirup udara. Ia mengambil jaket abu-abu tebalnya dan bersiap.

      “Hendak bepergian, Nyonya?” Suara Miss Debra di belakangnya membuat Titania menoleh.

      “Ya, aku akan berjalan-jalan sebentar.”

      “Hati-hati, Nyonya.”

      Titania menghidupkan Volvo-nya dan keluar dari rumah. Baiklah, akan ke mana aku? Ke pertokoan rasanya hanya akan menambah pikiran dan tenaga. Tempat yang tenang, dimana Titania dapat merasakan tempat itu hanya miliknya sendiri. Ia membawa mobilnya ke arah bukit. Berhenti sebentar, keluar dari mobil dan memandang desanya dari atas. Indah, kata Titania kagum, sewaktu-waktu aku akan kesini untuk mencari inspirasi. Kemudian matanya melihat ke arah laut. Debur ombaknya yang berwarna putih terlihat samar namun menarik Titania untuk pergi ke sana. Oh ya, tentu saja, dimana lagi tempat yang penuh keajaiban selain di pantai?

      Titania menuruni bukit dan menyusuri pantai dengan mobilnya. Angin laut ternyata terasa lebih dingin. Ia memandang laut yang begitu tenang, biru laut yang bersinergi dengan biru langit. Sungguh indah. Titania ingin sekali merekamnya dan menyimpan dalam hati dan pikirannya, sehingga ia tak perlu lagi gundah dengan berbagai masalah.

      Titania tahu mungkin ia pengecut, lari dari masalahnya. Tapi untuk saat ini ia ingin membiarkan dirinya bebas dari Griffith atau Gwendolyn. Aah, biarlah, katanya dalam hati.

      Jaraknya kini cukup jauh dengan rumahnya, tapi ia akan pulang melewati pemandangan yang indah, jadi Titania tidak terlalu merisaukannya. Mobilnya berjalan perlahan dan membelok di antara deretan rumah. Matahari sepertinya sudah merangkak, namun langit tak ada bedanya dengan pagi tadi.

      Tiba-tiba Titania menegakkan duduknya. Matanya dipicingkan melihat seseorang yang berjalan di depannya. Orang itu baru saja keluar dari rumahnya. Oh, lihat siapa yang kutemui, sayang!

      Gwendolyn berjalan menjauhi Titania. Titania yakin wanita yang memakai jaket panjang kotak-kotak berwarna marun itu Gwendolyn. Dengan tingginya yang menyolok, Gwendolyn mudah dikenali.

      Oh, sweetie pussy, mau kemana kau?

      Titania mengikutinya dan mengatur jaraknya agar Gwendolyn tak menyadari keberadaanya. Titania terkekeh, ia seperti mata-mata yang menguntit mangsanya atau seperti pembunuh yang menunggu waktu yang tepat untuk menabraknya… menabraknya?

      Ya, Titania, menabraknya. Sebuah suara di kepalanya bergema. Oh, apa-apaan ini? katanya menepis. Sedikit saja, seperti menyingkirkan lalat yang berdengung di sekitarmu. Lagi-lagi suara itu memengaruhi pikirannya. Bagaimana jika melukainya sedikit—setidaknya menyerempet—berhenti sebentar, agar terlihat seperti tidak disengaja, lalu cepat-cepat pergi dari sini.

      Titania melihat ke sekeliling. Sepi. Hanya seorang wanita tua dengan sepedanya yang baru saja melintas.

      Sedikit saja… lalu pergi, orang-orang tidak akan pernah tahu…

      Titania tak dapat berpikir jernih lagi. Ia mengatur gigi mobil dan menaruh kakinya pada pedal gas, bersiap. Titania terpaku sebentar, melihat Gwendolyn berjalan semakin jauh. Lalu sedetik kemudian Volvo kuning itu seketika melaju kencang, suaranya mesinnya menderu dan…

      DRAKK !! AAA… !!

      Titania mendengar jelas suara mobilnya membentur, juga suara teriakan itu. Ia tahu Volvo-nya telah ‘menyentuh Gwendolyn dengan baik’. Kakinya menginjak pedal rem.

      Baik, katanya dalam hati, berhenti sebentar, membuat jejak ban mobil yang seolah terkejut telah menabrak. Titania bernapas pendek-pendek, ia dapat merasakan jantungnya yang berdegup hebat. Ia melihat ke belakang sebentar dan melihat Gwendolyn yang terkapar di jalan. Ia mendongak sedikit lalu jantungnya semakin tak keruan ketika melihat sebuah mobil hitam baru saja membelok dan berjalan ke arahnya.

      “Astaga! Griffith!” pekik Titania, suaranya tercekat.

      Ford hitam itu semakin mendekat. Tangan Titania buru-buru menyiapkan gigi mobilnya lagi dan bersiap lari. Namun, Volvo itu tak berjalan. Oh, jangan bercanda!

      Titania menoleh lagi ke belakang. Sekarang Griffith hanya berjarak beberapa langkah darinya. Ia tahu pasti Griffith mengenal mobil ini dan di dalamnya adalah istrinya sendiri.

      Titania kemudian berhasil membuat mobilnya maju dan menginjak pedal gasnya keras-keras, berusaha untuk cepat-cepat menghilang dari tempat itu. Volvo Titania melaju dengan kecepatan mendekati maksimal. Titania menyetir seperti orang gila di belakang setirnya. Ia hampir saja menabrak pohon ketika menikung. Titania langsung memasukkan mobilnya dan berlari ke dalam rumah. Miss Debra yang membukakan pintu terheran melihat nyonyanya. Wajah Titania yang putih semakin pucat seperti baru saja melihat hantu.

      Titania masuk ke kamarnya dan membanting pantatnya ke kursi empuk di seberang tempat tidur. Napasnya tersengal-sengal, ia dapat merasakan seluruh pembuluh nadinya berdenyut dengan keras di setiap inci tubuhnya. Bahkan di jari-jari kaki dan tangannya. Matanya membesar. Tangannya menyapu poni dan memegang dahinya.

      Oh, apa yang baru saja kulakukan? Menabrak Gwendolyn dan tertangkap basah oleh Griffith? Benar-benar mimpi buruk! Baru kali ini Titania merasa ketakutan luar biasa, tangannya gemetar. Ia mencengkeram jaketnya yang belum sempat dilepas.

      Ada apa denganku? Astaga, Griffith pasti akan membunuhku atau setidaknya dia akan menjebloskanku ke penjara. Tentu saja! Kau baru saja menabrak orang, Titania!

      Pikirannya kini benar-benar kacau dan jika Titania menutup mata pun  yang terbayang hanya wajah Griffith yang mengerutkan dahinya, wajahnya yang tak pernah tersenyum pada Titania terlihat semakin pahit, dan sorot matanya memancarkan kebencian sehingga Titania merasa kerdil dan hina sekali.

      Selama beberapa jam Titania tak dapat berbuat apa-apa kecuali duduk di kursinya. Ia tak menggubris ketika Miss Debra mengetuk pintu dan menawarkan makan siang. Titania melihat jam di samping kursinya. Hampir pukul tiga.

      Tiba-tiba Titania mendengar langkah berdebam mendekati kamarnya. Pintunya dibuka dengan keras dan Griffith masuk. Titania mengangkat kepalanya. Griffith berjalan ke arahnya dan seketika mengambil lengan Titania.

      “Ikut aku,“ katanya. Wajah Griffith tanpa ekspresi tapi Titania tahu benar Griffith sangat marah padanya.

      Mereka berjalan cepat ke luar rumah dan menaiki Ford hitam Griffith. Titania duduk di samping Griffith dan merasakan degup jantungnya kembali berdentum-dentum. Sebentar lagi jantungku mungkin akan pecah, pikir Titania. Terlebih Griffith tak berbicara sepatah kata pun selama perjalanan.

      Baiklah, kata Titania, untuk apa takut? Aku akan menghadapi apa yang harus kuhadapi. Aku akan menuruti apa pun yang Griffith inginkan. Riwayatnya sebagai istri Griffith akan berakhir tak lama lagi, tak kan ada lagi Titania Car. Mungkin ayah dan ibu akan pingsan mengetahui hal ini, tapi tak apa, aku akan meyakinkan mereka bahwa hidupku lebih baik tanpa Griffith.

      Griffith mengemudikan mobilnya keluar dari desa. Titania melihat jalan yang dilaluinya, lama-lama terlihat hiruk-pikuk kota dan tiba-tiba Griffith menghentikan mobil di depan sebuah rumah sakit. Oh ya, Gwendolyn, tentu saja. Tapi apa maksudnya membawaku ke sini, tanya Titania, kupikir Griffith akan membawaku ke kantor polisi.

      Titania mengikuti Griffith dari belakang. Keduanya masih membisu. Titania bahkan tak berani berjalan sejajar dengan Griffith. Griffith kemudian berhenti di depan sebuah pintu dan masuk.

      Titania melihat Gwendolyn terbaring di tempat tidur. Rambutnya yang panjang diikat dengan ikatan yang longgar sehingga semakin ia bergerak, rambutnya semakin berantakan. Di lengannya terdapat beberapa jahitan. Mimiknya bersuka cita ketika melihat Griffith.

      “Oh, Griffith,” rengeknya.

      Griffith duduk di kursi dekat tempat tidur dan memegang tangan Gwendolyn. “Bagaimana keadaanmu?”

      “Tidak baik, Griffith, tidak baik. Lihat tanganku,” Gwendolyn mengangkat lengannya, “jahitannya sampai sebelas!” Griffith melihatnya dengan wajah prihatin.

      “Lalu kakiku. Dokter mengatakan bahwa hanya patah tulang yang dapat disembuhkan dengan perawatan intensif selama beberapa bulan. Tapi aku takut jika akhirnya kakiku akan diamputasi! Oh, Griffith, bayangkan!” lanjut Gwendolyn histeris. Matanya yang terlihat seperti ingin menangis semakin membuat wajahnya berkedut-kedut seperti kodok. Alisnya digerak-gerakkan sambil bercerita.

      Titania hanya berdiri di dekat kaki Gwendolyn yang digips, merasa heran menjenguk orang yang baru saja ditabraknya siang tadi. Ia tak bicara sepatah kata pun sejak masuk. Gwendolyn pun terlalu sibuk mengeluh.

      “Kau sendiri bagaimana?” tanya Gwendolyn pada Griffith, “apa kau sudah melaporkannya pada polisi? Bukankah kau lihat mobil yang menabrakku?” Titania menelan ludahnya dan perasaannya kembali diselubungi rasa takut.

      “Aku tak sempat melihat nomor platnya,” kata Griffith, “jadi aku tak dapat memberi keterangan apa-apa pada polisi.”

      Mata Titania dan Gwendolyn sama-sama melebar.

      “Benarkah?” seru Gwendolyn kecewa. “Oh, sayang sekali!”

      Titania melihat Griffith. Apa maksudnya? Padahal jelas-jelas Griffith berada di belakangku dan melihat aku yang menabrak Gwendolyn. Griffith bisa saja mengatakannya pada Gwendolyn dan menunjuk di depan wajah Titania jika ia mau, mencercanya habis-habisan. Namun, Titania tak berkata apa-apa. Ia hanya terdiam.

      Gwendolyn meremas tangan Griffith. Titania menggerutu dalam hati, apa aku diajak ke sini hanya untuk menonton kemesraannya dengan Gwendolyn?

      “Griffith,” kata Gwendolyn. “Aku…aku akan pergi ke Connecticut minggu depan.” Griffith terkejut dan  membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu.

      “Dengar dulu kata-kataku, Griffith,” sambung Gwendolyn, suaranya manja. “Aku sebenarnya sudah bertunangan dengan seseorang di Amerika. Setelah aku bercerai dengan Quentin, aku pergi ke Amerika dan bertemu dengan Peter. Kami bertunangan dan karena urusan pekerjaannya—ia adalah seorang sutradara—Peter dan aku ke sini. Peter di kota sedangkan aku kembali ke desa dan membuka ’Goldie’. Sekaligus melepas rinduku pada tempat aku kecil dulu.“

      Gwendolyn berhenti sebentar dan menarik napas.

      “Lalu aku bertemu denganmu, Griffith. Kau membuat kenanganku semakin terbuka dan aku begitu senang. Urusan Peter di kota sudah selesai, dan ia mengajakku kembali ke Amerika.“

      Gwendolyn memandang mata Griffith yang terdiam. “Maaf. Aku tak mengatakan ini padamu,” katanya sambil tersenyum lirih. “Kau sendiri? Apa kau sebenarnya sudah menikah?”

      “Tidak. Aku belum menikah,” sahut Griffith.

      Titania sekali lagi melihat Griffith dengan heran. Apa lagi ini? Tiba-tiba Titania tersadar. Tentu saja, sebentar lagi ia akan diceraikannya. Namun Titania merasa ada yang terluka di dalam hatinya.

      Gwendolyn memalingkan kepalanya pada Titania. “Oh, saya ingat Anda,“ katanya. “Anda pernah mengunjungi tokoku beberapa waktu yang lalu, bukankah begitu?“

      “Ya, begitulah,“ jawab Titania sekadarnya.

      “Apa Anda teman Griffith? Anda baik sekali mau menemaninya menjengukku. Griffith adalah seseorang yang baik. Aku menyukainya,“ kata Gwendolyn yang membuat Titania tak dapat bicara apa-apa lagi dan hanya tersenyum kaku.

      Pertemuan yang aneh itu akhirnya berakhir. Griffith mencium tangan Gwendolyn dan pamit. Titania merasa sedikit terbebas dari satu kurungan tapi ia tahu ia akan menghadapi jerat yang lain. Mereka keluar dari rumah sakit dan Ford hitam membawa Titania dan Griffith menyeruak jalan kota dan menuju jalan pulang.

      “Apa maksudmu?“

      Suara Griffith yang tiba-tiba membuat Titania sedikit terkejut. Ia merasa seperti harimau yang dilepaskan dari kurungannya, siap menerkam.

      “Apa maksudku?“ tantangnya. “Kurasa lebih baik aku yang bertanya. Untuk apa kau membawaku ke sini?“

      Griffith menoleh padanya, alisnya mengerut.

      “Berani sekali kau mengatakan hal itu padahal kau telah berbuat sesuatu yang tidak pantas,“ kata Griffith geram.

      “Berbuat apa? Aku hanya tidak sengaja!“ elak Titania. Biarlah, pikirnya, jika Griffith ingin menceraikannya malam ini juga, aku siap.

      “Tidak sengaja, eh? Tidak sengaja mengemudikan mobilmu sampai ke rumah Gwendolyn, begitu?“ mata Griffith tetap memandang ke depan. Mungkin ia muak melihatku, pikir Titania.

      “Aku hanya keluar mencari inspirasi lalu tanpa sadar aku melewati rumahnya,“ jawab Titania pura-pura membela diri. “Kepalaku sedikit pusing, membuat mobilku oleng dan…terjadilah!“

      “Mencari inspirasi sampai bermil-mil jauhnya dari rumah!” kata Griffith. “Aku tahu kau bukan orang yang senang bepergian jauh dari rumah, Titania, dan aku tahu kau pasti sengaja!”

      “Oh! Bukankah sama saja denganmu? Mengantarkan seorang gadis cantik yang rapuh dan butuh perhatian sampai bermil-mil jauhnya dari rumah?” tukas Titania, nadanya mengejek. Griffith melotot ke arahnya lalu pandangannya kembali ke depan. Tangannya mencengkeram setir dengan kuat.

      “Lagipula,” kata Titania, “jika kau tahu aku sengaja menabrak Gwendolyn, mengapa kau tidak melaporkanku saja pada polisi? Kupikir kau akan membawaku ke kantor polisi dan bukan ke rumah sakit.”

      “Huh! Aku melakukannya hanya karena statusmu sebagai istriku. Aku hanya menjaga nama baikku. Jangan berpikir aku melakukannya karena kasihan!”

      Titania melihat penunjuk kecepatan di depan Griffith. Jarum penunjuknya hampir mendekati 100 mil/jam.

      “Oh, baiklah! Kau pikir kenapa aku menabrak Gwendolyn? Kulakukan hanya sebagai istri yang memastikan semuanya berjalan dengan seharusnya. Ibuku pernah berkata demikian padaku. Tidak boleh ada orang lain yang menjadi pengganggu. Jadi, aku hanya menjalankan tugas.”

      “Konyol sekali! Kau hanya cemburu padanya!“

      “Cemburu? Ha! Yang benar saja? Mana mungkin aku cemburu pada gadis murahan seperti itu! Griffith! Tak bisakah kau lebih pelan?!”

      “Jangan sebut Gwen gadis murahan!”

      “Griffith! Kau menyetir seperti orang gila!” teriak Titania. “Mengapa kau begitu marah?”

      “Karena Gwen lebih berharga daripada kau!”

      Griffith tiba-tiba menghentikan mobilnya. Mereka terdorong ke depan lalu ke belakang. Titania merasa dadanya sesak sekali. Ia bernapas seperti orang berpenyakit asma. Matanya panas. Baiklah, baiklah, bisiknya, Gwendolyn memang lebih baik daripada aku!

      Griffith keluar dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Ia berdiri menengadah ke langit yang sudah menggelap. Pohon-pohon mulai terlihat merapat. Titania tahu jalan ini sudah masuk ke desanya. Titania masih terduduk di dalam mobil, ia ingin sekali lenyap bersama angin saat ini. Belum pernah ia menghadapi situasi yang lebih buruk daripada ini.

      “Lebih baik kita bercerai, Griffith.“

      Titania mengatakannya dengan keras, agar terdengar oleh Griffith. Griffith tak menjawab. Ia hanya duduk di atas mobil. Titania tak dapat melihat ekspresi wajahnya. Ia lalu melanjutkan.

      “Untuk apa dipertahankan?” suaranya sedikit tercekat menahan tangis. “Kau bahkan tak pernah mencintaiku.”

      “Bohong!”

      Titania mendongakkan kepalanya. “Apa?” cepat-cepat ia keluar dari mobil dan menghampiri Griffith. “Apa yang kaukatakan?”

      Griffith sedikit terkejut oleh ucapannya sendiri. Ia mencoba menegakkan punggungnya dengan kikuk. “Ya…maksudku, bohong jika orang mengatakan aku mencintaimu.”

      Titania tak tahan lagi. Air matanya yang sedari tadi ditahannya kini jatuh dan bercucuran tak terbendung. Titania menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tak ingin melihat Griffith. Ia kesal, kesal sekali, apa sebenarnya yang diinginkan Griffith? Griffith selalu tak jelas jika bersikap. Titania merasa dipermainkan olehnya selama ini.

      Tiba-tiba Griffith mendekapnya.

      Griffith?

      Titania terkejut luar biasa. Ia membuka matanya dan mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar bukan sedang bermimpi. Griffith memeluknya. Apa lagi ini? Titania tak membalas pelukannya, ia hanya berdiri terpaku.

      “Sudah. Sudahlah,” Titania mendengar Griffith berbicara di telinganya. “Aku tak mau berpura-pura lagi. Aku mencintaimu, Titania. Aku tidak bohong. Aku mencintaimu.”

      Mata Titania kian melebar dan masih mengalirkan air mata. Ia tak tahu harus berkata apa.

      “Maaf jika selama ini aku selalu menyakiti perasaanmu. Sungguh, Titania, kau tetap istriku yang kucintai,” ulang Griffith seraya melepas pelukannya. Titania melihat mata Griffith lalu menelan ludah.

      “Lalu…lalu kenapa selama ini kau bersikap acuh padaku?” cicitnya.

      Griffith menggaruk hidungnya. “Mungkin awalnya karena kau bersikap terlalu manja dan selalu bergantung padaku. Emosiku sedang tidak bagus waktu itu, dan yah… aku memang mendiamkanmu beberapa saat. Lalu, ketika aku ingin berbicara padamu lagi, kau hanya diam, dan aku pun tak berani berkata apa-apa lagi,“ jelas Griffith.

      “Kau pikir kenapa aku diam?“ kata Titania sambil menyeka air matanya. “Aku diam karena kau pun diam.“

      Titania melihat Griffith menarik garis bibirnya ke atas.

      “Benarkah?“ katanya. “Ternyata kita berdua ini sama-sama pecundang.“

      “Jangan sebut aku pecundang. Aku berani bertindak, setidaknya, aku berani menabrak Gwendolyn. Kau pikir kenapa aku menabraknya? Tentu saja aku sengaja,“ ujar Titania.

      Griffith menghembuskan napasnya. “Ya, aku tahu, walau itu cukup keterlaluan, Titania. Maaf, aku memang sempat dekat dengannya ketika kita saling mendiamkan. Aku memang sempat menyukainya, kuakui.“

      “Kau tak pernah memberitahu apa-apa padaku. Pacuan kuda atau kau sakit pun aku tak pernah tahu,“ ujar Titania, seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya.

      “Ya… aku tahu, aku memang egois.“

      Griffith menundukkan kepalanya, melihat wajah Titania yang sembab.

      “Kau mau memaafkan aku, Titania?”

      Titania tak menjawab, ia masih terisak. Pundaknya naik turun.

      “Apa kau masih mencintaiku?” tanya Griffith lagi, sedikit ragu.

      “Tentu saja, bodoh!”

      Griffith tersenyum lebar mendengar jawaban Titania. Titania mendongakkan kepalanya lagi dan kini ia mendapati wajah Griffith yang selama ini hilang, wajah Griffith yang hanya tersenyum padanya. Griffith memeluk Titania lagi dan Titania membalas pelukannya. Ya Tuhan, terima kasih…

      “Hei, hei, hei! Apa-apaan ini?”

      Sebuah suara mengagetkan mereka dan keduanya melihat siapa yang menyahut itu. Maria menutup pintu mobil dan berjalan menghampiri Titania dan Griffith. “Apa ini sebuah sandiwara untuk menyambutku?“ katanya.

      “Maria?“ Titania buru-buru menghilangkan bekas air matanya. “Aku tak tahu kau akan ke sini. Kau tak mengatakannya dalam suratmu.“

      Maria berkacak pinggang dan memerhatikan wajah kakaknya. “Kau menangis, Titania? Apa tadi suatu pelukan perpisahan? Oh, hendaknya kau bersiap, Griffith,“ cerocosnya. “Karena aku siap menjadi pembela Titania dalam sidang perceraian nanti!“

      “Sidang perceraian?“ tanya Griffith heran.

      “Ya, Titania menuntutmu cerai. Bagaimana?” Maria melipat tangannya. Titania tersenyum geli. “Oh, Maria. Sudahlah. Semua sudah berakhir. Semua sudah kembali normal. Tak akan ada perceraian.”

      “Apa maksudmu?”

      “Maria, Griffith dan aku telah menjelaskan semuanya. Kami sudah saling memaafkan, dan yang kau lihat tadi bukan pelukan perpisahan. Jadi, semuanya sudah berjalan dengan baik,” kata Titania menjelaskan pada Maria yang terheran-heran.

      “Benarkah?”

      “Begitulah, Maria. Titania bahkan menunjukkan kesungguhannya padaku dengan menabrak Gwendolyn.” Griffith nyengir lebar.

      “Griffith!” Titania melotot padanya.

      “Kau—apa ? Menabrak Gwendolyn? Astaga! Yang benar saja ? Sebenarnya apa yang terjadi di sini ?” seru Maria tidak sabar.

      Titania dan Griffith saling pandang. Keduanya tersenyum.

      “Hei, Maria!” seru Griffith. “Apa itu mobilmu? Luar biasa! Aku belum pernah melihatnya!” Ia mendekati mobil panjang berwarna putih dan mengelusnya dengan kagum. “Hei, sebentar, kau harus menjelaskan sesuatu, Griffith!” kata Maria menarik lengan Griffith, tapi Griffith masih mengagumi mobil Maria, ia bahkan masuk ke dalamnya. Maria berbalik menghadap Titania.

      “Oh, ayolah, Titania, apa itu? Menabrak Gwendolyn, apa kau sudah gila? Ceritakan padaku!”

      Titania hanya tersenyum-senyum. Baru saja beberapa menit yang lalu ia merasa seperti di bawah neraka, tertekan dan merasa tak berarti. Sekarang, ia seperti diangkat ke langit yang tinggi dimana para malaikat bernyanyi dan bermain di antara awan yang menggumpal lembut. Jika ini hanya mimpi, Titania tak ingin terbangun selamanya.

      Langit memang sudah gelap, tetapi ada yang terang dari hatinya, seterang bintang yang bertaburan di langit yang bersih. Seterang bulan yang mulai muncul malu-malu. Seterang matahari pagi esok yang menembus dedaunan, menyapa Titania dan Griffith yang akan membenahi segalanya dan memulainya lagi bersama.

Tamat

One Response to “Mrs. Car (4)”

  1. on 17 Aug 2008 at 11:00shasha

    “Karena Gwen lebih berharga daripada kau!”

    beneran, dsini gue nangis.
    even this story have a happy ending.
    tappi ini kejaaam banget katakatanyaa.
    sumpah, Mrs. Car. Keren !

Tinggalkan Komentar