KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

???…

Biarkan aku hidup dalam dunia mimpi
Karena hanya dalam mimpi aku bisa memilikimu

Sebuah harapan, sebuah mimpi bisa membuat manusia bertahan dalam kesendirian.

“Rasanya cepet banget ya. Gak terasa kita udah hampir lulus. Aku pengin ngerasain yang namanya duduk di bangku kuliah. Pasti seneng banget deh. Moga aja pas kuliah nanti aku bisa dapet cowok cakep,” cerocos Naya, temanku.
“Uwaahh… ngomongin tentang cowok cakep aku juga mau tuh!” sahut Nilam.
“Ya, siapa sih yang gak pengin punya cowok cakep. Semua orang juga mau kali…”

Aku tersenyum geli.

“Kenapa Nda…? Ada yang salah ya…?” tanya Naya.
“Ya gak sih… Namanya juga harapan. Mimpi. Aku juga mau punya cowok cakep, baik, perhatian…”
“Satu lagi tajir….” potong Nilam.
“Ya sempurna banget… Moga aja kesampe’an. Amin…”

Siapa sih yang tidak mau? Rasanya munafik kalau ada orang yang berkata tidak untuk pasangan hidup yang cakep, perhatian, baik dan… cukuplah dalam hal materi.

“Sayang ya cuman ada satu di antara seribu,” tandas Naya.
“Huh… rasanya pasti bahagia banget ya. Kaya’ di dongeng-dongeng. Mikirin aja udah seneng, apalagi jadi nyata. Perfect banget deh…”

Sempurna. Aku sendiri sebenarnya tak tahu apa ukuran dari sebuah kata sempurna. Tapi, seperti manusia kebanyakan, aku juga ingin pasangan hidup yang sempurna.
Mungkin terlalu berlebihan, mengharapkan sesuatu yang belum jelas, muluk-muluk atau apalah namanya, aku juga tidak tahu. Tapi ini manusiawi, jika seseorang menginginkan sebuah kesempurnaan. Toh, manusia punya akal, punya naluri dan punya hati yang bisa memilih.

***

“Nda, tumben pagi. Emang semalem habis mimpi apa?”
Aku menoleh ke arah suara yang mengagetkanku.

“Mimpi apa…?” tanyaku.
“Ya, mimpi apa aja. Yang pasti kaya’nya mimpi itu bikin kamu dapet wangsit buat dateng lebih pagi deh…”

Aku tersenyum. Dia temanku kuliah. Aku mengenalnya saat baru seminggu masuk kuliah, atau lebih tepatnya dua minggu lalu. Tampangnya yang kusut, mungkin capek atau apa, membuatku ilfil. Apalagi, kalau melihat tingkahnya yang menyebalkan. Kami bahkan tak pernah berjabat tangan, tak pernah memperkenalkan diri kami.

“Hei… lagi mikirin apa?”
“Hah… gak kok.”
“Mikirin aku ya… Aku sih gak usah dipikirin. Lagian aku pasti tiap hari nemenin kamu kok,” godanya.
“Ih… pede banget sih. Ngapain juga mikirin kamu.”

Huh… buat apa juga mikirin dia. Baru kenal beberapa hari kok minta dipikirin, batinku.
Aku mendesah. Otakku masih berputar-putar mencari makna mimpiku tadi malam. Mimpi aneh… Sejenak aku menoleh ke arahnya. Dia tampak sibuk dengan buku di tangannya. aku rasa dia tampak lebih manis dengan pakaian kasual yang dikenakannya. Selama ini aku hanya tahu dia dan jas almamater yang kami kenakan selama ospek.

“Nda, kapan pulang…?” tanyanya.
“Pulang kemana? Rumahku kan di sini, di kota ini.”
“Pulang kemana kek. Ke rumahku juga boleh…” godanya.
“Boleh juga sih…” balasku.
“Tapi jangan harap deh bisa pulang lagi ke rumahmu.”

Dia tersenyum. Aku tak pernah tahu maksud semua ini. Seperti aku tak tahu apa maksud setiap katanya. Sayang hati orang tidak ada yang tahu…

“Minggu ini aku pulang. Kalo’ kamu mau ikut ya gak papa. Katanya kamu belum pernah ke kotaku ya?”
“Emang di sana ada apa sih…?”
“Ya… pasti ada oranglah. Ada bangunannya, ada rumah.”
“Yang itu sih gak usah dikasih tau juga aku udah tau kok. Gak usah deh… Ntar aku gak dibalikin ke rumah lagi,” candaku.
“Asal kamu gak kangen sama aku sih gak masalah. Tapi kaya’nya kamu bakalan kangen deh…”

Sebenarnya ada rasa tak rela di hatiku. Tapi… sudahlah. Toh, dia juga punya orang tua, punya saudara dan punya kehidupannya sendiri.

***

Ada resah di penghunjung malam
menemani hari yang sepi
Khayalku meronta…
menghadirkannya dalam mimpi
Walau tak nyata
namun cukup ‘tuk sedikit mengobati kerinduan

Ponselku berbunyi. Naya… tumben telepon kesambet setan apa tuh orang, batinku.

“Haloo…..”
“Waduh… sambutan macam apa sih ini. Kok gak sopan banget,” seru Naya.
“Tumben telepon, Non?”
“Ya, mentang-mentang dah gak satu sekolah lagi. Lupa deh sama temen lama.”
“Iya… iya deh. Udah aku ngaku kalah.”
“Eh… gimana?”
“Apanya…?”
“Udah ketemu belum sama pangeranmu.”
“Uwaah… masih inget aja. Pangeran yang mana? Pangeran dongeng, PangeranCharles atau…”
“Ih… serius nih…”
“Masih nyari tuh… Tapi kaya’nya gak ada tipe-tipe pangeran juga gak papa. Yang penting kan perhatian,” tandasku.
“Wah… mulai kapan jadi berfilsafat kaya’ gini. Nyerah ya nyari manusia yang perfect? Semangat dong… Emang sih satu banding seribu.”
“Udahlah gak usah dipikirin lagi.”
“Trus cowok yang nyebelin itu gimana? Masih tetep godain kamu gak?”
“…”
“Gimana…?”
“Ya… gitu deh! Susah deh jelasinnya. Tapi dia baik banget kok. Nyambung lagi kalo aku ajak ngomong. Trus…” aku menghentikan seluruh kata-kataku. Aku tersenyum mengingat semua. Entah kapan dia kembali, aku tak sabar menantinya.
“Nda… kok diem kenapa sih? Trus dia gimana?”
“Dia… aku gak ngerti deh. Yang aku tau dia baik banget.”
“Kamu gak suka kan sama dia…?”

Aku diam. Suka… Apa mungkin?

“Nda… Halooo…”
“Iya… kenapa?”
“Kamu suka sama dia? Masa’ sih? Katamu dia orangnya biasa-biasa aja. Gak cakep, gak…”
“Udahlah… Mau dia jelek atau apa namanya kalo’ aku suka dia emang kenapa? Salah…?” jawabku ketus.
“Ya, jangan marah gitu dong. Gak ada yang salah sih… Sorry ya kalo’ aku bikin kamu marah.”
“Gak papa kok Nay. Mungkin aku aja yang terlalu emosional.”
“Ya udahlah kita lanjutin lain kali aja ya. Bye…” ucapnya mengakhiri pembicaraan.

Aku menutup teleponku. Memang kenapa kalau aku menyukainya? Gak salahkan? toh, dunia juga gak bakalan kiamat kalo’ aku suka sama dia.
Tuhan, mungkinkah aku mencintainya? Meski perkenalan kami begitu singkat. Apa ini tidak terlalu cepat?

If you’re not the one, then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one, then why does my hand fit yours this way
If you are not mine, then why does your heart return my call
If you are not mine, would I have strength to stand at all?

Lirik lagu If You’re not The One milik Daniel Bedingfield membelai telingaku lembut. Mungkin lagu ini adalah jawaban atas keresahanku selama ini. Dan juga jawaban atas keraguanku selama ini. Ya, aku sadar! Aku tahu. Dan aku takkan lagi membohongi hatiku.

***

Hujan deras belum berhenti menyirami pelataran yang sejak sebulan lalu kering. Aku berjalan ke tengah taman kota, membiarkan hujan mengguyur hatiku.

“Hei…”
Aku menoleh ke arah pemilik suara itu. Senyumnya mengembang. Senyum yang aku rindukan.

“Ngapain hujan-hujanan. Ntar masuk angin lo…”
“La… kamu sendiri ngapain ikut-ikutan?”
“Ya… masa’ aku ninggalin kamu sendirian.” Dia menatapku tajam.
“Aku suka hujan…” kataku.

Hening… tak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami.

“Kenapa harus hujan?” tanyanya.
Aku mengangkat bahuku. Aku sendiri tak punya alasan. Aku tahu aku suka.

“Kalo’ aku?”
Aku menoleh.

Tinggalkan Komentar