Jam kuno buatan Jepang berbingkai kayu berdentang sebelas kali. Sunarti masih menjahit baju seragam SMP. Keringatnya menetes membasahi dahi dan wajahnya.
“Tidak lelah Nar?” ujar pria berkemeja putih kusam yang sedang menggendong anak.
“Tinggal sedikit lagi selesai mas, besok pagi bisa saya serahkan ke bu Asih, uangnya bisa mas buat belanja besok di pasar. Tapi entah buat lusa. Pesanan jahitan ‘kan sudah habis, mas…” ujar wanita paruh baya itu jujur pada suaminya. Usman hanya bisa menarik nafas panjang.
Dahulu pasangan suami istri Usman dan Sunarti dikenal sebagai tukang jahit terbaik di desanya, desa Peterongan kota Jombang. Narti Tailor, begitu papan iklan yang dulu terpampang di depan rumah mereka. Mereka berdua memiliki banyak pelanggan dari seluruh wilayah desa bahkan sampai ke luar kota. Mereka banyak melayani jahitan dalam partai besar, biasanya menjahit seragam untuk SD, SMP, SMA atau paket seragam guru. Pada awalnya hasil usaha mereka sebenarnya terbilang cukup untuk membiayai rumah tangga. Namun lambat laun kebutuhan mereka semakin banyak ditambah dengan adanya krisis ekonomi yang membuat harga bahan kebutuhan pokok melonjak tinggi. Anak-anak mereka berjumlah lima orang dan semuanya masih belia. Akhirnya mereka terjebak hutang pada rentenir untuk biaya kredit rumah dan menyekolahkan anak.
Beberapa mesin jahit mereka terpaksa dijual untuk membayar tagihan hutang. Akibatnya mereka tidak bisa melayani pesanan jahitan dalam jumlah besar, karena mesin jahit mereka hanya tersisa dua buah. Apalagi zaman sekarang ini masyarakat desanya mulai beralih membeli pakaian jadi di toko-toko baju yang sekarang banyak bermunculan di kota Jombang yang dulunya kota kecil itu. Masyarakat mulai malas untuk menjahitkan kain karena lamanya waktu dan berdalih tidak praktis. Akhirnya, satu per satu pelanggan Sunarti dan Usman meninggalkan mereka. Kini pelanggan yang masih setia pada mereka bisa dihitung dengan jari. Keadaan ini membuat mereka terpuruk dalam keuangan, bahkan uang untuk makan sehari-hari pun tidak tentu. Usman pun sudah satu tahun menjalani pekerjaan sambilan sebagai kuli bangunan, namun tetap saja penghasilannya tidak bisa diandallkan.
“Terus bagaimana ini Nar? Kita tidak bisa begini terus. Anak-anak kita masih kecil-kecil, si Hadi yang paling besar saja masih kelas lima, darimana kita dapat uang untuk membiayai sekolah, makan, dan kredit rumah?” tanya Usman yang tidak bisa menyembunyikan keresahannya.
“Entahlah mas, aku juga bingung,” jawab Sunarti pasrah sambil melipat celana seragam berwarna biru yang telah selesai dijahitnya. Celana itu ditumpuk rapi di atas baju seragam putih, kemudian dibungkusnya dengan kertas koran dan dimasukkan dalam tas plastik.
Dalam hatinya, Sunarti sebenarnya ingin mengungkapkan pikiran yang dipendamnya selama ini pada suaminya. Tapi ia takut kalau suaminya marah dan tidak setuju pada idenya. Tapi karena keadaan ekonomi yang semakin menyulitkan mereka, ia akhirnya memberanikan diri bicara pada suaminya.
“Mas, tiga hari yang lalu, bu Asih cerita padaku waktu dia mau menjahitkan baju seragam anaknya ini mas, katanya dia mau bantu aku mencarikan pekerjaan yang bergaji besar,” kata wanita itu.
“Pekerjaan apa itu?” tanya suaminya penasaran.
“Eh, mm, jadi TKW, tenaga kerja wanita di luar negeri, mas,” kata Sunarti malu sekaligus cemas.
“Hah? TKW di luar negeri? Jangan, Nar! Jadi TKW itu berbahaya! Beresiko tinggi! Kamu mau jadi seperti si Sri sepupuku itu? Dia disiram air panas sama majikannya! Pulang-pulang tubuhnya kurus kering, badannya lecet-lecet, jiwa dan pikirannya tertekan! Aku tidak rela kamu bernasib sama seperti si Sri dan kebanyakan TKW yang lain! Mana tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab lagi!” tukas Usman menggebu-gebu.
“Sudah kuduga mas pasti bereaksi begitu. Ini lain mas, kata bu Asih, katanya PT yang mengurusi buruh migran ini PT resmi, ada ijin pemerintah dan katanya sudah terbukti banyak perempuan yang bisa mengirimi uang cukup banyak pada keluarganya,”
“Katanya, katanya, katanya! Semua ‘kan cuma katanya! Kamu tidak tahu bagaimana aslinya kan?”
“Mas, kita mana tahu kalau belum dicoba. Lagipula pekerjaan ini bukan pekerjaan haram kan? Nasib yang dialami si Sri dan kebanyakan TKW itu kupikir memang jadi resiko mereka menghadapi majikan yang bermacam-macam wataknya, buktinya banyak juga TKW yang sukses,” ujar Narti bijak.
“Iya, tapi jadi buruh migram itu resikonya besar.
“Semua pekerjaan kan memang beresiko mas, jadi pegawai swasta ada resiko di-PHK, wiraswasta sukses bisa bangkrut, mas jadi kuli bangunan bisa saja tertimpa bahan bangunan, bahkan kita dulu yang jadi tukang jahit tenar saja jari kita bisa terluka bahkan terpotong oleh mesin jahit, kan mas? Hidup itu memilih mas, dan setiap pilihan ada resikonya. Semua yang dipilih oleh manusia harus dapat ditanggung sendiri resikonya. Aku dihadapkan pilihan semacam ini, aku siap dengan segala resikonya, niatku tulus untuk membantu keluarga kita mas”, Narti menjelaskan panjang lebar meyakinkan suaminya.
Usman hanya terdiam terpaku. Ia menghela nafas panjang kedua kalinya sambil memandang ke dalam kamar tempat kelima anaknya tidur berjejer beralaskan tikar.
“Sudahlah Narti, aku pasrah. Kamu tahu aku tidak tega membiarkanmu pergi jauh dan bekerja seorang diri dengan resiko seperti itu. Tapi aku juga tidak bisa lagi berpikir bagaimana cara menghidupi keluarga kita,” ujar Usman lemas.
“Iya mas, aku mengerti. Aku hanya ingin mas yakin, kalau aku akan baik-baik saja”.
* * *
Narti mengemasi barang-barangnya ke dalam koper bercorak batik. Suaminya telah menyiapkan keperluan yang dibutuhkan Narti. Mulai dari pakaian, alat mandi, handuk, sandal dan obat-obatan. Narti telah mantap akan pergi merantau menjadi buruh migran. Kabarnya PT penyalur tenaga TKW itu akan menyalurkan Narti ke negara tetangga, Singapura.
“Semua sudah siap Nar,” kata Usman.
“Ya, terima kasih banyak mas, doakan aku…” ujar Narti.
“Iya. Aku dan anak-anakmu akan selalu mendoakanmu, jangan lupa kirim kabar Nar,”
“Ibu cepat pulang ‘kan?” tanya Arif, anak bungsu mereka yang baru kelas 2 SD menatap ibunya.
“Iya sayang, iya, ibu tidak lama kok, Arif, Adin, Sumi, Atik, ibu sayang kalian, Hadi, jaga adik-adikmu ya sayang. Maaf mas, aku titip anak-anak, mas jangan mengkhawatirkan aku, mas tenang saja sambil menjaga anak-anak” ucap Narti setelah mencium anak-anaknya satu per satu.
“Hati-hati dan jaga diri Nar,” kata suaminya sambil mengecup kening Narti.
“Ayo Nar, nanti kesiangan, mari pak Usman, saya antar Narti dulu,” ujar bu Asih ramah pada Usman.
“Iya bu Asih, Nar, hati-hati di jalan”.
Usman dengan mata berkaca-kaca memandangi istrinya yang berjalan bersama bu Asih ke ujung jalan sampai akhirnya tidak tampak dari pandangannya.
* * *
Dalam perjalanan Narti mengusahakan agar dirinya tetap tegar. Bu Asih menjelaskan sekali lagi pada Narti bahwa dirinya hanya menawarkan peluang kerja yang ia ketahui, ia berlepas dari tanggung jawab jika ada kejadian yang tidak diinginakan terjadi. Narti paham soal itu, dan ia tetap pada pendiriannya dan meyakinkan bu Asih bahwa ia sudah yakin akan keputusannya.
Narti menerima masa karantina dan pengarahan di lembaga penyalur itu selama dua minggu sebelum keberangkatan. Narti semakin yakin bahwa lembaga itu adalah lembaga resmi yang profesional dan bertanggungjawab. Namun ia tetap merasa agak cemas karena telah dijelaskan oleh PT tersebut bahwa ada beberapa kasus di mana TKW yang disalurkan mengalami berbagai masalah yang kesemuanya di luar tanggung jawab PT tersebut. Sehingga kembali pada pribadi masing-masing tenaga kerja, untuk memantapkan pilihan mereka. Narti berusaha sepenuh hati untuk tetap teguh pada keputusannya, dan akhirnya ia pun berangkat menuju Singapura.
* * *
Di luar dugaannya, Narti ditempatkan di rumah seorang pengusaha ekspatriat berkebangsaan asing yang tinggal sendiri. Beruntung, Narti yang lulusan SMA sedikit-sedikit tahu bahasa asing yang diperintahkan majikannya.
Sehari-hari Narti melaksanakan tugasnya menyapu, mengepel, membersihkan lemari dan ruang-ruang lain dalam rumah yang berukuran besar itu. Hasil dari jerih payahnya itu lebih dari lumayan. Sebulannya ia bisa mengirimkan uang cukup banyak pada suaminya. Suaminya mengirim surat setiap bulan menanyakan kabar dan perilaku majikan terhadap Narti. Narti membalas surat suaminya dan menyampaikan bahwa dirinya baik-baik saja dan segalanya berjalan normal. Majikannya jarang di rumah, namun sikapnya terhadap Narti cukup baik. Usman lega membaca surat-surat Narti, ia juga bersyukur kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah anak-anaknya bisa terpenuhi. Bahkan setelah lewat dua bulan, Narti mengirimi suaminya handphone agar mereka bisa lebih sering berkomunikasi. Usman sangat senang dan bersyukur, ia menyampaikan terima kasih berkali-kali pada Narti dan tetap menasehatinya untuk menjaga diri.
Tiga bulan telah berlalu dan pekerjaan Narti dirasakannya cukup lancar. Sejak semula ia yakin, bahwa kalau hatinya telah mantap, maka jalan lurus di depannya akan terbuka lebar. Namun, seminggu kemudian, situasi berubah 180 derajat. Istri dan putra majikannya datang membawa suasana yang suram. Pekerjaan Narti yang selama ini tidak pernah diprotes majikan pria, kini sering dikeluhkan oleh istri dan anaknya itu. Mereka menilai Narti kurang cekatan dan hasil pekerjaannya kurang bersih. Narti pun berusaha keras memenuhi tuntutan mereka. Namun, ternyata tabiat istri dan anak majikannya itu memang buruk dan tidak mengenal toleransi. Kebiasaan mereka adalah bersenang-senang dan bermabuk-mabukan di rumah sementara majikan pria sedang di luar rumah. Mereka menginginkan setiap waktu seluruh bagian rumahnya harus selalu bersih, meskipun mereka sendiri sering membuat rumah mereka kotor karena mereka sering mengundang teman-teman mereka berpesta sampai larut malam.
Pekerjaan Narti semakin dipersulit oleh sang nyonya rumah. Setelah susah payah membersihkan kamar, istri majikannya itu mengacak-acak lemari pakaian dengan dalih ingin memilih pakaian. Narti pun membereskan lagi lemari tersebut. Namun tak lama, sang majikan kembali mengacak-acak lemari seenaknya karena pakaian yang dipilihnya tak cocok, dan Narti menata pakaian-pakaian mahal itu kembali. Hal itu terus terjadi berulang kali dan ia hanya bisa bersikap sabar.
Sampai suatu ketika, Narti disuruh membuat kopi panas untuk nyonya rumah itu. Ia pun membuat kopi sesuai dengan arahan majikannya itu, lalu disajikannya di atas nampan beserta kue kering pendamping minum kopi. Namun, ketika disodorkan nampan itu pada majikannya, majikannya itu malah berteriak karena kopinya panas, lalu ia mengumpat pada Narti dan menyiramkan kopi itu ke muka Narti. Kontan saja Narti kepanasan dan nampan dari kaca itu pun jatuh pecah berkeping-keping. Tak tahan menahan rasa pedih, Narti langsung berlari ke kamar mandi untuk mendinginkan wajahnya. Sang nyonya rumah itu pun semakin marah, ia menghampiri Narti di kamar mandi yang sedang merendam wajahnya dalam air dingin, namun majikannya itu malah menyeret rambut Narti dari belakang lalu membenturkan kepala Narti berkali-kali ke dinding kamar mandi. Narti menjerit keras kesakitan, namun ia tidak mampu melawan karena wajahnya masih terasa pedih. Sang majikan yang kejam itu kembali mengeluarkan kata-kata kotor kepada Narti, dicampakkannya Narti ke lantai kamar mandi dan dikuncinya kamar mandi itu dari luar.
Narti masih terkulai tak berdaya. Air matanya meleleh membasahi lantai kamar mandi. Rasa dingin menerpa sekujur badannya, rasa perih turut menjalar di wajah dan kepalanya yang berdarah. Kepalanya terasa ditusuk-tusuk setelah dibenturkan oleh majikannya. Ia teringat oleh suami dan anak-anaknya. Sudah tiga minggu ia tidak berkomunikasi dengan keluarganya sejak suasana rumah majikannya berubah total. Segala ucapannya pada suaminya waktu ia akan berangkat masih terngiang di telinganya. Ia harus siap menghadapi resiko ini. Ia pernah berkata pada suaminya ia mampu menjaga diri. Air mata Narti mengalir lagi.
“Aku harus kuat,” ucap Narti perlahan bangkit. Ia menahan segala perihnya. Ia mencoba berdiri tegak dan melihat sekeliling. Pintu kamar mandi masih terkunci. Sayup-sayup ia mendengar suara mobil menderu keluar dari garasi rumah. Majikannya pergi, rumah kosong, Narti ditinggal sendiri terkunci di dalam kamar mandi yang dingin. Narti berpikir keras, ia harus keluar dari kamar mandi ini.
Narti melihat jendela kamar mandi yang cukup besar di sebelah bath-tub. Ia mengambil tongkat pembersih toilet lalu membenturkannya ke jendela itu. Tak berhasil – kaca jendela itu tidak pecah. Narti meraih gagang shower dari besi lalu dilemparkannya ke jendela itu kuat-kuat. Prang!!! Jendela itu pecah berkeping-keping. Narti berhasil lolos keluar kamar mandi. Kamar mandi itu berhubungan langsung dengan taman samping. Narti berlari menyusuri taman samping dan menuju pagar belakang sambil menahan nyeri di kepalanya. Ia membuka pintu pagar yang tidak terkunci dan keluar ke jalanan.
Walten Avenue, Narti membaca papan jalannya. Narti kebingungan. Ia berjalan terus menyusuri jalan kawasan real-estate itu, ia tidak tahu entah ke mana harus berjalan, tempat apa yang hendak ia tuju. Sementara nyeri kepala dan perih di wajahnya masih terasa menyakitkan. Di ujung jalan itu ada pos polisi. Ya! Polisi satu-satunya harapanku, pikir Narti.
Sampai di pos polisi Narti tak kuasa menahan tangis. Ia mendadak pingsan.
* * *
Keesokan paginya Narti telah berada di kantor polisi wilayah Singapura. Narti dilayani dengan baik oleh petugas polisi yang bisa berbahasa Melayu. Narti memberanikan diri menceritakan semua kisahnya diselingi isak tangis dan beberapa kali minum air putih. Petugas di kantor polisi segera menindaklanjuti perkara ini. Kedubes RI di Singapura dihubungi untuk membantu menangani masalah tersebut. Narti ditampung oleh pihak Kedubes RI sementara kasusnya diusut.
Selama dua minggu ditampung di Kedubes, Narti memperjuangkan haknya untuk menuntut tindak penganiayaan terhadap dirinya. Akhirnya kasusnya ditanggapi serius oleh Kedubes dan pihak kepolisian Singapura pun ternyata bertindak cepat. Mantan majikannya ditarik ke pengadilan. Proses pengadilan itu berjalan 2 minggu lamanya dan dimenangkan oleh Narti. Majikannya tidak berkutik, ia dituntut oleh pengacara Narti dari Kedubes RI membayar ganti rugi denda atas perbuatannya. Akhirnya majikan wanitanya itu setuju untuk membayar ganti rugi tersebut. Narti pun dimintai maaf oleh sang majikan pria atas kelakuan buruk istrinya.
Narti sama sekali tidak menghubungi keluarganya selama dua bulan. Akhirnya ia menghubungi handphone suaminya, terdengar Usman terisak menanyakan kabar istrinya.
“Aku baik-baik saja mas, tidak usah khawatir. Tolong jaga anak-anak. Aku janji akan segera kembali,” ujar Narti menenangkan suaminya.
* * *
Narti mengurus segala keperluannya untuk kembali ke tanah air. Ia bersyukur ia dibantu oleh Kedubes RI dan kepolisian Singapura dalam mengatasi kasusnya. Ia berterima kasih banyak pada pihak Kedubes karena perhatian mereka selama 3 minggu terakhir itu. Narti memutuskan untuk kembali ke tanah air. Ia sangat rindu pada anak-anak dan suaminya. Narti meminta supaya kasusnya tidak disebarluaskan pada pihak media karena ia tak mau keluarganya resah. Permintaannya itu disetujui oleh Kedubes RI dan Narti pamit pulang ke tanah air.
* * *
Selamat datang di kota Jombang Beriman – Bersih Indah dan Nyaman. Narti menghela nafas lega. Ia telah tiba di kampung halamannya dengan selamat.
Sampai di rumah Usman dan anak-anaknya terkejut karena tak mengira Narti akan datang. Mereka berangkulan saling melepas rindu dalam suasana haru. Narti meyakinkan keluarganya bahwa ia baik-baik saja.
“Seperti yang dulu kubilang mas, semuanya akan baik-baik saja. Aku telah kembali kepadamu dan anak-anak kita, dan aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian lagi,” bisik Narti pada suaminya. Usman hanya mengangguk pelan.
Enam bulan di Singapura benar-benar membuat hidup Narti penuh warna. Namun kini Narti dan Usman kembali menata hidup mereka. Uang hasil ganti rugi yang bernominal sangat besar buah dari kasusnya yang pahit itu diinvestasikan untuk kembali menekuni usaha menjahit dan memperbanyak mesin jahit dan semua peralatan usaha. Narti dan suaminya mendirikan sebuah rumah usaha konveksi yang cukup besar. Mesin jahit yang dulu hanya dua kini berbuah menjadi dua puluh lima buah. Usaha mereka kembali meraih kesuksesan dan kehidupan keluarga Narti berjalan normal kembali.
Narti kembali mengingat ucapannya yang telah silam: Hidup itu memilih, dan setiap pilihan terdapat segala resikonya. Hidupku telah kupilih dan aku telah menghadapi segala resikonya, kata Narti dalam hati.
SELESAI