Subur Rebus Sabar
November 18th, 2007 by rezki
“Ma, kamu bisa pulang cepat, kan?”
Waktu sudah menujukkan pukul lima sore.
“Enggak tahu nih, Pa. Kerjaan aku banyak banget, tapi aku usahakan pulang cepat, kok.”
Telpon diseberang pun ditutup. Tanpa salam penutup. Aku mengerti.
Isteriku bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai project and logistic manager, posisi yang menurut aku lebih pantas dijabat oleh seorang laki-laki mengingat perusahaan yang hanya tidur pada hari Minggu atau hari raya. Perusahaan yang menuntut karyawannya harus bekerja hampir dua per tiga hidupnya dalam sehari, bahkan terkadang karyawan diharuskan bekerja pada hari libur untuk stock opname. Perusahaan yang seharusnya mempekerjakan robot, mungkin robot pun akan berteriak kehausan akan pelumas, karena dituntut bekerja ekstra cepat. Ada sedikit rasa bangga dari lubuk hati yang tidak terlalu dalam, karena perusahaan dimana isteriku menghabiskan delapan tahun waktunya harus mendistribusikan consumer goods berupa susu ke seluruh Nusantara, paling tidak, isteriku sudah turut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa dari produk susu yang dikirim. Tidak sedikit pula produknya dikirim ke daerah rawan pangan seperti pasca bencana.
Sepi dan dingin , tumben, tak ada suara jangkrik, katak memanggil hujan, atau tokek kesepian malam ini. Sunyi sekali. Aku merasa, meja, sofa dan segala isi lemari kaca menatapku atau mungkin menertawakanku tanpa suara karena tertutup rasa sombongnya sebagai benda mati. Tiba – tiba terdengar suara pintu terbuka. Kutinggalkan sofa kesayangan dan kubiarkan ia terlelap kembali setelah hampir seharian memangku tubuhku, kulongok siapa yang datang. Tak ada suara bel dan salam.
“Belum tidur, Pa?” isteriku ternyata.
“Aku enggak mendengar suara mobil kamu, Ma.” Kusingkap gorden dan melihat keluar jendela.
“Aku biarkan di kantor, aku ngantuk banget, jadi aku panggil taksi.”
“Oo.” Tanda mengertiku.
“Tadi telpon, nyuruh aku pulang cepat, kenapa Pa?”
“Aku lagi pengen, Ma.” Wajahku memerah malu dengan bahasa tubuhku sedikit merayu.
“Jangan sekarang ya, aku capek, Pa, ngantuk.”
Kalimat yang sangat tidak aku harapkan dari seorang isteri yang wajib melayani suami. Aku menunduk menatap anu-ku, terkulai, ngambek kembali dengan kesabaran yang mulai membiasa. Kubelai. nanti juga dikasih, semangatku.
Setengah jam setelah isteriku mandi dengan air hangat. Aku colek isteriku yang hampir terlelap dengan gaun sedikit transparan, sehingga terlihat lekukan indah tanpa bra. Masih tak bergeming. Adrenalin menari-nari di dalam tubuh yang membuat aku semakin yakin sebagai laki-laki. Aku biarkan satu jam, tampak isteriku sangat letih, aku menunggu berharap ada jawaban mesranya. Aku colek kembali, kali ini tidak bisa menunggu. Urgent!
“Pa, aku capek banget, keluarin di kamar mandi aja yaa…seperti biasa, aku gak marah kok kalo kamu mau keluarin sendiri, besok baru aku kasih.”
Dengan lemas, kesal, sabar yang membosankan, sedikit pening di kepala, kuhampiri kamar mandi yang berada di sudut kamar tidur dengan sangat terpaksa. Sebenarnya bisa aku dapatkan dengan cara sedikit memaksa, toh aku suaminya, tapi untuk apa? Walaupun tindakan itu dibenarkan, aku tidak ingin ada unsur keterpaksaan, karena, aku bukan pemerkosa atau atas dasar suka sama suka, aku tidak sedang main dengan PSK. Aku hanya ingin ada cinta sama cinta. That’s it.
Malam berikutnya, isteriku dengan alasan yang sama. Membosankan.
Pukul 10 pagi menjelang siang, dengan sedikit mengantuk, aku paksa beberapa jariku untuk membangunkan kelopak mata, mengingatkan panca indera yang satu ini akan tugasnya. Kubuka gorden kamar lebar-lebar dan kubiarkan lengan-lengan panas sang surya menampar setiap jengkal pori-pori wajahku yang belum tersentuh air. Aku tertidur di kursi ukiran Jepara dekat komputer Mac-ku. Aku baru bisa tidur pukul empat pagi setelah ditolak isteri, lagi! Lalu mengerjakan finishing orderan Blog pesanan salah seorang artis ibukota. Bisa dikatakan aku lebih sering berhadapan dengan komputer daripada isteriku sendiri. Sebagai Web Designer, aku lebih semangat kerja di rumah. Dengan keahlianku dan sedikit alasan ‘lebih banyak ide jika di rumah’, perusahaan dimana aku digaji pun, mengijinkan. Tapi paling tidak, aku diharuskan datang, hanya untuk presentasi ide-ide jika ada order membuat situs.
Tempat tidur awut-awutan sudah tanpa penghuni, pukul enam biasanya isteriku sudah ngantor, kupanggil Mbak Ina yang sudah lama ikut kami bantu-bantu di rumah ini, untuk membereskannya. Masih kesal dengan jawaban isteri semalam. Sudah kesekian kalinya aku melakukannya di kamar mandi, sendiri! Pada awalnya nikmat, tapi setelah dipikir-pikir, ngeri rasanya kalau harus menjadi ketergantungan, dengan tangan sendiri? My God!
Aku harus ada kesibukan agar jauh dari ketergantungan yang memuakkan itu. Kunyalakan TV di kamar dengan volume agak keras, lalu aku menuju kamar mandi dan hanya mandi tanpa lain-lain. Walaupun tidak melihat gambar, paling tidak aku bisa mendengarkan acara di TV. Ternyata infotainmen yang sedang membicarakan maraknya kawin, cerai dan poligami. Sempat terlintas di benakku untuk…ah! Gak mungkin.
Masih dengan khayalan berpoligami. Pada saat aku ngantor saja, terus dan terus terlintas manisnya beristeri lebih dari satu tanpa memikirkan pahitnya. Setidaknya terhindar dari zinah, jika satunya berhalangan atau lelah setelah seharian bekerja, aku masih bisa tempur dengan isteri sahku yang lain.
Suasana kantor yang kurindukan, atmosphere yang seminggu dua atau tiga kali kutemui, terkadang membuat aku bersemangat untuk terus ngantor, selain wanitanya cantik-cantik, kekeluargaannya yang kental membuatku betah berlama-lama.
“Hai, D.” Sapaku kepada wanita cantik yang sangat kukenal, salah seorang tim kreatif yang pernah kupimpin, kini menggantikan posisiku.
Banyak yang bilang, kalau Dian pernah suka sama aku. Tapi, begitu dekat, hanya kerjaan yang dibicarakan. Kalau suka terhadap aku, kenapa tidak ada kata yang terucap? Menyatakan cinta mendahuluiku bukan termasuk emansipasikah? Mengapa rasa sukanya terhadapku selalu ditutup dengan keprofesionalan pekerjaan?
“Eh, Mas Nu, apakabar?”
Dian sedikit terkejut. Ingin rasanya memanfaatkan pipi kiri dan kanan di momen seperti ini. Dian membereskan meja kerjanya, menyalamiku dan benar saja, pipi kiri dan kananku dihadiahi ciuman dari seseorang yang dulu hampir jadian denganku ini. Yes!
“Agak kurang baik. Si Boss lagi sibuk?” tanyaku, menunjuk ruangan kerja Boss-ku dengan jempol.
Ciri khas karyawan di sini, jempol untuk boss, telunjuk OB, jari manis sesama staff , kelingking selain ngupil juga diperuntukkan bagian keuangan, jari tengah digunakan jika keempatnya menyebalkan. No hard feeling. Karena kode milik tim kreatif.
“Kayanya enggak deh, baru aja si Boss selesai meeting.” Jawab Dian sambil mengangkat cangkir berlogo perusahaan, menawarkan aku segelas kopi dan aku mengangguk, mengiyakan.
“D, Kamu masih tinggal di apartemen underground?” sebutan apartemen termurah buat kami.
Dian mengangguk.
“Kenapa?” tanyanya sambil mengaduk kopi yang baru saja dibuat.
“kalo Kamu gak sibuk, calling aku yah!” mohonku tanpa memberikan alasan.
Sekali lagi Dian menjawabnya dengan anggukan. Sepertinya bukan hanya aku yang rindu, Dian tetap berusaha menutupinya. Sambil kupandang senyumannya yang tidak pernah membosankan, aku berjalan menuju ruangan kerja si Boss, mengingat aku sudah ada janji.
“D, Kamu sibuk?” tidak sibuk, harapku.
“Mas Nu? Nomer baru? Aku sudah pulang, Mas. Ada sih kerjaan tapi gak banyak. Ada apa Mas?”
“Aku ke apartemenmu, yah.”
“Sekarang? Mmh. Ok, aku tunggu. Boleh gak aku nitip, Mas?”
“Martabak Bangka?” tebakku, seingatku makanan favourite yang seminggu bisa dua – tiga kali Dian beli.
“Ih, masih ingat? Kirain udah lupa.”
Lagi-lagi pipi kiri dan kananku mendapat sambutan dari Dian, sepertinya aku harus lebih sering bertemu, agar tidak pipi lagi yang ia cium.
“Aku pikir waktu aku telpon tadi , kamu sedang sama…” pancingku sambil tengok kiri kanan.
“Masss, please deh.” Kami pun bersenda gurau, menikmati martabak yang boros keju dan susu, membicarakan keseriusan dan kelucuan pekerjaan masing-masing, pada akhirnya…
“D, aku kepikiran untuk pisah dengan isteriku.”
“Boleh aku tahu kenapa?” Dian mulai penasaran.
“Sex.” Jawabku tanpa malu-malu. Bibir Dian pun membentuk O, tanpa suara.
“Tapi Mas, bukan maksud aku menggurui, orang menikah kan bukan untuk tiga huruf itu, thok. Masih banyak hal lainnya yang harus dipikirkan.” terang Dian, berusaha memasuki permasalahanku.
“Kalo semuanya sudah dipikirkan dan dilaksanakan tapi yang satu itu belum, gimana?” Dian terdiam. Aku terdiam. Sunyi, seperti menanti sesuatu. Ya, menanti ledakan yang dulu tidak pernah meledak di antara kami, ledakan yang harus dipadamkan. Di malam yang dingin ini, kami memadamkannya hingga esok pagi.
Seminggu sudah. Aku dan Dian dalam diam. Dalam Diamnya Dian menerangi seluruh ruangan kalbu dan dalam diamnya pula, aku mendapatkan jawaban selama aku diam dengan isteriku. Aku dan isteriku dalam diam kini. Kami berpisah, setelah aku berikan isteriku pilihan. Memilih rumah tangga atau pekerjaan dan memilih melayani atau poligami. Aku tahu, tidak satupun wanita yang mau dimadu. Sampai kapan aku akan bersabar, setiap datang bulan isteriku, aku bersabar. Toh aku pengen tidak setiap hari. Aku tidak menikah di bawah tangan dan aku tidak menikah dengan tangan!
Aku dan Dian menikah, beberapa bulan setelah aku menalak isteriku. Hari-hari indah honeymoon kami lalui dengan sangat menggairahkan tanpa rintangan apapun hingga akhirnya, lebih dari sekedar Deja Vu. Sibuknya Dian melebihi mantan isteriku, terkadang Dian mendapat dinas ke luar kota, terkadang dua minggu baru pulang. Hampir dua tahun berlangsung seperti itu dan dua tahun pula usia pernikahanku dengan Dian dan kami belum juga mendapat tanda-tanda akan dikaruniai anak.
Terlintas kembali khayalan berpoligami. Sampai kapan? Apakah aku telah menikahi keadaan? Siapa yang harus disalahkan selain kebodohanku sendiri?
seperti cerita dibuat-buat kurang realistis,tapi alur ceritanya seolah terputus,kurang fokus