KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

       Perjalanan dari bandara menuju Karang Asri memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang jalan di daerah Bantul, aku melihat banyak bekas-bekas reruntuhan rumah. Banyak rumah-rumah baru yang terbuat dari gedek. Beberapa rumah dari batu bata dan batako terlihat dibangun di samping beberapa rumah gedek. Aku jadi teringat cerita bude waktu aku telepon beberapa bulan setelah gempa. Sambil tertawa miris, Bude bercerita kalau aku ke Jogja, aku harus mampir ke gubuknya. “Kalau sekarang, Bude bilang gubuk ya bener-bener gubuk. Dari bambu. Rumah yang dari bata sudah rata dengan tanah dan bude ndak punya uang untuk bikin lagi.”

      Saat taksi memasuki jalan desa, banyak orang memandangi. Sepertinya jarang ada taksi sampai ke tempat ini. Aku kemudian membuka kaca jendela dan tersenyum pada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan.

      Taksi kemudian berhenti di bangunan limasan yang terbuat dari kayu jati. Rumah besar yang anggun yang dikelilingi taman bunga. Sangat berbeda dengan rumah-rumah di sekelilingnya. Bangunan tersebut termasuk satu diantara sebelas rumah di desa yang tidak roboh. Saat supir taksi mengeluarkan koper-koperku dari bagasi, seorang perempuan berusia awal empat puluhan keluar dari rumah dengan setengah berlari.

      “Nduk, ibu kangen sekali. Sudah lama kamu nggak pulang.”

      Ibu memelukku. “Sehat to, Nduk? Nanti di Jogja lama to?”

      Aku hanya membalas pertanyaan ibu dengan senyum.

      ***

      Malam harinya aku membongkar koper berisi oleh-oleh di depan Bapak dan Ibu. Kami duduk sambil menonton televisi di ruang tengah. Bapak, masih seperti dulu. Sibuk mengepul-ngepulkan asap tembakau lintingannya.

      Aku meletakkan beberapa kain tenun dan perhiasan dari batu kalimantan di meja. “Yang ini untuk ibu.” Aku kemudian mengambil sebuah senjata khas suku Dayak. “Kalau ini untuk Bapak. Mungkin bisa dipajang bersama koleksi keris Bapak. Aku kemudian menunjukkan satu koper berisi pernak-pernik mulai dari gantungan kunci sampai gelang dari getah dan makanan tradisional. “Yang ini untuk saudara dan tetangga.”

      “Kok akeh to Nduk1?” tanya Bapak.

      “Ini pesenan Ibu.” Aku jadi teringat seminggu lalu waktu menelepon ibu untuk mengabarkan kepulanganku. Ibu berpesan supaya aku membawa banyak oleh-oleh untuk dibagi. Ibu mengabsen semua saudara dan tetangga. Kata Ibu, aku sudah terlalu lama pergi. Orang-orang desa berpikir jika aku sukses di perantauan. Mereka pasti akan bergunjing jika aku tidak membagi-bagikan sesuatu. Ibu juga mengingatkan supaya aku menyumbang untuk kas Karang Taruna.

      Di desaku, kebanyakan pemuda setelah lulus SMA pergi merantau. Mencari penghidupan di kota besar. Mereka enggan menjadi petani dengan alasan tidak bisa memberikan penghidupan yang menjanjikan. Orangtua mereka pun kebanyakan menjadikan pertanian sebagai pekerjaan sampingan. Panen padi hanya dua kali setahun dari sawah yang tidak seberapa luas hanya cukup untuk dimakan sendiri. Untuk membeli barang dan menyekolahkan anaknya, para bapak harus bekerja di Jogja. Kebanyakan mereka bekerja sebagai tukang bangunan atau pedagang kecil di pasar tradisional.

      Bapak kemudian bercerita tentang gempa setahun lalu dan apa saja yang terjadi di desa setelah itu. Sesekali ibu berkomentar atas cerita bapak. “Gempa itu juga memberi berkah lho, Nduk. Banyak pengangguran di desa yang tiba-tiba dapat kerjaan untuk jadi tukang bangunan.”

      Aku teringat setahun lalu saat aku mendengar berita tentang Bantul yang hancur diguncang gempa. Aku panik dan ingin pulang secepatnya. Sayang waktu itu cuti tahunanku habis dan aku sedang banyak kerjaan. Aku panik karena waktu kutelepon, nomer Bapak tidak bisa dihubungi. Aku baru tenang sesudah adik ibu yang tinggal di jogja utara menelepon keesokan harinya. Ia berkata bahwa orangtuaku baik-baik saja. Mereka juga melarangku pulang jika harus membolos kerja. Dan, baru saat ini aku bisa menengok kembali desa kelahiranku. Nyaris setahun sesudahnya.

      ***

      Sekitar jam empat pagi aku terbangun. Aku kemudian mengambil air wudhu dan salat subuh. Setelah itu aku pergi ke luar rumah untuk berjalan-jalan. Sekadar melihat-lihat desa yang aku tinggalkan sekitar satu setengah tahun lamanya. Langit masih gelap. Jalan-jalan desa yang tidak beraspal sebagian masih menyisakan genangan air sisa hujan semalam.

      Di kiri-kanan jalan terdapat rumah-rumah kecil yang jaraknya berjauhan. Rumah-rumah tadi berbeda dengan rumah-rumah yang ada di ingatanku. Dulu, kebanyakan rumah di desa terbuat dari batu bata. Sekarang, kebanyakan rumah terbuat dari dinding gedek yang asal dipasang. Beberapa rumah bahkan masih menggunakan terpal sebagai atapnya. Ada beberapa persamaan dari rumah-rumah tadi, di dinding dekat pintu terpasang lambang-lambang aneh . Sepertinya logo LSM pemberi bantuan.

      Aku melewati rumah Lik Warijo. Bangunan rumahnya terlihat baru. Terbuat dari tembok. Bentuknya kotak, mungkin seukuran rumah tipe 36. Bangunan itu terlihat jika dibuat terburu-buru. Mungkin Lik Warijo suah bosan tinggal di tenda. Yang pasti, rumahnya kini tidak seindah rumah besar yang ada dalam ingatanku. Seingatku, dulu di depan rumah Lik Warijo ada pohon nangka besar. Sekarang sudah tidak ada. Mungkin Lik Warijo menebangnya untuk membangun rumah. Sepertinya hal yang sama dialami oleh bambu-bambu yang dulu memenuhi tepian jalan desa.

      Aku berjalan melewati jalan setapak di pinggir sawah. Matahari mulai menampakkan cahayanya. Aku jadi bisa melihat hamparan sawah yang sudah didominasi warna kuning. Beberapa petak sawah terlihat gundul karena sudah dipanen. Aku berjalan pematang sawah menuju ke arah jalan raya.

      Dari jauh aku melihat bangunan megah berwarna oranye terang terletak tepat di samping jalan raya menuju pantai. Sepertinya bangunan sekolah karena letaknya tepat di atas SD ku dulu. Dari jauh, terlihat lambang raksasa sebuah stasiun TV swasta di atas gerbang. Ironis, menyumbang kok pakai dipamerkan. Besar-besar lagi. Padahal itu kan sumbangan dari penonton TV. Dan sepertinya televisi tadi menggunakan uang penontonnya untuk mengiklankan dirinya.

      Bangunan sekolah tadi besarnya mungkin seukuran lapangan sepakbola. Selain SD, di sana juga terdapat bangunan TK. Kata Bapak tadi malam, untuk membangun sekolah ini menghabiskan dana milyaran. Ironis, saat tetangga-tetangga desa masih tidur di rumah gedek yang dingin karena angin dengan mudahnya menyusup dari sela-sela. Televisi ini membangun sekolah sangat megah. Apa gunanya bangunan sekolah megah kalau gurunya tidak bisa mengajar dengan baik karena masih harus memikirkan cara memberi rumah yang layak untuk keluarganya?

      Aku berjalan ke arah jalan raya. Bus-bus sudah mulai berseliweran. Banyak juga sepeda motor yang melaju ke arah utara. Para penglaju. Orang-orang Bantul yang sekolah atau bekerja di kota Yogya.

      Di atas jalan aku melihat spanduk yang sudah lusuh karena sering terkena air. Spanduk berisi ucapan selamat atas pembukaan sekolah oranye tadi. Dan lagi-lagi, logo televisi tadi memakan nyaris sepertiga lebar spanduk. Sepertinya susah ya, beramal tanpa memamerkannya kepada banyak orang?

      ***

      Sore harinya, aku mendatangi rumah Aryo, bendahara Karang Taruna. Aku membawa amplop berisi uang lima ratus ribu. Sumbangan untuk kas Karang Taruna. Juga sekadar oleh-oleh untuk Aryo dan keluarganya. Awalnya aku sempat bingung mau memberi berapa. Kata ibu, rata-rata pemuda menyumbang sekitar limapuluh sampai seratus lima puluh ribu saat pulang kampung. Aku harus di atas itu karena tetangga tahu aku merantau jauh dan mendapatkan penghasilan besar. Selain itu,  aku juga harus menjaga gengsi orangtuaku yang dianggap sebagai orang terkaya di desa. Tapi, menurutku memberi terlalu banyak juga tidak bagus. Nanti pemuda yang masih tinggal di desa akan tergantung dari sumbangan dan tidak mau berpikir untuk mencari dana sendiri untuk kegiatan mereka.

      Rumah Aryo termasuk yang beruntung tidak roboh. Saat menuju ke sana, aku melihat sebuah mobil kijang berwarna hitam. Setahuku, keluarga Aryo tidak memiliki mobil.

      Di halaman rumah Aryo, ada belasan anak berusia antara sepuluh hingga tujuh belas tahun bergerombol. Mereka sedang mencukil kayu-kayu ukiran. Aryo dan tiga orang temannya sibuk memberi pengarahan pada para pengukir. Di dalam rumah, aku melihat seorang perempuan Jepang berusia sekitar empat puluh tahun sedang duduk.

      Aku mengampiri Aryo.

      “Hallo. Lagi sibuk ya?”

      “Eh, Mbak Rasti. Lama nggak ketemu. Tambah cantik. Gimana kerja di Balikpapan?”

      “Ya begitulah. Kerja sama orang di mana-mana capek.”

      “Tapi kan Mbak kerja di perusahaan besar. Pasti duitnya sepadan dengan capeknya.”

      Aku cuma tersenyum. “Ukiran-ukiran ini untuk apa?”

      “Oh ini. Pelatihan untuk remaja, Mbak. Setelah gempa, ada orang Jepang yang menawarkan diri untuk mendanai kegiatan untuk remaja. Ya biar ada kegiatan, untuk belajar mereka.”

      Aryo kemudian bercerita, orang Jepang yang berada di rumahnya tadi bernama Mama Yuko. Ia orang dari LSM apa entah namanya, dari Jepang. Mama Yuko ini datang beberapa bulan setelah gempa. Ia mengajak beberapa pemuda  yang memang terbiasa membuat kerajinan kayu untuk mengajar teman-temannya.

      “Barang-barang yang sudah jadi nanti dijual ya?” tanyaku.

      Aryo kemudian meneruskan ceritanya. Ternyata para pengajar sama sekali tidak pernah dibayar untuk mengajar. Mama Yuko hanya menyediakan uang dua puluh ribu tiap pertemuan untuk konsumsi semua orang. Ia juga menyediakan kayu dan peralatan mengukir. Warga dusun tidak pernah tahu apa tujuan Mama Yuko mengadakan pelatihan mengukir dan berapa uang yang sudah ia keluarkan untuk itu.

      Aku hanya menganguk-angguk. Dalam hati aku heran, dari mana Mama Yuko mendapat uang untuk membeli peralatan? Jika LSMnya yang memberi dana, apakah benar dana itu sampai ke masyarakat? Dan apa yang ia laporkan ke pemberi dananya? Pemberdayaan masyarakatkah? Entahlah. Sepertinya itu bukan urusanku.

      Setelah itu aku berjalan pulang. Aku berpapasan dengan beberapa pengendara motor bebek baru. Semalam bapak bercerita, setelah dana bantuan dari pemerintah turun, banyak warga yang membeli sepeda motor baru. Katanya, uang bantuan itu tidak cukup untuk membuat rumah baru, jadi lebih baik dipakai untuk membeli motor. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya.

      Sepertinya, gempa bukan satu-satunya bencana yang dihadapi orang-orang di desaku. Ada bencana sosial yang tidak kelihatan tetapi justru lebih berbahaya. Orang-orang di desa menjadi tergantung pada pemberi bantuan. Mereka lebih mengharap belas kasihan dari orang lain daripada berusaha. Tapi aku bisa apa untuk merubahnya? Aku tidak punya waktu untuk itu. Lagipula aku harus kembali ke Kalimantan untuk menyelesaikan pekerjaanku.

One Response to “Setahun Setelah Gempa”

  1. on 23 Jun 2008 at 13:51M. Sulfikarnain

    Sebaiknya tulisan2 mu dibukukan jadi kumpulan cerita pendek, kalau kamu tidak keberatan aku bersedia membantunya

Tinggalkan Komentar