Sesuap Nasi dari Puisi
November 18th, 2007 by Rendy Jean Satria
Dunia memang belum berpihak padaku hari ini. Dengan susah payah aku mengemis-ngemis pada penerbit Nusantara, agar sajakku diterbitkan entah dihalaman berapa aku tak peduli yang penting dipasang agar aku bisa makan hari ini. Tapi sayangnya dirubrik sastra katanya sudah penuh untuk edisi bulan ini ah! pokoknya mereka banyak membuat alasan. Sudah beberapa hari ini dunia memang sedang menampar perutku yang sedang kelaparan setengah mati. Wajahku yang tidak ganteng ini mencurahkan wajah yang diam. Hanya bisa menghempaskan nafas untuk menahan perut demi sesuap nasi seperti bumi yang meminta secercah cahaya kepada matahari atau seperti bulan yang ingin disentuh sejenak cahaya bintang.
Di dalam kamar kostku yang berantakan tak karuan. Aku mengusik Buku-bukuku, siapa tahu ada duit terselip yang bisa dijadikan sandaran perutku yang sudah 2 hari aku tidak makan. Tapi sialnya tidak ketemu, hanya ada lembar-lembar lecekku yang butut. Pernah dibenakku aku mencoba untuk menjadi perampok bank tapi itu hanya bayangan semu yang terselip rapi difile otakku.
Aku mencoba menyetir jalan hidupku pada malam harinya sekalian juga untuk membacakan puisiku didepan publik siapa tahu nanti ada yang memberikanku uang.Dengan keberanian yang hanya sejengkal aku membacakan puisiku ditengah keramaian ibu kota Jakarta tepatnya di TIM (Taman Ismail Marzuki). Tampang-tampang Hedonisme dan Borjuis itu seperti melihat makhluk asing ditengah kota modern, sekilas aku menatap wajah mereka yang sedikit-sedikit menertawakan kehidupanku. Mereka pikir aku orang gila.
“Mau ngapain sih, orang itu!!!!” kata seseorang yang tinggi hitam sedang berpelukan dengan wanita bule, sambil bibirnya mengecup leher wanita itu.
Dia mencoba untuk menghinaku. Dan sang wanitanya hanya membuang ludah busuknya didepanku. Dengan degupan jantungku yang sangat amat kencang. Aku mulai mengangkat kertas puisiku, biar mereka semua mendengar jeritan perutku yang belum makan untuk hari ini dan belum membayar utang bukuku yang sudah membengkak kian parah. Sebelum aku membacanya dari arah sampingku seperti ada angin yang menamparku dengan dasyatnya, sungguh membuatku terperangga karena kupingku mulai sedikit sakit.
“Prakkk!”bunyinya sungguh membuat hatiku pilu sedih dan hina, salah satu anak muda yang sedang nongkrong disitu, memukulku dengan botol minuman alkohol.
“Sialan,” mulutku refleks berteriak, melihat kupingku berdarah. Orang-orang disekitarku hanya tertawa cekakakan. Tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali. Mungkin, mereka belum belajar Filsafat Humanisme.
“Woi orang gila ngapain sih, mau baca puisi! Baca puisi mah,jangan disini. Ini tempat orang pacaran tahu!” katanya sambil tertawa bersama teman-temannya.
Hatiku menangis, bibirku tetap senyum. Aku hanya membalasnya dengan sedikit senyum. Senyum keperihan hati. Padahal mereka yang salah. Taman Ismail Marzuki itu untuk nongkrongnya para seniman ibukota bukan untuk pacaran yang hanya ujung-ujungnya akan melahirkan free seks!
* * *
Aku berlari-lari mendengar ocehan absolut itu. Apakah seperti ini kehidupan seorang penyair yang terus dihina dan dicemooh karena hanya berbeda sifat dan perilaku sungguh mereka tak tahu dibalik itu semua jiwa seorang penyair sangat sensitif dan perasa dibalik itu semua lagi kadang seorang penyair orang yang terdekat dengan Tuhan melalui sajak-sajak persembahan buat Tuhan. Ah! Sungguh mereka tak mengerti akan kehidupan sunyi seorang penyair.
Terus aku memegangi kupingku. Aku seperti ikan yang dihempaskan oleh pisau tajam. Kupingku terus mengeluarkan darah untung aku bawa tisu. Mau beli penambal luka uangku tak’kan cukup. Untuk membeli selembar sajak saja aku tak mampu. Dengan sedikit lelah aku duduk melonjor didekat tong sampah yang dibelakangnya ada apertemen mewah. Suasana sekitar sungguh bau apek. Senyap. Pengap seperti goa yang dimasuki oleh bangkai-bangkai. Bau. Sampah-sampah dibiarkan berhamburan bebas begitu saja. Disamping kiri-kanan ku terdapat gelandang-gelandang tua yang tidurnya kelihatan nyenyak sekali dengan kantong plastik yang menjadi bantal mereka. Sampai-sampai ada anjing yang tidur disampingnya saja para gelandangan itu tidak mengetahui. Tikus-tikus pun, berlari-lari diatas tubuh mereka yang sedang kejar-kejaran seperti sedang berebut nasi kepada mereka semua.
“AAAAAAA!!” teriakku yang langsung menggema, suaranya dan memantul-mantul . Karena menahan perutku yang menggugak rasa lapar yang dasyat sepertinya perutku menjerit kencang.
Tiba-tiba dari arah apartemen aku melihat ada yang membuang puntungan rokok Dji Sam Soe yang terlihat masih panjang jatuh begitu saja tepat dihadapanku. Aku ambil rokok bekas itu sedikit penghilang rasa lapar.
“Ah, sedikit hina tak apalah!!!” gumam lirihku.
Dengan hembusan yang segar. Hempasan demi hempasan aku keluarkan dengan nikmatnya. Dingin membuatku tambah lapar dan angin malam yang lapar sedang menyapu daratan, membuat sepoi-sepoi. Mendayu-dayu dengan bersahaja tenang lagi elok. 40 meter dari aku duduk. Terdengar bunyi lonceng gereja yang bangunannya mirip gedung Belanda. Lonceng itu berbunyi 3 kali. Menandakan jam 12 malam sudah mampir di bumi. Di atas apartemen yang mewah itu, sebentar-sebentar terdengar suara ribut oleh para penghuninya. Mungkin ketahuan selingkuh oleh bini mudanya atau sedang membuat program pornografi yang kian marak di Indonesia.
Aku kembali melihat rokok bekasku, yang sudah mulai habis. Berarti kehidupan terus berlangsung lagi. Belum sempat aku menghirup sisa rokok yang terakhir. Tiba-tiba dari arah kananku, ada seorang wanita cantik dan seksi yang berlari-lari hanya memakai baju lektop dengan celana levis pendek. Dengan rambut terurai ke punggung acak-acakan. Wanita itu langsung menjoprak duduk di sampingku sambil terurai air matanya yang deras. Seperti air terjun yang terhempas kebatu karang. Aku tatap wanita itu diam-diam, ternyata ada wajah memar di pipinya seperti lukisan Affandi yang bereksperesionisme Merah. Pikiranku mulai menduga bahwa wanita itu seorang pelacur yang sedang dikejar aparat polisi.
Sinar bulan pada waktu itu tidak sampai menerobos kedalam tempat area sampah yang aku duduki. Hanya ada lampu di tempat itu yang terkadang mati-mati, yang membuatku kurang jelas menatap wanita asing itu. Aku malu apa harus menegur terlebih dulu. Nanti takut disalah-artikan. Ia terus mengeluarkan airmatanya, ah lebih baik aku saja yang menegur terlebih dulu. Biar terlihat sedikit pahlawan.
“Maaf Mbak. Kok wanita secantik Mbak, nangis malam-malam,” ucapku dan aku terus menatapnya bukan karena nafsu tapi karena rasa ibaku.
Sesaat ia diam. Apa mungkin ucapanku salah. Sesaat itu juga ia berbicara dengan terbata-bata. Sambil tangannya menghapus airmatanya.
”Laki-laki memang brengsek!!!” katanya. Aku agak kaget sebentar berarti ia termasuk menyindirku juga. Kemudian barulah ia menjawab ocehanku tadi, “Saya menangis karena saya diperlakukan kasar oleh suamiku yang pejabat itu.”
“Pejabat!!!” benakku bercoleteh kaget. Burung-burung liar yang tadi nangkring disamping bertebaran mungkin kaget mendengar urat suaraku keluar dengan nyaringnya seperti peluru yang tak terkendali.
Satu demi satu gelandangan terbangun disekitarku. Karena biasanya para penghuni apertemen sering membuang sisa-sisa makanan dari atas. Bagi mereka kaum gelandangan itu rahmat yang turun dari Tuhan. Aku tidak menghiraukan gelandangan itu. Yang aku perhatikan adalah seorang wanita yang tiba-tiba hadir dihadapanku sekarang ini. Aku sempat terkaget-kaget saat ia mengatakannya dengan kejujuran. Bahwa ia diperlakukan kasar oleh suaminya yang Pejabat itu. Kok pejabat jaman sekarang tega yah, kepada istrinya sendiri Kembali aku menginterogasikan wanita asing itu. Sebelum aku menanyakannya lebih lanjut. Aku ingin berkenalan dulu sekedar bersapa ria.
“Nama Saya Jean, tepatnya Jean Dandra,” kataku. Sambil aku memberi tisu yang kebetulan aku bawa. Sedikit-sedikit perutku berbunyi karena lapar. Aku malu kalau ia dengar. Ia langsung refleks menyebutkan namanya.
“Eva,” katanya jelas. Seperti nama Hawa kalau dalam bahasa orang Yahudi.
“Kok Mbak Eva…”
Sebelum aku meneruskan kembali, ia menyetopku agar aku memanggilnya dengan sebutan Eva.
“Panggil saya Eva saja,” suruhnya ringan.
“Ya….ya maksud saya EVA. Kok bisa diperlakukan kasar sih, emangnya sampai main tangan yah. Dipukulin!!!”
Padahal di pipinya terihat jelas merahnya. Aku pura-pura tidak tahu. Ia langsung memegang pipinya dan langsung memperlihatkan kepadaku. Aku tegaskan mataku ke arah pipinya. Ingin sekali aku memegang pipinya. Karena kasihan, ah nanti malah disalah-artikan kalau aku sampai memegangnya.
Dan ia berbicara dengan penuh emosi.
“Aku dipukulin oleh suamiku tadi di apartemen karena aku ingin cerai darinya. Karena selama ini aku telah dimadu menjadi istrinya yang ke-3. Aku ga rela diseperti-inikan. Aku ingin cerai..cerai..cerai!!” katanya penuh emosi.
Ia langsung menangis tersedu-sedu. Ia tiba-tiba langsung bersandar di punggungku. Aku kaget setengah mati. Wanita yang baru kukenal tiba-tiba langsung bersandar di punggungku. Aku hanya menelan ludah.Tapi aku dengan jiwa penyairku sungguh rasa iba yang ada pada waktu itu. Kasihan ia telah dimadu oleh seorang pejabat brengsek. Mentang-mentang punya uang banyak, ia bebas memperlakukan wanita seperti itu.Ah gila pejabat itu. Aku mencoba menenangkan nuraninya. Dengan sedikit-sedikit aku membelai rambutnya yang halus seperti halusnya kulit ular betina.
”Ya udah, mungkin ini cobaan dari Allah. Siapa tahu Mbak Eva..eh maaf maksud saya Eva, lagi dites sama Tuhan. Kehidupan ini kan untuk mencari masalah dan menyelesaikannya,” kataku sedikit membawa siraman agama. Perutku malah tambah berbunyi-bunyi karena lapar. Ah, mungkin ia mendengar perutku yang sedang lapar.
Tiba-tiba ia beranjak dari punggungku. Suara-suara anjing malam membuat suasana kian mencekam. Tapi terlihat bermakna Aku mencoba untuk membuat segaris puisi untuknya siapa tahu ia senang. Minimal untuk hatinya yang sedang berkecamuk hebat karena masalah psikologi batin.
“Eva suka puisi?” kataku mengalihkan pembicaraan.
Ia hanya manggut-manggut. Dan air matanya sudah mulai berhenti dari pusatnya.
10 menit kemudian puisi itu jadi. Ia langsung mengambil dari tanganku dan membacanya dihadapanku dengan suara pelan.
“Eva, dewi malam
yang sedang terbang tanpa sayap
yang ruhnya sedang diacak-acak oleh pejabat bodoh
Tenanglah Dewi malam.
teruskan manufer kehidupan dengan lembayung.
karena samudra masih dalam dan cahaya masih mengantung dalam pelukan Tuhan
Eva telah dijadikan teriakan dalam cahaya yang mati
dan ombak hati dilipat-lipat oleh sepotong dasi
Tak ada senjata suara. Hanya ada seberkas lukisan di pipi!
Luka dan jerat terpampang dalam keegoisan
Eva dewi malam, kalbunya digesek-gesek oleh kebohongan
manufer kehidupan terus berlanjut tanpa sayap lagi
dan terbang dengan sejuta ilalang-ilalang kayangan
sajak sunyi ini rasukilah dengan sebuah pamflet senyum
Pejabat itu lupakanlah! Masih ada sayap-sayap yang masih baik disana
Tenanglah Dewi Malam,
setengah bulan akan mengajakmu bercinta
memikirkan hati yang sedang dicekik oleh segumpal nafsu
Pamitlah Eva! Kepada langit kedua lalu beranjak ke langit ketiga
disana pasti ada tempat untuk kau duduki dengan segaris ilalang-ilalang”
Aku tak tahu apa ia senang atau tidak saat membacanya.Tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum manis sekali benar-benar seperti dewi malam raut mukanya melukiskan kegembiraan. Sungguh bodoh pejabat itu mempermainkan wanita secantik ini.
Aku hanya menatap wajahnya yang mulai segar setelah ia membaca puisiku dengan aroma hempasan semangat. Barulah ia sedikit demi sedikit menceritakan nasibnya sampai separah itu.
”Dulu sebelum aku kenal dengan pejabat itu. Aku hanya seorang penyanyi kafe dikawasan kemang, Dan ia sering datang bersama teman-temannya yang kesemuanya rata-rata memakai baju dinas. Rapi. Tidak sedikitpun terbersit dalam benakku akan menjadi pacar gelapnya,” katanya dengan penuh kejujuran.
Sambil ia menyalakan rokoknya. Lalu ia meneruskan kembali, ”Dan kemudian beberapa saat setelah aku manggung. Staf managerku memberitahukanku bahwa salah satu pejabat itu ingin berkenalan denganku, yah ! Waktu itu aku senang. Ada seorang pejabat yang ingin berkenalan denganku. Tapi lama kelamaan aku tahu kalau ia punya istri 2. Aku sudah dibodohi. Aku ditipu mati-matian. Keperawananku telah dicabut olehnya dengan bebasnya. Aku seperti cacing kecil ditengah amukan ikan hiu. Sungguh tragis nasibku.”
Beberapa saat kemudian ia berdiri. Aku masih tertegun oleh teman baruku itu. Berarti masih banyak orang yang lebih parah dari masalahku sekarang.
“Jean!!!!” ia memanggil namaku dengan kencang, ”terima kasih telah membuatku tersenyum kembali lewat puisi kamu yang benar-benar bermakna dalam hidupku, aku janji ga akan menangis lagi karena kehidupan terus berlanjut, ”ucapnya penuh semangat dan mengubur segala kesedihanya.
Ah, ternyata kata-kata bijakku tersangkut juga di otaknya. Tiba-tiba dari celana levisnya yang terlihat mahal itu. Ah, mungkin aku tak bisa membeli celana mahal itu. Ia mengeluarkan HP-nya yang canggih dan dompet kulit buaya yang bercorak bunga mawar. Dengan tidak basa-basi ia langsung memberikanku uang 2 juta uang tunai yang masih tercium bau banknya yang masih, terbungkus oleh kertas coklat lalu ia pergi dengan senyum yang masih menempel erat pada dirinya. Bagai cahaya ditengah kegelapan aku hanya bisa ternganga. Baru kali ini ada yang mengasih uang sebanyak itu karena puisi. Yah karena puisi. Karena puisi besok aku bisa makan. Dengan puisi aku bercinta dengan imajinasiku. Dengan puisi aku bisa membayar utang-utang bukuku dan aku hanya berucap lirih pada malam itu kepada Tuhan, “Tuhan terima kasih, karyaku dihargai oleh manusia yang lebih parah nasibnya daripadaku.”
2007 kelabu!
wahh cerpenyaa kerenn ..
isinyaa kena bangedd .
Hebat! cerpennya Jean!,bikin terharu.
Imajinasi, Rendy Jean Satria! MENGGELEGAR! FANTASTIS penulisnya. Bergabunglah dengan kami!!!!!!!!!!
WAHH AKU JADI KEPINGIN JADI YG DIATAS TAPI AKU HANYA SENIAMAN YG KUSAM YG BERBAU LEGAM..