KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Nilai-nilai

Namaku Arsih. Anak satu-satunya dari sepasang suami istri yang hidup di sebuah perkampungan pinggiran kota. Ibuku hanya tukang cuci keliling, dan bapak pengangguran. Aku sendiri masih sekolah di SD. Umurku baru sepuluh tahun. Aku tak mengerti apa-apa, yang ku tahu bapak adalah tukang mabuk dan judi. Setiap hari, selalu meminta uang pada ibuku, kemudian pergi, dan tengah malam ia datang dengan mata merah, bau alkohol, rokok, kemudian memukuli ibu. Aku selalu mendengar ibu mengerang kesakitan, menangis, dan bapak tertawa sangat keras. Entah apa yang bapak tertawakan, karena aku merasa tidak ada hal yang lucu dan patut ditertawakan. Lalu bapak masuk ke kamar dan bangun saat aku pulang sekolah esok harinya.

      Penderitaan ini seakan tak pernah berakhir. Bapak selalu seperti itu, dan ibu selalu bersabar. Aku tak tahu berapa banyak luka di tubuh kurus itu karena tangan bapak. Aku tak tahu seperti apa hancurnya hati ibu ketika bapak bersama wanita murahan di warung judi. Aku tak tahu berapa banyak uang yang dihabiskan bapak semalam untuk mengadu nasib di meja judi, aku tak pernah ingat kapan bapak pernah menang, malah bapak raja rugi dan sangat tidak mujur dalam urusan seperti ini. Dan aku tak pernah tahu berapa banyak doa yang ibu panjatkan pada Tuhan untuk bapak agar dilindungi dan diluruskan dari kekhilafannya.

      Aku selalu melihat kedamaian dan kesabaran yang terpancar dari wajah ibu. Ibu adalah wanita yang kuat. Ibu adalah jelmaan dari Srikandi dan titisan Kartini . Ibu adalah wanita hebat. Ia mampu menghidupi seorang pengangguran, penjudi, pemabuk, perokok, dan pemalas sepert bapak bersama satu anak gadisnya yang pendiam dan penakut seperti aku.

      Malam ini bapak pulang pagi. Ibu dengan sabar membukakan pintu yang nyaris roboh karena setiap malam secara sadar atau pun tidak bapak selalu mencoba untuk mendobraknya. Bapak masuk sambil medorong tubuh kurus ibu. Bapak pasti mabuk lagi gumamku dalam hati dan bapak selalu begitu. Lalu bapak masuk kamar. Aku dengar jeritan ibu yang menahan sakit. Entah bagian tubuh mana lagi yang di pukulnya malam ini. Aku beranikan diri untuk melihat apa yang terjadi dengan ibu. Perlahan ku buka tirai kamar ibu. Aku lihat ibu menangis dan bapak tertidur sangat pulas. Apakah bapak tahu apa yang dialami ibu saat ini?.

      Bapak akan bangun tengah hari esok. Tapi aku berharap bapak tidak bangun dari tidurnya untuk malam ini dan seterusnya agar ibu tidak usah menangis lagi.

      ***

      Setiap pagi, ibu selalu membuatkan aku telur dadar dan nasi goreng. Sambil aku makan ibu merapikan rambut ku, memasangkan jepit yang indah, dan meniupkan doa di kepalaku. Kata ibu, agar aku selalu dilindungi Tuhan. Aku selalu percaya kata-kata ibu karena selalu benar.

      Di sekolah, tak jarang teman-teman mengejekku. Mereka bilang bapakku tukang judi, tukang mabuk, atau mereka bilang aku anak tukang cuci, anak orang miskin, tapi aku tak pernah marah karena memang begitulah kenyataannya. Ibu bilang, hidup agar bahagia itu harus sabar, ikhtiar, tawakal, sayang kepada sesama, dan menghargai orang lain. Ibu juga bilang mereka seperti itu karena sangat sayang padaku. Buktinya mereka berusaha mencari  tahu semua tentang aku dan  itu membuktikan bahwa aku adalah idola mereka. Dan aku yakin begitu.

      Tapi besok tak ada lagi yang membuatkan aku telur dadar, merapikan rambutku, memakaikan jepit , membacakan doa di kepalaku, dan menghiburku. Mulai saat ini, aku harus membuat telur dadar sendiri, menyisir rambut sendiri, membeli jepit sendiri, memakainya sendiri, berdoa sendiri, dan menghibur diri sendiri.

      Penderitaan hidup yang tak pernah berakhir membawa ibu mengahadapi bunga dari kematian. Ibu sakit parah. Batuknya berdarah dan aku sangat takut. Ibu makan sedikit sekali, minum obat ala kadarnya pemberian tetangga, kemudian tidur untuk menahan sakit. Kata dokter ibu menderita penyakit TBC dan liver yang sangat parah , pembuluh darahnya pecah dan harapan hidupnya sangat kecil. Dokter menyarankan agar ibu segera dibawa ke rumah sakit. Namun, ibu menolaknya karena biayanya terlalu mahal dan ibu lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya di kamar sempit yang berlumut. Sementara itu, bapak pergi entah kemana.

      Malam itu, ibu membelai kepalaku dan mulai berdoa agar aku selalu dilindungi Tuhan. Kemudian ibu memberikanku nasihat tentang bagaimana menjalani hidup. Terakhir ia memberikan aku sebuah cincin emas. Kata ibu, itu adalah mas kawin dari bapak saat meminangnya dulu dan aku harus menjaganya baik-baik. Aku boleh menjualnya jika benar-benar dibutuhkan. Aku sempat bertanya mengapa ibu mau menikah dengan bapak yang seperti itu. Ibu menjawab karena ibu sangat mencintai bapak. Entah apa yang dipikirkan ibu saat itu, aku tak mengerti. Lalu ibu menyuruhku tidur di sampingnya. Ibu memelukku erat, hangat sekali.

      ***

      Hari ini, ibu dimandikan, dishalatkan, dikafani, lalu dibaringkan dalam keranda dan dibawa ke pemakaman. Lantunan doa mengiringi kepergiannya. Aku lihat ibu tertidur dengan damai. Ibu hanya tertidur.

      Aku tak percaya jasad yang akan dipendam dalam tanah itu milik wanita yang aku cintai. Setelah liang lahat terbuka dan siap untuk dihuni. Seorang ustad membacakan doa disertai dzikir sebagai pengantar  ruh ibu memasuki kehidupan baru disana. Perlahan jasad kaku itu dimasukkan ke liang lahat lalu ditimbun dengan tanah. Sebenarnya, aku ingin ikut bersama ibu ke akhirat. Aku takut jika harus hidup sendiri tanpa kasih sayang ibu di bum. Terlebih lagi, bapak tak pernah ingat bahwa ia mempunyai anak seperti aku.

      Aku melihat orang-orang sekelilingku. Ternyata banyak sekali orang yang sayang kepada ibuku dan ada bapak berdiri diantara mereka. Sekilas  aku melihat bapak menangis. Aku sempat tak percaya jika ternyata bapak mampu menangis dan masih memiliki hati nurani. Aku melihat perasaan kehilangan dan bersalah yang tergambar di wajahnya. Aku harus berfikir positif, karena ibu selalu mengajarkan aku berprasangka baik terhadap orang lain. Dan aku melihat bahwa bapak pernah mencintai ibu dan hari ini perasaan yang telah lama hilang itu muncul setelah beliau tak kuasa melihat indahnya pancaran cahaya cinta itu.

      ***

      Lima tahun sudah ibu pergi meninggalkan dunia. Lima tahun sudah aku hidup sendiri. Dalam lima tahun itu pun bapak tidak berubah, tetap seperti yang dulu. Hanya saja lima tahun terakhir ini bapak sudah ingat jika ia pernah mempunyai gadis kecil hasil perkawinannya dengan ibuku.

      Aku tumbuh menjadi seorang gadis yang mandiri dan dewasa karena keadaan yang mengharuskan aku  seperti itu. Kata bapak aku mirip dengan ibu. Mataku, senyumku, cara aku berjalan, cara aku berbicara, pokoknya semuanya. Aku senang sekali karena mirip ibu. Ibu adalah idolaku dan menjadi sepertinya adalah impianku.

      Perlahan sikap bapak mulai melunak. Bapak sudah jarang pulang malam, mabuk-mabukan, main judi, dan main perempuan. Kini bapak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Membantuku memasak, membersihkan rumah, dan hal yang sangat tidak mungkin bapak lakukan adalah bekerja. Ya…bapak sudah mempunyai pekerjaan. Aku sangat senang sekali melihat perkembangan positif  bapak. Ibu juga pasti sangat senang jika melihat bapak hari ini. Setiap hari bapak bangun pagi, meskipun tidak pernah menyentuh air wudhu. Semua ini merupakan mukjizat sebagai langkah awal yang baik menuju kehidupan yang lebih baik. Bapak bekerja sebagai kuli bangunan. Meskipun kini bapak hanya seorang kuli , tapi uang hasil bapak bekerja lebih dari cukup untuk menghidupi kami.

      Aku merasa menemukan kasih sayang yang pernah hilang dari hidupku. Setiap malam sebelum tidur, aku selalu bercerita tentang banyak hal pada bapak. Aku juga menceritakan keluh kesahku padanya. Sebelum tidur kadang bapak bercerita tentang masa kecilnya, tentang kehidupan suram yang pernah dialaminya, tentang pekerjaannya yang baru, dan banyak hal lagi. Aku sangat tertarik ketika bapak bercerita tentang ibu. Aku selalu bilang padanya kalau aku iri melihat teman-temanku bersekolah dan sempat aku tanyakan mengapa bapak ingin menikahi ibu. Tapi bapak hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Berulang kali aku tanyakan dan jawabannya sama. Bapak hanya diam dan tersenyum. Meskipun bapak seperti itu, aku tetap senang karena aku mempunyai tempat untuk mencurahkan isi hatiku. Aku peluk bapak erat sekali. Aku rasakan kehangatan yang sama seperti dimiliki ibu, dan aku berharap akan seperti ini selamanya.

      Ada yang pergi, ada yang kembali. Ada yang datang, dan ada yang hilang.

      ***

      Hari ini bapak pulang cepat. Kemarin bapak mengajakku ke pasar malam karena disana ada permainan komedi putar. Bapak juga bilang akan membelikan aku baju baru, Aku sangat senang karena dapat menghabiskan banyak waktu bersama bapak dan aku akan membeli baju baru karena sudah lama aku tidak pernah membelinya. Aku membayangkan akan bermain sepuasnya dan memiliki baju baru. Aha… senangnya.

      Pasar malam agak sepi karena hujan yang mengguyur sejak sore tadi. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangatku untuk mencoba semua permainan. Untuk pertama kalinya aku diajak ke tempat yang ramai selain pasar. Aku mencoba naik permainan ombak banyu, kincir, komedi putar, kapal-kapalan, dan beberapa permainan lain sampai aku pusing. Lalu bapak mengajakku memilih pakaian. Aku diperbolehkan memilih pakaian manapun yang aku suka dan bapak memilihkan aku pakaian yang agak sedikit terbuka. Sebenarnya aku tak suka dengan model yang dipilihkan bapak, tapi bapak tetap membelikannya untukku. Setelah itu bapak mengajakku makan sate kambing dan es teler. Tapi aku kecewa, bapak minum minuman lain, dan sepertinya itu alkohol.

      Malam ini, hujan turun deras sekali. Aku sedikit kedinginan. Tapi aku langsung mandi agar tidak masuk angin. Setelah selesai mandi aku masuk ke kamarku untuk memakai baju, karena malam ini hujan agak deras aku memilih baju yang agak hangat dan tebal. Tiba-tiba bapak masuk ke kamar yang lupa aku kunci begitu saja. Aku sudah biasa dengan hal ini, karena bapak selalu begitu. Lalu bapak menyuruhku memakai pakaian yang dipilihnya tadi. Awalnya aku menolak memakainya, namun bapak setengah memaksaku dan akhirnya aku menurut. Baju berwarna hitam dengan lehernya yang sangat terbuka memperlihatkan dadaku yang putih. Ditambah lagi, baju itu terlalu pendek sekitar dua puluh senti diatas lutut membuatku semakin tidak nyaman. Sebenarnya aku terlihat lebih dewasa dengan baju itu. Warnanya sangat kontras dengan kulitku yang putih bersih. Sempat aku memuji kecantikanku yang tak pernah aku sadari bahwa aku adalah pemilik tubuh indah ini.

      “ Kamu mirip sekali dengan ibumu Sih…” bapak berbisik pelan di telingaku. Aku merinding bukan karena bisikan itu, tapi cara bapak berbisik berbeda dengan biasanya. Lalu bapak memelukku erat. Aku tak mengerti apa yang dilakukannya.

      “ Pak, Arsih ngantuk ah, mau tidur saja.” Aku coba menyembunyikan sikap penolakanku terhadap sikap bapak yang tak aku mengerti.

      “ Bapak temani ya…” ajaknya. Aku tak kuasa menolak karena bapak langsung tidur di sampingku.

      “ Pak, Arsih kedinginan pakai baju ini. Arsih pengen ganti baju saja ya pak?”

      “Jangan… kamu cantik sekali pakai baju itu. Mirip sekali dengan ibumu ketika masih muda. Dan melihatmu malam ini mengingatkan bapak ketika malam pertama dulu. Bapak ingin mengulanginya lagi Sih…” aku tak banyak berkomentar. Aku hanya membetulkan posisi tidurku yang mulai agak kurang nyaman karena bapak meraba-raba tubuhku. Kemudian bapak perlahan membuka satu per satu baju yang ku pakai. Dan aku tersudut dalam posisi yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Akhirnya…..

      Malam yang dingin ini menjadi saksi bisu akan nilai yang keliru ditafsirkan masa.

      ***

      “ Kau sudah datang bulan Sih?”

      “ Belum pak.”

      “ Telat berapa bulan”

      “ Sejak saat itu, sudah tiga bulan pak”

      “ Kenapa belum datang bulan juga? Kamu minum obat yang bapak berikan tidak?! Itu obat menggugurkan kandungan.”

      “ Itu karena bapak melakukannya sering sekali. Sepertinya obat itupun tak bekerja.”

      “ Ah… Goblok kamu!!! Sudah lah… Kehamilanmu belum terlalu kelihatan. Nanti bapak carikan tempat untukmu bersembunyi dan melahirkan anakmu itu.”

      “ Maksud bapak?”

      “ Kemasi barang-barangmu. Beberapa hari lagi bapak pulang dan kamu harus pindah dari sini sebelum warga tahu apa yang terjadi.” Kemudian bapak pergi entah ke mana. Setelah berhari-hari aku menunggu kabar, akhirnya bapak pulang. Aku disuruh pindah ke Purwakarta tempat yang sangat asing dan jauh dari Garut. Di sana aku akan tinggal dengan seorang dukun bearanak yang akan merawatku dan mengurus persalinanku nanti. Dan bapak berpesan anak itu harus dibuang atau dititipkan ke panti asuhan karena akan merepotkan nantinya. Aku hanya mengangguk dan menurut saja karena aku sendiri tak tahu harus berbuat apa dengan semua yang telah terjadi.

      ***

      Sepuluh tahun kemudian.

      Panti asuhan yang dulu aku titipkan anakku sekaligus adikku kini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Banyak fasilitas seperti taman bermain yang luas, ruangan yang nyaman dan banyak lagi. Aku melihat seorang anak laki-laki bermain di halaman. Kakinya yang cacat tidak mengurangi keceriaannya. Tapi ia bermain jauh dari teman-temannya. Mungkin ia hanya ingin bermain sendiri gumamku dalam hati. Dan aku mencoba mendekatinya.

      Namanya Rian. Dia anak yang lucu, baik hati, dan ramah. Ia mempunyai semangat hidup yang besar. Rian menjadi inspirasiku agar lebih menghargai hidup yang selama ini aku sia-siakan. Aku merasa seperti dengan saudaraku sendiri. Berbeda perasaanku ketika melihat anak yang lain.

      Aku bertanya kepada pengurus panti asuhan tentang Rian. Ia bercerita bahwa Rian dulu ditemukan di depan gerbang panti karena dibuang oleh ibunya.

      “ Pagi itu, ketika saya hendak pergi ke pasar, saya menemukan keranjang berisi bayi laki-laki yang cacat. Disana tertulis pesan agar kami menjaganya dengan baik. Mungkin pesan dari ibunya yang kurang bertanggung jawab. Orang tuanya bayi itu pun mengalungkan cincin emas yang diikatkan ke leher sang bayi. Sepertinya Rian adalah hasil hubungan gelap orang tuanya. Rata-rata anak di sini nasibnya sama seperti Rian bu Arsih.” Paparnya panjang lebar. Semua yang dikatakannya tadi sama seperti yang aku lakukan sepuluh tahu lalu ketika aku membuang Rian. Sempat terpikirkan jangan-jangan Rian adalah….

      “ Maaf  bu, bolehkah saya melihat cincin itu?” Tanyaku agak sedikit waswas. Aku takut ia curiga padaku.

      “ Boleh saja…” katanya tanpa sedikitpun menaruh kecurigaan padaku. Aku berdoa semoga Rian adalah anakku yang ku rindukan. Sejak dulu, ibu mencarimu nak. Baru kali ini ibu mempunyai kesempatan setelah bapakmu meninggalkan ibu entah ke mana. Dan… Rian adalah anakku.

      ***

      Aku baca di koran hari ini bapak ditangkap polisi karena tertangkap basah sedang bertransaksi narkoba. Seminggu yang lalu rumahku juga dibakar warga karena bapak terlibat jaringan perdagangan orang. Dan aku hidup sendiri menanggung dosa dan penyesalan atas perbuatanku.

      Aku memutuskan untuk memperbaiki hidupku. Aku meminta izin untuk mengabdi pada panti asuhan yang telah merawat Rian. Aku ingin menebus segala dosaku pada Rian selagi aku sempat, karena aku divonis dokter  mengidap kanker payudara stadium akut. Aku yakin hidupku tidak akan lama lagi.

      “ Rian ingin punya ibu tidak?”

      “ Pengen banget kak. Kata ibu Surti, ibu Ian buang Ian ke panti ini.”

      “ Rian boleh panggil kakak Ibu.”

      “ Yang  bener kak?”

      “ Iya… Rian mau?”

      “Ian seneng banget deh… Akhirnya Ian punya ibu. Nanti kakak mau ya, temenin Ian main?

      “ Tentu…sekarang panggil ibu dong….”

      “ Ibu”

      “ Sekali lagi”

      “ Ibu”

      “ Lagi.”

      “ Ian capek ah bu..”

      Maafkan aku sayang. Aku tak sanggup jika harus kehilangan kamu, nak. Biarlah waktu yang akan memberi tahu mu jika seandainya aku adalah kakak sekaligus ibumu Rian.

      Dan jika memberikan kesempatan hidup untuk Rian adalah sebuah kesalahan, aku tidak akan pernah berfikir untuk menjadi benar. Aku mencintainya lebih dari hidupku sendiri.

      Sukabumi, 1 november 2007

Tinggalkan Komentar