KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mrs. Car (3)

Dear Titania tersayang,

      Aku sungguh-sungguh marah padamu. Tidak, tidak, aku tidak marah padamu, hanya gemas. Oh baiklah, mana yang lebih cocok untuk menggambarkannya? Mengapa kau tak bicara sepatah kata pun tentang hal ini padaku sebulan yang lalu? Padahal aku tepat berada di sampingmu dan kau bisa mengeluarkan emosimu padaku. Bahkan jika kau menangis, aku tak keberatan.

      Titania, Griffith sudah keterlaluan. Kau bilang kau ingin meminta maaf padanya. Untuk apa? Kau sendiri tidak tahu. Kesalahpahaman apa, Titania? Griffith jelas-jelas telah menyimpanmu di rak yang tak tersentuh. Kau bahkan seperti boneka pemberian neneknya yang hampir dilupakannya. Oh, kalau saja kau beri tahu pemilik toko aksesoris itu Gwendolyn, aku akan merusak perhiasan-perhiasan itu diam-diam. Tidak, itu tindakan pengecut. Aku akan memberinya khotbah tentang perempuan yang merebut suami orang lain. Ya, Titania, kupikir idemu untuk menceraikan Griffith bagus. Aku tahu ini pilihan sulit. Kau mencintainya, tapi sampai kapan? Dan bagaimana jika Griffith tak berubah? Aku tahu kau tak bisa mengkomunikasikannya. Ya Tuhan, bagaimana bisa mengkomunikasikannya jika bertatap muka saja tidak!

      Maaf , Titania, jika kata-kataku terlalu menyakiti perasaanmu. Tapi, aku tak kan berdiam diri jika kakakku tersakiti seperti itu. Aku menyesal tak dapat ke sana beberapa hari ini. Kasusku penuh. Tapi, aku selalu siap jika kau memintaku menjadi pengacara untuk pengadilan perceraianmu.

Salam sayang,

Maria

      Titania melipat kembali surat itu rapi dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Ia tersenyum geli membaca tulisan Maria sekaligus getir. Maria memang terbuka mengatakannya, tapi itu memang kenyataan.

      Sekarang, aku bahkan bingung untuk memutuskan sikap. Titania tahu ini salahnya. Membiarkan luka itu terus melebar dan memburuk. Terus seperti itu dan tak tahu apa yang harus dilakukannya, berharap luka itu akan sembuh dengan sendirinya.

      Lamunannya dikagetkan oleh sebuah suara ketukan di pintunya. “Masuk.”

      Miss Debra masuk. “Maaf, Nyonya. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa Tuan Herbert dan temannya datang.” Titania memasukkan amplopnya ke dalam laci.

      “Oh, apa mereka ingin menemuiku atau Griffith?” tanyanya.

      “Mereka ingin menemui Tuan, Nyonya, dan Tuan sekarang sedang merapikan diri dan berganti pakaian. Saya pikir Nyonya ingin menemui mereka juga.”

 “Ah ya, tentu saja.” Titania berdiri dan mengikuti Miss Debra menuruni tangga dan ke ruang tamu. Herbert dan gadis di sampingnya, Florence, berdiri ketika Titania masuk.

      “Halo, Herbert.” Titania menyambutnya. “Apa kabar?”

      “Baik. Kau?” balas Herbert. “Lumayan,” jawab Titania. Titania kemudian menyapa Florence. Florence Smith adalah gadis yang cantik. Rambutnya pirang sebahu dan halus. Sebuah gaun merah muda berenda membalut tubuh mungilnya. Dan Florence adalah kekasih Herbert.

      “Menunggu Griffith, eh ?”

      “Ya, sebenarnya bukan cuma aku. Phil, Jess, George, dan Maurice juga akan datang kemari. Mereka berjanji akan datang pukul sepuluh tepat,” Herbert melihat jam tangannya, “oh, ternyata aku terlalu cepat datang.”

      Tak sampai beberapa detik, Grace datang mengantarkan teman-teman Griffith yang disebutkan Herbert tadi. Titania menyambut mereka semua. Kemudian Grace datang membawakan teh dan kue-kue.

      “Titania, kapan novelmu selesai?” tanya Florence. “Aku tak sabar untuk membacanya. Kau tahu kan aku penggemarmu.” Florence nyengir lebar, memperlihatkan dua gigi depannya yang besar. Titania tersenyum. “Hanya perlu sedikit revisi dan siang ini juga aku akan membawanya ke penerbit untuk diedit.”

      “Siang ini?” sahut Herbert heran. “Ya, kenapa?“ kata Titania.

      “Apa kau tak akan ikut dengan kami menonton pacuan kuda siang ini?“ lanjut Herbert yang membuat Titania balik bertanya. “Pacuan kuda?“

      “Ya. Griffith memberitahumu soal ini, kan?“

       “Oh,” kata Titania, “ya… ya, tentu saja, pacuan kuda. Aku hanya lupa karena terlalu bersemangat menyelesaikan novelku.“

      “Jadi, kau tetap akan ke penerbit?“ tanya Herbert, “kau tahu, Titania, joki paling hebat dari Norway akan bertanding siang ini!“ katanya antusias. Titania terkekeh. “Ya, baiklah. Setelah urusanku selesai di penerbit, aku akan menyusul kalian ke sana.“

      Griffith kemudian datang menghampiri mereka. Pakaiannya sudah rapi. Mengenakan kemeja panjang kotak-kotak berwarna krem. Cocok sekali dengan rambut pasirnya. Griffith dan teman-temannya bersemangat menceritakan pacuan kuda yang akan diadakan siang nanti.

      Oh, pacuan kuda, Griffith tak pernah cerita apa-apa padaku tentang itu. Titania melihat Griffith dari sudut matanya. Suaminya itu tertawa, senyumnya lebar sekali. Bahkan pada Florence, ia bercanda tanpa sungkan sedikit pun. Tak lama, mereka pamit pada Titania—kecuali Griffith—dan pergi.

      Setelah menyelesaikan makan siangnya, Titania bersiap. Ia keluar rumah dengan naskah novelnya tersimpan rapi di tas tangannya yang cukup besar. Titania berniat menggunakan bus untuk mencapai kantor penerbit yang berada di perbatasan kota dan desanya. Lagipula, ia ingin menikmati cuaca siang ini. Hangat, angin dingin sudah mulai berkurang. Mungkin karena beberapa minggu lagi masuk musim semi.

      Titania pun hanya mengenakan kemeja putih panjang yang berkerut di bagian lengan dan mempunyai kancing yang banyak sampai leher. Di kedua pundaknya tersampir sebuah jaket tipis berwarna hitam.

      Titania kembali sekitar pukul dua siang. Urusannya dengan penerbit ternyata memakan waktu yang tidak banyak, tapi tetap saja Titania khawatir pacuan kudanya telah berakhir. Namun, ketika ia sampai dan mencari tempat duduk yang nyaman, dugaannya ternyata salah. Titania masih dapat menikmati pacuannya. Orang-orang begitu antusias menonton joki-joki andalan mereka memacu kudanya. Matanya mengikuti setiap langkah kuda yang berlari kencang.

      “Oh, lihat!” sebuah suara dari pengeras suara membahana. “Humprey mencoba menduduki posisi pertama, dan… oh! The Flash berlari seperti kesetanan. Cepat sekali!”

      Titania melihat kuda besar coklat yang ditunggangi Humprey dan bertepuk tangan ketika The Flash berhasil menjadi kuda pertama, meninggalkan kuda-kuda lain. Titania mengedarkan pandangannya, mencari Griffith. Sia-sia, pikirnya, mencari Griffith di kerumunan orang sebanyak ini. Tapi mata Titania menangkap sesuatu. Seorang laki-laki berkemeja krem, itu pasti Griffith, dan… apa itu?

      Titania tidak ingin memercayai matanya, tapi sepasang matanya mengirim gambar itu ke otaknya tanpa rekayasa, benar-benar asli. Gwendolyn duduk tepat di samping Griffith dan tangannya memeluk lengan Griffith. Griffith tampak senang perempuan berambut emas dan keriting itu berada dekat dengannya. Titania tahu tempat itu penuh sesak, tapi apakah menjadikannya mereka harus duduk serapat itu?

      Titania mengerutkan alis tipisnya. Ia jijik sekali melihatnya, matanya kemudian dialihkan ke tempat lain. Saat ini race terakhir dan nampaknya Humprey masih memimpin. Apa yang harus kulakukan? tanya Titania. Beranjak ke tribun seberang, menghampiri mereka dan menampar Gwendolyn? Oh, ayolah. Titania ingin cepat-cepat pergi tapi tubuhnya tak berdiri dari bangku.

      Suara keras baik dari pengeras suara dan orang-orang di sekitar Titania tiba-tiba meledak. Beberapa pemuda di depannya berdiri dan bersorai. Seorang wanita di sebelahnya bertepuk tangan keras sekali. Titania melihat ke sekeliling. Tak hanya wanita itu, semua orang di arena pacuan kuda ini sedang bertepuk tangan. Ternyata Humprey memenangkan lomba ini, Titania tak menyadarinya. Pikirannya terlalu sibuk tentang seseorang di seberang sana. Tidak, bukan seseorang, tapi dua orang.

      Titania melihat ke arah mereka lagi. Kali ini keduanya sedang membicarakan sesuatu sambil tertawa-tawa. Titania melihat Herbert dan teman-teman Griffith—yang Titania tahu—berada dua baris di depan Griffith dan Gwendolyn. Beberapa laki-laki dan perempuan yang duduk di dekat Griffith tampaknya teman Griffith, tapi Titania tak mengenalinya.

      Oh, ini keterlaluan!

      Titania belum berdiri dari bangkunya ketika orang-orang, termasuk Griffith dan sekelompok temannya, sudah mulai meninggalkan tempat itu. Baru ketika tinggal beberapa orang di tempat itu, Titania meninggalkan tribun. Ia ingin sekali menelepon Maria. Langkahnya gontai ketika keluar dari tempat pacuan itu, rasanya rumahnya ribuan mil jauhnya dari sini.

      Tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang. “Oh, maaf,” kata keduanya, spontan. Titania melihat wajah laki-laki yang ditubruknya.

      “Titania?” Herbert berkata, heran. “Hai, Herbert.“

      “Oh, apa kau baru saja datang? Pacuan kudanya baru saja berakhir,“ sambung Herbert.

      Titania menggeleng.

      “Tidak, Herbert. Aku sudah datang sedari tadi, walaupun hanya sebentar,“ katanya. Herbert memandang Titania dan matanya terlihat sedikit ragu. “Ehm…begini, Titania, sebenarnya ada yang ingin kukatakan.“

      Telinga Titania menangkap apa yang dikatakan Herbert, tapi matanya melihat ke belakang punggung Herbert. Tiga buah mobil diparkir berdekatan. Sebuah Ford hitam mengilat berada di antaranya dan Titania tahu benar mobil itu. Griffith masuk ke mobil itu, sesaat setelah Gwendolyn masuk.

      “Aku tahu apa yang ingin kau katakan, Herbert.“ Pandangannya kembali pada Herbert.

      “Dengar, Titania…“

      “Nampaknya kau ditunggu Griffith. Pergilah, ia sangat tidak sabaran,“ potong Titania.

      ‘’Titania…’’ Herbert melihat wanita di depannya yang tersenyum tidak wajar. Ia menghembuskan napasnya. “Aku bisa antarkan kau pulang jika kau mau.’’

      “Tidak usah, terima kasih. Aku bisa naik bus, “ jawab Titania. “Lagipula aku takut mengganggu acara kalian.”

      Herbert menoleh ke arah mobilnya dan mobil teman-temannya yang lain. “Ah, acara kami tidak terlalu penting. Rencananya, kami akan ke rumah Gwendolyn, tapi Florence dan aku…”

      “Ke rumah Gwendolyn?” sahut Titania tiba-tiba.

      “Ya… oh baiklah Titania, aku benar-benar ingin bicara padamu tentang sesuatu!” kata Herbert. “Herbert, maaf jika aku keterlaluan, tapi bolehkah aku ikut ke rumah Gwendolyn dengan mobilmu? Aku tidak akan masuk ke rumahnya, hanya ingin melihat saja. Simpan aku di kursi belakang, aku berjanji tak akan terlihat oleh Griffith,” pinta Titania seperti anak kecil. Matanya memohon.

      “Untuk apa?” Herbert terdiam sebentar setelah menanyakan itu. “Baiklah. Apa kau yakin?” Titania mengangguk.

      Di dalam Fiat Herbert yang kecil hanya terdengar suara dari radio yang menyiarkan berita politik. Suaranya sayup-sayup. Herbert melihat Titania yang duduk di belakang melalui kaca lalu melihat Florence yang duduk di sebelahnya. Florence balas melihatnya dengan pandangan bertanya.

      Perjalanan ke rumah Gwendolyn ternyata cukup jauh. Titania tahu jalan ini mengarah ke suatu tempat di dekat laut. Memang agak jauh dari tempat tinggalnya. Mengapa Gwendolyn senang sekali menempatkan dirinya jauh dari keramaian? Titania melihat ke depan. Griffith memimpin paling depan dan mobil Herbert adalah mobil terakhir dalam iringan itu. Seperti mengantar orang mati saja, pikir Titania.

      “Titania,” Herbert membuka suara. “Ya?”

      “Begini, Gwen memang teman Griffith sejak dulu. Tapi aku benar-benar tidak tahu kalau mereka sampai sejauh itu,” Herbert berhenti sebentar lalu melirik Titania.

      “Gwen pernah menikah dengan seorang Irlandia dan bercerai tahun lalu. Ia kemudian kembali ke sini dan membuka tokonya. Gwen kaget sekaligus senang ketika melihat kami, terutama pada Griffith. Aku pun baru menyadari bahwa selama ini Griffith tak pernah mengatakan ia sudah menikah. Aku tak tahu apa Gwen mengenalmu.”

      “Tidak. Gwendolyn tidak tahu aku sebagai Mrs. Car,” ujar Titania.

      “Begitulah, Titania. Aku benar-benar minta maaf tentang ini. Aku akan menegur Griffith sesegera mungkin,” Herbert membelokkan mobilnya, “Florence dan aku sebenarnya tidak akan ikut ke rumahnya. Kami akan ke kota sebentar.”

      “Maaf, aku merepotkan kalian,” kata Titania. Herbert dan Florence buru-buru mengatakan tidak. Tak beberapa lama kemudian, Herbert mengatakan hanya tinggal beberapa rumah lagi dan rumah Gwendolyn akan terlihat.

      Herbert benar. Tiga mobil itu berhenti di depan sebuah rumah kecil yang dinding-dindingnya tersusun dari batu bata merah. Halaman depannya tak begitu luas, dan ada beberapa semak bunga yang tak terawat. Pagar kayunya yang sedikit tampak termakan cuaca.

      Griffith dan Gwendolyn keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah. Teman-teman Griffith yang tak dikenal Titania mengikutinya. Herbert berteriak pada salah seorang dari mereka, mengatakan ia akan pulang lebih dulu. Seorang laki-laki bertubuh besar menganggukkan kepala botaknya dan berkumpul dengan temannya yang lain.

      “Terima kasih, Herbert, kau mau memenuhi keinginanku. Maaf kalau aku egois.“ Kata Titania. Titania melihat Herbert tersenyum padanya dan mulai menjalankan mobil. Herbert mengantarkannya pulang. Titania baru saja menutup pintu mobil ketika Herbert mengatakan sesuatu dari dalam mobil.

      Well, Titania, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku jarang sekali mengikuti Griffith ke rumah Gwendolyn. Teman-teman Griffith yang tadi adalah teman-temannya sewaktu di kota dan teman-teman Gwen. Mereka sangat mendukung Griffith dengan Gwen,” kata Herbert.

      Titania hanya menjawab ‘oh’ pelan. “Jangan kuatir. Aku akan selalu membantumu, Titania,” lanjut Herbert.

      Titania tersenyum. “Terima kasih.”

Bersambung…

Tinggalkan Komentar