KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Menabur Bunga di Makam Sendiri

Setiap melewati selasar menuju kelas-kelas kampus, aku seperti mati rasa melihat mahasiswa-mahasiswa baru dicabut kemerdekaannya, berjalan jongkok, merangkak, melewati lorong yang terbuat dari drum plastik yang berlubang di kedua sisinya, hanya untuk memasuki kelas, padahal mereka tidak mempunyai salah sedikitpun, terbayang olehku, pukulan atau tendangan yang mendarat di uluhati atau dada jika mereka terlambat.

 

Tiga tahun sudah aku menyaksikan segala bentuk kekerasan yang dilakukan senior kepada juniornya di lapangan kampus ini. Yang terjadi di luar lapangan hanya berupa bisikan rumor, yang tidak sengaja kudengar, namun belum pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka dipukuli, ditelanjangi lalu diabadikan dengan sebuah kamera dan disebar di internet.

 

Tekanan dari mahasiswa-mahasiswa yang belum maupun sudah lulus membuatku seperti ayam sayur atau ayam jago yang tidak mampu berkokok. Bahkan, aku tidak bisa berbuat apa-apa di kala aku sedang mengajar di depan kelas, mengingat tanggungjawab yang ku-emban, meskipun hanya satu mahasiswa yang hadir di mata kuliahku, life must go on when lie must go on, aku akan tetap mengajar. Ada beberapa dosen senior yang kumintai pendapat tentang berbagai hal di kampus ini. Mereka tidak bisa berkomentar banyak, selalu bermain kata-kata menutupi rasa takut yang sangat. Jangankan mencari solusi, membicarakan salah satu kegiatan di luar mata kuliah saja, dosen-dosen yang kuajak bicara hanya merapatkan telunjuk ke bibirnya. Diam. Mereka hanya berani berbicara dengan mata dan berteriak dengan telinga.

Pada jam-jam tertentu, aku suka berbaur dengan mahasiswa, di kantin, perpustakaan, selasar kampus atau di mana saja, itupun hanya dengan mahasiswa yang mudah diajak bicara, kalaupun mereka ingin berbicara denganku mereka lebih memilih beramai-ramai, jika sendiri, mereka pasti menghindar, takut dicurigai oleh senior mereka. Mudah saja buatku membedakan antara mahasiswa yang mudah didekati, mana yang tidak. Tiga tahun, sudah sangat cukup mengenal mereka sedekat itu. Jarak umur yang tidak terlalu jauh, memudahkan aku untuk nyambung dengan tiap menit pembicaraan mereka. Tidak sedikit mereka mengajak aku diskusi untuk sebuah issue salah satu mata kuliah yang sebenarnya tidak kumengerti. Mereka berusaha menciptakan chemistry antara mahasiswa dengan dosennya, yang dalam sejarah tidak pernah terjadi di kampus ini.

 

Ada salah seorang mahasiswa yang sangat dekat denganku, panggilannya Andri. Tanpa sepengetahuan mahasiswa lain, aku mendapatkan informasi dari Andri, seluruh kegiatan tak lazim di luar jam kuliah atau atas persetujuan kampus. Kali ini, Andri merasa sedang diawasi sehingga ia tidak bisa menemuiku di suatu tempat, tempat yang tidak kami tentukan, bisa berpindah-pindah, tergantung situasi, jarang sekali aku dan Andri bertemu, komunikasi hanya melalui pesan singkat, kalaupun salah satu dari kami ada yang kehabisan pulsa, layaknya seorang detektif, Andri akan meninggalkan kertas dengan segala informasi di dalamnya, lalu disisipkan di sebuah buku milik perpustakaan kampus dengan sebuah kode yang aku terima hanya sekali melalui sms atau menggunakan isyarat tangan seperti yang dilakukan para atlit baseball.

Ringtone pesan singkat ponselku berdering, benar saja, Andri mengirimkan kode di mana informasinya berada. Dengan membaca kodenya saja aku langsung tahu di rak mana ia menyimpan informasi yang dimaksud. Satu tahun, aku pernah menjabat sebagai pengurus perpustakaan di luar jam mengajarku. Bukan suatu kendala bagiku untuk membaca kode dimana rak khusus buku-buku sastra yang jarang disentuh mahasiswa berada.

Tidak dalam sejam, informasi sudah pindah ke tanganku. Sehelai sobekan kertas berukuran A4 yang dilipat menjadi kecil. Namun tidak langsung kubaca, demi menghindari kemungkinan adanya mata-mata, aku mampir ke kantin kampus terlebih dahulu, hanya sekedar melepas dahaga sebelum ke tempat tinggal sementara sebutlah wisma para dosen, yang berada kurang lebih dua ratus meter dari tempat aku minum sekarang.

Pukul sebelas malam ini, di saat mahasiswa diharuskan tidur dan tidak boleh berkeliaran di dalam kamar apalagi di luar kamar, asrama di mana Andri tinggal, mendapat giliran inspeksi mendadak dari para seniornya. Ditambahkan, seluruh ponsel mahasiswa yang akan dikunjungi akan disita sementara dan terdengar selentingan kabar dari asrama yang pernah didatangi, ponsel tidak akan pernah dikembalikan.

Aku berusaha menghubungi dosen yang bisa dikatakan dekat denganku. Setelah aku beritahu perihal sidak yang akan dilakukan senior kepada junior, Jawabannya,

“itu sudah tradisi. You dapat informasi dari siapa?”

Untuk yang satu ini, aku harus berbohong, demi keselamatan Andri.

Setengah jam sebelum pelaksanaan sidak para senior, aku mencoba keluar kamar, berjalan perlahan, menuju asrama Andri. Seratus meter sebelum mencapai asrama, aku ditegur pihak keamanan kampus yang sepertinya sengaja dipersiapkan untuk mencegat dan menjaga siapa saja yang akan mendekati asrama, ingin sekali aku melihatnya dari dekat, karena selama aku mengajar tindakan kekerasan yang terjadi di dalam asrama tidak pernah aku lihat secara langsung. Dengan penjagaan yang lumayan ketat, sudah pasti tindakanku hanyalah sia-sia belaka. Dengan berat hati, kubawa rasa gundah yang mendalam kembali ke peraduan.

Walaupun kurang tidur, kupaksakan diriku untuk siap mengajar sebelum pukul delapan. Dengan rasa penasaran yang sangat, kulewati asrama yang telah disidak. Semua penghuninya sudah siap menuju kelas dengan seragam yang dikenakan, begitu dekat, tampak ada keanehan, mereka seperti menjadi patung. Diam, tak bergeming. Kuhampiri mereka,

 

“ada apa? Apa yang terjadi?”

 

semua diam. Menutup diri. Kulihat Andri memberi isyarat agar aku mengikutinya.

 

“Teman sekamarku, semalam dibawa mereka, paginya, ditemukan sekarat dekat kebun percontohan kampus.”

Bertepatan dengan jam makan siang, diberitakan melalui pengeras suara kepada seluruh mahasiswa untuk berdoa bersama, mengiringi kepergian seorang mahasiswa untuk selama-lamanya akibat serangan jantung. Serangan jantung? Andri menjelaskan, ketidak-mungkinan temannya yang sangat giat berolahraga mendapat serangan jantung.

Keesokan harinya, kami menghadiri prosesi pemakaman. Dari dosen hanya aku yang datang. Rektor hanya menitip ucapan belasungkawanya kepada keluarga yang ditinggalkan. Selesai mengucapkan pidato penghormatan terakhir tentang attitude yang baik dan suka duka selama berteman dengan almarhum, Andri perlahan pergi meninggalkan kerumunan pelayat. Kulihat Andri menjauh, lalu menghampiri sebuah makam yang masih baru dengan beraneka warna bunga di atasnya. Andri mengambil segenggam bunga di atas makam lalu ditaburinya kembali. Setelah itu Andri pergi menghilang, kembali ke asrama. Ada hubungan apa antara Andri dengan makam itu? Keluargakah?

Seminggu berlalu, aku tidak lagi mendapat kabar dari Andri, semoga tidak ada lagi tindak kekerasan yang terjadi.

Dua minggu kemudian, aku mendapat kabar, kali ini bukan dari Andri, kabar hilangnya seorang mahasiswa dari asrama. Lagi?

Aku lemas, degup jantungku seperti berlari menggantikan kaki-kakiku, setelah diketahui siapa yang hilang. Andri! Ya Tuhan! Semakin tidak semangat saja aku mengajar, tidak perduli dengan tanggungjawab yang ku-emban. Tidak perduli dengan hadir tidaknya mahasiswa di mata kuliahku. Bagaimana aku bisa perduli, sejuta mata kuliah pun yang mereka pelajari tidak akan ada gunanya jika pada akhirnya tidak bisa meneruskan ilmu yang didapat ke generasi berikutnya. Ilmunya hanya cukup sampai di sini.

Tiga hari setelah menghilangnya Andri, aku mendapatkan paket dengan cap pos, bertuliskan ‘teruntuk sahabat’ beserta alamat dan namaku dibawahnya, kucari nama si pengirim di kertas tanda terima, karena di paketnya hanya bertuliskan dari ‘perjuangan tanpa akhir’. Di tanda terima bertuliskan. Wahyu Andrian. Air mata sudah tidak bisa tertahan lagi, melihat nama seorang pejuang kebenaran. Seorang sahabat. Aku terduduk lemas. Kubuka paket setipis Compact Disk. Benar saja, sebuah VCD bertuliskan ‘tragedi’. Tanpa berpikir panjang, kusetel di komputer. Tampak jelas. Kejadian penyebab kematian teman Andri beberapa minggu lalu. Tanpa sepengetahuan siapapun termasuk aku, Andri merekam seluruh kejadian penganiayaan temannya dalam durasi lima menit. Kubaca surat yang menyertai bukti nyata tersebut.

‘Teruntuk sahabatku, pejuang kebenaran, ini salah satu bukti nyata, tanpa tercatat dalam sejarah pun, kita harus merubah budaya tindak kekerasan yang terjadi di dalam kampus. Kita tidak tahu kejadian-kejadian sebelumnya, mintalah bantuan kepada pihak di luar kampus, mungkin pada saat dibacanya surat ini aku tidak bisa lagi membantu perjuangan ini. Selamanya.’

Terhenyak untuk kesekian kalinya. Aku merasakan gelap di ruangan tamu yang terkena sinar matahari. Seperti sebuah lilin yang akan padam tertiup angin dan akan padam dengan angin yang tidak terlalu kencang.

Aku bertemu dengan dosen lain, ijin keluar kampus untuk sebuah alasan yang kubuat-buat, urusan keluarga. Tanpa menunggu birokrasi benang kusut. Aku pergi mendatangi kantor kepolisian, menceritakan kejadian kepada level tertinggi kepolisian yang kudatangi. Aku tidak ingin dilayani oleh level terbawah yang lain. Aku sangat kecewa, tidak ada satupun level tertinggi kepolisian yang hadir atau…ada tapi tidak mau menemuiku? Bagaimanapun kejadian ini harus dilaporkan. Kuceritakan semua kejadian yang aku lihat langsung lalu kuserahkan bukti yang mendukung berita kematian mahasiswa dan menghilangnya Andri kepada aparat yang sedang piket. Aku kembali ke wisma para dosen beberapa jam sesudahnya. Agar tidak dicurigai aku membawa penganan yang mudah di dapat di sekitar kantor polisi.
Hari demi hari, dua hari, lima hari, sampailah aku di hari yang sama pada saat aku melaporkan semuanya. Sudah seminggu lamanya aku menunggu. berapa lagi mahasiswa yang akan hilang dan meninggal dengan menunggu seperti ini. Tidak ada kepastian. Dalam gelisahku kubaca lagi surat yang Andri kirimkan. Tiba-tiba, ponselku berdering, tidak ada nama, hanya nomor lokal yang tampil di layar ponsel. Ternyata dari kepolisian.

“Kami sudah menemukan Andri seperti yang Anda laporkan kepada kami beberapa waktu lalu.”
“Bagaimana keadaannya, Pak? Apakah dia baik-baik saja? Saya ingin sekali bicara dengannya.”
“Maaf, Pak. Andri yang Anda maksud sudah tidak bisa bicara lagi. untuk selama-lamanya. Jasad andri sudah dijemput keluarganya pukul delapan tadi pagi.”

Jantungku berhenti sesaat lalu berdegup sangat kencang, pasti ini akibat tindakan para seniornya yang semena-mena terhadap Andri.
Pada saat aku keluar meninggalkan kampus untuk prosesi pemakaman pejuang kebenaran, Andri. Mobil kejaksaan dan kepolisian memasuki areal kampus. Semoga perjuanganku dan Andri tidak sia-sia dan akan lahir Andri-andri baru yang dapat merubah predikat kampus menjadi lebih baik.

Almarhum Andri dimakamkan di pemakaman yang sama dengan teman Andri yang lebih dulu pergi untuk selama-lamanya. Setelah memberikan pidato penghormatan dengan menceritakan perjuangan dan sifat-sifat baik seorang Andri. Akupun mengunjungi makam temannya sekedar menjenguk dan menaburi bunga di atasnya. Ada rasa rindu dan perduli terhadap anak didik meskipun sudah pergi untuk selamanya, bertemu Sang Khalik. Aku lalu menatap dari kejauhan makam Andri yang masih dikerumuni sanak famili dan orang-orang terdekatnya di kampus. Kutatap lama makamnya, menunggu kerumunan di samping makam sepi untuk sekedar mengucapkan kata-kata persahabatan dan melanjutkan perjuangan untuk mencapai kebenaran yang hakiki di makam Andri. Deja Vu! Aku seperti pernah melihat makam Andri sebelumnya, tapi ini kali kedua aku datang di pemakaman ini. Ya, aku ingat, pada saat temannya Andri meninggal, Andri menabur bunga di makam itu. Makamnya sendiri.

(Salam rindu untuk adikku Almarhum Wahyu Andrian dan selamat jalan kepada teman-teman korban kekerasan di IPDN, yang pergi untuk selama-lamanya dengan membawa kebenaran).

3 Responses to “Menabur Bunga di Makam Sendiri”

  1. on 29 Nov 2007 at 16:29stupid_boy

    IPDN BRENGSEK! buat jadi orang2 pemerintahan aja mesti ngebantai adik kelas sendiri….padahal mereka yang telah almarhum pastilah orang-orang yang bisa ngangkat moral negara ini……..

    nb : turut prihatin dengan kejadian ini…

  2. on 22 Mar 2008 at 13:25Blankzoul

    MaKaci yah Udah ngebagi’in Critanya pada Kita semua,,,,

    Hati aku juga ter’iRis ngebaca’nya……
    dan SeKaRang KebeNaran itu Akhirnya terungkap…..
    SeMoga Ga’ ada lagi kejahatan seperti ini lagi…..

    tuRut B’duka Cita buat semua Korban kekerasan IPDN,semoga kalian dapat jalan yang t’Baek d’Sisi Tuhan, (amiien…)

    and…
    Makaci JuGa BuAt p’Juangan Kalian Yang Mencoba Buat ngungkapin kebenaran…….

    good Bless you’

  3. on 22 Mar 2008 at 13:27Blankzoul

    Ma’af maksudnya “GOD bless you”!!

Tinggalkan Komentar