KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Malam Eksekusi

Kalian telah sampai di tepi hutan itu. Derum mobil jeep mereda. Ia menyuruhmu keluar dari mobil. Seorang di belakang stir mobil menyulut rokok dan membiarkan pintu terbuka. Lampu mobil yang padam seketika menghadirkan gelap, menembus waktu yang genting. Kau berdiri meregangkan kaki setelah perjalanan yang tidak mengenakkan. Di belakangmu, seorang mengokang pistol untuk memastikan semuanya, meminta bungkusan rokok dari temannya, lalu menyuruhmu mulai berjalan masuk ke kedalaman hutan. Hanya ada lampu senter sesekali menerangi jalan ketika kalian mulai melangkah di antara pohon yang tidak pernah tertidur, bernafas dengan hela yang merayap di kulitmu. Kau tidak tahu berapa lama lagi kau akan sampai pada tempat terakhir. Dan kau tidak hendak bertanya. Ia berjalan di belakangmu dengan langkah yang tetap.

Hutan dengan pohon yang agak jarang. Rumputan kecil. Kau seperti teringat pada sesuatu. Tanah merah, hutan karamunting. Masa kecil yang sepi di dusun pinggir kali.

Kerjap pemantik disusul aroma tembakau yang terbakar. Kau menoleh dengan ragu. Apakah aku bisa meminta sebatang untukku? Ia menatapmu sejenak lalu menyelipkan rokok di bibirmu. Kau berkata kau tidak akan lari bila ia mau melepaskan ikatan tangannya. Hanya untuk menikmati kepulan asap-asap terakhir. Anehnya ia dengan ringan menuruti kemauanmu, mungkin ia cukup percaya diri dengan pistol di tangannya, atau ia melihat sejenis fatalisme dalam sikapmu.

“Berapa lama lagi kita akan sampai?”

“Kau akan tahu bila melihat lubang besar yang disediakan untukmu.”

“Kenapa tidak kalian biarkan mayatku membusuk atau dimakan binatang?”

“Tidak ada lagi anjing liar atau macan di hutan ini.”

“Aku tidak pernah melihat macan. Apakah kau pernah melihat macan? Maksudku di hutan liar, bukan di kebun binatang atau apalagi di TV.”

“Aku pernah melihat macan.”

“Lucu bahwa kita tidak punya cukup waktu untuk bisa melihat semuanya. Aku selalu bermimpi untuk pergi ke Kutub Selatan dan melihat aurora boreales, Gelora yang berasal dari dunia yang berbeda.”

Dingin malam semakin menusuk. Kau meniup-niup telapak tanganmu sekedar untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Bermain-main dengan uap putih yang keluar dari hidungmu. Kau bertanya-tanya berapa banyak orang sepertimu yang berakhir di tempat ini. Apakah kau akan bisa saling bercerita di kehidupan lainnya? Kau tersenyum geli, mungkin bisa kau sebut sebagai komunitas penghuni hutan… kau bertanya-tanya nama hutan ini. Kau tidak pernah bisa menghapal nama pohon, semuanya tampak sama saja. Kecuali pohon pisang atau ubi atau randu. Ada dua batang randu di rumah masa kecilmu yang selalu menjerit-jerit bila malam tiba. Kau selalu terpesona oleh bayang samarnya, menyaru di antara gelap langit. Tidak ada listrik waktu itu. Waktu yang begitu jauh.

Ia mengeluarkan sebatang coklat dari saku baju. Memotong persis di tengah dan menyodorkan setangahnya kepadamu.

“Terima kasih. Boleh aku memesan kopi panas?”

Ia tidak menanggapi gurauanmu. Tapi kau tidak bisa berhenti tersenyum, dan kau menyadari sesuatu yang ganjil tengah meruap dalam dirimu, sejenis eforia yang tidak tertahan. Mencoba bermain dengan sedikit kendali terhadap ketentuan yang tidak bisa kau hindari. Upacara kecil seorang yang pergi.

Dering telephon genggam mengembalikan seluruh dunia.

“Halo.”

“Aku sedang bertugas.”

“Tidak mungkin. Lagipula tidak ada lagi toko yang buka selarut ini.”

“Aku tidak bisa.”

“Sebentar lagi, aku usahakan.”

“Cobalah kasih air teh.”

Kau tertawa mendengar pembicaraan mereka.

“Kau tidak bisa membohongi bayi.”

Ia tersenyum sambil menyumpah.

“Brengsek, malam-malam begini tidak ada lagi yang jual susu. Repot kalau punya istri manja. Padahal ia bisa sebentar pergi ke tetangga untuk minta sekedar segelas susu.”

Kau berkata bahwa tidak punya istri akan lebih repot lagi ketika kau sudah tua dan kelabu dan pengantuk1. Terlalu banyak yang tidak bisa dikerjakan lelaki sendirian.

Ia bertanya apakah kau sudah beristri.

“Seharusnya kami akan menikah tahun ini. Semuanya sudah direncanakan.”

“Ya? Kamu terlalu tua untuk seorang yang baru mau menikah.”

“Ya, begitulah. Terlalu banyak keraguan. Padahal terlalu sedikit pilihan. Kamu tentu mengerti.”

“Aku kira begitu.”

Kau bertanya berapa banyak anaknya. Ia berkata ia baru memiliki satu orang bayi yang baru berumur setahun lebih. Sangat merepotkan. Dan mahal. Dan ia terlalu sering meninggalkan mereka.

“Aku harap keadaan akan berubah, dan ada pekerjaan yang lebih mudah di mana aku bisa pulang ke rumah setiap sore untuk bercinta dengan tekun dan melihat anakku tumbuh.”

Kau berpikir artikulasi kalimatnya cukup cerdas untuk seorang yang bekerja sebagai pembunuh.

“Laki-laki?”

“Perempuan. Jauh lebih merepotkan, bukan?”

Kau tertawa.

“Yang menakutkan adalah ketika kau melihatnya tumbuh dan suatu malam seorang lelaki ingusan mengetuk pintu rumahmu untuk mengajak anakmu berkencan. Dan kamu sungguh tidak tahu apa yang akan kau lakukan.”

“Ya. Lelaki seperti kita 15 tahun yang lalu.”

Kau cukup terhibur dari dingin dan suara-suara binatang malam yang menakutkanmu. Kesunyian yang akan melingkupimu di hari-hari yang akan datang. Apakah yang tertinggal di hutan ini selain tubuhmu yang akan membusuk? Kau berusaha untuk mengalihkan perhatianmu dari apa yang menunggumu. Berjalan dengan takjim, melangkahi akar-akar yang melintang dengan terlalu sedikit cahaya. kau merasa telah mengingat tempat ini di waktu yang jauh. Kau bertanya-tanya apakah kau pernah di sini sebelumnya. Mungkin setiap orang telah melihat akhir yang lewat sepintas tanpa kau sadari.

Kau bertanya apakah kau bisa meminta sebatang rokok lagi. Ia menyodorkan bungkusan rokoknya yang segera kau sambut dengan perasaan terima kasih yang berlimpah. Kau menikmati setiap kepulan asap yang mengambang dan hilang dalam gelap. Pacarmu selalu marah bila melihat kau terlalu banyak merokok. Tapi bukan rokok yang akan membunuhmu malam ini. Kau tersenyum dengan lirih. Sedang apa dia malam ini?

Ia mendorong bahumu, menyuruhmu untuk berjalan lebih cepat.

“Aku harus menyelasaikan urusan ini dan lapor pada atasanku supaya bisa pulang cepat.”

“Maaf bila aku mengganggu rencanamu,” kau berkata dengan sengit.

“Semua orang meminta maaf dan terus membunuh.”

“Seharusnya aku yang mengucapkan itu.”

“Maaf.”

Kau melirik dia sepintas. Ia mungkin sedikit lebih muda darimu.

“Sudah berapa banyak yang kau bunuh?”

“Aku berusaha untuk tidak memikirkan itu.”

“Seperti apa rasanya: membunuh?”

“Kau harus membunuh untuk bisa tahu. Aku tidak bisa menggambarkan itu.”

“Aku pernah membunuh banyak sekali ayam kampung. Waktu kecil ketika membantu ibuku menjual ayam potong di pasar subuh. Sudah lama sekali. Sudah hampir kulupakan.”

“Mungkin sama saja. Seperti membunuh ayam kampung.”

Kau tertawa getir mengingat ayam yang berkelojotan ketika pisau di tanganmu menyayat lehernya. Dua puluh bahkan sampai tiga puluh ekor dalam satu malam. Kini kau tidak pernah lagi memakan daging binatang. Menjadi seorang vegetarian yang khusyuk. Entah apakah itu ada hubungannya.

“Semoga tidak hujan malam ini. Terlalu merepotkan.”

Kau menatap langit. Terlalu gelap. Tidak ada bintang. Kau berharap bisa melihat bintang. Membayangkan mereka sebagai mata yang terus menatapmu.

“Apakah mereka memberimu bayaran lebih untuk pekerjaan ini?”

“Tidak. Celaka, bukan? Sejenis kesialan yang harus ditanggung dengan begitu banyak resiko. Aku rasa aku membencimu hanya karena itu. Aku tokh tidak benar-benar tahu apa yang sudah kau lakukan hingga kau berakhir di tempat ini.”

Kau tercenung. Berapa banyak pertemuan adalah akhir bagi yang lain. Seorang pengendara mobil yang menabrak orang yang tak dikenal di jalan yang gelap. Kecelakaan yang seolah begitu murni. Tanpa petunjuk tentang sebuah alur yang telah ditentukan. Dan terlalu sedikit yang bisa diketahui manusia. Dan kau tidak pernah mengetahui namanya. Dan kau tidak tertarik untuk tahu.

Kilatan kecil bergerak di kejauhan. Kau menajamkan penglihatan, berusaha untuk mengetahui sasuatu di kegelapan.

“Apakah itu macan?”

“Tidak ada macan di tempat ini. Mungkin hanya musang. Aku pernah memelihara yang seperti itu. Pemangsa kecil yang sebenarnya bisa cukup menghibur. Aneh bahwa seekor karnivora bisa dididik untuk begitu patuh. Ia tidak pernah memakan ayam peliharaan kami. Hanya memakan daging yang sudah aku persiapkan untuknya. Daging ayam yang matang.”

“Ya. Maksudku, kucing juga adalah pemakan daging, bukan? Tapi si hitam peliharaanku Cuma makan tempe dan nasi setiap hari. Terutama karena aku seorang vegetarian dan tidak pernah ada daging di rumahku.”

“Sejenis kepatuhan yang menakutkan. Apakah mereka akan kembali menjadi seekor pemangsa bila dilepas di hutan liar?”

“Mereka tidak akan bertahan di luar sana.”

“Apakah ada binatang pemakan tumbuhan yang berubah menjadi seekor pemangsa?”

“Sayang sekali aku belum pernah menemui hal seperti itu.”

Ia menghentikan langkahmu.

“Kita sudah sampai.”

Kau melihat sebuah lubang galian tidak jauh dari kakimu. Kau tercekat melongok ke dalam. Lubang itu nampak terlalu sempit untukmu. Mungkin ia harus melipat kakimu agar kau bisa terkubur dengan sempurna. Kau berusaha untuk mengosongkan pikiranmu.

“bisakah kau menunggu sebentar? Aku rasa aku membutuhkan sedikit do’a.”

Ia katakan ia akan menunggu.

Tinggalkan Komentar