Hijau Berbisik
November 18th, 2007 by eno
Riuh sorak-sorai pelajar SMP Brawijaya, menyaksikan pertunjukan sulap, yang menjadi tradisi awal tahun penyambutan murid baru. Aku lah ketua panitianya, Febrian Aquarielius, sebut saja Rian. Sebenarnya aku tak mengharapkan masuk sekolah ini, tapi apa mau dikata, walau tak suka aku tetap harus masuk. Karena nilaiku tak cukup untuk masuk ke sekolah favoritku. Padahal aku terbilang murid yg pandai di sekolah. Tapi sangat disayangkan, di akhir kelulusanku, nilai-nilaiku mulai turun. Mungkin karena aku tak bisa menerima keputusan orangtuaku untuk mengakhiri pernikahan mereka. Siapa yang tak sedih dan terpukul. Aku merasa iri dengan teman-temanku. Kenapa mereka bisa mempunyai keluarga yang utuh.
Hingga usiaku menginjak lima belas tahun, aku tak punya pacar. Bukannya aku tak pernah ditaksir lawan jenisku. Tapi aku trauma. Kadang aku mempertanyakan pada diriku. Kenapa mereka merajut kasih dan menikah dengan janji setia seumur hidup? Toh akhirnya mereka tak dapat menepatinya. Aku pun heran dengan teman-temanku yang sudah pacaran sejak SD, bahkan ada yang dari kelas tiga. Mereka bilang,”Cinta itu datangnya dari mata turun ke hati.” Mata? Bagaimana bisa? Aku sering melihat lawan jenisku, tapi aku tak merasakan apa-apa. Tak ada cinta. Cinta itu non-sense. Toh, pada akhirnya cinta itu hilang, meleleh seperti es. Di terpa panas, termakan masa.
“ Dor…,” lamunanku buyar,” Kenapa sih loe? Ada masalah?Cerita, dong!”
“ Gak ada apa-apa kok Rei. Udah ke toilet?” Rei mengangguk. Ia sahabatku. Dia tuh chubby, bikin gemes. Seandainya ia lebih kurus, pasti banyak cowok yang naksir, cantik sih. Rei seperti diriku, trauma cinta. Ketika duduk di kelas empat SD, ia pernah jatuh cinta. Bisa dibilang love at first sight. Gayung pun bersambut, Rei dan Doni berpacaran. Hingga suatu ketika, ia melihat Doni bergandengan mesra dengan Clara. Rei pun tahu alasan Doni mau berpacaran dengannya. Doni hanya ingin dapat nilai bagus saat ujian. Rei menangis dalam pelukanku, ia pun mengutuki perbuatan bodohnya. Hatinya lebih sakit saat Clara berkata padanya,” Eh, gendut! Loe jangan harap dapet Doni. Ngaca dulu! Dasar gendut!”
-
-
-
* * *
-
-
Entah mengapa jari-jariku terus bergerak, ingin menulis sesuatu. Selang beberapa menit, jadilah sebuah guratan pensilku. Ya, bisa dibilang puisi amatiran.
Dengarlah hijau berbisik
Biru itu mengisyarat
Merah mengalir menjadi gelap
Putih jadi isak yang memilukan siapapun
Sadarkah hadirku
Saat sepi melanda relung jiwa
Saat masa seakan hilang
Meninggalkan misteri
Yang tak kan pernah terungkap
Adakah tanya dalam relung
Di mana gerangan bersembunyi
Ataukah menghilang
Bersama tanya
Yang hadir saat termenung menatap merah
Mendengar hijau
Memahami biru
-
-
-
- * * *
-
-
“ Yan, Rian! Bangun adikku manis.”
“ Ah…Abang ganggu aja, ngantuk nih,” ku tutupi kepalaku dengan selimut Sailor Moon hijau, kesukaanku. Dhana, abangku, wajahnya mirip kakek, berwibawa, tampan, dan memiliki warna mata yang indah, hijau, warna kesukaanku. Kebiasaanku memandang jauh ke dalam matanya, membuatku nyaman, sejuk, damai, tapi penuh misteri. Tak heran banyak kaum hawa yang mendambakannya. Ironisnya tak satupun yang ia gandeng. Seperti apa ya, perempuan idamannya? Pernah hal itu ku tanyakan padanya. Tapi ia hanya tersenyum dan balik bertanya padaku. Menyebalkan.
Malam pun menjelang. Tok…tok…pintu kamarku diketuk.
“ Siapa? Masuk!”
“ Abangmu yang ganteng,” pintu pun terbuka.” Yan…,lagi ngapain?”
“Lagi tidur!” jawabku ketus
“ Tidur kok gak merem? Inget gak, sama tante Inke, istrinya om Raka?” aku hanya mengangguk,” dia punya keponakan yang namanya Keyla, inget gak?” melemparku dengan bantal, “ denger gak?”
“ Emmmm, denger. Itu kan, yang biasa dimasak tante Razwa, kan.” Aku dilempar dengan guling, “ Sakit tahu.”
“ Lagian dodol banget, sih. Heran kenapa bisa punya adek kaya loe, bunda ngidam apaan sih, bisa nelorin makhluk aneh kaya gini.”
Aku melihat ke dalam matanya. Ada sesuatu yang beda. Binar matanya sepert,” Aha…, abang suka ya, sama Keyla.” Abang menggelengkan kepala,” udah ngaku aja,” aku terus menggodanya. Tapi ia tak mau mengaku.
“ Gak, kok! Cuma mau tau seberapa dangkal otak loe.”
“ Jangan bohong. Mata gak pernah bohong. Mata mengisyaratkan perasaan kita. Mata cerminan jiwa. Mata dapat mengungkapkan hati yang tersembunyi. Tak seperti bibir yang dapat bohong, seperti lagu,… lain di bibir lain di hati…” aku mengikuti irama lagu.
“Udah sana tidur, dah malem! Nanti kesiangan, Abang gak mau nganter.” Lampu dimatikan. Abang pun ke kamarnya.
* * *
Genap dua tahun Abang berpacaran dengan Keyla. Rei pun sudah berpacaran. Saat ini tak ada yang selalu menemaniku pulang sekolah atau sekedar jalan-jalan. Sepi. Aku masuk ke kamar Abang, kamarnya berantakan tumben. Entah mengapa mataku tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di sudut meja. Ku baca dan ternyata…
Dingin merasuk tubuhku
Menusuk tulang
Relung hati pilu
Bagai di iris sembilu
Anganku hancur lebur
Saat ku tahu kau bersemara dengan kumbang lain
Kesetian dan penantian pajangku sia-sia belaka
Aku tak tahu kenapa Abang menulis ini, tak biasa. Dia kan gak bisa nulis puisi. Ah, mungkin dia nyontek dari karangan orang lain. Dering telepon membuat ku terpaksa menuruni tangga, menuju ruang keluarga. Saat ku angkat. Aku terperanjat, tante Razwa memberitahukan, bahwa Abang kecelakaan. Aku shock. Aku cepat-cepat menuju rumah sakit dengan taksi. Aku langsung bertemu tante Razwa di depan pintu masuk rumah sakit. Tante berusaha menenangkanku. Aku melihat sosok yang aku sayangi terkulai tak berdaya di bangsal. Hatiku pilu. Aku menatapnya. Haruskah aku kehilangan orang yang ku sayang. Tak bisakah aku melihat mata hijau penuh misteri itu lagi. Ya, Tuhan aku mohon selamatkan mata hijauku. Saat dalam dekap tante, ia cerita penyebab Dhana kecelakaan. Sungguh aku tak menduga goresan di secarik kertas itu, ungkapan hati yang dikhianati. salah apa, Abangku, Keyla? Hingga kau tega mengkhianatinya. Membuatnya terluka. Aku mengutuki perbuatan mu. Aku teringat dengat puisi yang aku buat, ku tersadar arti goresan itu. Mungkinkan mata hijau itu memanggil kehadiranku saat kecelakaan terjadi, walau goresan itu telah lama aku buat. Ya, Tuhan selamatkanlah mata hijauku, aku berjanji akan menjaga dan mendengarkan kegelisahan hatinya. Ya, Tuhan aku mohon. Tante Razwa pun turut memohon. Kami hanya bisa berdoa untuk keselamatan jiwa yang koma. Kami percaya bahwa doa bisa mengubah semuanya, asal kita bersungguh-sungguh dan percaya bahwa Tuhan akan mengabulkannya.
* * *
Bikinin gw lirig tar maw gw bikin lagu.Hbngi gw y:085697755287.Masnok