Fe Bahagia Bersama Bayangannya
November 18th, 2007 by klikharry
Hujan besar di tengah malam itu baru habis berlalu. Teras rumah itu masih basah, rumput-rumput di sepanjang halaman depan dipenuhi bintik air dan tampak berkilau diterpa cahaya bulan yang sudah berani mengintip di balik arakan awan malam. Di bagian luar pagar masih tergenang air hujan sepanjang malam. Di tengah malam buta seorang pria keluar dari dalam rumah, berlari kecil menghindari rintik hujan yang bersisa. Sebuah mobil sedan hitam masih terparkir di luar pagar. Pria itu masuk ke dalam mobilnya, ia memandang kembali bayangan hitam yang memperhatikannya dibalik jendela. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum, setelah itu pergi menyisakan percikan air di dinding pagar.
Sementara dari balik jendela itu seorang wanita dengan pakaian tidurnya masih tetap melambaikan tangannya perlahan walaupun mobil itu telah berlalu dari halaman depan rumahnya. Matanya yang beberapa jam sebelumnya berbinar terang kini tampak merah dibasahi air mata. Ia bersihkan gulir air yang mengalir di kedua bilik matanya dengan kedua punggung tangannya. Ia balikkan pandangannya ke sofa merah tempat mereka bergumul malam tadi. Ia langkahkan kakinya menuju ke sofa itu, merebahkan tubuhnya yang masih sangat lelah disertai rasa pedih karena perlakuan pria liar itu. Dari atas sofa itu dirinya memperhatikan jam dinding yang berdetak dan berganti detik perlahan. Fe, nama wanita itu, masih saja mengeluarkan air dari dalam bola matanya.
“Dengan apa aku melamarmu, Fe? Uangku belum ada untuk membawamu..” kata laki-laki yang bernama Ropi itu.
“Kamu bohong, aku tahu kamu bohong. Aku ingin segera pergi dari tempat ini, memulai hidupku yang baru bersamamu!” teriak Fe.
“Sabar sayang, ketika saatnya tiba engkau akan kubawa jauh dari sini, ke tempat dimana engkau bisa menjadi ibu dari anak-anakmu.”
Fe tampak serbasalah. Ia begitu saja terbawa emosi. Gamang sekali jiwanya ketika telah banyak temannya yang telah berkeluarga. Dan sampai hari ini dirinya belum menikah di usianya yang masuk tiga puluh. Justru dirinya tenggelam ke dalam perselingkuhan dengan Ropi, teman sekantornya yang selama ini selalu dianggap sebagai seorang yang bisa mencerahkan dan menemani dirinya.
“Kau harus tau Rop, aku tidak mau terus seperti ini. Perempuan mana yang kau inginkan, istrimu sekarang atau diriku, mana mungkin aku mau jika engkau mau menduakanku!!” tandas Fe.
“Kalau engkau mau, engkau bisa jadi istriku. Tapi bila engkau ingin aku menceraikan istriku, maka butuh waktu untuk itu.” Balas Ropi.
“Sudahlah, jangan menangis lagi, tentu aku akan melakukan apa yang kau kehendaki.” Ujar Ropi yang tidak sanggup menatap wajah Fe yang tampak sembab.
Tanpa sadar, Fe kemudian terlelap di atas sofa merahnya setelah lelahnya semalaman tadi.
Malam itupun berlalu, tanpa terasa Fe begitu lelap dalam tidurnya. Azan subuh sama sekali lewat dari pendengarannya, bahkan kokok ayam pagi sama sekali tidak mampu mengusik tidurnya. Fe baru dapat terbangun setelah alarm jamnya menjerit di sisi telinga kanannya. Fe membuka matanya, matanya berat, ia kemudian menuju ke kamar mandi sambil memijit-mijit kepalanya yang masih terasa pusing karena tidurnya yang begitu singkat.
Suasana jalanan masih seperti biasanya, bising dan dipenuhi oleh asap kendaraan. Motor melaju semau mereka, tidak hanya itu, bus kota saling salip-menyalip di tengah jalanan padat. Baru beberapa meter mobil Ropi melaju, bus kota menyalip dan berhenti mendadak di depan mobilnya. Ingin rasanya Ropi keluar dari mobil dan memecahkan kaca bus kota itu. Untungnya Ropi masih sadar dan melupakan kejadian itu. Ia kembali melajukan kendaraannya. Dari kerut dahinya tampak jelas jika ada kemelut di dalam pikirannya.
“Ah… mengapa aku bisa terjebak seperti ini. Tidak seharusnya aku melakukan hal bodoh itu. Fe, mana mungkin aku sanggup meminangmu apalagi menceraikan istriku.” Teriak Ropi dari dalam hatinya.
***
Klub malam masih dipenuhi hingar bingar. Kedatangan VJ dari Jakarta benar-benar membuat gemuruh lantai disko malam itu. Lampu gemerlap berwarna-warni menambah seru malam minggu kali itu. Tidak begitu bagi Fe, ia malah sibuk bermain dengan air di dalam gelasnya. Kadang diaduknya ke sebelah kanan, kadang diaduknya ke sebelah kiri, memperhatikan ombak kecil dan gelembung yang muncul di dalam gelas. Baginya, malam itu dunia sangat sepi. Ia benar-benar menikmati kesendiriannya bersama gelas minumannya hingga ia melihat Ropi datang dengan muka murung. Fe hanya tersenyum ketus, seolah ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Ropi kepadanya.
“Aku sudah tahu, memang aku adalah perempuan bodoh.” Kata Fe.
“Tapi sungguh aku tidak mau berpisah denganmu, jika kau mau kebutuhan hidupmu bisa kutanggung.” Jawab Ropi.
“Maksudmu aku jadi simpananmu? Maaf, lebih baik aku mati daripada aku jadi simpananmu. Bahkan uang dari pekerjaanku pun bisa membiayai dirimu dan anak-anakmu!” teriak Fe. Fe berlari menuju pintu keluar sambil menghapus air mata yang keluar dari matanya, sedangkan Ropi hanya terdiam di atas meja, tidak memburu Fe.
***
Sekali lagi Fe menangis, menjerit sejadi-jadinya di dalam kamarnya. Ia meluapkan semua yang dikesalkannya kepada bantal, kasur, jam dinding, kalender, kursi, lampu dan semua barang di dalam kamarnya. Dalam sekejap, kamar tidunya jadi tak berbentuk. Ia duduk meringkuk di sudut kamar, kali ini tangisnya sudah tak begitu keras lagi, hanya tersisa basahan air di lantai. Ia tak berkata sedikitpun, matanya terpejam mengingat pesan orang tuanya.
“Hati-hatilah di kota Fe, jangan mudah percaya dengan orang lain.” Suara itu pernah mengingatkannya.
“Iya bu, Fe akan selalu ingat pesan ibu.” Jawab Fe di dalam stasiun keberangkatan kereta ketika itu.
Fe kembali menangis saat mengingat kembali perjumpaan pertamanya dengan Ropi, pemuda kota yang sangat ramah dan baik hati. Perjumpaan yang beberapa bulan yang terus berlanjut di atas ranjang.
“Maaf Fe, selama ini aku berbohong, sebenarnya aku sudah punya istri.” Ujar Ropi tanpa rasa bersalah sedikitpun setelah ia meniduri Fe malam itu.
Fe masih meringkuk di sudut ruangan ditemani gelap malam dan sayup bayangan goyangan dedaunan yang masuk melalui jendela. Sinar temaram bulan purnama di atas langit menembus dinding rumahnya. Fe kemudian berdiri, tertawa sekuat-kuatnya. Entah apa yang diberitahukan cahaya bulan kepada Fe. Fe bermain bersama bayangannya, bayangan itu membantu Fe melupakan semua yang terjadi, bukan hanya pada Ropi, tapi juga pada ibunya, adiknya dan semua teman-temannya. Ia berlari bersama bayangannya dalam ruang maya buatan mereka. Tak ada lagi yang mengganggu Fe kini. Di ruang maya itu mereka bebas berbuat apa saja sesuai keinginan mereka. Mereka bisa membuat bintang, mereka bisa membuat matahari, bulan, langit dan dunia mereka sendiri. “Biarkan aku bersama bayanganku.” Teriak Fe dari sisi bangsal rumah sakit jiwa. Fe kini bahagia bersama bayangannya.