KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Dia Masih Gadis

Perlahan air mataku mengalir menuruni lereng pipi. Hangat terasa membasuh luka yang menganga dalam hati. Ingin ku seka air mataku sendiri. Namun tanganku begitu kaku untuk melakukannya. Entah berapa banyak waktu aku habiskan untuk menangisinya, menyesalinya. Aku terlalu menyayanginya, mencintainya. Sangat.

      Ku pandangi fotoku dan Gadisku yang selalu ku taruh dibawah bantalku. Kupeluk erat, kucium mesra. Cinta itu masih begitu terasa. Masih membara membakar nurani dan asa. Aku takkan mampu untuk memilikinya kembali seperti dulu. Karena gadis ku memilih bersamanya. Bersama dirinya yang Tak ber bobot. Fuh!!!

      Aku sangat menyadari semuanya terjadi karena ego yang begitu tinggi ku pertahankan. Aku tak pernah menghargainya. Aku tak pernah perdulikan perhatiannya. Bahkan aku tak ingin tahu seberapa besar cintanya yang sebenarnya tanpa ku sadari membawa pengaruh besar dalam kehidupanku. Setidaknya, setelah Gadisku meninggalkan semuanya, hidupku terasa hampa.

      Aku tak pernah ingat kapan aku pernah membuatnya tersenyum. Karena aku tak pernah berpikir untuk itu. Aku tak pernah sadar jika hatinya terluka karena kata atau sikapku yang kasar padanya. Dan aku tak pernah mau mengerti tentang apapun yang menjadi ganjalan di hatinya terhadapku. Aku hanya menganggapnya sebagai alarm yang selalu mengingatkan aku makan, shalat, membangunkanku, atau mengingatkan apapun. Kadang aku merasa gadisku adalah senter yang aku butuhkan ketika lampu padam. Dan tak jarang aku memperlakukannya seperti kacung yang selalu menurut pada perintah tuannya. Tapi gadisku tak pernah mengeluh. Gadisku selalu tersenyum dan sabar.

          •       ***

      Aku merasa muak setelah dua tahun bersamanya. Kehadiran gadis dalam hidupku bukan merupakan sesuatu yang penting dan berarti. Gadis selalu mengingatkan ku tentang segala hal. Meskipun sangat membantu, tapi aku sangat tidak menikmatinya. Pernah ku coba ingin mengakhiri semua ini, namun selalu gagal.  Dan hari itu, aku dengan tegas mengakhirinya. Aku berharap tetap konsisten dengan mengambil keputusan itu.

      “ Dis, tau apa tujuan kita ketemu hari ini?” Kataku memulai pembicaraan.

      “ Kenapa?” Tanyanya .

      “ Aku pengen kita putus.” Jawabku singkat.

      “ Tapi kenapa Ar?” Tanyanya santai.

      “ Aku pengen sendiri aja” Jelasku singkat.

      “ Selalu begini.” Dengusnya kesal. ”Sebenernya Ar, aku punya salah apa sama kamu?”

      “Gak ada.”

      “ Terus, kenapa harus putus?”

      “ Kamu tuh kenapa sih bawel banget? Gak denger tadi aku ngomong apa?!!”

      “ Justru aku yang tanya kamu kenapa! aku heran deh sama kamu, kenapa sih suka ngambil keputusan sepihak dan tergesa-gesa? Ini bukan yang pertama Ar, tapi yang ke SEKIAN. Gak keitung tau gak!!! kamu udah kagak sayang lagi sama aku? Atau ada cewek lain? Aku bosen kudu putus, trus balikan lagi, trus putus lagi. Kagak capek apa gini mulu??” Aku dengar nafasnya terengah-engah menahan amarah yang dipendamnya dalam- dalam. Aku diam tak menjawab. Aku tak ingin menjelaskan apapun padanya saat itu. Dalam kepalaku tak ada kata- kata lagi yang mampu untuk ku ucapkan. Dan sekilas ku lihat Gadis menyeka air matanya. “ Kenapa Arga? Kamu gak bias jawab? Iya ?!! Kamu egois Ar! Kamu tahu, kamu gak akan bias survive tanpa aku. Ingat itu!!” Kata terakhir yang menutup pembicaraannya denganku hari ini.

          •       ***

      Aku pria hebat. Orang tuaku memberikan semua yang aku mau. Aku mempunyai banyak kelebihan dalam segala hal. Perpaduan  wajah Polandia- Indonesia semakin menyempurnakan kelebihan yang aku miliki. Banyak wanita yang menggilaiku. Dan bukan hal yang aneh jika setelah hubungan ku berakhir dengannya, segala tentang diriku tak pernah lepas dari pandangan para pencintaku.

      Saat itu, sederetan nama wanita yang katanya sangat mengagumiku tak pernah aku perdulikan. Gadis tak pernah mengejarku seperti wanita- wanita di sana. Aku bertemu dalam ekspedisi menaklukan Gunung Semeru tiga tahun lalu. Banyak wanita yang ku kenal selama perjalanan itu. Tapi entah mengapa Gadis yang ku pilih. Dia hanya gadis biasa yang tidak terlalu terkenal dan cantik. Tubuhnya tidak proporsional, rambut lurus yang selalu dikuncir dan kepalanya tak pernah lepas dari topi yang dekil, kulitnya pun hitam terbakar matahari.Tapi gadis itu bermata indah. Tidak punya kelebihan lain selain memasak dan menaklukkan alam. Memang, Gadis adalah wanita yang berkarakter. Tapi aku tak tahu, mengapa aku bisa menyimpulkan hal seperti itu. Entahlah aku selalu merasa Gadis adalah wanita yang aneh dan memiliki sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.

      Aku masih ingat ketika tim kami kehabisan makanan, Gadis memberi aku semangkuk sup yang terbuat dari akar berwarna coklat. Entah apa namanya benda aneh itu. Yang jelas rumput itu mampu membawa kami turun dengan selamat.dari Gunung Semeru tepat ketika fajar menyingsing. Dan di padang ilalang sore itu, aku nyatakan cintaku. Dan Gadis menyambutnya dengan kehangatan.

      Sejak awal pertama kami menjalankan apa yang disebut pacaran aku memang tidak pernah memberikan perhatian lebih tentang apapun padanya. Aku tak tahu dimana rumahnya, apa pekerjaan orang tuanya, bagaimana keluarganya, bahkan nama panjang dan tanggal lahirnya pun aku tak tahu. Aku hanya tahu dia pandai memasak karena selalu mambawakan aku makan siang yang enak, wanita perkasa yang mampu bertahan hidup dalam setiap kondisi dan tangguh menaklukkan alam, cuek dan JARANG MANDI. Sungguh berbeda dengan gadis kebanyakan yang selalu bolak-balik salon hanya untuk memanjakan tubuhnya. Gadis  adalah gadis teraneh yang pernah aku kenal.

      Suatu hari  Gadis pernah protes tentang sikapku padanya yang mungkin tidak selayaknya sebagai seorang lelaki bagi gadisnya. Aku hanya bilang “ kamu harus mencintai caraku mencintaimu. Inilah cara ku mencintaimu dan  Ini adalah cara terbaik yang bisa aku lakukan.” Dan Gadis hanya tersenyum.

      Aku ingat pernah membuatnya malu, senang, bahagia dan tersiksa. Entahlah bagaimana perasaannya. Yang jelas aku ingat bahwa hari itu dia begitu cantik. Aku tak pernah mengajaknya makan malam atau apapun itu. Tempat kita pacaran yang lebih tepat dikatakan ngobrol aja adalah di kandangnya, markasnya anak pencinta alam yang di sana sini dikelilingi tambang dan tas ransel butut yang bau. Tapi itu adalah tempat romantis menurutnya setelah dapur dan gunung. Satu hari aku mengajaknya untuk sekedar minum kopi. Sore itu kami berjanji untuk bertemu di salah satu kafe yang jadi tongkrongan anak muda  di pusat kota. Ini bisa dibilang kencanku yang pertama tanpa gangguan manusia penghuni markas pecinta alam. Aku  membayangkan kesan romantis yang akan tercipta malam itu. Dan gadisku datang bersama kaos gomblang dan celana jeans belel kebanggaannya. Wajahnya berminyak. Rambutnya yang berantakan dikuncir satu. Melambaikan tangan dan tersenyum ke arahku. Aku yakin pasti makhluk yang disinyalir berjenis kelamin perempuan ini belum sempat untuk sekedar mandi dan mengganti bajunya setelah seharian menjadi instruktur wall climbing.

      “ Mandi gak?” Tanyaku singkat. Aku tak sadar jika suara itu cukup keras untuk membuat semua orang menoleh kearah kami.

      “ Kagak…” Dia hanya menyeringai. Menyebalkan.

      “ Pulang!!!” Ku tarik tangannya untuk keluar dari ruangan itu. Aku sempat menangkap seraut wajah kekecewaan. Matanya sedikit berkaca-kaca. Tapi gadis tak berkomentar ia hanya ikut kemana aku pergi. Aku bawa gadis ke salon keluargaku. Kupilihkan gaun yang indah untuknya. Aku tahu Gadis tak suka dengan yang aku lakukan. Tapi aku ingin lakukan itu. Dalam waktu sekejap Gadis menjelma sebagai gadis ku yang cantik untuk kali pertama dan terakhir. Ya, Gadis begitu cantik.

      ***

      Gadisku hari ini tidak banyak berubah. Masih tetap seperti itu. Dekil. Tapi ada satu yang berubah, cintanya bukan milikku lagi. Hari ini cintanya bersama dirinya. Sang kodok yang menyebalkan. Entah apa alasannya Gadis bersama Kodok itu.  Mungkin karena sama dekilnya. Ah, entahlah,aku tak peduli.

      Hari ini adalah acara tahunan anak pencinta alam. Seperti ritual setiap tahunnya pendakian Gunung Semeru kembali dilaksanakan. Entah bisikan dari mana aku ikut berpartisipasi dalam acara ini untuk kedua kalinya. Acaranya masih sama, hanya saja dulu aku menggandeng Gadis dekilku dan sekarang hanya bayangannya saja.

      Entah mengapa, secara sengaja atau tidak aku selalu melihatnya tertawa bersama Kodok itu. Kebersamaannya membuatku Hmfhrght…. Menjijikan. Dan aku sempat mencicipi perasaan yang dinamakan cemburu. Ya… aku cemburu. Ternyata masih ada cinta untuk Gadis yang tersisa di hatiku. Mengapa menjadi seperti ini, aku tak tahu. Pokoknya begitu saja. Tanda mati untuk menggambarkan betapa kacaunya cintaku untuk Gadis. Seperti kata cinta yang tak terdefinisikan. Titik. Cukup.

      Malam itu dihiasi bulan purnama. Api unggun menghangatkan malam di Semeru. Dan aku memilih menyendiri di antara tingginya rumput ilalang yang terhampar luas. Ditemani secangkir kopi panas aku mengenang setahun kemarin bersama Gadis di Semeru. Begitu singkat, menyakitkan, luka dan sakit. Ternyata satu tahun hidup tanpanya belum mampu membuatku lupa akan hadirnya. Gadis… kurasa hatiku begitu dingin tanpamu. Pesonamu masih memikat hatiku. Aku merindukan semuanya. Dan bolehkah aku mencobanya kembali? Tinggalkanlah dia untukku. Aku mohon.

      ***

      Aku dengar Si Kodok laknat itu putus dengan Gadis. Seakan tak ingin menyianyiakan kesempatan emas yang belum tentu datang lagi, aku memutuskan untuk mencoba mengungkapkan kembali perasaan ku padanya. Aku berharap banyak Gadis mau memulainya kembali dari awal.

       Would you marry me?”

      “ Apa ?”

      “ Tau marry kagak?”

      “ Mang apaan? Meri Piaraan Engkong Somat?”

      “ Arga serius Dis,, km mau gak jadi istri aku, ibu dari anakku, ratu buat rumahku?”

      “ Maksudnya? Aku gak ngerti Ar.”

      “ Punya obeng?”

      “ Dan aku bukan montir”

      “ Ya udah abis perkara.”

      “ Ya udah emang aku peduli.”

      “ Terus yang kamu punya apa?” Hening… yang membuatku panas dingin. Kumohon Dis, jangan bilang….

      “ Obeng”

      “ Bukan obeng yang aku maksud. Yang lain kek! Gak kreatif banget sih!”

      “ Ini tuh judulnya apa sih? Kamu masih suka sama aku?”

      “ Suka? GeEr banget …” aku mencoba menyembunyikan perasaan itu. Namun sepertinya aku tak bisa. “ Eng… iya. Aku  masih sayang sama kamu. Kamu masih punya cinta buat aku?” akhirnya aku terpaksa mengakuinya.

      “ Cinta buat kamu?” Pernyataan yang belum selesai membuatku ingin mati saja. Aku berharap kursi ini dekat dengan jurang. “Aku punya cinta yang banyak untuk seseorang. Dan seseorang itu bukan kamu Ar.” Dan cinta itu bukan untukku. Bukan. Mungkinkah kodok itu telah melamarnya. Pupuslah harapanku. Lalu kabar dari mana yang ku dapat kalau Gadis telah  putus dengannya. Pasti mereka mengerjaiku. Bangsat!!!

      “ Owh,, boleh Arga tahu siapa? Pasti dia norak banget kan? Cupu gitu kayak si Kodok

       Kodok yang mana?”

      “ Satria. Siapa lagi.”

      “ Yep! Dia emang norak, gila, bego, egois, idiot, cupu, childist, dungu, geblek, apa lagi ya… banyak banget deh jeleknya.”

      “ Trus, kenapa mau kawin sama dia?”

      “Aku suka semua tentangnya. Aku mencintai kekurangannya. Sukur, kelebihannya juga gak kalah banyak. Aku gak pernah ragu sama dia. Aku udah janji untuk setia sama dia karena aku yakin suatu saat cinta yang lama disembunyikannya tak lain dan tak bukan cuman buat aku. Hehehe…. Buat  aku, janji hati telah tertanam dan takan hilang.”

      “ Pliss Gadis… gue lagi gak butuh ceramah puitis lo ya… cepet jawab siapa?”

      “ Galak banget!! Najis lo!!”

      “ Siapa yang najis?! Cewek gila! Bodo ah.. Gw balik!!”

      “ Ar.. tunggu. Kan aku belom jawab..”

      “ Gak penting!”

      “ Sumpeh loe??”

      “ Cewek gila!” dan aku memilih pergi daripada dipecundangi lebih lanjut. Huh!! Dasar cewek gelo!!

      “ Arga…. I love you…” Katanya lirih.

      Dan aku terus berjalan.

      “ Arga gila… aku sayang sama kamu..”

      Aku masih terus berjalan meninggalkannya sendiri disana. Sebenarnya aku sangat senang hari ini. Ternyata dia masih mencintaiku. Hehehe…

      “ Arga… kalo gak berenti gue lempar neh!!”

      Terdengar suara cemprengnya menggema. Suara cempreng milik cewek dekil kesayanganku.

      “ Arga… aku serius” Teriaknya bernada mengancam. Rupanya dia sudah berani mengancamku.

      Plak!!!

      Sepatu bututnya yang bau mendarat indah di kepalaku.

      Dasar cewek gila.

      Ketika aku menoleh untuk menatap tajam sang pelaku kriminal, Gadis tersenyum manis dan berlari ke arahku. Sepertinya Gadis akan memelukku. Aku sangat senang. Aku batalkan niat ku untuk membalasnya. Dan….

      “ Hey idiot. Anterin gue balik”

      ***

Hari ini, dia berdiri disampingku. Dia cantik sekali. Bukan cewek dekil yang ku temui beberapa tahun lalu. Hari ini ia berdiri dengan anggun, rambutnya terurai indah dihiasi mahkota. Meskipun terlihat aneh, kakinya tetap cantik memakai high heels.

      “ Ar, aku gerah benget nih!!” Bisiknya.

      “ Sabar dong cantik… Bentar lagi.” Jawabku pelan.

      “ Tapi Ar, aku gak kuat lagi. Kaki aku lecet neh..” renggeknya.

      “ Ya sudah…” Jawabku.

      “ Apanya yang sudah?” Tanyanya.

      “ Ya sudah diem di situ. Nikmatilah sayang…Hehehe…Idih bibir kamu mirip dubur ayam” kataku sambil tetap tersenyum menghadapi para tamu. Dan dia mencubitku perutku.” Awas ya.. . Kalo perutku merah, nanti kamu ku cium. Hehehe…..”

***

One Response to “Dia Masih Gadis”

  1. on 10 Nov 2009 at 21:25mieke hayarit

    ceritanya terlalu panjang

Tinggalkan Komentar