Cepot Copet Cepat
November 18th, 2007 by rezki
‘Siapa suruh datang Jakarta…?’ Terdengar ‘lagu selamat datang’ yang sering diperdengarkan pengamen kroyokan di atas kereta menuju Jakarta, bukan sekedar lagu tetapi peringatan keras bagi pendatang yang ingin merubah nasib, peringatan keras bahwa Jakarta bukanlah satu – satunya kota yang dapat merubah nasib seseorang. Terkadang juga diperdengarkan di atas kereta yang pergi meninggalkan Jakarta, sekedar mencubit para pemimpi yang tidak dapat mimpi ‘tempat basah’ dan hanya sebatas meraih mimpi basah. Kata – kata yang diteriakan pengamen hampir tidak jelas, lantaran mengadu ‘merdu’ dengan suara gesekan rel dan bisingnya getaran deru ban – ban baja sang kereta. Tidak setiap tanggal 22 Juni saja, bertepatan dengan HUT-nya Ibukota yang ratusan, (walaupun ibukota lebih kejam dari ibu tiri tetap saja panjang umur), terkadang lagu itu diteriakkan orang – orang, dikala temannya yang sedang curhat tentang sulitnya makan nasi lebih dari sepiring sehari.
Pengemis buta yang memegang erat pundak rekannya, anak pengemis yang segar bugar dengan sekumpulan amplop putih di tangan, pengemis yang benar-benar sakit hingga terseok-seok, pedagang minuman dengan batu es di dalam ember hitamnya sebagai freezer buatan atau kulkas tanpa pintu, penjaja aksesoris yang menggelayutkan dagangannya dengan tali sebagai window shopping berjalan, dengan caranya masing – masing, lalu lalang tanpa memikirkan gerbong penuh atau tidak, seolah berlomba-lomba dengan kata miskin yang melekat pada diri mereka, semua campur baur jadi satu, dengan tidak memandang kelas walaupun kereta tertulis jelas ‘Kelas Ekonomi’.
Kereta merupakan salah satu cara terbaik saat ini, yang ditempuh penghindar macet dan yang berpergian jauh, tidak sedikit karyawan Jakarta melepas dasinya hanya untuk menaiki kereta yang sedikit sumpek ini, apalagi pasca banjir beberapa hari lalu, busway saja ikut-ikutan cuti karena ruas jalannya banyak yang hancur terhempas banjir. Panas, sesak, serta lembabnya ketiak penumpang kanan-kiri depan-belakang, seperti sejuta ekor teri dengan terasi dalam satu pepesan.
tampak beberapa keluarga yang benar-benar ‘gambling’ membawa bayi yang berumur hitungan bulan. Kalau bisa bicara dan berjalan, mungkin setelah sampai tujuan, si bayi pergi ke komnas HAM bagian perlindungan anak untuk melaporkan ketidak-nyamanannya berada di atas kereta. Ada sebagian penumpang membawa bayinya bukan karena hanya ingin naik kereta thok, tetapi karena dananya hanya cukup untuk naik kereta, mengingat naik bis sekali jalan saja, tarifnya sudah mendekati harga seliter setengah beras impor, itupun kalau beras impornya belum diborong pedagang beras dengan mengerahkan puluhan jokinya di pasar.
Jam pergi dan pulang kantor adalah lalu lintas manusia terpadat dan tersibuk hampir di setiap stasiun, waktu yang sebenarnya sangat dibenci pengguna kereta seperti sekarang ini. Hanya beberapa orang yang menyukai kepadatan penumpang kereta, PT. KAI, pedagang, pengemis dan copet!
Waktu yang sangat strategis menurut Cepot, ia biasa dipanggil, the wrong man in the right place, di kalangan copet generasi baru tidak banyak yang mengenalnya, hanya sebatas nama dan cerita yang melegenda, perawakannya yang sudah tidak mungkin dibilang tampang mahasiswa lagi, dengan gerakan tangannya yang masih terbilang cepatlah, dia masih eksis. Pagi ini, baru setengah jam naik kereta saja, Cepot sudah membuang dua dompet kulit yang dikuras jeroannya, dengan mata elangnya yang tetap jelalatan mencari sasaran empuk, menyapu sekeliling dari tempat ia duduk, layaknya lampu mercusuar dalam gelapnya malam. Gerakannya sangat tidak terduga, di saat matanya menerawang jauh, penumpang didekatnya baru menyadari dan mulai sibuk mencari dompet yang sudah pindah tangan atau terlempar keluar jendela kereta.
Sudah menjadi kebiasaannya, menyimpan identitas korban – korban dan menulisnya dengan spidol, berapa banyak duit si korban yang di-embat-nya, hanya KTP yang dikoleksi. Surat – surat penting yang kepengurusannya bertele-tele seperti, SIM, STNK dan surat – surat berharga lainnya diberikan ke pos polisi dekat stasiun, bukan dengan alasan sebenarnya, tentunya.
Tidak sekali, Cepot mencopet teman seprofesinya yang berlagak rajanya raja preman, ia paling benci preman macam yang satu ini, merasa dirinya paling super dan paling ditakuti, padahal tidak mempunyai nyali dan bodoh, berani karena main ‘abang-abangan’, tentu saja Cepot ngapusi mereka dengan tidak mengatakan siapa dirinya sebenarnya. Dengan berlagak seperti seorang kakek yang bercucu banyak, Cepot cukup membuat preman-preman itu tersiksa dalam bingungnya dan harus kerja beberapa kali, tiga dompet terkuras, hanya isi dompet hasil nyopet terakhir yang ada di saku sang preman, selebihnya sudah pindah ke saku sang legenda.
Ada yang membedakan dengan copet – copet lain, Cepot lebih mementingkan masa depannya yang tersisa, uang hasil keringatnya ditabung di bank yang sering mengadakan undian, namun sampai detik ini, nomer rekeningnya tidak pernah muncul di papan pengumuman di depan antrian kasir, sampai akhirnya Cepot bosan dan tidak terlalu berharap. Sempat Cepot mengatakan kepada seorang satuan pengamanan bank tersebut,
”ini undian bo’ongan kali yach? Buat narik nasabah aja, hadiahnya paling yang dapet satu, dua orang doang.” Yang diajak bicara pun hanya menjawab dengan senyuman, tidak tahu dan tidak mau tahu.
Enam bulan sejak melakoni pekerjaan bejat ini, Cepot mulai menabung, tetapi hasil tabungannya sekian tahun ludes, untuk membiayai anak semata wayangnya yang baru saja naik kelas dua SMP. Cepot bukanlah copet – copet lain yang menghabiskan hasil keringat dalam hitungan jam. Tiga bulan terakhir, dia mulai menabung kembali, Cepot sudah lelah dengan ikhtiar yang disenangi iblis ini. Mengingat sudah hampir dua kali digebuki massa, karena tanpa bukti dan sedikit ilmu warisan kakek yang sejak kecil dimilikinya, hanya dengan sedikit ucapan saja, mampu merubah pikiran 15 orang yang akan menghakiminya, dengan begitu Cepot dapat berlenggang kangkung.
Akhir – akhir ini, Cepot mulai takut dengan pekerjaannya, walaupun gerakannya masih cepat tapi tidak secepat dulu, Cepot masih memegang mitos dari kata ‘KUALAT’. Ada saatnya sukses berada di atas dan ada saatnya terpuruk di bawah. Cepot ingin berwirausaha, ingin mempunyai pekerjaan yang bisa dilihat tetangga-tetangganya. Ingin jual voucher handphone tapi agak sedikit ‘gaptek’, punya handphone hanya untuk menelpon dan menerima saja. Ingin buka warung, lebih banyak warung daripada yang beli, lagipula tidak enak dengan warung yang berada benar-benar ‘dekat’ di sebelah kanan dan kiri tembok kontrakannya yang sangat-sangat minimalis.
Sudah jam 11 lewat, tapi perut Cepot sudah mulai mencuri start, sudah mulai cekot-cekot dan migrain seperti kepala sang koruptor saja perutnya. Walaupun duit banyak, Cepot tidak langsung nongkrong di rumah makan Padang kesukaannya dekat mesjid samping stasiun, masih terngiang kalimat anaknya yang semata wayang, Gita,
” Yah, sebenernya Gita perlu banget buku matematika, tapi Gita perlu uang buat ngopy bukunya aja, ada gak Yah?”
Sore ini Cepot berjanji, untuk memberi Gita, uang untuk membeli bukunya saja, tidak lagi menggunakan kopian. Dengan mengatakan akan meminjam ke koperasi yang ada di kantor. Koperasi apa?
Hanya lirikan matanya saja yang mampir ke rumah makan Padang, Cepot berbelok ke warteg yang sudah penuh dengan office boy, sudah pasti pesanannya banyak. Sembari ngantri, Cepot mereka-reka makan apa dia siang ini, murah tapi mengenyangkan, nasi dengan kuah sayur, banjir, ditambah dua TTM (tempe tapi mendoan). Makanan yang masih terasa nikmat semenjak pertama menginjakkan kaki di tanah batavia ini.
Lima belas menit selepas adzan ashar, Cepot tiba di rumah, duduk sebentar lalu berdiri menghampiri kamar anaknya, Gita, duduk di kursi plastik dekat meja belajarnya yang sudah mulai dimakan rayap dan ada tanda bekas banjir dipinggirnya, menunggu, memandangi Gita yang sedang berdoa selesai sholat, dengan mata terpejam, sujud sebentar lalu menengadahkan kedua tangan berdoa kembali, lama, lalu Gita berdiri, belum sempat Cepot memanggil, Gita sholat kembali menutup sholat wajibnya. Sholat yang sudah lama ditinggalkannya, hanya karena satu hal, Cepot marah kepada sang Pencipta, sudah sering sholat dan sering berdoa tidak satu pun yang terkabulkan, awalnya hanya sholat saja tanpa berdoa, menunjukkan kalau ia ngambek kepada Allah, lama kelamaan tanpa sholat sampai sekarang.
“Ayah, sudah sholat?” Gita bertanya pelan sembari melipat mukena dan sajadahnya. Ada buliran air mata yang menetes di pipi Gita meninggalkan wadahnya.
Cepot meraih tangan Gita, lalu menarik kursi kayu yang berada tidak jauh dari ia duduk, lebih tinggi dari kursi yang didudukinya dan menginginkan Gita duduk.
“Ada apa?” Tanya Cepot, perlahan menghapus air mata Gita dengan punggung tangannya, mencoba memasuki perasaan Gita yang tangisnya sudah mulai sesegukan.
Gita meraih laci meja belajarnya, mengeluarkan sebuah cardholder berwarna biru tua dan memberikannya ke Cepot.
Cepot terperanjat melihatnya.
“tadi Gita gak sengaja nemuin itu di belakang lemari Ayah. Kenapa Yah? Ayah tidak bekerja jadi tenaga keamanan, khan? Kenapa Ayah ngumpulin KTP – KTP orang? Darimana Ayah ngedapetin itu semua? KTP – KTP itu hampir semuanya masih berlaku, Yah.”
Cepot menitikkan air mata, menunduk, ’apakah sudah tiba kualatku?’ gumamnya.
“Ma’apin Ayah, Git, Ayah sudah khilaf mencuri hak orang lain.” Kali ini, Cepot yang sesegukan, suaranya serak nyaris hilang.
Gita meraih tangan Ayahnya lalu berlutut, “kita harus mengembalikannya, Yah, dengan cara apapun, yang penting halal. Kita memang gak bisa menggantinya semua, tapi paling enggak, kita menggantinya satu per satu.”
Gita melepas tangan ayahnya, membuka pintu lemari yang sudah sulit dibukanya, mengeluarkan sebuah buku tabungan dengan warna beda dengan punya ayahnya.
“Gita ada tabungan, Yah, tadinya Gita gak mau make duit ini sampai lebaran entar, Gita merasa kita butuh, duit ini bukan untuk membayar orang – orang itu…,”
Cepot memandang Gita, tidak mengerti.
“Untuk modal, Yah. Kalo kita bayar mereka semua, gak ada lagi uang yang kita puter. Gita mau buka usaha, mungkin jualan pulsa hape.” Mata Gita yang berkaca – kaca mulai menerawang, semangat.
“Sekolah kamu gimana?” tanya Cepot sambil menghapus air mata yang sudah lama tidak ia temui sejak ibunya Gita pergi untuk selamanya.
“Gini Yah, Gita ada usul, Gita juga gak tahu, berhasil apa enggak usaha ini, kita bagi tugas, pagi sampe siang, Gita bawa pulsa elektrik ke sekolah, temen Gita banyak koq yang punya hape, Ayah jual kartunya di bis atau di atas kereta boleh juga tuh Yah, Gita pulang sekolah, Gita jualan dech di rumah sambil belajar, gimana?”
“Kartu aja khan yang Ayah jual?”
“Iya Yah, Gita tahu.”
“Tahu apa?” tanya Cepot sambil menghapus air mata harunya yang masih tersisa, lalu tersenyum.
“Gaptek! Hihihi” tinju canda sang ayah pun mendarat di kening Gita. Tak ada tangis lagi.
Cepot akhirnya meninggalkan pekerjaan yang lama, mulai berikhtiar yang disenangi Allah. Mulai sholat lagi mencoba menjadi imam yang baik bagi anaknya, Gita, satu satunya harta yang paling berharga di dunia. Gita bertekad untuk masuk SMU negeri, tidak lagi Gita belajar di rumah teman – temannya tetapi temannyalah yang datang ke rumah.
Di bis dan di atas kereta, Cepot menjual kartu – kartu pulsanya, tidak jarang, ia juga menjual di depan pintu beberapa gedung perkantoran di pusat bisnis. Masih sulit meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan, Cepot dengan gerakan tangannya, beraksi kembali. Kali ini korbannya, preman – preman yang sering menjadi raja di atas kereta, untuk dikembalikan kepada si empunya dompet.
Gita dan ayahnya, menyambangi setiap alamat yang tertera di KTP – KTP yang pernah ayahnya ‘kerjai’, ada juga yang sudah meninggal tapi uang tetap dikeluarkan, diberikan kepada keluarga atau dengan meng’amaljariah’kannya di mesjid dekat rumah korban.
Gita dan ayahnya sudah mulai hidup berkecukupan, uang korban - korban ayahnya sudah dikembalikan semua, namun mengeluarkan uang masih tetap dijalankan dengan berderma kepada kaum dhuafa.