Black Edelweiss
November 18th, 2007 by Rizkita
Hari ini, sekolah sepi. Putra hiking lagi. Lumongga sama sekali tidak suka melihat Putra hiking terus. Dan selalu meninggalkan kegiatan belajar. Katanya, yang Lumongga dengar, Putra cinta hiking, cinta alam, dan cinta ketinggian. Apa coba yang bisa dia ambil dari hiking? Paling kaki pegal-pegal dan capek tak karuan. Lumongga tak pernah mengerti dengan jalan fikiran Putra dan sejuta anak-anak SIPALA lainnya.
Tapi meskipun begitu, jujur Lumongga sangat tertarik pada Putra, sang ketua SIPALA. Orang sinting yang tak pernah berfikir serius. Paling tidak sebatas itu Lumongga tahu tentang Putra. Mereka saling kenal, tapi intensitas bertegur sapa masih bisa dihitung dengan jari tangan kanan. Keterlaluan memang. Tapi itulah mereka.
Dan hari ini lagi-lagi Putra and the gank hiking. Gunung Salak, adalah tujuan mereka hiking kali ini. Salah satu gunung yang terkenal angker. Kalau saja bisa, Lumongga ingin melarang Putra pergi saja. Tapi, memangnya siapa Lumongga? Teman saja tak dekat. Apa hak dia untuk melarang?
Putra masuk kelas Lumongga. Menjemput Angga. Entah setan mana yang terus berbisik pada Lumongga, tapi tiba-tiba saja Lumongga menegur Putra.
“Putra! Hiking lagi ya?” tanya Lumongga sok tertarik. Putra mengangguk. “Kalau gitu, bawain gue edelweis dong!” nekat Lumongga. Kali ini jangan salahkan setan. Karena sepertinya tak ada campur tangan setan di balik itu.
“Apa? Edelweis? Itu apaan sih? Gue enggak tahu!” jawab Putra, sungguh mengecewakan. Lumongga jadi tak enak hati.
“Aduh, masa sih? Anak gunung kok enggak tahu edelweis? Edelweis itu bunga! Dan tumbuhnya Cuma di tempat dingin dan ketinggian,” jawab Lumongga sebal. Mendengar itu, Putra kelihatan tak suka.
“Eh, meskipun gue cinta gunung, tapi gue hidup di kota! Emang elu, orang gunung?!” sewot Putra. Membuat Lumongga malah makin sebal.
“Ah, whateverlah! Yang penting, kalau lu nemu, bawain buat gue ya!” pinta Lumongga, mengalah.
“Hoohlah, tapi enggak janji,” jawab Putra sambil berlalu. Sinis.
Saat itulah, rasanya Lumongga begitu ingin menumpahkan seluruh persediaan air matanya. Itulah Putra. Selalu sinis. Dan sikap itu ditujukan hanya pada Lumongga. Lumongga sedih. Itulah kenapa Lumongga selalu enggan untuk menyapa Putra lebih dulu. Sementara Putra tak pernah sekalipun berniat untuk menyapa Lumongga lebih dulu kelihatannya.
Lumongga mengerti. Mungkin Putra gengsi harus menyapa seorang Lumongga seperti dia. Bukan siapa-siapa. Dan yang Lumongga tahu betul, itu karena Putra sama sekali tak memiliki perasaan istimewa padanya.
Tidak seperti halnya Lumongga pada Putra. Tak apa. Yang Lumongga tahu, dia menyukai Putra, dan 1 minggu ini Lumongga akan menanti kedatangan Putra. Dan menunggu edelweis, bunga abadi itu, diserahkan padanya, dari tangan Putra sendiri.
Kemarin Lumongga sakit. Dia jadi tak melihat kedatangan Putra dari hikingnya. Padahal hari itu yang selalu Lumongga tunggu-tunggu. Apa Putra membawakannya edelweis? Pertanyaan itu selalu ada di benak Lumongga, mengiringi perjalanannya ke sekolah.
Dan, apalagi yang Putra lakuakan pada Lumongga hari ini? Putra tak kelihatan di sekolah. Putra absen hari ini, padahal Lumongga sangat menanti kedatangannya. Apa Putra membawakannya edelweis kemarin? Apa Putra mencari-carinya kemarin? Apa Putra marah karena Lumongga tak masuk sekolah kemarin? Berbagai pertanyaan datang dan pergi di hati Lumongga.
“Lu!” Lumongga menoleh demi mendengar seseorang memanggilnya.
“Apaan, Rei?” tanya Lumongga pada Rei.
“Kemarin si Putra nanyain elu. Dia bilang dia enggak nemu itu yang namanya edelweis,” ucap Rei, salah satu anggota SIPALA, teman Putra. Membuat semua pertanyaan yang ada di benak Lumongga terjawab sudah.
“Oh, ya enggak apa-apa. Thank’s ya informasinya,” jawab Lumongga. Rei mengangguk dan berlalu menuju kantin.
Lumongga terduduk lemas. Ya, dia tahu ini akan terjadi. Dia tahu Putra tak akan berusaha mencarikan edelweis untuknya. Putra memang Putra. Laki-laki yang tak pernah memerhatikannya, jangankan memerhatikan, sadar bahwa Lumongga itu ada saja, sepertinya Putra tak pernah. Lumongga tak kuasa memendam terus sedihnya sendiri. Lumongga tersiksa. Tapi, mencintai Putra baginya merupakan hal terindah. Lumongga berlari keluar kelasnya, diam di toilet putri, dan menangis semampu dia bisa.
Lagi-lagi anak SIPALA hiking. Tujuan kali ini adalah Gunung Gede. Bukan termasuk gunung yang berbahaya. Dan kali ini, tak ada lagi keinginan Lumongga untuk melarang Putra. Apalagi meminta Putra membawakannya satu tangkai edelweispun. Lumongga tak ingin lagi.
Dia sedang berusaha melupakan Putra dengan segala kemampuannya. Dia ingin terbiasa menjalani hari-harinya tanpa rasa sesak. Sesak karena terus menerus mencintai Putra yang tak kunjung juga menegurnya, atau sekedar menyapanya, atau senyum. Tak pernah! Lumongga ingin berpaling dari semua itu.
Lumongga ingin membuang segala sakit yang dia miliki selama mencintai Putra. Dan ini adalah hari ke-5 anak SIPALA pergi. Lumongga tak ingin merasa sepi lagi. Biarlah setiap orang menjalani harinya tanpa harapan yang tak kunjung datang.
Lumongga berlari-lari kecil ke arah Eva dan Isna yang sedang nongkrong di kantin sekolah. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat Angga berlari ke arahnya sambil memanggil namanya.
“Lumongga!” teriaknya. Lumongga mengangkat bahu.
“Apa? Enggak usah ribut-ribut begitu dong!” sambut Lumongga kurang hangat.
“Lu, ini kabar tuh penting banget!” Angga terengah-engah.
“Iya, lu tenang dulu, nih gue kasih gope buat beli es deh, baru lu ngomong!” tawar Lumongga sambil menyerahkan uang gopek-an.
“Aduh, Lu, gue enggak lagi bercanda! Lu mesti ke RS sekarang juga!” ucap Angga sambil menarik tangan Lumongga.
“Eh, eh, sembarangan lu tarik-tarik tangan gue! Buat apa gue ke RS? Emang siapa yang sakit? Perasaan, bonyok gue baek-baek aja!” tolak Lumongga. Membuat Angga kesal setengah mati.
“Aduh, Lumongga! Lu tuh emang ya, bikin gue kesel! Gue udah capek-capek, balik hiking, mesti ribut ke RS, udah gitu mesti ke sekolah juga. Pake acara jemput elu! Emang deh jadi gue tuh kagak ada enak-enaknya!” Angga sewot. Lumongga bingung, apa ada yang salah dengannya? Kenapa Angga marah-marah? “Heh, Lumongga, mendingan elu ikut gue dulu. Soalnya, Kak Yozet maksa banget! Elu, harus dan mesti hadir tuh di RS!” jelas Angga sambil kembali menarik tangan Lumonga.
“Siapa Kak Yozet lu pikir? Gue enggak kenal tuh!” masih tolak Lumongga. Angga melepaskan tangan Lumongga, dan menonjok telapak tangan kirinya, dengan tangan kanan.
“Emang… bener kayak gini! Gini nih yang bikin gue males dah berurusan sama elu! Bikin puyeng!” maki Angga.
“Iya, makanya lu jelasin ke gue! Ada apa? Kok lu tiba-tiba maksa gue buat ke RS?” tanya Lumongga mulai mereda.
“Ya ampun! Jadi dari tadi gue belum explain ke elu ya? Aduh sorry deh! Gini, Kak Yozet itu pembina anak SIPALA. Dan Gue disuruh dia buat jemput elu ke RS,” jelas Angga, tapi masih belum jelas di telinga Lumongga. Apa yang Angga maksud sebenarnya?
“Nah, Kak Yozet itu pembina elu! Apa hubungannya sama gue?” bingung Lumongga. Aneh.
“Sebenernya sih gue juga enggak terlalu ngerti ya, kenapa dia nyuruh gue jemput lu! Tapi Kak Yozet bilang sih kehadiran lu tuh penting banget di RS! Ayolah cepet! Enggak ada waktu lagi,” tarik Angga lagi.
“Ok! Gue mau deh ikut lu ke RS, asal lu kasih tahu gue dulu. Emang siapa yang sakit?” tanya Lumongga masih aneh.
Angga menepuk jidatnya.
“Oh God! Gue lupa! Yang di RS itu Putra! Kondisi Putra down, Lu!” teriak Angga benar-benar membuat Lumongga terkejut. Tapi dia menahannya. Lumongga menarik tangannya dari genggaman Angga.
“Wait, wait! Putra? Jadi, Putra yang sakit? Terus, apa hubungannya sama gue?” Lumongga tahan harga. Padahal jujur, dia sangat khawatir.
“Kagak ada tanya-tanya lagi deh! Mendingan lu cepet! Biar entar tas lu dibawain sama si Eva, si Isna! Ayo cepet!” Angga kini menarik tangan Lumongga dengan kuat. Sehingga tak ada alasan lagi bagi Lumongga untuk menolak. Lagipula dia juga sudah tak sabar ingin melihat keadaan Putra.
“Iya Lu, entar gua bawain tas elu!” teriak Eva, melambaikan tangan pada Lumongga. Lumongga mengangguk.
Sampai di RS, Lumongga diajak berlari oleh Angga. Koridor RS seolah dipenuhi dengan gema suara tapak kaki mereka berdua. Tujuan pertama adalah IGD. Karena Putra dibawa ke IGD. Tapi ternyata sekarang Putra ada di kamar perawatan. Akhirnya, dengan cepat mereka berdua menuju kamar Putra.
Ada Yozet di depan kamar Putra. Sedang berbincang dengan dokter. Lumongga menghampiri malu-malu. Dia masih belum pasti, apa benar kehadirannya begitu penting? Dokter kemudin meninggalkan Yozet, dan Yozet melirik kehadiran Angga, dan tentu saja Lumongga. Yozet tersenyum ramah.
“Hay! Lumongga?” sapa Yozet sekaligus sebuah pertanyaan. Lumongga mengangguk. “Eh, Ga. Kamu bisa kan ke dalam sebentar? Temani Putra. Aku mau bicara sebentar dengan Lumongga,” pinta Yozet.
“Siap bos, laksanakan!” ucap Angga sambil berlalu memasuki kamar Putra.
“Ehm, Ok! Lumongga, ayo duduk dulu!” Yozet mempersilahkan Lumongga duduk. Lumongga duduk dengan segudang pertanyaan di pikirannya.
“Kamu pasti bingung kan, kenapa kamu tadi dipaksa Angga buat datang ke sini?” tanya Yozet lagi, kini membuka sebuah percakapan. Lumongga hanya bisa mengangguk lagi. Karena jujur, dia sangat bingung!
“Di sini, aku mau cerita. Kamu dengerin aku, dan kamu bakalan tahu, kenapa aku nyuruh kamu datang ke sini,” ucap Yozet.
Dan mulailah dia bercerita dari awal.
Lumongga mendengarkan cerita Yozet setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Itu seolah tidak mungkin. Melihat keadaan sehari-hari yang selalu Lumongga alami.
Tapi jika itu nyata, ada terselip banyak kebahagiaan di sana. Entah di bagian mana.
~ ~ ~
“Putra, kamu lagi cari apa?” tanya Yozet pada Putra, yang sedang bermain-main dengan ketinggian. Putra terjongkok-jongkok di tepi tebing.
“Oh, Kak, aku lagi cari, ehm… itu… eh, apa ya itu namanya?” jawab Putra bingung sendiri.
“Apa?” tanya Yozet. “Kalau aku tahu, bisa aku bantu kan?” tawar Yozet.
“Itu Kak, aku lagi nyari bunga yang katanya tumbuhnya Cuma di tempat dingin dan ketinggian. Tapi aku lupa apa namanya!” jelas Putra, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal itu. Yozet ikut berpikir.
“Oh! Edelweis bukan?” tebak Yozet.
“Eh, iya! Bener banget, Kak!” setuju Putra.
Kemudian mereka mencari-cari edelweis itu bersama. Sampai akhirnya menemukan dengan jumlah yang banyak. Putra terlihat begitu puas dan bahagia. Yozet melihat sesuatu di mata Putra.
“Ngomong-ngomong, kenapa kamu ngebet nyari edelweis sih?” tanya Yozet tiba-tiba. Putra melirik Yozet sekilas. Kemudian mengalirlah ceritanya.
“Ada seorang cewek, yang minta aku bawain dia edelweis. Sebenernya waktu hiking di Gunung Salak itu aku sempet nyari juga. Tapi aku enggak nemu. Abis aku enggak tahu yang kayak gimana jenisnya edelweis itu. Untung kali ini Kakak bantuin aku! Dia enggak masalah sih kayaknya, karena dia enggak serius kali waktu dia minta aku bawain edelweis itu. Tapi aku udah janji sama dia Kak. Aku enggak mau ingkar janji sama dia,” ucap Putra, sedih. Tapi mengandung banyak cinta kedengarannya.
“Ah, kamu Tra, masih begitu ya dari dulu! Kamu tahu enggak sih, apa arti dari bunga edelweis itu?” tanya Yozet. Putra menggeleng bodoh. “Edelweis itu melambangkan keabadian. Karena, edelweis itu bunga abadi. Enggak akan lekang oleh waktu dan masa. Biasanya seorang cewek yang minta edelweis itu adalah cewek yang mengharapkan keabadian,” jelas Yozet. Kontan Putra menoleh pada Yozet. Terkejut.
“Jadi, dia juga mengharapkan aku? Dia pengen abadi sama aku? Gitu maksudnya, Kak?” tanya Putra spontan. Yozet tertawa.
“Hahaha… berarti banget ya cewek itu buat kamu? Aku enggak nyangka ya, ada cewek yang bisa bikin kamu yang cuek bebek sama cinta, sampe luluh begini. Kamu tebak aja sendiri! Kira-kira gimana perasaan dia sama kamu?” goda Yozet. Putra ikut tertawa.
“Hehe, aku juga enggak tahu, Kak. Padahal aku jarang banget teguran sama dia. Dia manis banget buat aku. Dia berarti banget buat hidup aku. Hiking sekarang aja, aku paksain buat ikut lagi, meskipun kondisi aku udah enggak bener. Pokoknya aku pengen pas aku balik hiking, bawain dia edelweis. Apalagi sekarang aku tahu kalau edelweis itu melambangkan keabadian. Aku sayang sama Lumongga, Kak!” ucap Putra sebelum akhirnya beberapa waktu kemudian dia down dan pingsan.
Lumongga masih terpana dengan cerita Yozet. Jadi, selama ini Putra menyimpan harapan didirinya? Sama seperti dia?
“Kak, Putra udah bangun,” ucap Angga memberitahu Yozet. Yozet dan Lumongga masuk ke dalam kamar. Terlihat Putra terbaring lemah. Yozet menyapa Putra hangat. Sebelum kemudian Lumongga maju, menghampiri pinggir ranjang Putra. Putra tersenyum senang, namun berusaha dia tutup-tutupi. Lumongga memegang tangannya. Dan balas tersenyum pada Putra.
“Gimana? Udah Baekan, Tra?” netral Lumongga. Putra mengangguk.
“Oh, iya Lu. Itu… aduh di mana ya?” Putra terlihat mencari sesuatu dengan matanya.
“Ini,” sodor Yozet. Sambil menyodorkan kantong plastik yang entah berisi apa. Putra sumringah, lalu meraih kantong plastik. Kemudian mengambil benda kehitam-hitaman dari dalam plastik itu.
“Ini, maaf ya Lu, baru sekarang gue bisa kasih ini ke elu. Abisnya, baru nemu. Terus, bentuknya udah enggak utuh lagi!” sodor Putra pada Lumongga. Lumongga mengambilnya, dengan tatapan aneh. Namun sungguh, Lumongga bahagia, karena baru sekarang ini Putra berbicara banyak padanya, dengan nada yang tak pernah Putra lakukan sebelumnya. “Hehe, itu… edelweis yang elu minta sama gue!” jelas Putra seolah mengerti tatapan Lumongga.
“Edelweis? Kok, item sih?” tatap Lumongga masih tak mengerti.
“Eh, itu loh. Waktu abis gue petik, kan gue pegang-pegang sepanjang jalan. Tiba-tiba ada polisi hutan, kan gue takut tuh, terus gue bingung mau taroh mana? Lepas ransel, ribet. Ya udah, gue simpen kaos kaki dah!” lagi-lagi jelas Putra tanpa dosa.
“Apa? Jadi ini bekas lu taroh di kaos kaki?” tanya Lumongga memastikan sambil tak henti menatap edelweis yang berubah warna itu, menjadi warna hitam. Putra mengangguk. “Ih, dasar lu! Jorok banget!” teriak Lumongga.
“Ah, biar deh. Tapi kan gue petik itu dengan cinta. Jadi bisa tetep indah dong!” Putra membela diri.
“Hiiiy.. Mau kata pake cinta, pake sayang, pake uangpun, tetep aja namanya jorok!” dongkol Lumongga.
“Alah, kalau jorok, kenapa masih dipegang tuh edelweis itemnya?” goda Angga. Lumongga kena telak, dia jadi tersipu malu.
Edelweis yang Putra berikan memang sangat hitam. Tapi begitu indah dan penuh keabadian di mata Lumongga. Setiap harapan yang abadi, memang selalu berbuah manis. Meskipun begitu pahit di awal. Tapi semua pahit itu tak berarti untuk Lumongga. Yang Lumongga tahu, dia bahagia sekarang. Itu saja.
simpel bgt cweritanya tapi mengharukan n ‘’so sweet”…….
btw, stauku kalo ada cwo yang ksi edelwweiss ke cwenya bukannya mereka bakalan ga awet katanya????
jadi bingung…………..
tapi bwt ceritanya, ehm ehm co cwit dh…….. =>
edelweis…
aku jadi inget sama penggalan puisi aku yang aku buat khusus cowo yang aku sayang..
……
aku ingin cintaku kepadamu seperti bunga edelweiss..
dia tidak secantik mawar, juga tidak seharum melati.
tapi dia putih, lembut, berada ditempat tertinggi, dan abadi…
ceritanya so sweet…sama ky gw yg suka hiking & Mencintai Cwo hiking yg cuek bgt…dan sama ky gw yg slalu berharap dia tau gw suka dia..dan dia jg suka gw