KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Tiixi

Kupandangi punggung Tuan Vier yang berjalan menuju garasi mengambil motornya. Seperti biasa, majikanku itu hendak pergi ke sekolah.

Tanpa sadar aku mendesah panjang saat punggung Tuan Vier mulai hilang dari pandanganku.

“Jaga sikapmu,” tegur ibuku tiba-tiba.

“Aku tidak melakukan apa-apa,” gumamku langsung tanpa menatap ibuku, malu karena Ibu menangkap basah aku memperhatikan Tuan Vier.

”Jangan membohongi ibu,” kata ibuku sambil menatap tajam ke arahku. ”Ibu tahu apa yang kamu lakukan,”

Kali ini aku menatap Ibuku dan membela diri, ”aku tidak melakukan hal yang tidak sopan, Bu,”

”Memang,” sahut Ibu tajam. ”Tapi kamu memandangi Tuan Vier seakan ingin memilikinya, padahal ia majikan yang seharusnya kamu hormati,”

”Salahkah jika aku menyukai seseorang?” tanyaku tak mau kalah.

”Tidak,” jawab Ibu. ”Kesalahanmu hanya satu. Kamu menyukai orang yang tidak sepadan, Tiixi,”

Aku langsung terdiam dan melakukan pekerjaanku tanpa banyak bicara.

Aku menyelesaikan pekerjaan di dapur yang disuruh ibuku lebih cepat dari biasanya. Jam masih menunjukkan pukul 7 lewat sedikit. Aku hendak menuju kamarku ketika sebuah suara menghentikan langkahku.

”Hai, Tiixi,” seseorang menegurku.

Aku terlonjak kaget dan langsung menolehkan kepalaku ke arah datangnya suara.

Tuan Vier sudah berdiri tepat di belakangku. Ia membawa setangkai bunga mawar di tangan kirinya.

Hatiku langsung luluh melihat wajahnya.

”Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyanya padaku sambil mengacak rambutku, kebiasaan yang sering ia lakukan.

Alih-alih menjawab, aku hanya melemparkan seutas senyuman. Aku selalu gugup jika berada di dekatnya.

Malam ini Tuan Vier terlihat rapi. Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium wangi tubuhnya. Wajahnya berseri-seri. Ia terlihat bahagia.

Mau kemanakah ia?

Sopankah jika aku bertanya padanya?

”Kenapa Tiixi?” tanya Tuan Vier seakan bisa membaca pikiranku.

”Kau ingin bertanya aku akan pergi ke mana?” sambung Tuan Vier lagi tanpa menunggu jawabanku.

Serta merta aku mengangguk.

Tuan Vier tertawa. ”Aku akan menemui Lira. Kau ingat kan? Cewek yang pernah aku kenalkan ke kamu beberapa minggu lalu?”

Tentu saja aku ingat cewek itu, cewek cantik yang sejak beberapa minggu telah merebut Tuan Vier-ku. Seumur hidup aku tidak akan bisa melupakan wajah cewek itu, terutama ekspresi jijiknya saat melihatku seakan aku ini sejenis makhluk aneh yang tidak seharusnya berada dekat dengan Tuan Vier. Entah guna-guna apa yang cewek itu gunakan sehingga tuan Vier tergila-gila padanya.

”Aku akan berkencan, Tiixi,” seru Tuan Vier kegirangan. ”Berkencan!”

Aku cuma bisa menanggapi kegirangan Tuan Vier dengan senyuman. Tapi kali ini senyum pahit yang aku lemparkan padanya.

Hari ini, tanpa melepas seragam sekolahnya, Tuan Vier langsung menuju ke taman belakang.

Mataku tidak bisa lepas darinya, terus mengikuti bayangan Tuan Vier sampai ia duduk di kursi taman. Aku bersembunyi di balik pohon besar agar ia tidak bisa melihatku.

”Kemarilah, Tiixi,” seru Tuan Vier tanpa menoleh ke belakang. ”Aku tahu kamu di situ,”

Ragu-ragu aku mendekat.

”Jangan takut, kemarilah,” Tuan Vier seakan bisa mencium keraguanku.

”Duduklah di sebelahku,” katanya lagi setelah aku mendekat.

Beberapa saat tidak ada yang berbicara.

”Kenapa Tuan bersedih?” tanyaku saat melihat ekspresi kelabu di mata majikanku itu.

”Bersedih? Aku?” Tuan Vier membeo. Ia menggeleng lemah, ”Kamu bisa melihat kesedihanku?”

Aku mengangguk. ”Terlihat jelas,”

Tuan Vier mendesah. ”Hari ini aku baru mengetahui kalau Lira…ia…selama ini membohongiku…ia….”

”…ia tidak benar-benar meyukaiku. Ia hanya memanfaatkan aku untuk membuat seorang cowok cemburu,” lanjut Tuan Vier dengan nada yang sarat akan kesedihan.

”Ia tidak mencintai Tuan?” tanyaku hati-hati.

”Ya,” Tuan Vier mengangguk lemah.

“Sepertinya di dunia ini tidak ada cinta sejati untukku,” sambungnya sambil memaksakan senyum.

Aku menggeleng kuat-kuat. “Ada!” seruku. “Pasti ada. suatu saat Tuan akan menemukan cinta yang selama ini Tuan cari, hanya tinggal menunggu waktu saja,”

Senyum mengembang di wajah Tuan Vier, senyum tulus. ”Terima kasih, Tiixi. Rasanya hanya denganmu aku merasa tenang,”

Aku ikut tersenyum mendengar ucapannya. Aku berharap aku bisa memberikan cintaku padanya.

”Ibu, aku tidak bisa menemukan tikus itu,” keluhku pada Ibuku.

”Cari terus,” sahut Ibu. ”Beberapa hari ini tikus makin banyak berkeliaran di dapur. Jika tidak segera kita tangkap, makin banyak makanan majikan kita yang rusak,”

”Tiixi!” sayup-sayup aku mendengar seseorang memanggilku.

Aku langsung memasang telingaku agar bisa mendengar lebih jelas.

”Ibu dengar itu?” tanyaku.

”Apa?” tanya Ibu tanpa menoleh, ia masih asyik dengan perburuannya.

”Tiixi,” aku mendengar namaku dipanggil lagi, kali ini lebih keras.

”Ada yang memanggilmu?” kali ini Ibu juga mendengarnya.

”Tuan Vier memanggilmu,” kata Ibu saat seruan ketiga terdengar.

Aku langsung tersenyum membayangkan Tuan Vier sudah pulang. Sejak 3 hari lalu ia pergi ke rumah neneknya di luar kota. Aku sudah sangat rindu padanya.

Aku langsung bergegas keluar dari dapur.

”Jangan macam-macam,” larang Ibu sebelum aku keluar dari dapur.

Aku terus berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

”Tiixi, dengar kata Ibu,” Ibu setengah berseru. ”Jangan macam-macam,”

Aku menutup telingaku dan terus berjalan.

“Terserah kata ibu deh,” gumamku tak jelas.

Aku langsung disambut untaian senyum lebar oleh Tuan Vier di ruang tamu.

”Hai, Tiixi,” kata Tuan Vier. ”Lihat apa yang kubawakan untukmu,” lanjutnya sambil mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya,

Sebuah kalung.

Indah sekali.

”Ini…ini…” aku tidak bisa berkata apa-apa.

”Kemarilah, biar aku pasangkan untukmu,” katanya.

Aku mendekat.

Aku masih tidak percaya Tuan Vier memberiku sebuah kalung.

Apakah ini berarti sesuatu?

”Cantik sekali,” puji Tuan Vier setelah memasangkan kalung yang ia bawa pada leherku.

”Kalung ini…maksudku…kenapa Tuan memberiku kalung?” tanyaku sambil masih mengagumi kalung yang kini sudah melingkar di leherku.

”Kau tanya kenapa? Hm, Ini hadiah,” jawab Tuan Vier. ”Karena kamu selalu ada di sampingku pada masa-masa tersulit di hidupku. Kalung ini sebagai ungkapan terima kasihku padamu,”

Aku mendongakkan kepalaku menatap Tuan Vier, ”Tuan terlalu melebih-lebihkan. Tiixi senang bisa membantu Tuan Vier,”

”Aku benar-benar berterima kasih padamu,” kata Tuan Vier.

Kemudian, tanpa diduga, ia menarikku mendekat dan memelukku. Erat sekali.

”Ehm…ehm…” tiba-tiba aku mendengar suara seseorang.

Tuan Vier langsung melepaskan pelukannya.

”Ehm…Ibumu mencarimu,” kata Tuan Vier. ”sebaiknya aku…aku…kekamarku dulu,” Tuan Vier langsung menghilang naik ke lantai atas.

”Apa yang Ibu lakukan?” teriakku setelah Tuan Vier tidak terlihat.

”Seharusnya Ibu yang bertanya padamu, bukan sebaliknya,” sahut Ibu galak. ”Bukankah Ibu sudah melarangmu agar tidak berbuat macam-macam,” semprot Ibu.

”Aku memang tidak berbuat macam-macam, Ibu,” aku membela diri.

”Benarkah? Yang Ibu lihat tidak demikian,” kata Ibu.

”Ayolah, Bu. Aku sudah cukup dewasa untuk menyukai seseorang,” rengekku.

”Sadarlah, Tiixi. Tuan Vier bukan untukmu,” sahut Ibuku, mulai habis kesabarannya. ”Kalian tidak sepadan. Ia majikanmu,” suaranya meninggi.

”Memangnya kenapa kalau ia majikan? Salahkan aku menyukainya? Bukankah itu hak asasi kita sebagai makhluk hidup?” aku mencoba berargumen.

”Tiixi, kapan kamu lepas dari mimpimu ha?” tanya Ibu. ”selamanya kalian tidak akan pernah bersama,”

”Mengapa Ibu berkata demikian? Tidakkah Ibu lihat? Tuan Vier menyukai aku, Bu,” jawabku.

Ibu geleng-geleng, ” Ia menyukaimu seperti seorang majikan menyukai anak buahnya, tidak lebih,”

Aku ikut menggelengkan kepala, tidak setuju pada ucapan ibuku. ”Tidak, Bu. Tuan Vier benar-benar menyukaiku, ia mencintaiku”

”Tiixi, sadarlah!” Ibu mulai menjerit. ”Tuan Vier tidak menyukaimu, ia juga tidak mencintaimu. Karena apa? Karena kalian berbeda, benar-benar berbeda,”

”Kami berbeda?” aku menantang Ibu.

”Ya,” sahut Ibu. ”Sampai kapan kamu akan mengingkari kalau kita hanya seekor kucing. Kamu adalah seekor kucing. Kita ini hewan peliharaan yang bertugas menangkap tikus. Sadarlah, oke? Sadarlah!”

Kata-kata Ibu langsung membuatku lemas. Ekorku yang sedari tadi berdiri tegak, menantang Ibuku, kini terkulai lemah diantara kedua kaki belakangku.

Ibu benar. Aku cuma seekor kucing, sedang Tuan Vier adalah manusia.

Aku cuma hewan peliharaannya.

Kucing dan manusia selamanya tidak bisa bersatu.

Aku menyentuh kalung pemberian Tuan Vier dengan kaki depanku. Kukuku yang tajam menyentuh loncongnya, membuatnya berbunyi.

Klinting-Klinting….

One Response to “Tiixi”

  1. on 07 Apr 2009 at 19:35Intan

    HmM. . .
    Cum gITu doAnk cRtaX. . !
    LnjuTnx gMna?

Tinggalkan Komentar